119565446 Makalah Spo Kolon

download 119565446 Makalah   Spo Kolon

of 26

  • date post

    02-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    182
  • download

    14

Embed Size (px)

description

no

Transcript of 119565446 Makalah Spo Kolon

BAB IPENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Eliminasi yang teratur dari sisa-sisa produksi usus penting untuk fungsi tubuh yang normal. Perubahan pada eliminasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan bagian tubuh yang lain. Karena fungsi usus tergantung pada keseimbangan beberapa faktor, pola eliminasi dan kebiasaan masing-masing orang berbeda. Klien sering meminta pertolongan dari perawat untuk memelihara kebiasaan eliminasi yang normal. Pada keadaan sakit klien tidak dapat menggunakan toilet dan tidak memiliki program yang teratur, lingkungan rumah bisa menghadirkan hambatan untuk klien dengan perubahan mobilitas.

Kolon adalah bagian ujung dari saluran pencernaan manusia, yang terdiri dari usus besar, rektum, dan anus. Kolon dimulai pada sisi kanan bawah perut, di mana usus kecil mengosongkan isi pencernaan ke dalam bagian pertama dari usus besar (sekum). Kolon naik dari sekum ke atas sehingga sejajar dengan hati, kemudian menikung tajam ke kiri dan melewati lambung secara melintang.

Pada tingkat limpa, kolon turun dari sisi kiri lambung ke panggul, di mana ia menjadi daerah sigmoid. Kolon sigmoid mengosongkan isinya ke dalam anus, dimana bahan limbah akhirnya dibuang dari tubuh Anda.Rektum dan kolon mampu menyerap banyak obat yang diberikan secara rektal untuk tujuan memperoleh efek sistemik, hal ini dapat menghindari perusakan obat atau obat menjadi tidak aktif karena pengaruh lingkungan perut dan usus.

B. TUJUAN

1. Untuk mengetahui anatomi kolon 2. Untuk memahami sistem penghantaran obat didalam kolon3. Untuk mengetahui sediaan obat yang dapat digunakan untuk penyakit pada kolon. BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

a. PengertianUsus besar atau kolon berbentuk tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 1,5 m yang terbentang dari sekum hingga kanalis ani. Diemeter usus besar sudah pasti lebih besar sari usus halus, yaitu sekitar 6,5 cm, tetapi makin dekat anus diameternya semakin kecil.

b. Anatomi kolon atau usus besarUsus besar terdiri dari sekum, kolon, dan rektum. Pada sekum terdapat katup ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. Sekum menepati dua atau tiga inci pertama dari usus besar. Katup ileosekal mengendalikan aliran kimus dari ileum ke dalam sekum dan mencegah terjadinya aliran balik bahan fekal ke dalam usus halus. Kolon dibagi lagi menjadi kolon asenden, tranversum, desenden dan sigmoid. Usus besar atau kolon memiliki panjang 1 meter dan terdiri atas kolon ascendens, kolon transversum, dan kolon descendens. Di antara intestinum tenue (usus halus) dan intestinum crassum (usus besar) terdapat sekum (usus buntu). Pada ujung sekum terdapat tonjolan kecil yang disebut appendiks (umbai cacing) yang berisi massa sel darah putih yang berperan dalam imunitas.Tempat kolon membentuk kelokan tajam pada abdomen kanan dan kiri atas secara berturut-turut disebut sebagai feksura hepatika dan fleksura lienalis. Kolon sigmoid mulai setinggi krista iliaka dan membentuk lekukan berbentuk-S. bagian utama usus besar yang terakhir disebut sebagai rektum, yang membentang dari kolon sigmoid hingga anus. Satu inci dari rektum disebut sebagai kanalis ani dan dilindungi oleh sfingter ai internus dan an eksternus. Panjang rektum da kanalis ani adalah sekitar 15 cm.

Lapisan otot longitudinal usus besar tidak sempurna, tetapi terkumpul dalam tiga pita yang disebut sebagi taenia koli. Panjang taenia lebih pendek daripaa usus, sehingga usus tertarik dan berkerut mebentuk kanting-kanting kecil yang disebut haustra. Apendises epiploika adalah kantong-kantong kecil peritonium yang berisi lemak dan melekat sepanjag taenia.

Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan berdasarkan pada suplai darah yang diterima. Arteria mesentrika superior memperdarahi belahan kanan (sekum, kolon asenden, dan duapertiga proksimal kolon tranversum), dan arteria mesentrika inferior mendarahi bagian kiri (sepertiga distal kolon tranversum, kolon desenden, kolon sigmoid, dan bagian proksimal rektum). Suplai darah tambahan ke rektum berasal dari arteri hemoroidalis media an inferior yang dicabangkan dari arteria iliaka interna dan aorta abdominalis.

Persarafan usus besar dilakukan oleh sistem saraf otonom dengan pengecualian sfingter eksterna yang bersda dalam pengendalian volunter. Serabut parasimpatis bejalan melalui saraf vagus ke bagian tengah kolon tranversum, dan saraf pelvikus yang berasal dari daerah sakra menyuplai bagian distal. Serabut simpatis meninggalkan medula spinalis melalui saraf splangnikus. Serabut saraf ini bersinaps dalam ganglia seliaka dan aortikorenalis, kemudian serabut pasca ganglionik menuju kolon. Rangsangan simpatis menghambat sekresi dan kontraksi, serta merangsang sfingter rektum. Rangsangan parasimpatis mempunyai efek yang berlawanan.Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah absorbsi air dan elektrolit, yang sudah hampir selsai dlam kolon dekstra. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang menampung masa feses yang sudah terdehidrasi hingga berlangsungnya defekasi.

Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.

Zat - zat sisa di dalam usus besar didorong ke bagian belakang dengan gerakan peristaltik. Zat - zat sisa ini masih mengandung banyak air dan garam mineral yang diperlukan oleh tubuh. Air dan garam mineral kemudian diabsorpsi kembali oleh dinding kolon, yaitu kolon ascendens. Zat-zat sisa berada dalam usus besar selama 1 sampai 4 hari. Pada saat itu terjadi proses pembusukan terhadap zat-zat sisa dengan dibantu bakteri Escherichia coli, yang mampu membentuk vitamin K dan B12. Selanjutnya dengan gerakan peristaltik, zat-zat sisa ini terdorong sedikit demi sedikit ke saluran akhir dari pencernaan yaitu rektum dan akhirnya keluar dengan proses defekasi melewati anus.Fungsi usus besar yaitu

1. menyimpan dan eliminasi sisa makanan,

2. menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit,[1] dengan cara menyerap air

3. mendegradasi bakteri.

c. Penyusun kolon

Colon terdiri dari atas empat lapisan dinding yang sama sepetri usus halus. Jaringan penyusun usus besar terdiri dari Tunika mucosa ((lapisan lendir), dengan bagian: epitel, lamina propia, dan muscularis mucosa yang tidak memiliki villi. Jaringan epitel terdiri atas sel-sel batang yang pada puncaknya terdapat banyak microvilli. Membran sel ke arah lumen diselaputi oleh kutikula. Kelenjar yang terdapat pada usus besar yaitu kelenjar Lieberkuhn. Kelenjar ini berbentuk panjang dan banyak mengandung sel goblet. Kelenjar pada usus besar mengandung sel goblet, sel Paneth, dan sel APUD. Namun yang dominan adalah sel goblet. Sel Paneth sukar ditemukan. Sedangkan sel APUD terdapat cukup banyak. Pada usus besar, terdapat banyak lamina propia yang mengandung nodul limfa dan menerobos masuk menuju ke tunika submukosa (Marieb, 2004). Lapisan muscularis-mucosa mengandung dua lapis otot polos, longitudinal dan sirkuler. Fungsi alat ini ialah absorpsi air, vitamin hasil sistesa simbiosis dengan bakteri colon, dan pembentukan tinja. Tunika submucosa, mengandung terobosan nodul limfa. Tunika muscularis terdiri dari dua lapisan otot, tetapi, lapisan longitudalnya membentuk tiga gumpal otot seperti pipa, disebut teniae coli. Tunika serosa memiliki tonjolan jaringan lemak (Kerr, 1998).Setidaknya ada 4 lapisan penyusun yang sama seperti usus halus untuk membentuk dinding usus besar. Serabut memanjang pada dinding berotot tersusun dalam tiga jalur yang memberi rupa berkerut-kerut dan berlubang-lubang. Sementara dinding selaput lendir yang lebih halus dari yang ada pada usus halus dan tidak memiliki jonjot (pompa pendorong). Di dalam selaput tersebut terdapat kelenjar yang serupa dengan kelenjar tubuler (berbentuk pipa) dan dilapisi oleh epitel berbentuk silindris yang berisi sel cangkir.d. sistem penghantaran obat dengan target kolonColon targetted drug delivery system (CDDS) merupakan metode pengobatan penyakit yang ditujukan atau disampaikan langsung ke lokal usus.Pada sistem penghantaran ini telah dibuat berbagai macam sediaan, salahsatunya adalah tablet dengan variasi penyalutan yang berbeda-beda sepertikombinasi polisakarida, polimer dan lain-lain. Sebagian besar laporan literatur sebelumnya pada penargetan kolon telah difokuskan pada pengembangansistem pengiriman kolon berdasarkan sistem time dependent dan pH dependentserta sistem pemanfaatan bakteri yang berkolonisasi di usus besar atau enzimyang diproduksi oleh bakteri untuk mempengaruhi pelepasan obat.Saat ini penggunaan polisakarida alami menarik perhatian untuk penargetan obat pada usus besar, karena polimer yang tersusun dari beberapamonosakarida banyak tersedia, mudah ditemukan, dan murah, serta dalamberbagai struktur dengan sifat bervariasi. Polisakarida tersebut dapat denganmudah dimodifikasi secara kimia dan biokimia, tidak beracun, hidrofilik, sertasebagai pembentuk gel. Secara konvensional, polisakarida digunakan dalamformulasi tablet untuk menghambat pelepasan obat. Hal ini telah digunakan baik sebagai matriks atau sebagai bahan penyalut. Pada matriks, diperlukankonsentrasi polimer yang tinggi atau dapat digunakan sebagai pengikat dalam tablet. Dengan demikian, berbagai polisakarida dan konsentrasinyamempengaruhi pelepasan obat dari tablet. Adapun beberapa polisakarida yangdigunakan seperti kombinasi kitosan (chi) dan kondroitin sulfat (CHS) (Gattani,2009), pektin (A. Akhgari dkk, 2010), dan inulin (A. Akhari, 2009).Penelitian yang