Tugas Terstruktur Biofarmasi Fixx

download Tugas Terstruktur Biofarmasi Fixx

of 27

  • date post

    25-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    388
  • download

    14

Embed Size (px)

description

Tugas Terstruktur Biofarmasi Fixx

Transcript of Tugas Terstruktur Biofarmasi Fixx

TUGAS TERSTRUKTUR BIOFARMASETIKATEMA PERKUTANEFEK BERBAGAI PENINGKAT PENETRASI TERHADAP PENETRASIPERKUTAN GEL NATRIUM DIKLOFENAK SECARA IN VITRO

Disusun Oleh:RuthFebrina(G1F011006)NovaAmalia(G1F011046)DedahNurhamidah(G1F011008)Aisyah Putriani(G1F011050)Kharisma Aditya(G1F011014)Hijrofayanti(G1F011054)SintiyaUtami(G1F011020)Akwila Albert(G1F011056)HeppiPurnomo (G1F011024)Inas Khairani(G1F011060)RiriFauziyya(G1F011028)Dina Mailana(G1F011064)Granisha Utamas N(G1F011030)Aynita Kurniawan (G1F011066)Erna Tugiarti B(G1F011034)Fachri Aditya(G1F011072) Windhiana Sapti A (G1F011038)

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAANUNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANFAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATANJURUSAN FARMASIPURWOKERTO2013

KATA PENGANTARPuji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayah- NYA sehingga kita semua dalam keadaan sehat walafiat dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Penyusun juga panjatkan kehadiran ALLAH SWT, karena hanya dengan keridoan-NYA Makalah Biofarmasetika dengan judul Efek Berbagai Peningkat Penetrasi Terhadap Penetrasi Perkutan Gel Natrium Diklofenak Secara In Vitro ini dapat terselesaikan.Penulis menyadari betul sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, makalah ini tidak akan terwujud dan masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis berharap saran dan kritik demi perbaikan-perbaikan lebih lanjut.Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi yang membutuhkan.

Purwokerto,17 November 2013Penulis

BAB IPENDAHULUAN 1.1 Latar BelakangAnatomi kulit manusia terdiri dari beberapa macam organ. Kulit merupakan selimut yang menutupi permukaan tubuh dan memiliki fungsi utama sebagai pelindung dari berbagai macam gangguan dan rangsangan dari luar (Tranggono, 2007). Secara anatomi, kulit terbagi atas tiga lapisan utama, yaitu: epidermis, dermis, dan subkutis (subkutan). Lapisan Epidermis adalah lapisan kulit yang paling luar. Lapisan ini terdiri atas: 1) Stratum corneum (lapisan tanduk), terdiri atas beberapa lapis sel yang pipih, mati, tidak memiliki inti, tidak mengalami proses metabolisme, tidak berwarna dan sangat sedikit mengandung air. Lapisan ini sebagian besar terdiri atas keratin, yaitu jenis protein yang tidak larut dalam air, dan sangat resisten terhadap bahan-bahan kimia; 2) Stratum lucidum (lapisan jernih), berada tepat dibawah stratum corneum. Merupakan lapisan yang tipis, jernih, mengandung eleidin. Lapisan ini tampak jelas pada telapak tangan dan telapak kaki; 3) Stratum granulosum (lapisan berbutir-butir), tersusun oleh sel-sel keratinosit yang berbentuk poligonal, berbutir kasar, berinti mengkerut; 4) Stratum spinosum (lapisan malphigi), sel berbentuk kubus dan seperti berduri. Intinya besar dan oval. Setiap sel berisi filamen-filamen kecil yang terdiri atas serabut protein; 5) Stratum germinativum (lapisan basal), adalah lapisan terbawah epidermis. Di lapisan ini juga terdapat sel-sel melanosit yaitu sel yang membentuk pigmen melanin (Wirakusumah, 1994).Lapisan Dermis merupakan lapisan dibawah epidermis yang jauh lebih tebal dari pada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastis dan fibrosa dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi menjadi 2 bagian: 1) Pars papilare, yaitu bagian yang menonjol kedalam epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah; 2) Pars retikulare, yaitu bagian bawahnya yang menonjol kearah subkutan, bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang misalnya serabut kolagen elastis dan retikulin (Wirakusumah, 1994).Lapisan Subkutan adalah kelanjutan dermis atas jaringan ikat longgar, berisi sel-sel lemak didalamnya. Fungsi dari lapisan hipodermis yaitu membantu melindungi tubuh dari benturan-benturan fisik dan mengatur panas tubuh. Jumlah lemak pada lapisan ini akan meningkat apabila makan berlebihan. Jika tubuh memerlukan energi ekstra maka lapisan ini akan memberikan energi dengan cara memecah simpanan lemaknya (Wirakusumah, 1994).Penyerapan perkutan merupakan gabungan fenomena penembusan suatu senyawa dari lingkungan luar ke bagian kulit sebelah dalam dan fenomena penyerapan dari struktur kulit ke dalam peredaran darah atau getah bening. Istilah "perkutan" menunjukkan bahwa proses penembusan terjadi pads lapisan epidermis dan penyerapan dapat terjadi pada lapisan epidermis yang berbeda. Kemampuan penembusan dan penyerapan obat dengan pemberian secara perkutan terutama tergantung pada sifat-sifat fisiko-kimianya. Peranan bahan pembawa pada peristiwa ini sangat kompleks; pada keadaan dimana senyawa tidak mengganggu fnngsi fisiologik kulit, maka dapat dipastikan kulit tidak dapat melewatkan senyawasenyawa yang tidak dapat diserap Dengan melakukan pemilihan terhadap bahan pembawa yang sesuai, maka kemungkinan ketersediaan hayati dari zat aktif dapat diperbaiki (Simanjuntak, 2005).Senyawa peningkat penetrasi (penetration enhancers) lazim digunakan di dalam sediaan transdermal dengan tujuan mempermudah transfer obat melewati kulit. Rute pemberian obat secara transdermal merupakan suatu alternatif untuk menghindari variabilitas ketersediaan hayati obat pada penggunaan per oral, menghindari kontak langsung obat dengan mukosa lambung sehingga mengurangi efek samping obat tertentu, juga untuk memperoleh konsentrasi obat terlokalisir pada tempat kerjanya. Namun, kulit merupakan suatu barrier alami dengan lapisan terluar (stratum corneum) tersusun atas jalinan kompak crystalline lipid lamellae sehingga bersifat impermeable terhadap sebagian besar senyawa obat(Lucida, 2008).Peningkat penetrasi dapat bekerja melalui tiga mekanisme yaitu dengan cara mempengaruhi struktur stratum corneum, berinteraksi dengan protein interseluler dan memperbaiki partisi obat, coenhancer atau cosolvent kedalam stratum corneum. Rute penetrasi melalui stratum korneum terbagi menjadi rute trans-epidermal dan rute trans-appendageal. Rute trans-epidermal terdiri dari rute trans-seluler dan rute intra-seluler. Rute trans-seluler merupakan jalur terpendek dimana bahan obat melewati membran lipid maupun korneosit, tetapi rute ini memiliki resistansi yang besar terhadap penetrasi. Rute yang lebih umum adalah melalui rute inter-seluler. Bahan obat melintasi membran lipid antara korneosit. Rute trans-appendageal yaitu melalui kelenjar dan folikel rambut memiliki kontribusi yang kecil terhadap penetrasi per kutan (Swarbrick dan Boylan, 1995).Salah satu senyawa obat yang digunakan secara topikal adalah Na-Diklofenak, seperti pada jurnal yang penulis angkat. Untuk itu, makalah ini disusun untuk mengetahui bagaimana efek Na-diklofenak setelah penambahan berbagai senyawa yang dianggap peningkat penetrasi.1.2 Rumusan Masalah1. Bagaimana formulasi sediaan gel Natrium Diklofenak?1. Bagaimana pengaruh penambahan berbagai zat peningkat penetrasi terhadap penetrasi perkutan gel Natrium Diklofenak secara perkutan?1. Senyawa peningkat penetrasi manakah yang paling baik dalam meningkatkan penetrasi perkutan gel Natrium Diklofenak secara perkutan?1. Bagaimana mekanisme zat peningkat penetrasi dalam meningkatkan penetrasi perkutan gel Natrium Diklofenak secara perkutan?1. Bagaimana evaluasi dari sediaan gel Natrium Diklofenak yag dibuat?

1.3 Tujuan1. Untuk mengetahui formulasi sediaan gel Natrium Diklofenak.1. Untuk mengetahui pengaruh penambahan berbagai zat peningkat penetrasi terhadap penetrasi perkutan gel Natrium Diklofenak secara perkutan.1. Untuk mengetahui senyawa peningkat penetrasi manakah yang paling baik dalam meningkatkan penetrasi perkutan gel Natrium Diklofenak secara perkutan.1. Untuk mengetahui mekanisme zat peningkat penetrasi dalam meningkatkan penetrasi perkutan gel Natrium Diklofenak secara perkutan.1. Untuk mengetahui evaluasi dari sediaan gel Natrium Diklofenak yag dibuat.

BAB IILANDASAN TEORI2.1 Natrium Diklofenak1. Rumus bangun :

1. Rumus molekul: C14H10Cl2NNaO21. Berat molekul : 318,131. Nama kimia : asam benzeneasetat, 2-[(2,6-diklorofenil)amino]-monosodium1. Nama lain : Sodium [o-(dikloroanilino)fenil]asetat1. Pemerian : serbuk hablur, berwarna putih, tidak berasa (USP 30 NF 25, 2007).1. Kelarutan : Sedikit larut dalam air, larut dalam alkohol; praktis tidak larut dalam kloroform dan eter; bebas larut dalam alkohol metil. pH larutan 1% dalam air adalah antara 7.0 dan 81. pKa : 4,2 . (sweetman, 2009).Diklofenak adalah turunan asam fenilasetat sederhana yang menyerupai florbiprofen maupun meklofenamat. Obat ini adalah penghambat siklooksigenase yang kuat dengan efek anti inflamasi, analgesik dan anti piretik. Diklofenak cepat diabsorbsi setelah pemberian oral dan mempunyai waktu paruh yang pendek. Seperti flurbiprofen, obat ini berkumpul di cairan sinovial. Potensi diklofenak lebih besar dari pada naproksen. Obat ini dianjurkan untuk kondisi peradangan kronis seperti artritis rematoid dan osteoartritis serta untuk pengobatan nyeri otot rangka akut (Katzung, 2004 ).Mekanisme kerjanya, bila membran sel mengalami kerusakan oleh suatu rangsangan kimiawi, fisik, atau mekanis, maka enzim fosfolipase diaktifkan untuk mengubah fosfolipida menjadi asam arachidonat. Asam lemak poli-tak jenuh ini kemudian untuk sebagian diubah oleh ezim cyclo-oksigenase menjadi endoperoksida dan seterusnya menjadi prostaglandin. Cyclo-Oksigenase terdiri dari dua iso-enzim, yaitu COX-1 (tromboxan dan prostacyclin) dan COX-2 (prostaglandin). Kebanyakan COX-1 terdapat di jaringan, antara lain dipelat-pelat darah, ginjal dan saluran cerna. COX-2 dalam keadaan normal tidak terdapat dijaringan tetapi dibentuk selama proses peradangan oleh sel-sel radang. Penghambatan COX-2 lah yang memberikan efek anti radang dari obat NSAIDs. NSAID yang ideal hanya menghambat COX-2 (peradangan) dan tidak COX-1 (perlindungan mukosa lambung). Diklofenak merupakan obat NSAIDs (Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs) yang bersifat tidak selektif dimana kedua jenis COX di blokir. Dengan dihambatnya COX-1, dengan demikian tidak ad