Tugas Terstruktur Tsf

download Tugas Terstruktur Tsf

of 35

  • date post

    07-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    61
  • download

    7

Embed Size (px)

description

Tugas Terstruktur Tsf

Transcript of Tugas Terstruktur Tsf

TUGA TERSTRUKTUR TSF TUGAS Teknologi Pembuatan P Sediaan Semisolid

Disusun oleh : Agung Fitriyanto (G1F008 (G1F008064) Khilman H.P Fathia Rahma Zein Aisyah Putriani Akwila Albert Febriana Tyas Intan Hanif (G1F011036) (G1F011044) (G1F011050) (G1F011056) (G1F011062) (G1F0110)

Raden Alfian P.S. (G1F011004) (G1F011 Yolita Satya G. Gima Amezia S. Nurina K. S. Riri Fauziyya (G1F011 (G1F011010) (G1F011 (G1F011016) (G1F011 (G1F011022) (G1F011 (G1F011028)

KEMENTR KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UDAYAAN UNIVER UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS LTAS KEDO KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATA KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2013

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dewasa ini konsumsi masyarakat terhadap produk-produk untuk kulit sangatlah banyak. Banyak obat-obat topikal yang dikembangkan untuk berbagai efek farmakologi. Obat-obat yang digunakan untuk penggunaan topikal biasanya berupa sediaan semi solid. Obat bentuk sediaan setengah padat umumnya hanya dipakai sebagai obat luar, dioleskan pada kulit untuk keperluan terapi atau hanya sebagai pelindung kulit. Obat ini juga dapat berfungsi sebagai kosmetika, menutupi kelainan-kelainan pada kulit yang kurang menyenangkan penderitanya. Pada prinsipnya obat sediaan setengah padat untuk pemakaian pada kulit berupa campuran dalam berbagai perbandingan lemak/minyak dengan dasar salep dan bahan padat, dengan atau tanpa tambahan air. Sediaan semi solid terdiri dari, salep, krim, gel, pasta, dan cerata. Obat-obat semi padat dikembangkan dengan berbagai teknologi baik secara tradisional maupun secara modern. Teknologi pembuatan sediaan semi solid sangat dibutuhkan untuk mempermudah dan mempercepat pembuatan sediaan semi solid. Teknologi sediaan semi padat mayoritas dibutuhkan untuk pencampuran. Pencampuran adalah salah satu operasi farmasi yang paling umum. Sulit untuk menemukan produk farmasi dimana pencampuran tidak dilakukan pada tahap pengolahan. Pencampuran dapat didefinisikan sebagai proses di mana dua atau lebih komponen dalam kondisi campuran terpisah atau kasar diperlakukan sedemikian rupa sehingga setiap partikel dari salah satu bahan terletak sedekat mungkin dengan partikel bahan atau komponen lain. Tujuan pencampuran adalah memastikan bahwa ada keseragaman bentuk antara bahan tercampur dan meningkatkan reaksi fisika atau kimia. Bentuk sediaan semi padat digunakan ketika resep dokter memerlukan kombinasi dari dua atau lebih salep atau krim dalam rasio tertentu atau penggabungan obat ke dalam salep atau basis krim. Karena pencampuran langsung dari bahan-bahan tidak selalu dapat dilaksanakan, penggabungan agen lain diperlukan untuk memastikan partikel berukuran halus. Alat pencampur sediaan semi padat diantaranya adalah spatula, mortar dan stamper, ointment slab, blender, homogenizer, mixer, agitator mixers, shear mixers, ultrasonic mixers, planatory mixer, double planetary mixers, sigma mixer, colloid mill, dan. triple-roller mill.

Makalah ini akan membahas tentang teknologi sediaan semi solid yang terdiri dari gel, krim, dan lotion. Pembahasan dalam makalah ini mencakup pengertian, metode pembuatan, teknologi pembuatan sediaan, dan formulasi. I.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud sediaan gel, krim, dan lotion? 2. Bagaimana metode pembuatan sediaan gel, krim, dan lotion? 3. Bagaimana teknologi pembuatan sediaan gel, krim, dan lotion? 4. Bagaimana formulasi sediaan gel, krim, dan lotion? I.3 Tujuan 1. Mengetahui pengertian sediaan gel, krim, dan lotion. 2. Mengetahui metode pembuatan sediaan gel, krim, dan lotion. 3. Mengetahui teknologi pembuatan sediaan gel, krim, dan lotion. 4. Mengetahui formulasi sediaan gel, krim, dan lotion.

BAB II II.1 Sediaan Gel A. Pengertian Gel merupakan bentuk sediaan semisolid yang mengandung larutan bahan aktif tunggal maupun campuran dengan pembawa senyawa hidrofilik atau hidrofobik (Anonim, 1994). Gel digolongkan sebagai sistem dua fase. Dalam sistem dua fase, jika urutan partikel dari fase terdispersi relatif besar, massa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma. Sedangkan gel fase tungggal terdiri dari makromolekul organik yang tersebar serba sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik misalnya karbomer (Anonim, 1995). Beberapa keuntungan bentuk gel menurut Lieberman (1989) diantaranya tidak lengket, gel mempunyai aliran tiksotropik dan pseudoplastik yaitu gel berbentuk padat apabila disimpan dan akan segera mencair bila dikocok, konsentrasi bahan pembentuk gel yang dibutuhkan hanya sedikit untuk membentuk massa gel yang baik, viskositas gel tidak mengalami perubahan yang berarti pada suhu penyimpanan. Sedangkan menurut Voigt (1994 ). Beberapa keuntungan sediaan gel adalah sebagai berikut: Kemampuan penyebarannya baik pada kulit Efek dingin, yang dijelaskan melalui penguapan lambat dari kulit Tidak ada penghambatan fungsi rambut secara fisiologis Kemudahan pencuciannya dengan air yang baik Pelepasan obatnya baik

B. Metode Pembuatan Cara pembuatan gel antiinflamasi Na diklofenak menggunakan basis gel HPMC 4000 dengan menggunakan sistem niosom. Na diklofenak bersifat lipofilik serta agak sukar larut dalam air dan minyak, sedangkan obat tersebut ini diformulasi dalam basis gel hidrofilik, hal dapat diatasi dengan dibuat suatu modifikasi menggunakan sistem vesikel yaitu niosom. Sistem niosom akan menjebak obat di dalam vesikel sehingga akan meningkatkan jumlah obat yang terlarut. Adanya gugus hidrofil di bagian terluar vesikel akan berinteraksi dengan fase air sehingga sistem niosom dapat meningkatkan distribusi obat dalam basis gel yang hidrofil. Pembuatan gel na diklofenak dengan mencampurkan

propilen glikol dengan sebagian basis gel, kemudian ditambahkan sistem niosom Nadiklofenak. Selanjutnya ditambahkan basis gel HPMC 4000 hingga 20 g lalu diaduk dengan mixer hingga homogen (Handayani,2009).

C. Teknologi Pembuatan Salah satu alat yang digunakan untuk menghomogenkan sediaan gel adalah mixer. Mixer memiliki sifat menghomogenkan sekaligus memperkecil ukuran partikel tapi efek menghomogenkan lebih dominan. Mixer biasanya digunakan untuk membuat emulsi tipe batch. Terdapat berbagai macam mixer yang dapat digunakan dalam pembuatan sediaan semi padat. Dalam hal ini sangat penting untuk merancang dan memilih mixer sesuai dengan jenis produk yang diproduksi atau sedang dicampur. Sebagai contoh: salah satu aspek desain mixer yang penting adalah seberapa baik/tahan dinding internal dari mixer. Hal ini karena terdapat beberapa permasalahan dengan baja tahan karat dari mixer sebab mata pisau pengikis harus fleksibel cukup untuk

memindahkan/mengaduk bagian dalam dinding mixer Jika proses pengadukan tidak berjalan dengan baik (masih banyak bahan yang menempel /tersisa pada dinding mixer), maka hasil pencampurannya tidak akan homogen. Oleh karena mixer mempunyai aksi planetary mixing maka kemampuannya untuk mencampur fase air, fase minyak dan emulgator sangat tergantung pada macam pengaduk yang digunakan. Selain spesifikasi untuk tiap alatnya, harus diperhatikan pula agar tidak terlalu banyak udara yang ikut terdispersi ke dalam cairan karena akan membentuk buih atau bisa yang menggangu saat melakukan pembacaan volume sedimentasi (Lieberman HA & Lachmann, 1994).

D. Formulasi Dalam formulasi gel tiga komponen utama yang digunakan adalah basis gel, zat aktif, kosolven. Basis gel yang umum digunakan adalah gel hidrofobik dan gel hidrofilik. 1. Basis gel hidrofobik Basis gel hidrofobik umumnya terdiri dari partikel-partikel anorganik, bila ditambahkan ke dalam fase pendispersi, hanya sedikit sekali interaksi antara kedua fase. Berbeda dengan bahan hidrofilik, bahan hidrofobik tidak secara spontan menyebar, tetapi harus dirangsang dengan prosedur yang khusus. Contoh bahan pembentuk basis gel hidrofobik adalah : Senyawa hidrokarbon, seperti minyak mineral/gel polietilen, petrolatum.

Lemak hewan dan tumbuhan, seperti lard, lemak coklat. Basis sabun berminyak, seperti gel aluminium stearat, minyak mineral 1989). 2. Basis gel hidrofilik Basis gel hidrofilik umumnya terdiri dari molekul-molekul organik yang besar dan dapat dilarutkan atau disatukan dengan molekul dari fase pendispersi. Istilah hidrofilik berarti suka pada pelarut. Umumnya daya tarik menarik pada pelarut dari bahan-bahan hidrofilik kebalikan dari tidak adanya daya tarik menarik dari bahan hidrofobik. Sistem koloid hidrofilik biasanya lebih mudah untuk dibuat dan memiliki stabilitas yang lebih besar. Basis hidrofilik yang sering digunakan adalah propilen glikol, gliserol ataupun air sebagai solvennya. Sebagai gelling agentnya dapat digunakan polimer-polimer, seperti polimer alam (tragakan, alginate, agar), polimer semisintetis ( derivate selulosa seperti, metal selulosa, CMC-Na, HPMC, HPC), polimer sintetis (carbomer/carbopol) (Ansel, 1989). Kosloven yang digunakan biasanya adalah propilen glikol. Kosolven berfungsi sebagai pelarut bagi zat aktif dalam sediaan gel, karena Suatu partikel obat harus dalam bentuk terlarut (molekuler) agar dapat berdifusi (Barry, 1983; Martin,1993) dan lepas dari basis. Pembuatan basis gel HPMC 4000. Digunakan basis gel HPMC 4000 dengan kadar 3%. Cara pembuatannya HPMC 4000 didispersikan dalam aquades bebas CO2 sebanyak 20 kalinya. Kemudian dibiarkan hingga semua HPMC 4000 mengembang dan diaduk sampai terbentuk massa gel. Berikutnya ditambahkan aquades bebas CO2 hingga berat yang diinginkan dan diaduk hingga homogen. Lalu didiamkan selama 24 jam. Pembuatan sediaan gel Na-diklofenak. Dibuat dua formula (formula I & II), di mana formula I adalah sediaan gel Na-diklofenak tanpa sistem niosom, dan formula II adalah sediaan gel Na-diklofenak dalam sistem niosom. Dilakukan replikasi pembuatan sebanyak tiga kali dari masing-masing formula. Pada formula I Na-diklofenak dilarutkan dengan propilen glikol lalu tambahk