kolon lengkap

download kolon lengkap

of 15

  • date post

    09-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of kolon lengkap

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah Pola hidup yang tidak seimbang menyebabkan tingginya angka pertumbuhan kanker di dunia termasuk di Indonesia. Kanker merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal dan tidak terkendali. Pertumbuhan yang tidak terkendali tersebut disebabkan oleh kerusakan DNA yang menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol aktivitas pembelahan sel. Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangbiakannya, sel-sel kanker membentuk suatu massa dari jaringan ganas yang menyusup ke jaringan di dekatnya (invasif) dan bisa menyebar (metastasis) ke seluruh tubuh. Pada dasarnya kanker dapat menyerang hampir semua bagian tubuh. Berdasarkan organ-organ tubuh yang diserang, dikenal berbagai jenis kanker seperti kanker usus besar (kolon), kanker payudara, leukemia, kanker mulut rahim, kanker otak, kanker hati, kanker paru-paru, kanker prostat, dan kanker kolon (Mangan,2003). Salah satu jenis kanker yang cukup mematikan adalah kanker usus besar (kolon). Kanker usus besar (kolon) adalah salah satu jenis kanker yang cukup sering ditemui, utamanya pada pria dan wanita berusia 50 tahun atau lebih. Pada pria, kanker kolon menempati urutan ketiga setelah kanker prostat dan paru-paru. Begitu pula pada wanita, kanker ini menempati urutan ketiga setelah kanker payudara dan serviks. Di Indonesia sendiri kanker kolon tidak dapat dianggap remeh. Berdasarkan catatan, di Rumah Sakit Kanker Dharmais pada tahun 2007 lalu 6,5 % dari pasien yang diperiksa saluran pencernaan bagian bawahnya, ditemukan indikasi terkena kanker kolon. Di RSUD Banjarmasin dari 34 kasus pendarahan per anus yang dilakukan melalui pemeriksaan kolonoskopi, 32 persennya terdeteksi mengidap kanker kolon (Diananda, 2009). Selain itu, keberadaan kanker kolon di Indonesia berbeda dengan di beberapa negara maju, bila di negara maju penyakit ini meningkat tajam setelah seseorang berusia di atas 50 tahun dan hanya 3 % di bawah 40 tahun, di Indonesia berdasarkan data bagian Patologi Anatomi FKUI tahun 1997-1999 menunjukkan angka penderita kanker kolon di bawah 40 tahun hingga 35,26 % dan menempati urutan ke-10. Jadi, di Indonesia penderita kanker kolon tidak hanya yang berusia 50 tahun atau lebih, tetapi juga menyerang usia muda atau usia produktif (Diananda, 2009). Pengobatan kanker kolon secara medis hampir selalu dilakukan dengan mengkombinasikan pengobatan operasi (sistem bedah) dengan kemoterapi. Sistem pengobatan dengan cara ini bertujuan untuk meningkatkan respon lokoregional dan untuk mengejar dan membunuh sel-sel kanker yang mungkin lepas dari induknya mengikuti aliran darah atau saluran getah bening terutama pada kanker stadium lanjut. Tetapi sistem pengobatan dengan cara ini menimbulkan efek samping pada penderita seperti rambut menjadi rontok, kulit menjadi kering terbakar dan bersisik, bibir pecah-pecah dan lidah menjadi mati rasa (Herba, 2003). Adanya efek samping tersebut mengakibatkan pengobatan

2

secara kemoterapi, radiasi, atau sistem bedah menjadi kurang efektif untuk menghambat pertumbuhan sel kanker kolon. Sehingga perlu adanya suatu alternatif pengobatan yang dapat mengatasi resistensi dan menghambat pertumbuhan sel kanker serta meminimalkan efek samping. Hal ini dapat dilakukan dengan optimalisasi pemanfaatan potensi tumbuhan obat alami dalam mengatasi masalah tersebut. Salah satu tumbuhan yang berpotensi untuk dijadikan sebagai alternatif pengobatan kanker, khususnya kanker kolon adalah tanaman pegagan. Tanaman pegagan (Centella asiatica) berpotensi sebagai pencegah dan obat alternatif kanker kolon karena adanya senyawa aktif yang berperan sebagai antiinflamasi, antikanker, antioksidan dan imunomodulator yaitu asiatikosida, asam asiatat, madekasosida, asam madiasat dan kuersetin. Selama ini tanaman pegagan hanya digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit seperti: memperlancar peredaran darah terhadap pembuluh-pembuluh otak, sirosis hati, keloid, skleroderma, gangguan pembuluh vena, penyakit traumatis, lupus, serta meningkatkan fungsi mental serta dapat menanggulangi luka bakar sehingga pemanfaatan tanaman ini menjadi belum optimal (Anonim, 2008). Padahal keberadaan tumbuhan ini tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia. Sementara dilain pihak, tanaman pegagan (Centella asiatica) memiliki potensi sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker salah satunya adalah kanker kolon. Hal tersebut didasari karena adanya potensi senyawa kimia salah satunya adalah kuersetin yang berpotensi untuk dijadikan obat dalam mengatasi beberapa penyakit kronis termasuk kanker kolon. Namun, karena keterbatasan kajian ilmiah yang tersedia maka masyarakat belum bisa memanfaatkan tanaman pegagan ini secara optimal sebagai obat anti kanker kolon. Berdasarkan literatur dan telaah pustaka yang penulis lakukan, ada beberapa hal yang mendorong penulis menggunakan tanaman pegagan (Centella asiatica) sebagai agen kemopreventif COX-2 (Cyclooxygenase ) pada penderita kanker kolon. Pertama, tanaman pegagan banyak terdapat di Indonesia dan pemanfaatannya belum optimal bahkan hanya dianggap sebagai tanaman liar. Kedua, tanaman pegagan memiliki kandungan senyawa aktif kuersetin yang berfungsi sebagai inhibitor enzim isomerase DNA sel kanker (berperan dalam proses perbanyakan dan peningkatan keganasan kanker. Ketiga, tanaman ini mengandung asiatikosida, asam asiatat, madekasosida, asam madiasat yang telah menunjukan perannya sebagai antioksidan, antimutagenik, antineoplastik dan aktifitas vasodilatator. Keempat, kemungkinan terjadinya efek samping yang berisiko dapat dikurangi karena tanaman pegagan dapat dijadikan obat alternatif yang bersifat alami. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, maka penulis merasa tertarik untuk menulis sekaligus memberikan alternatif yang terkait dengan pemanfaatan tanaman pegagan (Centella asiatica) sebagai agen kemopreventif COX-2 (Cyclooxygenase ) pada penderita kanker kolon. Beberapa hal yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah penyebab ekstrak tanaman pegagan berpotensi sebagai agen kemopreventif COX-2 (Cyclooxygenase ) pada penderita kanker kolon dan bentuk pemanfaatan atau pengolahan tanaman pegagan (Centella asiatica) sebagai agen kemopreventif COX-2 (Cyclooxygenase ) pada penderita kanker kolon. Hal tersebut penulis sajikan dalam gagasan ilmiah yang

3

berjudulPemanfaatan Tanaman Pegagan (Centella asiatica) sebagai Agen Kemopreventif COX-2 (Cyclooxygenase ) pada Penderita Kanker Kolon. Tujuan Penulisan Berdasarkan latar belakang di atas, adapun beberapa tujuan yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut. (1) Untuk mengkaji apa yang menyebabkan tanaman pegagan (Centella asiatica) berpotensi sebagai agen kemopreventif COX-2 (Cyclooxygenase) pada penderita kanker kolon. (2) Untuk mengetahui cara pemanfaatan atau pengolahan tanaman pegagan yang berpotensi sebagai agen kemopreventif COX-2 (Cyclooxygenase ) pada penderita kanker kolon. Manfaat Penulisan Adapun manfaat penulisan ini adalah sebagai berikut. (1) Penulis a. Menambah pengetahuan mengenai potensi tanaman pegagan (Centella asiatica) yang berpotensi sebagai agen kemopreventif dalam menghambat COX-2 (Cyclooxygenase ) pada penderita kanker kolon. b.Memberikan alternatif solusi terhadap permasalahan tentang semakin meningkatnya penyebaran dan pengobatan penyakit kanker, khususnya kanker kolon di Indonesia. c. Memberikan pandangan terkait dengan pentingnya pemanfaatan tanaman obat alami sebagai agen antikanker kolon. (2) Masyarakat a. Memberikan informasi mengenai potensi tanaman pegagan yang berpotensi sebagai agen kemopreventif COX-2 (Cyclooxygenase ) pada penderita kanker kolon. b.Sebagai bahan pertimbangan dalam mengembangkan pengobatan alternatif menggunakan obat tumbuhan alami untuk agen antikanker. c. Memotivasi masyarakat untuk ikut secara aktif untuk mengenal berbagai tumbuhan alami yang keberadaannya dekat dengan kehidupan masyarakat yang berpotensi sebagai alternatif pengobatan untuk penyakit-penyakit kronis. (3) Pemerintah a. Sebagai gambaran dalam mengambil kebijakan terkait optimalisasi pelestarian sumberdaya alam dalam hal ini adalah tanaman pegagan (Centella asiatica). b.Memberikan deskripsi terkait semakin banyaknya sumber daya alam, khususnya tumbuhan yang bisa dijadikan obat tumbuhan alami dalam mengatasi berbagai penyakit kronis salah satunya adalah kanker kolon. c. Sebagai pedoman dalam pengadaan penyuluhan tentang tanaman obat alami sebagai agen anti kanker kolon.

4

GAGASAN Keberadaan Kanker Kolon di Indonesia Kanker adalah istilah umum untuk pertumbuhan sel tidak normal (yaitu, tumbuh sangat cepat, tidak terkontrol, dan tidak berirama) yang dapat menyusup ke jaringan tubuh normal dan menekan jaringan tubuh normal sehingga mempengaruhi fungsi tubuh. Kanker adalah penyakit dari sel. Penyakit ini timbul ketika sel-sel pada suatu bagian tubuh mulai tumbuh secara tidak terkendali. Dengan kata lain, hal ini dapat terjadi jika DNA rusak dan tidak dapat diperbaiki. Kerusakan DNA bisa didapat atau DNA seseorang dapat menjadi rusak akibat faktor-faktor lingkungan, seperti merokok. Meskipun ada banyak jenis kanker, semua diawali dengan adanya sel-sel abnormal yang tumbuh dan tidak terkendali. Sel-sel kanker dapat membentuk suatu masa jaringan yang biasa disebut tumor. Kanker merupakan penyakit mematikan kedua setelah jantung. Kanker merupakan sel tidak normal yang bercokol dalam tubuh. Pertumbuhannya selain cepat juga tidak segan menyakiti jaringan lain, atau bersifat invasif, dan beranak sebar (metastasis) melalui pembuluh darah serta pembuluh getah bening. Salah satu jenis kanker yang memerlukan penanganan serius adalah kanker kolon. Karsinoma kolorektal berkaitan dengan kolon (usus besar) dan rektum (poros usus). Kanker kolon sebagaimana sifat kanker lainnya, memiliki sifat dapat tumbuh dengan relatif cepat, dapat menyusup atau mengakar (infiltrasi) ke jaringan disekitarnya serta merusaknya, dapat menyebar jauh melal