Tugas Terstruktur KFD.docx

download Tugas Terstruktur KFD.docx

of 26

  • date post

    17-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    226
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Tugas Terstruktur KFD.docx

TUGAS TERSTRUKTURKIMIA FARMASI DASAR

Kelas: BAnggota: Jauvita Alvica MadyawatiG1F012006 Mutiara Nur ShovieG1F012010 Dina QoyimaG1F012046 Sausa MonicaG1F012062 Sariah Aini RahmawatiG1F012086

JURUSAN FARMASIFAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATANUNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANPURWOKERTO2012Stabilitas Obat

Hari/tanggal akses: Rabu, 01 Februari 2012Penulis: ArmijiSumber: http://arimjie.blogspot.com/2012/02/stabilitas-obat.html

Rancangan dari suatu bentuk sediaan yang tepat memerlukan pertimbangan karakteristik fisika, kimia dan biologis dari semua bahan-bahan obat dan bahan-bahan farmasetik yang akan digunakan dalam membuat produk tersebut. Obat dan bahan-bahan farmasetik yang digunakan harus tercampur satu dengan lainnya untuk menghasilkan suatu produk obat yang stabil, manjur, menarik, mudah dibuat dan aman. Produk harus dibuat di bawah pengukuran kontrol kualitas yang tepat dan dikemas dalam wadah yang membantu stabilitas produk.

Proses laju merupakan hal dasar yang perlu diperhatikan bagi setiap orang yang berkaitan dengan bidang kefarmasian, mulai dari pengusaha obat sampai ke pasien. Pengusaha obat harus dengan jelas menunjukkan bahwa bentuk obat atau sediaan yang dihasilkannya cukup stabil sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama, dimana obat tidak berubah menjadi zat tidak berkhasiat atau racun.

Salah satu aktivitas yang paling penting dalam kerja preformulasi adalah evaluasi kestabilan fisika dan kimia dari zat obat murni. Adalah perlu bahwa pengkajian awal ini dihubungkan dengan menggunakan sampel obat dengan kemurnian yang diketahui. Adanya pengotoran dapat mengakibatkan kesimpulan yang salah dalam evaluasi tersebut. Pengkajian kestabilan yang dihubungkan dalam fase preformulasi termasuk kestabilan obt itu sendiri dalam keadaan padat, kestabilan fase larutan, dan kestabilan dalam adanya zat penambah yang diharapkan.

Ketidakstabilan kimia dari zat obat dapat mengambil banyak bentuk, karena obat-obat yang digunakan sekarang adalah konstituen kimia yang beraneka ragam. Secara kimia, zat obat adalah alkohol, fenol, aldehid, keton, ester-ester, asam-asam, garam-garam, alkaloid, glikosida, dan lain-lainnya, masing-masing dengan gugus kimia relatif yang mempunyai kecenderungan berbeda terhadap ketidakstabilan kimia. Secara kimia proses kerusakan yang paling sering ,meliputi hidrolisis dan oksidasi.

Ketidakstabilan formulasi obat dapat dideteksi dalam beberapa hal dengan suatu perubahan dalam penampilan fisik, warna, bau, rasa, dan tekstur dari formulasi tersebut, sedangkan dalam hal lain perubahan kimia dapat terjadi yang tidak dibuktikan sendiri dan hanya dapat dipastikan melalui analisis kimia. Data ilmiah yang menyinggung kestabilan dari suatu formulasi menghasilkan ramalan shelf-life yang diharapkan dari produk yang diteliti tersebut dan bila perlu, untuk merancang kembali obat tersebut (misalnya menjadi bentuk ester atau garam yang lebih stabil) dan untuk formulasi kembali bentuk sediaan tersebut. Jelaslah laju dan kecepatan terjadinya degradasi obat dalam suatu formulasi merupakan hal yang sangat penting.

Pengkajian laju perubahan kimia dan cara di mana zat tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti konsentrasi obat atau reaktan, pelarut yang digunakan, kondisi temperatur dan tekanan, dan adanya zat-zat kimia lain dalam formulasi tersebut disebut reaksi kinetika.

Untuk menjamin suatu stabilitas obat dalam suatu formulasi dan efektivitas kelanjutan sepanjang umur obat pada lazimnya, maka prinsip-prinsip kimia, fisika farmasi, mikrobiologi dan teknologi farmasi harus diterapkan. Formulasi harus sedemikian rupa sehingga semua komponennya secara fisik dan kimia terpadu, termasuk pula unsure terapeutik yang aktif, bahan penolong dalam farmasi dan kemasannya. Formula harus dijaga supaya tidak terurai akibta perubahab sifat kimianya dan terlindung dari kontaminasi mikroba serta pengaruh panas, cahaya, kelembaban yang merusak. Zat berkhasiat harus dilpeaskan daribbentuk sediaannya dalam jumlah yang sebenarnya, begitu digunakan dan kadarnya dalam tubuh sesuai dengan yang direncanakan.

Pada umumnya penentuan kestabilan suatu zat dapat dilakukan dengan cara kinetika kimia. Cara ini tidak memerlukan waktu yang lama sehingga praktis digunakan dalam bidang farmasi. Hal-hal yang penting diperhatikan dalam penentuan kestabilan suatu zat dengan cara kinetika kimia adalah :- Kecepapatan reaksi- Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi- Tingkat reaksi dan cara penentuannnya

PEMBAHASANI. PENDAHULUANFarmasi erat kaitannya dengan kimia, salah satunya dengan bab mengenai kinetika reaksi. Kinetika reaksi menentukan keadaan dimana obat akan bereaksi dengan zat yang ada di sekitarnya. Dalam artikel yang kami bahas, kinetika reaksi digunakan untuk mengetahui kestabilan formulasi obat. Stabilitas obat ini, berhubungan dengan penentuan waktu kadaluarsa obat, wadah penyimpanan, dan lain-lain untuk menjaga keutuhan obat. Mengetahui kestabilitasan obat sangat penting untuk menjaga khasiat suatu obat. Proses laju umumnya adalah sesuatu yang menyebabkan ketidakaktifan obat melalui penguraian obat, atau melalui hilangnya khasiat obat karena perubahan bentuk fisik dan kima yang kurang diinginkan dari obat tersebut. Selain itu, kinetika reaksi juga berperan dalam pengkajian laju perubahan kimia dan cara di mana zat tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti konsentrasi obat atau reaktan, pelarut yang digunakan, kondisi temperatur dan tekanan, dan adanya zat-zat kimia lain dalam formulasi tersebut.

II. ISIKinetika adalah suatu ilmu yang membahas tentang laju (kecepatan) dan mekanisme reaksi. Berdasarkan penelitian yang mula-mula dilakukan oleh Wilhelmy terhadap kecepatan inversi sukrosa, ternyata kecepatan reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi /tekanan zatzat yang bereaksi. Laju reaksi dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi atau tekanan dari produk atau reaktan terhadap waktu. Kinetika kimia merupakan salah satu cabang ilmu kimia fisika yang mempelajari laju reaksi. Laju reaksi berhubungan dengan pembahasan seberapa cepat atau lambat reaksi berlangsung. Kinetika kimia adalah bagian dari ilmu kimia yang mempelajari laju dan mekanisme reaksikimia. Laju reaksi adalah besarnya perubahan konsentrasi reaktan atau produk dalam satu satuan waktu.Laju reaksi atau kecepatan reaksi dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi zat pereaksi atau produk tiap satuan waktu. Jika kita tahu persamaan kimia suatu reaksi, maka dapatditentukan lajunya dengan mengetahui perubahan konsentrasi reaktan atau produknya yangdapat dideteksi secara kuantitatif. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi yaitu keadaan alami atau reaktifitas pereaksi, luas permukaan, konsentrasi, temperatur, katalis, dan cahaya. Penjelasan yang lebih rinci sebagai berikut :

1. Luas PermukaanSuatu zat akan bereaksi apabila bercampur dan bertumbukan. Pada pencampuran reaktan yang terdiri dari dua fasa atau lebih, tumbukan berlangsung pada bagian permukaan zat. Padatan berbentuk serbuk halus memiliki luas permukaan bidang sentuh yang lebih besar daripada padatan berbentuk lempeng atau butiran. Semakin luas permukaan partikel, maka frekuensi tumbukan kemungkinan akan semakin tinggi sehingga reaksi dapat berlangsung lebih cepat.2. KonsentrasiPada umumnya, reaksi akan berlangsung lebih cepat jika konsentrasi pereaksi diperbesar. Zat yang konsentrasinya besar mengandung jumlah partikel yang lebih banyak, sehingga partikel-partikelnya tersusun lebih rapat dibanding zat yang konsentrasinya rendah. Partikel yang susunannya lebih rapat akan lebih sering bertumbukan dibanding dengan partikel yang susunannya renggang, sehingga kemungkinan terjadinya reaksi makin besar. Konsentrasi mempengaruhi laju reaksi, karena banyaknya partikel memungkinkan lebih banyak tumbukan, seperti pada fenomena pentas musik, maka peluang untuk bersentuhan atau bertabrakan semakin besar, dan itu membuka peluang semakin banyak tumbukan efektif yang menghasilkan perubahan karena dalam laju reaksi hanya tumbukan yang efektif yang menghasilkan reaksi.3. Temperatur Setiap partikel selalu bergerak. Dengan menaikkan temperatur, energi gerak atau energi kinetik partikel bertambah, sehingga tumbukan lebih sering terjadi. Dengan frekuensi tumbukan yang semakin besar, maka kemungkinan terjadinya tumbukan efektif yang mampu menghasilkan reaksi juga semakin besar. Suhu atau temperatur ternyata juga memperbesar energi potensial suatu zat. Zat-zat yang energi potensialnya kecil, jika bertumbukan akan sukar menghasilkan tumbukan efektif. Hal ini terjadi karena zat-zat tersebut tidak mampu melampaui energi aktivasi. Dengan menaikkan suhu, maka hal ini akan memperbesar energi potensial, sehingga ketika bertumbukan akan menghasilkan reaksi. Alasan kenaikan suhu suatu reaksi menyebabkan nilai energi aktivasi (Ea) menjadi turun dijelaskan oleh Svante Arhenius dengan menggunakan persamaan hubungan suhu dengan energi aktivasi. Pada umumnya untuk setiap kenaikan suhu 10 maka laju reaksi menjadi 2 kali lebih cepat. Berdasarkan hal tersebut maka kecepatan laju reaksi dapat dicari dengan cara:

Sedangkan untuk membandingkan lama reaksi pada T2 dan T1 adalah sebagai berikut:

4. KatalisKatalis dapat mempengaruhi terjadinya reaksi, tetapi pada akhir reaksi dapat diperoleh kembali. Fungsi katalis adalah menurunkan energi aktivasi, sehingga jika ke dalam suatu reaksi ditambahkan katalis, maka reaksi akan lebih mudah terjadi. Hal ini disebabkan karena zat- zat yang bereaksi akan lebih mudah melampaui energi aktivasi. Katalis adalah zat yang mempercepat laju reaksi, tetapi tidak mengalami perubahan kimia secara permanen, sehingga pada akhir reaksi zat tersebut dapat diperoleh kembali. Katalis mempercepat reaksi dengan cara menurunkan harga energi aktivasi (Ea). Sedangkan zat yang dapat memperlambat laju reaksi disebut inhibitor. Meskipun katalis menurunkan energi aktivasi reaksi,