A. Pengertian Typhoid...

of 29/29
6 BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Typhoid Abdominalis Typhoid Abdominalis (demam typhoid, enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan kesadaran (Ngastiyah, 2005). Typhoid Abdominalis merupakan penyakit infeksi akut usus halus dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai dengan gangguan pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran, disebabkan oleh Salmonella typhosa dan hanya didapatkan pada manusia (Rampengan, 2007) Typhoid Abdominalis adalah penyakit infeksi akut pada usus halus yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhosa (nugroho, 2011). Typhoid Abdominalis adalah infeksi akut pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi A, B, dan C (widoyono, 2008) . Menurut (widoyono, 2008) Sumber penularan penyakit ini adalah melalui air dan makanan. Kuman Salmonella dapat bertahan lama dalam makanan. Penggunaan air minum secara masal yang tercemar bakteri sering menyebabkan terjadinya (KLB) kejadian luar biasa . vektor berupa serangga juga berperan dalam sumber penularan penyakit. Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa Typhoid Abdominalis adalah infeksi akut yang menyerang pada saluran pencernaan
  • date post

    06-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    265
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of A. Pengertian Typhoid...

6

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Typhoid Abdominalis

Typhoid Abdominalis (demam typhoid, enteric fever) adalah penyakit

infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam

yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan

kesadaran (Ngastiyah, 2005).

Typhoid Abdominalis merupakan penyakit infeksi akut usus halus

dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai dengan gangguan

pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran, disebabkan oleh

Salmonella typhosa dan hanya didapatkan pada manusia (Rampengan, 2007)

Typhoid Abdominalis adalah penyakit infeksi akut pada usus halus yang

disebabkan oleh kuman Salmonella typhosa (nugroho, 2011). Typhoid

Abdominalis adalah infeksi akut pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh

Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi A, B, dan C (widoyono, 2008) .

Menurut (widoyono, 2008) Sumber penularan penyakit ini adalah melalui air

dan makanan. Kuman Salmonella dapat bertahan lama dalam makanan.

Penggunaan air minum secara masal yang tercemar bakteri sering

menyebabkan terjadinya (KLB) kejadian luar biasa . vektor berupa serangga

juga berperan dalam sumber penularan penyakit.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa Typhoid

Abdominalis adalah infeksi akut yang menyerang pada saluran pencernaan

7

yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi, yaitu sejenis bakteri gram

negatif yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan terkadang disertai

dengan gangguan kesadaran pada klien.

B. Anatomi dan fisiologi Sistem Pencernaan

Gambar 1 . Sistem Pencernaan Tubuh Manusia

Sumber : (Pearce, 2008)

8

Sistem pencernaan berurusan dengan penerimaan makanan dan

mempersiapkannya untuk di asimilasi oleh tubuh. Saluran pencernaan yang

panjangnya 8-9 meter pada orang dewasa ini dimulai dari mulut, esofagus,

lambung, usus halus, usus besar, rektum, dan berakhir di anus (Pearce, 2008).

Saluran cerna dapat dikatakan berada di luar tubuh. Zat-zat gizi yang berasal dari

makanan harus melewati dinding saluran cerna agar dapat diabsorbsi ke dalam

aliran darah. Berikut ini adalah urutan saluran pencernaan dari mulut sampai anus

(Almatsier, 2002) :

1. Mulut

Proses pencernaan dimulai di mulut. Mulut adalah rongga lonjong pada

permulaan saluran pencernaan. Terdiri dari dua bagian luar yang sempit, atau

vestibula,yaitu ruang diantara gusi serta gigi dengan bibir dan pipi, dan bagian

dalam yaitu rongga mulut yang dibatasi di sisi-sisinya oleh tulang maxilaris dan

semua gigi, dan di sebelah belakang bersambung dengan awal farink. Disaat

kita mengunyah, gigi geligi memecah makanan menjadi bagian-bagian kecil,

sementara makanan bercampur dengan cairan ludah untuk memudahkan proses

menelan. Ketika ditelan, makanan melewati epiglotis, suatu katup yang

mencegah makanan masuk trakeake paru-paru. Makanan yang telah ditelan

dinamakan bolus yang segera masuk ke dalam farink.

2. Esofagus ke lambung

Esofagus adalah sebuah tabung berotot yang panjangnya dua puluh sampai

dua puluh lima sentimeter, diatas dimulai dari farink, sampai pintu masuk

kardiak lambung bawah. Terletak di belakang trakhea dan di depan tulang

9

punggung. Setelah makanan masuk ke farink maka palatum lunak naik untuk

menutup nares posterior, glotis menutupoleh kontraksi otot-ototnya. Makanan

berjalan dalam esofagus karena kerja peristaltik, lingkaran didepan serabut otot

makanan mengendor dan yang dibelakang makanan berkontraksi. Maka

gelombang peristaltik mengantarkan bola makanan ke lambung. Bolus dalam

lambung bercampur dengan cairan lambung dan di giling halus menjadi cairan

yang dinamakan kimus. Lambung kemudian sedikit demi sedikit menyalurkan

kimus melalui sfingter pilorus ke dalam usus halus, setelah itu sfingter pilorus

menutup.

3. Usus halus

Usus halus adalah segmen yang paling panjang dari saluran

Gastrointestinal, yang jumlah panjangnya kira-kira dua per tiga dari total

saluran (Smeltzer, 2001). Usus halus terletak di daerah umbilikus dan

dikelilingi oleh usus besar. Pada bagian atas usus halus, kimus melewati lubang

saluran empedu, yang meneteskan cairan ke dalam usus halus berasal dari dua

alat, yaitu kantong empedu dan pankreas. Usus halus dibagi dalam beberapa

bagian :

a. Usus dua belas jari (Duodenum)

Duodenum adalah bagian pertama usus halus yang panjangnya 25 cm.

Berbentuk sepatu kuda, dn kepalanya mengelilingi kepala pankreas. Saluran

empedu dan saluran pankreas masuk ke dalam duodenum pada suatu lubang

yang disebut ampula hepatopankreatika, atau ampula Vateri, sepuluh sentimeter

dari pilorus

10

b. Usus kosong (Jeujunum )

Jeujunum menempati dua perlima sebelah atas dari usus halus yang

selebihnya. Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter,

1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan usus penyerapan

digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium. Permukaan dalam usus

kosong berupa membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili), yang

memperluas permukaan dari usus.

c. Usus penyerapan (Ileum)

Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus.

Pada sistem pencernaan manusia, ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan

terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Di

dalam ileum terjadi proses absorbsi. Absorbsi makanan yang telah dicernakan

selurunya berlangsung di dalam usus halus melalui dua saluran, yaitu pembuluh

darah kapiler dan saluran limfe di vili di sebelah dalam permukaan usus halus.

Sebuah vilus berisi lakteal, pembuluh darah, epitelium, dan jaringan

otot yang diikat bersama oleh jaringan limfoid. Lakteal sentralis berakhir

menjadi usus buntu, sedangkan jaringan otot datar melaluinya, dan pembuluh

darah kapiler mengitarinya. Kemudian selurunhnya diselimuti oleh membran

dasar dan ditutupi oleh epitelium. Karena vili keluar dari dinding usus maka

bersentuhan dengan makanan cair atau kimus, dan lemak diabsorbsi ke dalam

lakteal. Lemak yang telah diabsorbsi kemudian berjalan melalui banyak

pembuluh limfe ke reseptakulum khili dan kemudian oleh saluran torasika ke

dalam aliran darah.

11

4. Usus besar ( kolon )

Usus besar terdiri dari kolon asendens (kanan), kolon transversum, kolon

desendens (kiri), kolon sigmoid (berhubungan dengan rectum). Panjang usus

besar kira-kira satu setengah meter, merupakan bagian akhir dari saluran cerna

sebagai tempat ,mengumpulkan sisa makanan padat, tempat mengabsorbsi air

dan mineral tertentu serta tempat pertumbuhan bakteri. Sisa makanan ditahan

oleh kolon hingga keluar dalam bentuk feces. Makanan paling lama ditahan di

dalam kolon, sering sampai dua puluh empat jam. Karena kontraksi peristaltik

dan sgmentasi bergerak lebih lambat dalam kolon, bakteri mendapat

kesempatan untuk berkembang biak. Bakteri mendapat makanan dari sisa

makanan yang ada dalam kolon.

Bakteri dalam kolon dapat membentuk beberapa jenis vitamin yang

sebagian diabsorbsi oleh tubuh. Sebagian kecil vitamin B dan K diduga

diperoleh melalui absorbsi ini. Disamping itu bakteri kolon menghasilkan gas

sebagai sisa produk metabolisme makanan. Bila gas ini tertumpuk akan

dikeluarkan melalui anus. Kolon memberi tubuh kesempatan terakhir untuk

mengabsorbsi air serta natrium dan klorida. Bila tidak berhasil akan

menimbulkan Diare. Ini hanya terjadi pada keadaan khusus.

5. Usus buntu ( sekum )

Sekum terletak di daerah iliaka kanan menempel pada otot iliopsoas. Dari

sini kolon naik melalui daerah sebelah kanan lumbal dan disebut kolon

ascenden. Dibawah hati berbelok pada tempat yang disebut flexsura hepatika,

lalu berjalan melalui tepi daerah epigastrik dan umbilikal sebagai kolon

12

tranversum. Di bawah limpa membelok sebagai flexsura sinistra atau flexsura

lienalis dan kemudian berjalan melalui daerah kanan lumbal sebagai kolon

desenden.

6. Umbai cacing ( appendiks )

Umbai cacing atau appendiks adalah organ tambahan pada usus buntu.

Appendiks juga terdiri atas empat lapisan dinding yang sama seperti usus yang

lainnya, hanya lapisan submukosa berisi sejumlah besar jaringan limfe, yang

dianggap mempunyai fungsi yang sama dengan tonsil. Dalam appendiks jika

mengalami suatu inflamasi atau peradangan disebut appendiksitis, dan harus

dilakukan appendiktomi.

7. Rektum dan anus

Rektum ialah sepuluh sentimeter terbawah dari usus besar, dimulai pada

kolon sigmoid dan berakhir pada saluran anal yang kira-kira 3 cm panjangnya.

Saluran ini berakhir ke dalam anus yang dijaga oleh otot internal dan external.

Otot-otot rektum menahan sisa makanan ini hingga tiba waktunya untuk

dikeluarkan oleh tubuh. Pada sat itu otot rektum mengendor dan sisa makanan

keluar melalui sfingter terakhir, yaitu anus yang membuka.

C. Etiologi

Typhoid Abdominalis disebabkan oleh kuman Salmonella typhosa, basil gram

negatif, tidak berkapsul yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora.

Terdapat 3 bioserotipe Salmonella typhosa, yaitu paratyphi A, paratyphi B, dan

paratyphi C Kuman ini mempunyai tiga antigen yang penting untuk

13

pemeriksaan laboratorium, yaitu Antigen O ( somatik ) , Antigen H ( flagela ) ,

dan Antigen V1 ( kapsul ) (Ngastiyah, 2005).

Bakteri ini akan mati pada pemanasan 57C selama beberapa menit.

Menurut (Mansjoer, 2000) , Salmonella Typhi memasuki tubuh akibat

makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Manusia merupakan satu-

satunya reservoir sejati S. Typhi, di alam dan orang-orang dengan typhoid atau

pembawa kuman kronis sebagai bertindak sebagai sumber infeksi utama.

Terdapat dua sumber penularan S.typhi , yaitu pasien dengan demam typhoid

dan yang paling sering, adalah karier.

D. Patofisiologi

Masuknya kuman Salmonella typhi ke dalam tubuh manusia terjadi

melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Penularan kuman ini dapat

melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi, feces , lalat yang

membawa kuman tersebut, dan muntahan dari penderita Typhoid. Sebagian

kuman dimusnahkan di lambung, sebagian lolos masuk ke dalam usus dan

selanjutnya berkembang biak (Soegijanto, 2002). Kuman dapat hidup dan

berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plague peyeri

ileum distal dan kuman tersebut mengeluarkan endotoksin yang selanjutnya

kuman masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteriemia pertama

yang asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh

terutama hati dan limpa yang selanjutnya akan dilakukan fagositosis.

14

Pada proses fagosit ini, kuman yang dapat difagosit akan mati,

sedangkan yang tidak difagosit akan tetap hidup dan menyebabkan bakteriemia

kedua. Kuman yang masuk ke aliran darah akan menyebabkan roseola pada

kulit dan lidah hiperemia. Selanjutnya kuman masuk ke dalam usus halus dan

menyebabkan peradangan sehingga menimbulkan nausea dan vomitus serta

adanya anorexia masalah tersebut akan menyebabkan intake klien yang tidak

adekuat dan kebutuhan nutrisi yang kurang dari tubuh yang bisa menyebabkan

diare sehinggas diperlukan bedrest untuk mencegah kondisi klien akan menjadi

bertambah buruk. Selanjutnya kuman masuk ke dalam hepar yang selanjutnya

mengeluarkan endotoksin yang akan merusak hepar sehingga terjadi

hepatomegali dan juga mengakibatkan splenomegali yang disertai dengan

meningkatnya SGOT/SGPT. Selain itu, kuman dapat menyebar ke hipotalamus

yang menekan termoregulasi yang mengakibatkan demam remiten dan

hipertermi sehingga klien akan mengalami malaise dan akhirnya mengganggu

aktivitasnya (Muttaqin, 2011).

E. Manifestasi klinik

Manifestasi klinis Typhoid Abdominalis tergantung dari virulensi dan daya

tahan tubuh. Masa inkubasi rata-rata sekitar 10 hari , pada penderita yang khas

dan tidak diobati dengan antimikroba maka penyakit ini berlangsung selama 4

minggu (Mansjoer, 2000). Dengan tahapan sebagai berikut:

15

1. Minggu pertama.

Keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya,

yaitu demam yang remiten suhu tubuh menurun pada siang hari dan kembali

naik pada malam hari, nyeri kepala, pusing , nyeri otot, anoreksia,nausea dan

vomitus, obstipasi atau diare, dan bradikardi (Dermawan & Rahayuningsih,

2010).

2. Minggu kedua.

Gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam kontinue, terus-menerus,

bradikardi relatif, lidah coated tongue (kotor di tengah, tepi dan ujung merah

tremor), delirium, hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan

kesadaran berupa somnolen sampai koma.

3. Minggu ketiga.

Pada minggu ketiga panas suhu tubuh klien mulai berangsur-angsur normal.

Peningkatan uji Widal pada minggu keduan dan ketiga memastikan diagnosa

pasti typhoid, diare pea soup

4. Minggu keempat.

Fase minggu keempat adalah masa penyembuhan, kembalinya keadaan

suhu tubuh menjadi normal dan menghilangnya gejala-gejala yang terjadi

selama masa inkubasi dari kuman.

16

F. Komplikasi

Pada Typhoid Abdominalis, demam yang lama akan menyebabkan

kelemahan yang hebat, penurunan berat badan, dan banyak kekurangan zat

gizi. Beberapa komplikasi yang terjadi pada typhoid :

1. Komplikasi intestinal

Yaitu komplikasi yang terjadi di dalam usus yang akan mengakibatkan

organ yang berkaitan mengalami suatu gangguan yang lain.

a. Pendarahan usus

Erosi pembuluh darah di plak peyer yang nekrotik di dalam

dinding usus dapat menyebabkan perdarahan pada traktus

intestinal. Darah samar di dalam feceslazim ditemukan pada 20%

penderita typhoid. Sedangkan darah dalam jumlah yang besar

dijumpai pada 10% penderita. Biasanya perdarahan hebat

merupakan komplikasi lanjut, yang sering terjadi selama minggu

kedua atau ketiga penyakit. Penurunan mendadak dalam tekanan

darah atau suhu tubuh dimungkinkan merupakan manifestasi

pertama perdarahan (Guerrant, 1991).

b. Perforasi usus

Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelahnya dan

terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi yang tidak disertai

peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga

peritonium, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara

diantara hati dan diafragma pada foto rontgen abdomen yang dibuat

17

dalam keadaan tegak. Nyeri di kuadran kanan bawah abdomen

menjadi manifestasi dini tersering.

c. Peritonitis

Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa

perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut, yaitu nyeri perut

yang hebat, dan dinding abdomen yang menegang.

2. Komplikasi ekstraintestinal.

Yaitu komplikasi yang terjadi di luar usus dan mengakibatkan

gangguan yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhy yang sudah

menyebar ke organ yang ada di luar usus.

a. Kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan,sepsis),

miokarditis,trombosis, dan tromboflebitis.

b. Darah : anemia hemolitik, trombositopenia dan atau koagulasi

intravaskuler diseminata, dan sindrom uremia hemolitik.

c. Paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.

d. Hepar dan kandung kemih : hepatitis dan kolelitiasis.

e. Ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis.

f. Tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis.

g. Neuropsikiatrik : delirium, meningismus, meningitis, polineuritis

perifer, sindrom Guillain-Bare, psikosis, dan sindrom katatonia.

Pada anak-anak dengan demam paratifoid, komplikasi lebih

jarang terjadi. Komplikasi lebih sering terjadi pada keadaan

18

toksemia berat dan kelemahan umum, bila perawatan pasien

kurang sempurna (Mansjoer, 2000).

G. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan typhoid sampai saat ini masih menganut trilogi , yaitu :

1. Istirahat dan perawatan profesional.

Perawatan ini bertujuan mencegah komplikasi dan mempercepat proses

penyembuhan.

a. Pasien harus tirah baring ( bed rest ) sampai minimal 7 hari bebas

demam.

b. Mobilisasi dilakukan bertahap, sesuai dengan kondisi kekuatan

pasien.

c. Posisi klien perlu diubah-ubah untuk mencegah dekubitus dan rasa

tidak nyaman.

d. Defekasi dan BAK perlu diperhatikan, karena kadang-kadang

terjadi obstipasi dan retensi urin.

2. Diet.

a. Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi

protein.

b. Makanan tidak boleh yang mengandung serat dan tidak

merangsang dan menimbulkan gas.

c. Bila kesadaran menurun, diberikan makanan cair, melalui sonde

lambung.

19

d. Pada penderita yang akut, dapat diberi bubur saring. Banyak

penderita tidak menyukai bubur saring, karena tidak sesuai dengan

selera mereka, sehingga mereka hanya makan sedikit dan ini

berakibat pada keadaan umum dan gizi penderita semakin mundur

dan masa penyembuhan menjadi lama. (Juwono, 1983) Beberapa

penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat dini,

yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa(pantang sayuran

dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman pada penderita

typhoid.

e. Diperbolehkan dengan makanan lunak jika kesadaran dan nafsu

makan baik serta bebas demam.

3. Pemberian Obat-obatan.

Untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran kuman,

antibiotik yang dapat digunakan :

a. Klorampenikol

Klorampenikol adalah antibiotik yang dipilih dalam

pengobatan demam typhoid. Efeknya mengurangi lama rawat dari

penyakit dan menekan angka kejadian kematian. Klorampenikol

paling efektif di tahap awal infeksi. Sayangnya, kekambuhan sering

terjadi setelah pengobatan secara intensif dengan klorampenikol,

karena obat ini kurang efektif dalam mencegah infeksi yang

bersifat karier. Dosis yang dianjurkan 50-100 mg/kgBB/hari,

selama 10-14 hari. (Stewart, 1968).

20

b. Kotrimoksazol

Kelebihan Kotrimoksazol antara lain dapat digunakan untuk

kasus yang resisten terhadap klorampenikol, penyerapan di usus

cukup baik, dan kemungkinan timbulnya kekambuhan pengobatan

lebih kecil dibandingkan klorampenikol. Kelemahannya adalah

dapat terjadi skin rash (1-15%). Dosis yang dianjurkan 30-40

mg/kgBB/hari untuk Sulfametoksazol dan 6-8 mg/kgBB/hari untuk

Trimetpprin, diberikan dalam 2 kali pemberian, selama 10-14 hari.

c. Ampisilin / amoksisilin

Berlawanan dengan klorampenikol, Ampicillin terbukti

menunjukkan hasil yang baik pada pengobatan yang bersifat karier,

tetapi untuk memunculkan efek tersebut butuh pengobatan awal

dalam beberapa bulan. Dosis yang dianjurkan : Ampisilin 100-200

mg/kgBB/hari, untuk Amoksisilin 100mg/kgBB/hari. (Stewart,

1968)

d. Kortikosteroid

Kortikosteroid hanya diberikan dengan indikasi yang tept

karena dapat menyebabkan pendarahan usus dan relaps. Tetapi,

pada kasus berat penggunaan kortikosteroid dapat menurunkan

angka kematian.

(Rampengan, 2007)

21

H. Pengkajian fokus

1. Identitas

Beberapa komponen yang ada pada identitas meliputi nama, jenis

kelamin, umur, alamat, suku bangsa, agama, No.registrasi, pendidikan,

pekerjaan, tinggi badan, berat badan, tanggal dan jam masuk Rumah

Sakit.

2. Keluhan utama

Keluhan utama yang dirasakan oleh klien typhoid biasanya mengeluh

adanya demam.

3. Riwayat penyakit sekarang

Umumnya yang dirasakan pada klien dengan typhoid adalah demam,

perut terasa mual, adanya anorexia, diare atau konstipasi,dan bahkan

menurunnya kesadaran.

4. Riwayat penyakit dahulu

Perlu ditanyakan apakah klien sebelumnya pernah mengalami typhoid

atau penyakit menular yang lain.

5. Riwayat penyakit keluarga

Ditanyakan apakah keluarga pernah menderita penyakit yang sama atau

penyakit yang lainnya.

6. Pola-Pola fungsi kesehatan

a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan

Adanya tindakan penatalaksanaan kesehatan di RS akan

menimbulkan perubahan terhadap pemeliharaan kesehatan.

22

b. Pola nutrisi dan metabolik

Adanya nausea dan vomitus serta anorexia akan mempengaruhi

status gizi. Pengukuran TB dan BB jika memungkinkan akan

memperlihatkan adanya penurunan atau peningkatan status gizi

klien.

c. Pola aktivitas dan latihan

Aktivitas klien akan terganggu akibat adanya malaise serta

keterbatasan latihan yang mewajibkan klien untuk bed rest.

d. Pola istirahat dan tidur

Frekuensi dan kebiasaan tidur klien akan terganggu karena adanya

proses peningkatan suhu tubuh.

e. Pola eliminasi

Klien dengan typhoid mengalami masalah pada pola eliminasi

karena kurangnya intake asupan nutrisi dan kondisi yang

mewajibkan untuk bedrest, maka klien akan beresiko besar untuk

terkena konstipasi.

f. Pola hubungan

Akibat dari proses infeksi tersebut secara langsung akan

mempengaruhi hubungan baik intrapersonal maupun interpersonal.

g. Pola persepsi dan konsep diri

Akan terjadi perubahan jika klien tidak memahami cara yang

efektif untuk mengatasi masalah kesehatannya dan konsep diri

23

yang meliputi (Body Image, identitas diri, Peran diri, ideal diri, dan

harga diri).

h. Pola reproduksi dan seksual

Pada pola reproduksi dan seksual pada klien yang sudah menikah

akan mengalami perubahan.

i. Pola mekanisme koping

Masalah timbul jika klien tidak efektif dalam mengatasi masalah

kesehatannya.

j. Pola nilai dan kepercayaan

Adanya kecemasan dalam sisi spiritual akan menyebabkan

masalah yang baru yang ditimbulkan akibat dari ketakutan akan

kematian dan akan mengganggu kebiasaan ibadahnya.

7. Pemeriksaan fisik

a. B1 (Breathing) : biasanya tidak ada masalah, tetapi pada kasus

berat bisa didapatkan komplikasi yaitu adanya pneumonia.

b. B2 (Blood) : TD menurun, diaforesis terjadi pada minggu pertama,

kulit pucat, akral dingin, penurunan curah jantung dengan adanya

bradikardi, kadang terjadi anemia, leukopeni pada minggu awal,

nyeri dada, dan kelemahan fisik.

c. B3 (Brain) : Pada klien dengan typhoid biasanya terjadi delirium

dan diikuti penurunan kesadaran dari composmentis ke

apatis,somnolen hingga koma pada pemeriksaan GCS.

24

d. B4 (Bladder) : pada kondisi berat akan terjadi penurunan output

respon dari curah jantung.

e. B5 (Bowel)

I : lidah kotor, terdapat selaput putih, lidah hiperemis, stomatitis,

muntah,kembung, adanya distensi abdomen dan nyeri abdomen,

diare atau konstipasi.

Au : penurunan bising usus kurang dari 5x/menit pada minggu

pertama dan selanjutnya meningkat akibat adanya diare.

Per : didapatkan suara tympani abdomen akibat adanya kembung.

Pal : adanya hepatomegali, splenomegali, mengidentifikasi adanya

infeksi pada minggu kedua. Adanya nyeri tekan pada abdomen.

f. B6 (Bone) : adanya respon sistemik yang menyebabkan malaise.

Kelemahan umum. Integumen : timbulnya roseola (emboli dari

kuman dimana didalamnya mengandung kuman Salmonella

Ttyphosa , yang timbul diperut, dada, dan bagian bokong), turgor

kulit menurun, kulit kering (Muttaqin, 2011).

8. Pemeriksaan penunjang

a. Pemeriksaan feces

Pengambilan biakan feces dan urine dilakukan karena penyebaran

Salmonella sampai ke empedu, pemeriksaan ini positif biasanya

pada minggu kedua dan ketiga.

b. Pemeriksaan darah lengkap.

25

Biakan darah biasanya positif pada minggu pertama pada

perjalanan penyakit. Kadang terjadi anemia akibat proses inflamasi.

c. Kolonoskopi

Mengidentifikasi adanya perubahan lumen dinding (menyempit/

tidakteratur), menunjukkan obstruksi usus.

d. Pemeriksaan serologi

Merupakan reaksi serologis yang didasarkan antara reaksi

aglutinasi antara antigen Salmonella dan antibodi yang terdapat

pada serum penderita. Titer O : 1/200. Titer H : 1/400. atau

Kenaikan titer 4 kali 1 (satu) minggu berikutnya.

26

I. Pathways keperawatan

Salmonella typhi

Feces Muntahan lalat

Makanan

Lambung

HCL

Hidup Mati

Usus

BerkembangDi Plaque peyeri Mengeluarkan Endotoksin

Ileum distal

asimtomatik Bakteriemia primer

Menyebar ke organ RES (hati dan limpa) Sumber : (Soegijanto, 2002)

Difagosit tidak difagosit

Mati Bakteriemia sekunder

Darah Usus halus Hipothalamus Hepar

Roseola peradangan menekan Hepato danDan Lidah thermoregulasi splenomegaliHiperemia

demam remiten Endotoksinmerusak hepar

Hiperperistaltik usus

Diare

Mudah lelah SGOT/SGPTmeningkat

Mual dan muntah bedrest

Anorexia konstipasi

HIPERTERMI

Defisit volume cairan

Gangguan pola

eliminasi

Intoleransi aktivitas

Resiko/aktual Nutrisi

kurang dari kebutuhan

tubuh

Nyeri

27

J. Diagnosa keperawatan

1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi salmonella typhosa.

2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan intake dan output

yang tidak seimbang.

3. Resiko/aktual nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan intake yang tidak adekuat akibat mual,muntah dan anorexia.

4. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan inflamasi pada

usus halus.

5. Gangguan pola eliminasi : diare berhubungan dengan proses

peradangan pada usus halus.

6. Gangguan pola eliminasi : konstipasi berhubungan dengan proses

peradangan pada usus halus.

7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.

(Capernito, 2000)

K. Fokus Intervensi dan Rasional (Capernito, 2000).

1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi salmonella

typhosa.

Tujuan : suhu tubuh normal

Kriteria hasil : Suhu tubuh normal, nadi dan RR normal, tidak ada

pusing.

Intervensi :

a. Monitor TTV klien sesering mungkin.

28

R : Untuk mengetahui tanda-tanda kenaikan suhu yang mungkin

terjadi infeksi.

b. Anjurkan klien untuk berpakaian tipis dari bahan yang menyerap

keringat..

R : supaya klien merasa nyaman, karena bahan pakaian yang tipis

akan mengurangi evaporasi tubuh.

c. Monitor Intake dan Output klien.

R : Untuk mengamati perbaikan dan perburukan dari klien.

d. Anjurkan klien untuk meningkatkan intake cairan 2-3 liter/hari.

R : Sebagai rehidrasi dari cairan yang hilang dari penguapan tubuh,

mual, muntah dan diare.

e. Memberikan kompres dengan air biasa ( suhu normal ).

R : Agar lebih mudah untuk memindahkan panas dari klien ke

handuk kompres.

f. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi antibiotik dan

antipiretik.

R : Antibiotik untuk mengurangi proses infeksi dan antipiretik

untuk menurunkan panas tubuh.

2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan intake dan

output yang tidak seimbang.

Tujuan : intake dan output seimbang.

29

Kriteria hasil : deficit cairan dapat teratasi dan tidak ada tanda-tanda

dehidrasi, turgor baik, membrane mukosa baik.

Intervensi :

a. Monitor status nutrisi klien.

R : mengetahui adanya tanda-tanda perbaikan dan perburukan dari

klien.

b. Anjurkan klien untuk banyak minum.

R : Untuk mengganti cairan yang hilang akibat diare.

c. Monitor intake dan output klien.

R : sebagai dasar tindakan banyaknya rehidrasi yang dibutuhkan

klien.

d. Kolaborasi dengan pemberian cairan melalui IV.

R : membantu mengganti cairan intravaskuler yang berkurang.

e. Kolaborasi dengan dokter apabila terjadi tanda-tanda shock.

R : sebagai terapi lanjutan apabila terjadi tanda-tanda shock.

3. Resiko/aktual nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan intake yang tidak adekuat akibat mual,muntah dan

anorexia.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan, nutrisi klien dapat

terpenuhi, BB tetap atau bertambah, tidak ada anorexia dan mual

muntah.

30

Kriteria hasil : tidak ada tanda-tanda mal nutrisi, adanya peningkatan

BB sesuai dengan tujuan, mual dan muntah berkurang, tidak ada

anorexia.

Intervensi :

a. Monitor status nutrisi klien.

R : Sebagai dasar awal tindakan keperawatan.

b. Jelaskan pada klien tentang pentingnya makanan untuk membantu

proses penyembuhan.

R : meningkatkan pengetahuan klien tentang manfaat nutrisi

sehingga memotivasi klien agar mau makan.

c. Tawarkan klien snack yang disukai.

R : Untuk menambah nafsu makan klien.

d. Jaga kebersihan oral pasien.

R : Dapat memberi rasa nyaman pada mulut sehingga dapat

menambah nafsu makan.

e. Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering.

R : Menghindari rasa mual dan keinginan untuk muntah.

f. Berikan asupan nutrisi sesuai dengan diet (diet lembek, rendah

serat, dan bumbu yang tidak merangsang).

R : Supaya memudahkan klien untuk menelan makanan dan tidak

menyebabkan mual.

31

4. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan inflamasi

pada usus halus.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan, rasa nyaman klien

terpenuhi.

Kriteria hasil : Nyeri berkurang atau hilang, ekspresi wajah rileks

tanda-tanda vital normal, skala nyeri 1-0.

Intervensi :

a. Kaji intensitas nyeri (faktor presipitasi, kualitas, lokasi, skala,

durasi).

R : untuk mengetahui intensitas nyeri klien.

b. Kaji respon klien terhadap nyeri yang dialami.

R : mengetahui sejauhmana nyeri mempengaruhi aktivitas klien.

c. Ajarkan klien untuk relaksasi dan distraksi.

R : untuk membantu mengurangi nyeri secara non farmakologi

d. Berikan klien posisi yang nyaman.

R : untuk menambah kenyamanan klien.

e. Kolaborasi dengan pemberian analgesik.

R : untuk mengurangi rasa nyeri secara farmakologis

5. Gangguan pola eliminasi : diare berhubungan dengan proses

peradangan pada usus halus.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, pola eliminasi klien

kembali normal.

32

Kriteria hasil : BAB normal, Feses (konsistensi dan frekuensi) normal,

mencegah daerah rectal agar tidak iritasi, turgor kulit normal.

a. Identifikasi faktor penyebab diare.

R : Sebagai awal tindakan pengobatan.

b. Monitor BAB (warna, jumlah, frekuensi, dan konsistensi dari

feces).

R : Mengetahui pola BAB klien.

c. Monitor TTV dan KU klien.

R : Mengetahui adanya tanda dan gejala shock pada klien.

d. Anjurkan klien untuk minum 2-3 liter setiap hari.

R : Untuk merehidrasi cairan yang keluar akibat diare.

e. Kolaborasi pemberian cairan IV

R : Mengganti cairan pada intravakuler dan intrerstitial.

f. Kolaborasi dengan Dokter untuk terapy anti diare.

R : Anti diare membantu mengurangi diare.

6. Gangguan pola eliminasi : konstipasi berhubungan dengan proses

peradangan pada usus halus.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pola eliminasi

kembali normal.

Kriteria hasil : BAB normal, rasa tidak nyaman berkurang, tidak ada

massa.

Intervensi :

33

a. Identifikasi penyebab timbulnya konstipasi.

R : Menentukan dasar awal tindakan keperawatan.

b. Ganti posisi klien tiap 2 jam sekali.

R : Mengurangi resiko konstipasi lanjutan karena aktivitas yang

kurang.

c. Pertahankan intake cairan 2-3 liter setiap hari.

R : memenuhi cairan dan memperbaiki konsistensi feces.

d. Kolaborasi dengan ahli gizi dengan pemberian diet tinggi serat dan

rendah lemak.

R : Tinggi serat memudahkan pengeluaran feces.

e. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian laksatif

R : membantu mengeluarkan feces.

7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik akibat

peningkatan metabolisme sekunder.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan,klien dapat mandiri

dan aktivitas klien kembali normal.

Kriteria hasil : aktivitas klien tetap normal, kelemahan fisik berkurang

Intervensi :

a. Kaji respon pasien terhadap aktivitas.

R : untuk mengetahui perubahan-perubahan aktivitas yang dialami

oleh klien.

b. Anjurkan klien untuk tetap istirahat

34

R : Untuk mempercepat proses penyembuhan

c. Batasi pengunjung yang datang

R : agar klien tidak terganggu dalam beristirahat

d. Bantu klien untuk beraktivitas sehari-hari sesuai dengan kebutuhan

klien.

R : memberikan rasa nyaman, karena kebutuhan klien dapat

terpenuhi dengan dibantu oleh perawat ataupun keluarga.

e. Ajarkan aktivitas yang dapat dilakukan klien secara bertahap

R : Agar tidak mengganggu bedrest pada proses penyembuhan

klien.