Lapsus STEMI

download Lapsus STEMI

of 35

  • date post

    14-Apr-2016
  • Category

    Documents

  • view

    31
  • download

    7

Embed Size (px)

description

Acute Coronary Syndrome

Transcript of Lapsus STEMI

BAGIAN KARDIOLOGI &LAPORAN KASUSKEDOKTERAN VASKULARJANUARI 2016FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

ST ELEVATION MYOCARDIAL INFARCTION

DISUSUN OLEH : Zulyudisiawan MuinC111 11 171

SUPERVISOR PEMBIMBING :dr. Zaenab Djafar, SpPD., SpJP.,FIHA

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIKBAGIAN KARDIOLOGI & KEDOKTERAN VASKULARFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDINMAKASSAR2016

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa :Nama : Zulyudisiawan MuinUniversitas: Universitas Hasanuddin Judul Laporan Kasus: ST-Elevation Myocard Infarction

telah menyelesaikan tugas kepaniteraan klinik pada Bagian Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Januari 2016

Supervisor Pembimbing

dr. Zaenab Djafar, SpPD., SpJP.,FIHA

BAB ILAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIENNama: Ny. ITTanggal Lahir / Usia: 16-05-1954 / 61 tahunNo.Rekam Medis : 744576Pendidikan: SMAPekerjaan: Ibu rumah tanggaStatus Perkawinan: KawinAlamat: Jl Sanrangan I, MakassarTelp/HP: -Masuk RS:07/02/2016

B. ANAMNESISKeluhan UtamaNyeri Dada Kiri

Riwayat Penyakit SekarangNyeri dada sebelah kiri dialami kurang lebih 1,5 jam yang lalu sebelum masuk rumah sakit. Nyeri seperti tertekan yang tembus ke punggung dan menjalar ke lengan kanan. Durasi lebih dari 30menit. Pasien juga mengeluhkan keringat dingin. Ada sesak nafas. Tidak ada demam. Tidak ada mual dan muntah.

Riwayat Penyakit Sebelumnya: Riwayat nyeri dada sebelumnya sejak 1 bulan yang lalu Riwayat sesak nafas sebelumnya disangkal Riwayat hipertensi ada sejak 5 tahun lalu Riwayat merokok tidak ada Riwayat diabetes mellitus ada sejak 2 tahun lalu Riwayatpenyakit jantung sebelumnya tidak ada Riwayat merokok ada Riwayat meminum alkohol tidak ada Riwayat penyakit jantung di keluarga tidak ada

C. PEMERIKSAAN FISIKKeadaan UmumSakit sedang/gizi cukup/GCS 15 (compos mentis)Status Antropometri Tinggi Badan: 175 cm Berat Badan: 70 kg Indeks Massa Tubuh: 22,8 kg/m2Tanda-tanda Vital Tekanan darah: 150/90 mmHg Frekuensi nadi: 82 kali/menit, reguler Frekuensi napas: 24 kali/menit Suhu (aksilla): 36,5oC

14

KepalaDeformitas : Tidak ada Simetris muka : Simetris Rambut : Sukar dicabutUkuran : NormocephalBentuk : Mesocephal MataEksoftalmus : Tidak ada Konjungtiva : Anemis (-)Kornea : Refleks kornea (+) Enoptalmus : Tidak adaSklera : Ikterus (-)

Pupil : Isokor 2,5 mm/2,5 mm

TelingaPendengaran: Dalam batas normal Otorrhea : Tidak ada HidungEpistaksis : Tidak ada Rhinorrhea:Tidakada

MulutBibir : Kering (-) Lidah : Kotor (-)Tonsil : T1-T1 Tidak Hiperemis Faring : Tidak Hiperemis

Leher KGB : Tidak ada pembesaran DVS : R+2 cmH2OKelenjar Gondok : Tidak ada pembesaran Kaku kuduk : Tidak AdaDadaBentuk: Simetris kiri sama dengan kanan Buah dada: Simetris kira sama dengan kanan, tidak ada kelainanSela iga : Simetris kiri sama dengan kanan

ParuPalpasi : Fremitus simetris kiri sama dengan kanan Nyeri tekan tidak adaPerkusis : Batas paru hepar ICS VI dekstra Batas paru belakang kanan ICS IX Batas paru belakang kiri ICS X Auskultasi : Bunyi Pernapasan : Vesikuler Bunyi Tambahan : Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)JantungInspeksi : Ictus cordis tampak Palpasi : Ictus cordis teraba, thrill (-) Perkusi : Batas atas ICS II sinistra Batas kanan linea parasternalis dekstra Batas kiri linea axilla anterior sinistraAukultasi : BJ I/II murni reguler Bising jantung (-)

AbdomenInspeksi : Datar, ikut gerak napas Palpasi : Hepar dan Lien tidak teraba Massa tumor (-), Nyeri tekan (-)Perkusi : Timpani (+)Auskultasi : Peristaltik (+) kesan normal

EkstremitasTidak ada udem

D. ELEKTROKARDIOGRAM(07-02-2016)

Interpretasi 1. Irama: Sinus rhytm2. Laju QRS: 70 kali/menit3. Regularitas: Iregular4. Aksis: Normoaxis5. Interval P-R : 0,16 detik6. QRS rate: durasi 0,08 detikQRS konfigurasi:VES trigemini7. Segmen ST: ST elevasi pada lead II,III,aVF

Kesimpulan: Sinus takikardia, HR 70x/mnt, normoaxis,inferior wall myocardial infarction,VES Trigemini

E. LABORATORIUMTesHasilSatuanNilai Normal

Hematologi Rutin

Hemoglobin Hematokrit13.439g/dl%12 - 1640-54

LeukositTrombositKoagulasiPTINRAPTT7.800277.000

11.61.1226.410^3/l10^3/l

detik

detik4,00 6,00150,000 - 400,000

10-14--22.0-30.0

Fungsi HatiSGOT (AST)SGPT (ALT)Fungsi GinjalUreum CreatinineGlukosaGDSHBA1c2220

250.72173-u/lu/l

mg/dlmg/dlmg/dl%10menit) atau operasi besar (5 hari sebelumnya atau reaksi alergi sebelumnya terhadap obat ini 8. Kehamilan 9. Ulkus peptikum aktif 10. Penggunaan antikoagulan baru : makin tinggi INR makin tinggi risiko perdarahan.C. Obat Fibrinolitik 1) Streptokinase : merupakan fibrinolitik non-spesifik fibrin. Pasien yang pernah terpajan dengan SK tidak boleh diberikan pajanan selanjutnya karena terbentuknya antibodi. Reaksi alergi tidak jarang ditemukan. Manfaat mencakup harganya yang murah dan insidens perdarahan intrakranial yang rendah.82) Tissue Plasminogen Activator (tPA, alteplase) : Global Use of Strategies to Open Coronary Arteries (GUSTO-1) trial menunjukkan penurunan mortalitas 30 hari sebesar 15% pada pasien yang mendapatkan tPA dibandingkan SK. Namun, tPA harganya lebih mahal disbanding SK dan risiko perdarahan intrakranial sedikit lebih tinggi.93) Reteplase (retevase) : INJECT trial menunjukkan efikasi dan keamanan sebanding SK dan sebanding tPA pada GUSTO III trial dengan dosis bolus lebih mudah karena waktu paruh yang lebih panjang.104) Tenekteplase (TNKase) : Keuntungannya mencakup memperbaiki spesisfisitas fibrin dan resistensi tinggi terhadap plasminogen activator inhibitor (PAI-1). Laporan awal dari TIMI 1- B menunjukkan tenekteplase mempunyai laju TIMI 3 flow dan komplikasi perdarahan yang sama dibandingkan dengan tPA.11Terapi fibrinolitik pada STEMI akut merupakan salah satu terapi yang manfaatnya sudah terbukti, tetapi mempunyai beberapa risiko seperti perdarahan.

6.2.2. Terapi lainnya ACC/AHA dan ESC merekomendasikan dalam tata laksana semua pasien dengan STEMI diberikan terapi dengan menggunakan anti-platelet (aspirin, clopidogrel, thienopyridin), anti-koagulan seperti Unfractionated Heparin (UFH) / Low Molecular Weight Heparin (LMWH), nitrat, penyekat beta, ACE-inhibitor, dan Angiotensin Receptor Blocker.7,8,121) Anti trombotik Antiplatelet dan antitrombin yang digunakan selama fase awal STEMI berperan dalam memantapkan dan mempertahankan patensi arteri koroner yang terkait infark.Aspirin merupakan antiplatelet standar pada STEMI. Menurut penelitian ISIS-2 pemberian aspirin menurunkan mortalitas vaskuler sebesar 23% dan infark non fatal sebesar 49%.13Inhibitor glikoprotein menunjukkan manfaat untuk mencegah komplikasi trombosis pada pasien STEMI yang menjalani PCI. Penelitian ADMIRAL membandingkan abciximab dan stenting dengan placebo dan stenting, dengan hasil penurunan kematian, reinfark, atau revaskularisasi segera pada 20 hari dan 6 bulan pada kelompok abciximab dan stenting.14Obat antitrombin standar yang digunakan dalam praktek klinis adalah unfractionated heparin (UFH). UFH intravena yang diberikan sebagai tambahan terapi regimen aspirin dan obat trombolitik spesifik fibrin relatif, membantu trombolisis dan memantapkan serta mempertahankan patensi arteri yang terkait infark.Dosis yang direkomendasikan adalah bolus 60 U/kg (maksimum 4000U) dilanjutkan infus inisial 12 U/kg perjam (maksimum 1000 U/jam).Activated partial thromboplastin time selama terapi pemeliharaan harus mencapai 1,5-2 kali.2Pasien dengan infark anterior, disfungsi ventrikel kiri berat, gagal jantung kongestif, riwayat emboli, trombus mural pada ekokardiografi 2 dimensi atau fibrilasi atrial merupakan risiko tinggi tromboemboli paru sistemik dan harus mendapatkan terapi antitrombin kadar terapetik penuh (UFH atau LMWH) selama dirawat, dilanjutkan terapi warfarin minimal 3 bulan.22) Thienopiridin Clopidogrel (thienopiridin) berguna sebagai pengganti aspirin untuk pasien dengan hipersensitivitas aspirin dan dianjurkan untuk pasien dengan STEMI yang menjalani reperfusi primer atau fibrinolitik.7,12Penelitian Acute Coronary Syndrome (ACOS) registry investigators mempelajari pengaruh clopidogrel di samping aspirin pada pasien STEMI yang mendapat perawatan dengan atau tanpa terapi reperfusi, menunjukkan penurunan kejadian kasus jantung dan pembuluh darah serebral (kematian, reinfark non fatal, dan stroke non fatal). Manfaat dalam penurunan kematian terbesar pada kelompok pasien tanpa terapi reperfusi awal (8%), yang memiliki angka kematian 1 tahun tertinggi (18%).153) Penyekat Beta Penyekat beta pada pasien STEMI dapat memberikan manfaat yaitu manfaat yang terjadi segera jika obat diberikan secara akut dan yang diberikan dalam jangka panjang jika obat diberikan untuk pencegahan sekunder setelah infark. Penyekat beta intravena memperbaiki hubungan suplai dan kebutuhan oksigen miokard, mengurangi nyeri, mengurangi luasnya infark, dan menurunkan risiko kejadian aritmia ventrikel yang serius.2Terapi penyekat beta pasca STEMI bermanfaat untuk sebagian besar pasien termasuk yang mendapatkan terapi inhibitor ACE, kecuali pada pasien dengan kontraindikasi (pasien dengan gagal jantung atau fungsi sistolik ventrikel kiri sangat menurun, blok jantung, hipotensi ortostatik, atau riwayat asma).24) Inhibitor ACE Inhibitor ACE menurunkan mortalitas pasca STEMI dan memberikan manfaat terhadap penurunan mortalitas dengan penambahan aspi