Lapkas Cardio Stemi

download Lapkas Cardio Stemi

of 31

  • date post

    09-Apr-2016
  • Category

    Documents

  • view

    229
  • download

    6

Embed Size (px)

description

lapkas miokard

Transcript of Lapkas Cardio Stemi

18

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini dengan judul " Infark Miokard Dengan Elevasi Segmen ST Posterior". Penulisan laporan kasus ini adalah salah satu syarat untuk menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Senior Program Pendidikan Profesi Dokter di Departemen Kardiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing, dr. Ali Nafiah Nastuion, Sp.JP, yang telah meluangkan waktunya dan memberikan banyak masukan dalam penyusunan laporan kasus ini sehingga penulis dapat menyelesaikan tepat pada waktunya. Penulis menyadari bahwa penulisan laporan kasus ini masih jauh dari kesempurnaan, baik isi maupun susunan bahasanya, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sebagai koreksi dalam penulisan laporan kasus selanjutnya. Semoga makalah laporan kasus ini bermanfaat, akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, 22 September 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTARiDAFTAR ISIii

BAB 1 PENDAHULUAN1BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA32.1. Anatomi Pembuluh Koroner32.2. Infark Miokard dengan Elevasi Segmen T32.2.1. Definisi32.2.2. Etiologi dan Faktor Risiko42.2.3. Patofisiologi72.2.4. Manifestasi Klinis112.2.5. Diagnosis122.2.6. Penatalaksanaan172.2.7. Komplikasi232.2.8. Prognosis242.3. STEMI posterior25

BAB 3 LAPORAN KASUS27BAB 4 KESIMPULAN48

DAFTAR PUSTAKA49

iii

BAB 1PENDAHULUAN

1.1. Latar BelakangSindrom Koroner Akut (SKA) adalah istilah yang digunakan untuk kumpulan simptom yang muncul akibat iskemia miokard akut. SKA yang terjadi akibat infark otot jantung disebut infark miokard. Termasuk di dalam SKA adalah unstable angina pektoris, infark miokard non elevasi segmen ST (Non STEMI), dan infark miokard elevasi segmen ST (STEMI)1. Infark miokard adalah nekrosis miokard yang berkembang cepat oleh karena ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen otot-otot jantung. Hal ini biasanya disebabkan oleh ruptur plak yang kemudian diikuti oleh pembentukan trombus oleh trombosit. Lokasi dan luasnya miokard infark bergantung pada lokasi oklusi dan aliran darah kolateral.Infark miokard akut diklasifikasikan berdasarkan EKG 12 sadapan, menjadi infark miokard akut ST elevasi (STEMI) : oklusi total dari arteri koroner yang menyebabkan area infark yang lebih luas meliputi seluruh ketebalan miokardium, yang ditandai dengan adanya elevasi segmen ST pada EKG. Infark miokard akut Non ST elevasi (NSTEMI) : oklusi sebagian dari arteri koroner tanpa melibatkan seluruh miokardium, sehingga tidak ada elevasi segmen ST pada EKG1. Menurut laporan WHO, pada tahun 2004, penyakit infark miokard akut merupakan penyebab kematian utama di dunia. Terhitung sebanyak 7.200.000 (12,2%) kematian terjadi akibat penyakit ini di seluruh dunia. Penyakit ini adalah penyebab utama kematian pada orang dewasa di mana-mana. Infark miokard akut adalah penyebab kematian nomor dua pada negara berpenghasilan rendah, dengan angka mortalitas 2.470.000 (9,4%). Di Indonesia pada tahun 2002, penyakit infark miokard akut merupakan penyebab kematian pertama, dengan angka mortalitas 220.000 (14%)5. Direktorat Jendral Yanmedik Indonesia meneliti, bahwa pada tahun 2007, jumlah pasien penyakit jantung yang menjalani rawat inap dan rawat jalan di rumah sakit di Indonesia adalah 239.548 jiwa. Tahun 2013, penyakit infark miokard di Indonesia 478.000. Kasus terbanyak adalah panyakit jantung iskemik, yaitu sekitar 110,183 kasus. Case Fatality Rate (CFR) tertinggi terjadi pada infark miokard akut (13,49%) dan kemudian diikuti oleh gagal jantung (13,42%) dan penyakit jantung lainnya (13,37%) Saat ini, prevalensi STEMI meningkat dari 25% ke 40% dari presentasi infark miokard2.

1.2. Rumusan MasalahAda pun yang menjadi rumusan masalah dalam laporan kaus ini adalah bagaimana gambaran klinis dan penatalaksanaan pasien yang mengalami infark miokard elevasi segmen ST (STEMI) sehingga mendapatkan prognosis yang baik dan keselamatan pasien terjamin.

1.3. Manfaat PenulisanBeberapa manfaat yang didapat dari penulisan laporan kasus ini adalah:1. Untuk mengetahui patofisiologi, manifestasi klinis, perjalanan penyakit pada penderita STEMI.1. Untuk lebih memahami dan memperdalam secara teoritis mengenai diagnosis STEMI.1. Untuk menambah informasi dan pengetahuan bagi pembaca mengenai penatalaksanaan STEMI

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Anatomi Pembuluh KoronerOtot jantung diperdarahi oleh 2 pembuluh koroner utama, yaitu arteri koroner kanan dan arteri koroner kiri. Kedua arteri ini keluar dari aorta. Arteri koroner kiri kemudian bercabang menjadi arteri desendens anterior kiri dan arteri sirkumfleks kiri. Arteri desendens anterior kiri berjalan pada sulkus interventrikuler hingga ke apeks jantung. Arteri sirkumfleks kiri berjalan pada sulkus arterio-ventrikuler dan mengelilingi permukaan posterior jantung. Arteri koroner kanan berjalan di dalam sulkus atrio-ventrikuler ke kanan bawah.17 Anatomi pembuluh darah jantung dapat dilihat pada Gambar 2.1

Gambar 2.1. Pembuluh koroner

2.2. Infark Miokard dengan Elevasi Segmen ST2.2.1. DefinisiSindrom Koroner Akut (SKA) adalah suatu istilah atau terminologi yang digunakan untuk menggambarkan suatu spektrum keadaan atau kumpulan proses penyakit yang meliputi angina pektoris tidak stabil/APTS (unstable angina/UA), atau infark miokard tanpa elevasi segmen ST (Non-ST elevation myocardial infarction/ NSTEMI), atau infark miokard dengan elevasi segmen ST (ST elevationmyocardial infarction/STEMI).Infark miokard dengan elevasi segmen ST (ST-Elevation Myocardial Infarction, STEMI) merupakan bagian dari spektrum sindroma koroner akut yang terdiri dari angina tipikal dan disertai dengan gambaran elevasi segmen ST yang persisten di dua sadapan yang bersebelahan pada EKG. Sebagian besar pasien STEMI akan mengalami peningkatan marka jantung, sehingga berlanjut menjadi infark miokard dengan elevasi segmen ST. Infark miokard dengan elevasi segmen ST akut merupakan indikator kejadian oklusi total pembuluh darah arteri koroner. Keadaan ini memerlukan tindakan revaskularisasi untuk mengembalikan aliran darah dan reperfusi miokard secepatnya; secara medikamentosa menggunakan agen fibrinolitik atau secara mekanik, intervensi koroner perkutan primer3.

Tabel 1. Klasifikasi berdasarkan Killip1. Derajat I : Tanpa gagal jantung

1. Derajat II : Gagal jantung dengan ronki basah halus di basal paru, S3 galopdan peningkatan tekanan venapulmonalis

1. Derajat III :Gagal jantung beratdengan edema paruseluruh lapanganparu.

1. Derajat IV : Syok kardiogenik dengan hipotensi (tekanan darah sistolik 30 menit dan banyak keringat dicurigai kuat adanya STEMI. Sekitar seperempat pasien infark anterior mempunyai manifestasi hiperaktivitas saraf simpatis (takikardia dan/atau hipotensi) dan hampir setengah pasien infark inferior menunjukkan hiperaktifitas parasimpatis (bradikardia dan/atau hipotensi).Tanda fisik lainnya pada disfungsi ventrikel adalah S4 dan S3 gallop, penurunan intensitas bunyi jantung pertama dan split paradoksikal bunyi jantung kedua. Dapat ditemukan murmur midsistolik atau late sistolik apikal yang bersifat sementara karena disfungsi apparatus katup mitral dan pericardial friction rub. Peningkatan suhu sampai 380C dapat dijumpai dalam minggu pertama pasca STEMI.

1. Elektrokardiogram (EKG)Diagnosis STEMI ditegakkan berdasarkan EKG yaitu adanya elevasi ST 2mm, minimal pada 2 sadapan prekondrial yang berdampingan atau 1mm pada 2 sadapan ekstremitas. Pemeriksaan EKG 12 sandapan harus dilakukan pada semua pasien dengan nyeri dada atau keluhan yang dicurigai STEMI. Pemeriksaan ini harus dilakukan segera dalam 10 menit sejak kedatangan di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Pemeriksaan EKG di IGD menjadi landasan dalam menentukan keputusan terapi karena bukti kuat dalam menunjukkan gambaran elevasi segmen ST dapat mengidentifikasikan pasien yang bermanfaat untuk dilakukan terapi reperfusi. Jika pemeriksaan EKG awal tidak diagnostik untuk STEMI tetapi pasien tetap simtomatik dan terdapat kecurigaan kuat STEMI, EKG serial dengan interval 5-10 menit atau pemantauan EKG 12 sadapan secara kontinyu harus dilakukan untuk mendeteksi potensi perkembangan elevasi ST. Sebagian besar pasien dengan presentasi awal elevasi segmen ST mengalami evolusi menjadi gelombang Q pada EKG yang akhirnya didiagnosis infark miokard gelombang Q. Apabila obstruksi yang terjadi tidak total, bersifat sementara atau ditemukan banyak kolateral, biasanya tidak akan ditemukan elevasi segmen ST. Pasien tersebut biasanya mengalami angina pektoris tak stabil atau non STEMI.

LokasiLokasi Elevasi Segmen STPerubahan ResiprokalArteri Koroner

AnteriorV3,V4V7,V8,V9Arteri koroner kiri,cabang LAD/Diagonal

AnteroseptalV1,V2,V3V7,V8,V9Arteri koroner kiri,cabang LAD diagonal cabang LAD septal

AnteroekstensifI,aVL,V2-V6I,III,aVFArteri koroner kiri,proksimal LAD

AnterolateralI,aVL,V3,V4,V5,V6II,III,aVF,V7,V8,V9Arteri koroner kiriCabang LAD-diagonal dan cabang sirkumfleks

InferiorII,III,aVFI,aVL,V2,V3Arteri koroner kanan cabang decendens posterior dan cabang arteri koroner kiri sirkumfleks

LateralI,aVL,V5,V6II,III,aVFArteri koroner kiriCabang LAD- diagonal dan cabang sirkumfleks

SeptumV1,V2V7,V8,V9Arteri koroner kiri cabang LAD-septal

PosteriorV7,V8,V9V1,V2,V3Arteri koroner kanan/ sirkumfleks

Ventrikel kananV3R-V4RI,AvlArteri koroner kanan proksimal

1. LaboratoriumPetanda (biomarker) kerusakan jantung. Pemeriksaan yang dianjurkan adalah creatinine kinase (CK)MB dan cardiac specific troponin (cTn) T atau cTn I dan dilakukan secara serial. cTn harus digunakan sebagai penanda optimal untuk pasien STEMI yang disertai kerusakan otot skeletal, karena pada kead