TUGAS TERSTRUKTUR GIS adi.docx

download TUGAS TERSTRUKTUR GIS adi.docx

of 26

  • date post

    26-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    358
  • download

    4

Embed Size (px)

description

arc gis

Transcript of TUGAS TERSTRUKTUR GIS adi.docx

TUGAS TERSTRUKTURPERTANIAN BERLANJUTANALISIS SPASIAL

Oleh:Nama: Farahmitha SNIM: 10504020111088Kelas: C (Agroekoteknologi)

UNIVERSITAS BRAWIJAYAPROGRAM STUDI AGROEKOTEKTNOLOGIFAKULTAS PERTANIANMALANG20121. Contoh Aplikasi GIS

A. Aplikasi GIS untuk kegiatan pemantauan produksi dibidang pertanian

Teknologi Hiperspektral (hyperspectral remote sensing technology) merupakan suatu paradigma baru dalam dunia pengindraan jauh (remote sensing) dengan memanfaatkan jumlah kanal (channel) yang berlebih (hyper) sehingga pengguna akan mendapat kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan aplikasi sesuai dengan kebutuhan, khususnya dalam konteks pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Hal ini tidak dimiliki oleh sistem multispektral dengan keterbatasan jumlah kanal, yang selama ini digunakan. Secara definisi teknologi hiperspektral merupakan cara memperoleh gambaran kondisi di permukaan bumi secara simultan dengan jumlah band/kanal yang banyak (lebih dari 200) serta menggunakan panjang gelombang yang sempit (narrow band) dan saling berdekatan (Evri, M. et. al., 2004) Teknologi Hiperspektral (hyperspectral technology) yang juga dikenal dengan istilah Imaging Spectrometer, merupakan kelanjutan dari teknologi multispektral (multispectral). Sistem Penginderaan Jauh Hiperspektral merupakan paradigma baru dalam dunia penginderaan jauh. Teknik ini menggunakan jumlah sensor hyper alias berlebih sehingga hasil yang didapat lebih detail dan akurat. Pemanfaatan data pengindraan jauh hiperspektral yang dapat diperoleh secara periodik dan berkesinambungan dapat menjaga kontinuitas penyediaan informasi yang lebih akurat tentang ketersediaan sumber daya pertanian dan karakteristiknya seperti sebaran dan luas lahan sawah, informasi kondisi tanaman padi dalam waktu yang singkat untuk lahan pertanian yang luas, potensi produksi, kerawanannya terhadap pengaruh iklim atau bencana kekeringan, dan pendugaan produksi yang akan dipanen.B. Aplikasi GIS untuk penilaian resiko usaha pertanianDalam proyek-proyek pembangunan, tujuan utama VCA adalah menyediakan data analisis untuk mendukung rancangan proyek dan keputusan perencanaan, terutama dalam memastikan bahwa risiko masyarakat rentan berkurang akibat dilaksanakannya proyek. VCA dapat diterapkan dalam berbagai konteks (misalnya, dalam penanggulangan kemiskinan, pembangunan sektoral, manajemen bencana, penyesuaian terhadap perubahan iklim), dan pada tingkatan yang berbeda (dari tingkat nasional atau tingkat program sampai ke masyarakat dan rumah tangga). VCA dapat menjalankan berbagai macam fungsi: pencakupan (scoping) atau penyaringan (sreening), rancangan program dan proyek, riset, penelitian acuan data, dan pemantauan serta evaluasi. Meskipun terdapat pengakuan yang semakin besar akan nilainya, VCA masih belum secara sistematis menjadi faktor dalam proses-proses perencanaan proyek pembangunan, ataupun bahkan ke dalam pengkajian risiko.Perangkat-perangkat perencanaan proyek pembangunan yang lain, misalnya, analisis sosial dan pengkajian dampak sosial, dan terutama pendekatan-pendekatan penghidupan yang berkelanjutan, menjawab masalah-masalah yang sama. Perangkat yang lain mungkin menggunakan metode pengumpulan dan pengkajian data yang sama; hasil yang diperoleh dapat diumpanbalikkan ke dalam VCA dan, pada gilirannya mereka juga bisa menggunakan temuan-temuan VCA.Banyak metode VCA yang telah dikembangkan. Para akademisi dan praktisi dari berbagai disiplin ilmu menggunakan beragam konsep dan definisi kerentanan, yang mengarah pada metode pengkajian yang berbeda dan juga fokus pada aspek kerentanan dan risiko yang berbeda.C. Aplikasi GIS untuk kegiatan pengendalian hama dan penyakit tanaman

Dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi spasial, PT. Astra Agro Lestari Tbk telah melakukan pengambilan data spasial dari foto udara dan satelit Ikonos yang belum dimanfaatkan dan diintegrasikan dengan sistem informasi yang ada. Sebagai perusahaan swasta nasional yang cukup besar, PT Astra Agro Lestari Tbk membutuhkan pengembangan sistem informasi yang handal danterintegrasi yang dapat menunjang kegiatan operasional untuk meningkatkan kinerja pengelolaan perkebunannya. Untuk mewujudkan hal ini, maka membutuhkan pengembangan sistem informasi yang berbasis data spasial atau yang lebih dikenal dengan sistem informasi geografis. Ruang lingkup penelitian dibatasi pada beberapa aspek informasi pengelolaan perkebunan yaitu informasi panen tandan buah segar harian, infformasi kegiatan pemupukan, informasi hama dan penyakit tanaman, serta informasi infrastruktur perkebunan seperti bangunan, jalan angkutan, dan jembatan.Dalam proses pengembangan sistem informasi geografis ini digunakan pendekatan metoda System Development Life Cycle (SDLC) yang dimodifikasi dan dikombinasikan dengan Rapid Application Development (RAD) menggunakan protyping. Tahap-tahap yang ditempuh dalam pengembangan sistem ini adalah analisis dan perancangan sistem secara cepat, serta pengembangan prototipe yang melibatkan pengguna secara langsung.

D. Aplikasi GIS untuk pemantuan budidaya pertanian

Informasi Statistik pertanian di Indonesia berasal dari perolehan data jangka panjang dan jangka pendek. Jangka panjang dilakukan melaui sensus pertanian dalam periode waktu 10-tahunan. Jangka pendek dilakukan dalam periode bulanan/ 4-bulanan dengan pendekatan pengukuran dan estimasi. Produktivitas (ton/ha) didasarkan pada system ubinan (cutting plot) yang jumlah sampel dan distribusinya ditetapkan oleh BPS secara acak-proporsif. Sistem ubinan didedikasikan untuk level propinsi, sehingga untuk data level Kabupaten masih berdasarkan estimasi. Sedangkan luas panen didasarkan pada estimasi yang dilakukan oleh MANTAN (Mantri Tani) sering dikenal dengan pendekatan Eye Estimate.Perolehan data statistik berdasarkan estimasi tersebut sifatnya sangat subyektif dan sulit untuk mengukur tingkat akurasi dan tingkat kesalahannya. Oleh karena itu perlu adanya usaha untuk mengembangkan sistem pendekatan atau metodologi yang bersifat obyektif serta terukur tingkat akurasinya.Dengan berkembangnya teknologi remote sensing dan GIS yang sangat pesat didukung oleh perkembangan teknologi dan kapasitas memori komputer, sangat memungkinkan mengembangkan estimasi dan peramalan produksi pertanian dengan pendekatan Spasial Statistik. Rancangan Kerangka Sampel Areal untuk tanaman padi merupakan salah satu contoh spasial statistik pertama yang dikenalkan di Indonesia tahun 1999, melalui proyek SARI dengan sebutan Regional Inventory2.

E. Aplikasi GIS untuk kegiatan presisi pertanian

Pertanian Presisi (precision farming/PF) merupakan informasi dan teknologi pada sistem pengelolaan pertanian untuk mengidentifikasi, menganalisa, dan mengelola informasi keragaman spasial dan temporal di dalam lahan untuk mendapatkan keuntungan optimum, berkelanjutan, dan menjaga lingkungan. Tujuan dari PF adalah mencocokkan aplikasi sumber daya dan kegiatan budidaya pertanian dengan kondisi tanah dan keperluan tanaman berdasarkan karakteristik spesifik lokasi di dalam lahan. Hal tersebut berpotensi diperolehnya hasil yang lebih besar dengan tingkat masukan yang sama (pupuk, kapur, herbisida, insektisida, fungisida, bibit), hasil yang sama dengan pengurangan input, atau hasil lebih besar dengan pengurangan masukan dibanding sistem produksi pertanian yang lain. PF mempunyai banyak tantangan sebagai sistem produksi tanaman sehingga memerlukan banyak teknologi yang harus dikembangkan agar dapat diadopsi oleh petani. PF merupakan revolusi dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis teknologi informasi.PF sebagai teknologi baru yang sudah demikian berkembang di luar Indonesia perlu segera dimulai penelitiannya di Indonesia untuk memungkinkan perlakuan yang lebih teliti terhadap setiap bagian lahan sehingga dapat meningkatkan produktivitas dengan meningkatkan hasil, menekan biaya produksi dan mengurangi dampak lingkungan. Maksud tersebut dapat dicapai dengan PF melalui kegiatan pembuatan peta hasil (yield map), peta tanah (soil map), peta pertumbuhan (growth map), peta informasi lahan (field information map), penentuan laju aplikasi (variable rate application), pembuatan yield sensor, pembuatan variable rate applicator, dan lain-lain. Penggabungan peta hasil, peta tanah, peta pertumbuhan tanaman menghasilkan peta informasi lahan (field information map) sebagai dasar perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan spesifik lokasi yaitu dengan diperolehnya variable rate application. Pelaksanaan kegiatan ini akan lebih cepat dan akurat apabila sudah tersedia variable rate applicator.Sebagai awal dari pengkajian PF di Indonesia, penelitian ini belum sampai pada pembuatan perangkat keras seperti yield sensor, remote sensor, variable rate applicator, dan lain-lain. Di samping itu penelitian tidak dilakukan pada semua bagian kegiatan budidaya dan jenis tanaman. Penelitian ini dilakukan pada kegiatan pemupukan dan jenis tanaman tebu.

F. Aplikasi GIS untuk pengelolaan sumberdaya air

Perencanaan dan pengelolaan sumberdaya air yang baik mutlak diperlukan untuk menjaga kelestariannya. Untuk itu dipelukan informasi yang memadai yang bisa digunakan oleh pengambil keputusan, termasuk diantaranya informasi spasial. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan teknologi spasial yang sedang berkembang saat ini. Sebagaian besar aplikasi SIG untuk pengelolaan sumberdaya air masih sangat kurang di negara Indonesia meskipun perkembangan SIG sudah maju pesat di negara-negara lain. Perencanaan dan pengelolaan sumberdaya air harus dilakukan terpadu mulai dari sumber air sampai dengan pemanfaatannya. Informasi secara spasial akan sangat membantu pada proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan sumberdaya air.Saat ini, telah tersedia alat bantu untuk proses analisa secara spasial berupa software-software SIG diantaranya adalah program ArView GIS yang dikeluarkan oleh ESRI (Environmental System Research Institute) Inc. ArcView GIS saat ini telah t