Tugas Terstruktur Unggas New

download Tugas Terstruktur Unggas New

of 46

  • date post

    12-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    613
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of Tugas Terstruktur Unggas New

BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Unggas adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang dimanfaatkan untuk daging dan/atau telurnya. Pada umumnya unggas yang dipergunakan dalam pengolahan adalah ayam,itik, kalkun, angsa, dan bermacam-macam burung. Secara esensial komposisi unggas pada umumnya sama dengan daging, yaitu: air 75% dari jaringan otot, protein 20% dari jaringan otot, lemak 5% dari jaringan otot, dan elemen-elemen lain. Umur binatang merupakan faktor yang paling menentukan dalam pemilihan unggas. Umur ini pula yang menentukan metode pengolahan unggas. Unggas muda lebih lunak, karena itu dapat diolah secara panas kering, sedang unggas yang tua memerlukan pengolahan pelan dan panjang,karena itu cocok digunakan pengolahan secara panas basah. Unggas termasuk hewan monogastrik, yaitu hewan yang memiliki satu lambung. Hewan ini berbeda dengan hewan ruminansia yang memiliki lambung yang terbagi menjadi empat kompartemen/bagian, yaitu; rumen, retikulum, omasum, dan abomasum. Menyebabkan hewan tersebut mampu memanfaatkan mikroba dalam membantu mencerna zat-zatmakanan seperti serat. Mikroba itu sendiri juga dapat dimanfaatkan oleh hewan ruminansia sebagai sumber protein. Lain halnya dengan hewan monogastrik yang tidak mampu mencerna dan memanfaatkan makanan berserat sebanyak hewan ruminansia karena hewan monogastrik memiliki alat pencernaan atau lambung hanya satu. Saluran pencernaan pada unggas terbagi atas beberapa segmen yaitu: mulut

(paruh=beak),esofagus, tembolok (corp), lambung kelenjar (proventiculus), lambung keras(ventriculus/gizard), usus halus (small intestine), sekum (caecum), usus besar (largeintestine), kloaka (cloaca) dan anus (vent). Selain itu ada pula pankreas dan hati yang merupakan organ yang diperlukan dalam membantu proses pencernaan. Umumnya daging unggas berwarna putih, hal ini disebabkan karena unggas hanya mengandung 1-3 miligram mioglobin tidak seperti daging berwarna merah seperti sapi yang mengandung lebih banyak mioglobin dalam jaringannya, yakni sekitar 8 miligram per gram daging daripada jenis daging lain. Mioglobin, seperti halnya hemoglobin, adalah protein yang mengikat oksigen. Hemoglobin mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel-sel di seluruh tubuh, sementara mioglobin menyimpan oksigen di dalam sel

1

1.2 Rumusan Masalah 1. Strain dan karakteristik dari entok ? 2. Anatomi dan fisiologi pencernaan serta reproduksi unggas? 3. Bagaimana proses penetasan pada unggas dari 2 unggas yang berbeda? 4. Bagaimana Penyusunan Ransum ayam petelur grower dengan bahan pakan jagung, bekatul, dan konsentrat? 5. Mengapa bungkil kacang kedelai dan bungkil kelapa tidak dapat digunakan secara maksimal dalam penyusunan ransum? 1.3 Tujuan Untuk mengetahui strain, karakteristik, anatomi, fisiologi, proses penetasan dan penyusunan ransum pada unggas.

2

BAB II Tinjauan PustakaEntok adalah sejenis burung atau unggas yang termasuk keluarga bebek. Istilah mentok berasal dari bahasa Jawa; di tempat lain ia mungkin disebut dengan salah satu atau beberapa nama berikut: mentok, enthok atau entog (Sd., Bms.), basur (Bms.), itik manila, atau bebek manila (Ind.). Dalam bahasa Inggris disebut Muscovy Duck atau Barbary Duck. Di Indonesia unggas ini adalah sepenuhnya hewan peliharaan, yang diternakkan terutama untuk dagingnya. Asal-usul mentok peliharaan adalah dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan, di mana populasi burung ini hidup alami dan liar di rawa-rawa berhutan dan wilayah berpaya di sekitar danau dan sungai; termasuk di hilir lembah Sungai Rio Grande di Texas. Populasi lepasan yang meliar (feral) juga dijumpai di Florida bagian selatan. Burung yang berukuran sedang sampai agak besar. Entok jantan liar dapat mencapai 86 cm, dari ujung paruh hingga ke ujung ekor. Dan beratnya bisa sampai 3 kg. Mentok betina lebih kecil, sampai sekitar 64 cm dan 1,3 kg. Mentok peliharaan biasanya lebih gemuk, di mana jantan bisa mencapai 7 kg dan betina mencapai 5 kg. Berwarna dominan hitam dan putih, mentok memiliki kulit atau tonjolan kulit berwarna merah dan hitam di sekitar mata dan wajah. Paruh gemuk pendek khas bebek, putih kemerahan; kaki gemuk pendek berselaput renang, abu-abu kehitaman. Ekor memipih datar agak lebar. Meskipun pandai terbang, mentok peliharaan hampir tak pernah terbang jauh. Unggas ini sering terlihat berjalan bersama kelompoknya, perlahan-lahan dan tak pernah tergesa-gesa, dengan ekor bergoyang ke kanan dan ke kiri untuk mengimbangi tubuh (Jawa, megal-megol) sehingga berkesan lucu. Entok liar di alamnya tidur di atas cabang-cabang pohon. Akan tetapi mentok peliharaan biasanya tidur di atas tanah. Di pedesaan di Jawa, mentok jarang dikandangkan. Dibiarkan bebas berkeliaran mencari makanannya sendiri, terutama di sekitar saluran air, sungai dan sawah. Mentok memakan aneka siput, cacing, serangga air, yuyu kecil dan pucukpucuk tumbuhan. Oleh pemiliknya, mentok kerap diberi makan dedak bercampur air dan sisasisa makanan. Unggas ini tidak berisik, tidak seperti itik petelur. Mentok betina mengeluarkan desisan dan desahan sambil berjalan. Mentok jantan kadang-kadang mengeluarkan desis3

keras sambil menggerakkan kepala maju mundur (Jawa, nyosor), untuk memperingatkan atau mengusir pengganggu. Entok bertelur hingga kurang-lebih 10 butir, yang dierami oleh betinanya selama sekitar 5 minggu. Pada unggas, telur yang dihasilkan ada dua macam yaitu telur fertil yang sering disebut telur tetas dan telur infertile yang sering disebut telur konsumsi. Telur fertil merupakan telur yang dibuahi, sehingga nantinya telur ini akan menjadi individu baru. Dahulu, penetasan dilakukan secara alami yaitu dengan mengeramkan telur pada induknya. Namun dengan metode ini hanya bisa menetaskan telur dalam jumlah yang terbatas dan dalam waktu tertentu. Penetasan alami ini tidak mampu mencukupi kebutuhan produksi unggas untuk kehidupan manusia saat ini, sehingga diperlukan suatu system penetasan yang lebih efektif dan efisien. Maka dari itu berkembanglah teknologi penetasan buatan. Perbedaan anatomis dan perbedaan kapasitas dalam sistem pencernaan di antara spesies adalah lebih nyata secara fisis daripada secara gizi karena makanan dalam saluran pencernaan boleh dikatakan masih tetap diluar tubuh. Dalam proses pencernaan, zat-zat makanan masuk tubuh dengan cara penyerapan melalui dinding saluran pencernaan. Proses metabolik yang kemudian menggunakan zat-zat makanan yang diserap, kenyataannya adalah sama bagi semua spesies. Penetasan buatan yaitu penetasan yang dilakukan dengan menggunakan alat tetas. Prinsip dari penetasan buatan adalah melakukan kegiatan yang dilakukan oleh induk unggas untuk menetaskan telurnya. Achmanu (2011). Dengan adanya penetasan buatan ini telur yang ditetaskan tidak bergantung dengan induk dan jumlah telur yang ditetaskan bisa lebih banyak dari penetasan buatan. Selain itu, penetasan buatan dianggap lebih efektif daripada penetasan alami karena sang induk, setelah seminggu bertelur bisa dikawinkan kembali. Untuk menghasilkan individu baru yang berkualitas diperlukan telur tetas yang berkualitas. Syarat telur tetas yang digunakan dalam penetasan buatan antara lain: telur berasal dari induk yang berkualitas, bobot telur, warna telur, kulit telur standart,seragam, dan berkualitas sesuai dengan ketentuan penetasan. Mesin tetas yang digunakan saat ini bermacam-macam, mulai dari yang manual sampai mesin tetas otomatis. Hal yang terpenting dalam penetasan adalah cara penetasan harus benar dan sesuai dengan jenis unggas karena dalam penetasan telur, masing-masing unggas memiliki metode yang berbeda-beda mengingat sifat pengeraman unggas antar spesies juga berbeda-beda, misalnya pada penetasn

4

telur itik membutuhkan waktu 28 hari sedangkan pada telur ayam membutuhkan waktu 21 hari. Makanan yang diberikan kepada seekor ternak, harus sempurna dan mencukupi. Sempurna dalam arti bahwa makanan yang diberikan pada ternak harus mengandung semua zat-zat yang diperlukan oleh tubuh dengan kualitas yang baik. Cukup, berarti makanan yang diberikan pada ternak itu sesuai banyaknya dengan kebutuhan ternak yang bersangkutan (Sastroamidjojo,1981). Nomenklatur Internasional telah membagi makanan ternak menjadidelapan kelas, yaitu: 1) Forage kering dan Roughage , yang termasuk dalam kelasini adalah semua hay, jerami kering, dry fodder, dry stover dan semua makanan kering yang berisi 18% atau lebih serat kasar; 2) Pasture (hijauan), ramban. Yang termasuk kelas ini adalah semua tanaman yang diberikan secara segar sebagai hijuan atau tanaman segar; 3) Silase. Yang termasuk dalam kelas ini adalah semuamakanan yang dipotong-potong, dicacah-cacah dan difermentasikan; 4) Makanan Sumber Energi, yang termasuk dalam kelas ini adalah semua biji-bijian, hasilikutannya, buah-buahan dan umbi-umbian. Yang termasuk kelas ini untuk biji- bijian adalah yang mempunyai kandungan protein 20% dan 18% serat kasar.; 5)Makanan Sumber Protein, adalah semua makanan yang mengandung protein 20%atau lebih dan didapat dari tanaman, hewan dan ikan; 6) Makanan Sumber Mineral, yang termasuk dalam kelas ini adalah makanan yang tinggi kandungan mineralnya; 7) Bahan Makanan Sumber Vitamin, yang termasuk dalam kelas ini ada yang mengandung satu macam vitamin ataupun lebih dari satu macam vitamin; 8) Makanan Additif, yaitu zat-zat tertentu yang biasanya ditambahkan pada ransum seperti antibiotika, zat-zat warna, hormon, dan obat-obat lain (Tillman, et.al , 1998). Klasifikasi Ingredien tersebut tidak mutlak disamping adanya klasifikasi ingredien menjadi delapan kelas, khusus bahan pakan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu pertama, bahan pakan yang tinggi kandungan serat kasarnya (rofase/ roughage). Kedua, bahan pakan yang rendah kandungan serat kasarnya (konsentrat/Concentrate). Yang dimaksud Rofage adalah bahan pakan hijauan tanaman dan bahan pakan lain yang kandungan serat kasarnya tinggi.Bahan pakan yang rendah kandungan serat kasar dan tinggi kandungannutrien yang lain disebut