05 Trauma Abdomen & Trauma Pelvis

download 05 Trauma Abdomen & Trauma Pelvis

of 37

  • date post

    01-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    60
  • download

    1

Embed Size (px)

description

trauma

Transcript of 05 Trauma Abdomen & Trauma Pelvis

Trauma abdomen trauma pelvis

NS. RISMAWAN ADI YUNANTO, S. KEPTrauma abdomentrauma pelvis

ABDOMENAbdomen ialah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuk lonjong dan meluas dari atas diafragma sampai pelvis dibawah.

Batasan batasan abdomen. Atas: diafragmaBawah: pintu masuk panggul dari panggul besar. Depan dan kedua sisi, otot otot abdominal, Bawah: tulang tulang illiaka dan iga igaBelakang: tulang punggung, otot psoas, dan quadratrus lumborum.

Trauma abdomenTrauma adalah cedera/rudapaksa atau kerugian psikologis atau emosional (Dorland, 2002).

Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001).

etiologiMenurut sjamsuhidayat, penyebab trauma abdomen adalah, sebagai berikut :

Penyebab trauma penetrasi Luka akibat terkena tembakanLuka akibat tikaman benda tajamLuka akibat robekan

Penyebab trauma non-penetrasiTerkena kompresi atau tekanan dari luar tubuhHancur (tertabrak mobil)Terjepit sabuk pengaman karna terlalu menekan perutCidera akselerasi / deserasi karena kecelakaan olah raga

penetrasiTembakan

penetrasiTikaman

PENETRASIRobekan

non-penetrasiSabuk Pengaman

Manifestasi klinisMenurut (Hudak & Gallo, 2001) tanda dangejala trauma abdomen, yaitu :

NyeriNyeri dapat terjadi mulai dari nyeri sedang sampai yang berat. Nyeri dapat timbul dibagian yang luka atau tersebar. Terdapat nyeri saat ditekan dan nyeri lepas.

Darah dan cairanAdanya penumpukan darah atau cairandirongga peritonium yang disebabkan oleh iritasi.

Cairan atau udara dibawah diafragmaNyeri disebelah kiri yang disebabkan oleh perdarahan limpa. Tanda ini ada saat pasien dalam posisi rekumben.

Mual dan muntah

Penurunan kesadaran (malaise, letargi, gelisah)Yang disebabkan oleh kehilangan darah dan tanda-tanda awal shock hemoragi.

Manifesatasi klinisTanda Dan Gejala menurut (FKUI, 1995) :Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium) :a. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organb. Respon stres simpatisc. Perdarahan dan pembekuan darahd. Kontaminasi bakterie. Kematian sel

Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium)a. Kehilangan darahb. Memar / jejas pada dinding perutc. Kerusakan organ-organd. Nyeri tekan, nyeri ketok, nyeri lepas dan kekakuan (rigidity) dinding perut.e. Iritasi cairan usus

komplikasiKomplikasi Trauma Abdomen menurut (Smeltzer, 2001)1. Segera : hemoragi, syok, dan cedera2. Lambat : infeksi

Pemeriksaan penunjangFoto thoraksUntuk melihat adanya trauma pada thorak.

Pemeriksaan darah rutinPemeriksaan Hb diperlukan untuk base-linedata bila terjadi perdarahan terus menerus

Plain abdomen foto tegakMemperlihatkan udara bebas dalam rongga peritoneum, udara bebas retro perineal dekat duodenum, corpus alineum dan perubahan gambaran usus.

Pemeriksaan urine rutinMenunjukkan adanya trauma pada saluran kemih bila dijumpai hematuri. Urine yang jernih belum dapat menyingkirkan adanya trauma pada saluran urogenital.IVP (Intravenous Pyelogram)Karena alasan biaya biasanya hanya dimintakan bila ada persangkaan trauma pada ginjal.

Diagnostik Peritoneal Lavage (DPL)Dapat membantu menemukan adanya darah atau cairan usus dalam rongga perut. Hasilnya dapat amat membantu. Tetapi DPL ini hanya alat diagnostik. Bila ada keraguan, kerjakan laparatomi (gold standard).

Ultrasonografi dan CT ScanSebagai pemeriksaan tambahan pada penderita yang belum dioperasi dan disangsikan adanya trauma pada hepar dan retro peritoneum.

Pemeriksaan khususAbdomonal ParacentesisMerupakan pemeriksaan tambahan yang sangat berguna untuk menentukan adanya perdarahan dalam rongga peritoneum. Lebih dari100.000 eritrosit /mm dalam larutan NaCl yang keluar dari rongga peritoneum setelah dimasukkan 100200 ml larutan NaCl 0.9% selama 5 menit, merupakan indikasi untuk laparotomi.

Pemeriksaan LaparoskopiDilaksanakan bila ada akut abdomen untuk mengetahui langsung sumber penyebabnya.

Rekto-sigmoidoskopiBila dijumpai perdarahan dari anus

penatalaksanaanPre HospitalPrinsip ABC tetap dipegang

Penanganan awal trauma non- penetrasi (trauma tumpul) :Stop makanan dan minumanMobilisasiKirim kerumah sakit.

Penetrasi (trauma tajam)Bila terjadi luka tusuk, maka tusukan (pisau atau benda tajam lainnya) tidak boleh dicabut kecuali dengan adanya tim medis.Penanganannya bila terjadi luka tusuk cukup dengan melilitkan dengan kain kassa pada daerah antara pisau untuk memfiksasi pisau sehingga tidak memperparah luka.Bila ada usus atau organ lain yang keluar, maka organ tersebut tidak dianjurkan dimasukkan kembali kedalam tubuh, kemudian organ yang keluar dari dalam tersebut dibalut kain bersih atau bila ada verban steril.Imobilisasi pasien.Tidak dianjurkan memberi makan dan minum.Apabila ada luka terbuka lainnya maka balut luka dengan menekang.Kirim ke rumah sakit.

penatalaksanaanHospital

1. Trauma penetrasiSkrinning pemeriksaan rontgenIVP atau Urogram Excretory dan CT ScanningIni di lakukan untuk mengetauhi jenis cedera ginjal yang ada.Uretrografi.Di lakukan untuk mengetauhi adanya rupture uretra.

2. Penanganan pada trauma benda tumpul dirumah sakit :Pengambilan contoh darah dan urineDarah di ambil dari salah satu vena permukaan untuk pemeriksaan laboratorium rutin, dan juga untuk pemeriksaan laboratorium khusus seperti pemeriksaan darah lengkap, potasium, glukosa, amilase.Pemeriksaan rontgenPemeriksaan rongten servikal lateral, toraks antero posterior dan pelvis adalah pemeriksaan yang harus di lakukan pada penderita dengan multi trauma, mungkin berguna untuk mengetahui udara ekstraluminal di retro peritoneum atau udara bebas di bawah diafragma, yang keduanya memerlukan laparotomi segera.Study kontras urologi dan gastrointestinal

ASUHAN KEPERAWATANPENGKAJIANDasar pemeriksaan fisik head to toe harus dilakukan dengan singkat tetapi menyeluruh dari bagian kepala ke ujung kaki.Pengkajian data dasar menurut Brunner & Suddart (2001), adalah :

DATA FOKUSAktifitas / istirahatData Subyektif : Pusing, sakit kepala,nyeri, mulasData Obyektif : Perubahan kesadaran, masalah dalam keseimbangan cedera (trauma).

SirkulasiData Obyektif : Kecepatan (bradipneu, takhipneu), pola napas (hipoventilasi, hiperventilasi, dll).

EliminasiData Subyektif : Inkontinensia kandung kemih / usus atau mengalami gangguan fungsi.

Makanan dan cairanData Subyektif : Mual, muntah, dan mengalami perubahan selera makan.Data Obyektif : Mengalami distensi abdomen

NeurosensoriData Subyektif : Kehilangan kesadaran sementara,vertigoData Obyektif : Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan statusmental, kesulitan dalam menentukan posisi tubuh

Nyeri dan kenyamananData Subyektif : Sakit pada abdomen dengan intensitas dan lokasi yang berbeda, biasanya lama.Data Obyektif : Wajah meringis, gelisah, merintih.

DIAGNOSA KEPERAWATANDefisit Volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan perdarahanNyeri berhubungan dengan adanya trauma abdomen atau luka penetrasi abdomen.Ansietas berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatanGangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan fisik

INTERVENSIDefisit Volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan perdarahan

Tujuan : Terjadi keseimbangan volume cairan.Intervensi :a. Kaji tanda-tanda vitalR/ untuk mengidentifikasi defisit volume cairan

b. Pantau cairan parenteral dengan elektrolit, antibiotik dan vitaminR/ mengidentifikasi keadaan perdarahan

c. Kaji tetesan infusR/ awasi tetesan untuk mengidentifikasi kebutuhan cairan.

d. Kolaborasi : Berikan cairan parenteral sesuai indikasi.R/ cara parenteral membantu memenuhi kebutuhan nuitrisi tubuh.

e. Tranfusi darahR/ menggantikan darah yang keluar.

INTERVENSINyeri berhubungan dengan adanya trauma abdomen atau luka penetrasi abdomen.

Tujuan : NyeriteratasiIntervensi :a. Kaji karakteristik nyeriR/ mengetahui tingkat nyeri klien.

b. Beri posisi semi fowler.R/ mengurngi kontraksi abdomen

c. Anjurkan tehnik manajemen nyeri seperti distraksiR/ membantu mengurangi rasa nyeri dengan mengalihkan perhatian

d. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi.R/ analgetik membantu mengurangi rasa nyeri.

e. Managemant lingkungan yang nyamanR/ lingkungan yang nyaman dapat memberikan rasa nyaman klien

INTERVENSIAnsietas berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan

Tujuan : Ansietas teratasiIntervensi :a. perilaku koping baru dan anjurkan penggunaan ketrampilan yang berhasil pada waktu laluR/ koping yang baik akan mengurangi ansietas klien.

b. Dorong dan sediakan waktu untuk mengungkapkan ansietas dan rasa takut dan berikan penangananR/ mengetahui ansietas, rasa takut klien bisa mengidentifikasi masalah dan untuk memberikan penjelasan kepada klien.

c. Jelaskan prosedur dan tindakan dan beripenguatan penjelasan mengenai penyakitR/ apabila klien tahu tentang prosedur dan tindakan yang akan dilakukan, klienmengerti dan diharapkan ansietas berkurang

d. Pertahankan lingkungan yang tenang dantanpa stresR/ lingkungan yang nyaman dapat membuat klien nyaman dalam menghadapi situasi

PELVISPelvis merupakan struktur mirip-cincin yang terbentuk dari tiga tulang: sacrum dan dua tulang innominata, yang masing-masing terdiri dari ilium, ischium dan pubis.

Tulang-tulang innominata menyatu dengan sacrum di bagian posterior pada dua persendian sacroiliaca; di bagian anterior, tulang-tulang ini bersatu pada simfisis pubis.

Simfisis bertindak sebagai penopang sepanjang memikul beban berat badan untuk mempertahankan struktur cincin pelvis.

TRAUMA PELVISFraktur pelvis berkekuatan-tinggi merupakan cedera yang membahayakan jiwa.

Kira-kira 1530% pasien dengan cedera pelvis berkekuatan-tinggi tidak stabil secara hemodinamik, yang mungkin secara langsung dihubungkan dengan hilangnya darah dari cedera pelvis.

Perdarahan merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan fraktur pelvis, dengan keseluruhan angka kematian antara 6-35%.

ETIOLOGITrauma biasanya terjadi secara langsung pada panggul karena tekanan yang besar atau karena jatuh dari ketinggian. Pada orang tua dengan osteoporosis dan osteomalasia dapat terjadi fraktur stress pada ramus pubis.Mekanisme trauma pada cincin panggul terdiri atas:Kompresi anteroposteriorHal ini biasanya akibat tabrakan antara seorang pejalan kaki dengan kendaraan. Ramus pubis mengalami fraktur, tulang inominata terbelah dan mengalami rotasi eksterna disertai robekan simfisis. Keadaan ini disebut sebagai open book injury.

Kompresi lateralKompresi dari samping akan menyebabkan cincin mengalami keretakan. Hal ini terjadi apabila ada trauma samping karena kecalakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian. Pada keadaan ini ramus pubis bagian depan pada kedua sisinya mengalami fraktur dan bagian belakang terdapat strain dari sendi sakroiliaka atau fraktur ilium atau dapat pula fraktur ramus pubis pada sisi yang sama.

LANJUT...Trauma vertikalTulang inominata pada satu sisi mengalami pergerakan secara vertikal disertai fraktur ramus pubis dan disrupsi sendi sakroiliaka pada sisi yang sama. Hal ini terjadi apabila seseorang jatuh dari ketinggian pada satu tungkai

Trauma kombinasiPada trauma yang lebih hebat dapat terjadi kombinasi kelainan diatas.

MANIFESTASI KLINISKeadaan umumTerdapat tanda-tanda shock hemoragic (pelvis dapat menahan sebanyak + 4 liter darah)LokalPemeriksaan nyeri: Tekanan dari samping cincin panggul, Tarikan pada cincin panggulInspeksi perineum untuk mengetahui adanya perdarahan, pembengkakan dan deformitasTentukan derajat ketidakstabilan cincin panggul dengan palpasi pada ramus dan simfisis pubisPemeriksaan colok dubur

Klasifikasi tileFraktur Tipe APasien tidak mengalami syok berat tetapi merasa nyeri bila berusaha berjalan. Terdapat nyeri tekan lokal tetapi jarang terdapat kerusakan pada visera pelvis.

Fraktur Tipe B dan CPasien mengalami syok berat, sangat nyeri dan tidak dapat berdiri, serta juga tidak dapat kencing. Kadang kadang terdapat darah di meatus eksternus. Nyeri tekan dapat bersifat lokal tetapi sering meluas, dan jika menggerakkan satu atau kedua ala ossis ilium akan sangat nyeri.

pemeriksaanPemeriksaan radiologis:Setiap penderita trauma panggul harus dilakukan pemeriksaan radiologis dengan prioritas pemeriksaan rongent posisi AP.Pemeriksaan rongent posisi lain yaitu oblik, rotasi interna dan eksterna bila keadaan umum memungkinkan.

Pemeriksaan urologis dan lainnya:- Kateterisasi- Ureterogram- Sistogram retrograd dan postvoiding- Pielogram intravena- Aspirasi diagnostik dengan lavase peritoneal

penatalaksanaanTindakan operatif bila ditemukan kerusakan alat alat dalam rongga panggul

Stabilisasi fraktur panggul, misalnya:Fraktur avulsi atau stabil diatasi dengan pengobatan konservatif seperti istirahat, traksi, pelvic sling

Fraktur tidak stabil diatasi dengan fiksasi eksterna atau dengan operasi yang dikembangkan oleh grup ASIF

Asuhan keperawatanAktivitas/istirahatTanda : Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau trjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri)

SirkulasiGejala : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas), atau hipotensi (kehingan darah)

NeurosensoriGejala : Hilang gerak/sensasi,spasme otot Kebas/kesemutan (parestesis)Tanda : Demormitas local; angulasi abnormal, pemendakan,ratotasi,krepitasi (bunyi berderit, spasme otot, terlihat kelemahan atau hilang fungsi).

Nyeri/kenyamananGejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cidera ( mungkin terlokalisasi pada arah jaringan/kerusakan tulang; dapat berkurang pada imobilisasi) tak ada nyeri akibat kerusakan saraf.

Diagnosa keperawatanDefisit Volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan perdarahanNyeri berhubungan dengan adanya trauma abdomen atau luka penetrasi abdomen.Ansietas berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatanGangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan fisik

intervensiDefisit Volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan perdarahan

Tujuan : Terjadi keseimbangan volume cairan.Intervensi :a. Kaji tanda-tanda vitalR/ untuk mengidentifikasi defisit volume cairan

b. Pantau cairan parenteral dengan elektrolit, antibiotik dan vitaminR/ mengidentifikasi keadaan perdarahan

c. Kaji tetesan infusR/ awasi tetesan untuk mengidentifikasi kebutuhan cairan.

d. Kolaborasi : Berikan cairan parenteral sesuai indikasi.R/ cara parenteral membantu memenuhi kebutuhan nuitrisi tubuh.

e. Tranfusi darahR/ menggantikan darah yang keluar.

intervensiNyeri berhubungan dengan adanya trauma abdomen atau luka penetrasi abdomen.

Tujuan : NyeriteratasiIntervensi :a. Kaji karakteristik nyeriR/ mengetahui tingkat nyeri klien.

b. Beri posisi semi fowler.R/ mengurngi kontraksi abdomen

c. Anjurkan tehnik manajemen nyeri seperti distraksiR/ membantu mengurangi rasa nyeri dengan mengalihkan perhatian

d. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi.R/ analgetik membantu mengurangi rasa nyeri.

e. Managemant lingkungan yang nyamanR/ lingkungan yang nyaman dapat memberikan rasa nyaman klien

Terima kasih