TUGAS TERSTRUKTUR MIKRO

download TUGAS TERSTRUKTUR MIKRO

of 25

  • date post

    29-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    59
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of TUGAS TERSTRUKTUR MIKRO

TUGAS TERSTRUKTURMIKROBIOLOGI PERTANIAN

MIKORIZA

Disusun Oleh :

Catur Setiyo Edi A1L010244Rashidah Noor Amalia A1L010245Romy Ramdani A1L010249Dhanna Purnamagna Praaftha A1L010251Silky Nurhandayani A1L010254Dimas Prabowo A1L010255Yoga Aditia A1L010259Rohmat Junaidi A1L010268Pervitara Arum Dewi A1L011133Rosalina Fauziyah A1L011134Sasmita Dwi K. W A1L011135

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAANUNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANFAKULTAS PERTANIANAGROTEKNOLOGIPURWOKERTO2013I. PENDAHULUANMikoriza adalah mikroorganisme tanah yang berasosiasi dengan akar tanaman. Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) merupakan salah satu jenis mikoriza yang bersifat obligat dan paling banyak berasosiasi dengan tanaman inang. FMA menerima hasil fotosintesis tanaman, yaitu karbon sebesar 15-25% dan paling banyak menyediakan nitrogen dan posfor untuk tanaman inang (Springer dan Heidelberg 2008). Keberadaan FMA sangat penting dalam kaitannya dengan kesuburan tanah dari suatu ekosistem, terutama dalam ekosistem hutan. Beberapa penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara keberadaan mikoriza di suatu tempat dengan kondisi lahan dan pertumbuhan suatu jenis pohon (Giri et al. 2004, Rydlova dan Vosatka 2001, Wang et al. 2005, Nandakwang et al. 2008, Osorio dan Habte 2001). Sebagai organisme yang bersifat simbiotik, keberadaan inang sangat menguntungkan bagi mikoriza dan keberadaan mikoriza sangat menguntungkan bagi inang.Keberadaan mikoriza sangat bergantung pada vegetasi yang ada disekitarnya. Potensi dari simbiosis FMA dengan tumbuhan sangat penting untuk dimanfaatkan bagi kepentingan budidaya tumbuhan tersebut terutama pada lahan marginal. Hal tersebut mengingat besarnya manfaat FMA bagi tanaman diantaranya: meningkatkan penyerapan unsur hara untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman (Jia et al. 2004), meningkatkan ketahanan tanamanterhadap serangan patogen akar (Sikes 2009), mengurangi logam berat di areal bekas tambang (Turnau 2008), dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan (Quilambo 2005).

II. ISICendawan mikoriza meprupakan cendawan obligat, dimana kelangsungan hidupnya berasosiasi akar tanaman dengan sporanya. Spora berkecambah dengan membentuk apressoria sebagai alat infeksi, dimana infeksinya biasa terjadi pada zone elongation. Proses ini dipengaruhi oleh anatomi akar dan umur tanaman yang terinfeksi. Hifa yang terbentuk pada akar yaitu interseluler dan intraseluler dan terbatas pada lapisan korteks, dan tidak sampai pada stele. Hifa yang berkembang diluar jaringan akar, maka berperan terhadap penyerapan unsur hara tertentu dan air. Mosse, (1981) melaporkan bahwa cendawan mikoriza mempunyai sifat dapat berkolonisasi dan berkembang secara simbiose mutualistik dengan akar tanaman, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, serta membantu menekan perkembangan beberapa patogen tanah.Menurut Brundrett (2004), mikoriza adalah asosiasi simbiotik yang esensial untuk satu atau kedua mitra, antara cendawan (khususnya yang hidup dalam tanah dan tanaman) dengan akar (atau organ lain yang bersentuhan dengan substrat) dari tanaman hidup, terutama berperan untuk memindahkan hara. Mikoriza adalah kelompok jamur tanah yang hidupnya lebih memilih untuk bekerjasama dengan akar tanaman atau pohon, agar jamur ini mendapat pasokan gula cair dari tanaman, dan sebaliknya jamur ini menukarkannya dalam bentuk air dan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman (Turjaman, 2004).Asosiasi mikoriza vesikular arbuskular (MVA), yang juga disebut dengan mikoriza arbuskular (MA) atau mikoriza glomeromikota, merupakan asosiasi akar dengan cendawan yang paling umum dijumpai dan penyebarannya paling luas. Asosiasi ektomikoriza (EKM) juga tidak kalah pentingnya sekalipun hanya dijumpai pada beberapa famili tanaman tertentu. Tipe mikoriza lainnya hanya dijumpai pada Orchidaceae atau Ericales, sedangkan beberapa family angiospermeae tidak memiliki akar bermikoriza (NM) sama sekali (Brundrett, 2004).Turjaman (2004) juga menyebutkan kalau jamur endomikoriza mempunyai relasi yang sangat luas pada tanaman pertanian, perkebunan dan kehutanan, dan diperkirakan lebih dari 93% berteman dengan akar tanaman tingkat tinggi. Sedangkan sisanya sekitar 7 % adalah jamur ektomikoriza yang lebih memilih untuk hidup berdampingan dengan tanaman hutan dari jenis-jenis meranti, pinus, eukaliptus dan tangkil. Pada kelompok jamur endomikoriza, hanya dapat dibiakkan pada tanaman hidup, seperti sorgum, jagung dan Prueraria selama empat bulan di rumah kaca. Media tumbuh yang biasa digunakan sebagai pembawanya adalah zeolite dan tanah liat. Mikoriza dapat dicampur langsung ke dalam media tanam, dalam waktu satu hari dapat menularkan ratusan ribu bibit tanaman hutan di persemaian.Pertumbuhan Mikoriza sangat dipengaruhi oleh factor lingkungan seperti:1. Suhu Suhu yang relative tinggi akan meningkatkan aktifitas cendawan. Proses perkecambahan pembentukkan MVA melalui tiga tahap yaitu perkecambahan spora ditanah, penetrasi hifa kedalam selakar dan perkembangan hifadidalam konteksakar.2. Kadar air tanahUntuk tanaman yang tumbuh didaerah kering, adanya MVA menguntungkan karena dapat meningkatkan kemampuan tanaman untuk tumbuh dan bertahan pada kondisiyang kurang air.3. pH tanah Perubahan pH tanah melalui pengapuran biasanya berdampak merugikan bagi perkembangan MVA asli yang hidup pada tanah tersebut sehingga pembentukan mikoriza menurun. Untuk itu tindakan pengapuran dibarengi tindakan inokulasi dengan cendawan MVA yang cocok agar pembentukan mikoriza terjamin.4. Bahan organik Bahan organic merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping air danau darat. Jumlah spora MVA berhubungan erat dengan kandungan bahan organic didalam tanah. 5. Cahaya dan ketersediaan hara Intensitas cahaya yang tinggi kekahatan sedang nitrogen atau fosfor akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalama kar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi cendawan MVA.6. Logam berat dan unsure lainBeberapa spesies MVA diketahui mampu beradaptasi dengan tanah yang tercemar seng(Zn), tetapi sebagian besar spesies MVA peka terhadap kandungan Zn yang tinggi. Pada beberapa penelitian lain diketahui pula bahwa strain-strain cendawan MVA tertentu toleran terhadap kandungan Mn, Al dan Na yang tinggi.

Klasifikasi MikorizaPada dasarnya cendawan mikoriza dapat dikelompokkan berdasarkan struktur morfologi dan anatomi struktur spesifiknya (Brundrett, 2004). Berdasarkan hal tersebut cendawan mikoriza dapat dibagi menjadi tiga yaitu cendawan mikoriza arbuskula (CMA), ektomikoriza (EKM) dan mikoriza lainnya. Dari ketiga jenis tersebut CMA merupakan kelompok cendawan mikoriza yang paling sering diteliti dan dimanfaatkan untuk kepentingan peningkatan pertumbuhan dan produksi tanaman. Dari hasil kajian filogenetika dapat diketahui tanaman-tanaman Ericaceae yang membentuk mikoriza erikoid ternyata memiliki leluhur yang sama dengan tanaman-tanaman yang berasosiasi dengan cendawan arbutoid (Cullings, 1996), sehingga lebih tepat jika dikatakan asosiasi arbutoid berasal dari EKM daripada asosiasi erikoid. Oleh sebab itu Brundrett (2004) merekomendasikan dalam klasifikasi tipe-tipe mikoriza, sebaiknya mikoriza arbutoid dan monotropoi diklasifikasikan sebagai subkategori dari ektomikoriza epidermis.Dewasa ini ektendomikoriza ditakrifkan berdasarkan cendawannya dan bukan inangnya yang secara morfologis tidak berbeda dengan mikoriza arbutoid. Pengamatan-pengataman ektendomikoriza, yang didasarkan atas pengertian sempit tersebut, sebagian besar terbatas pada kondisi buatan yang sangat subur dimana pohon yang ditumbuhkan untuk kepentingan kehutanan tidak mungkin mendapatkan keuntungan dari mikoriza, dan persaingan dengan cendawan lainjuga terbatas (Yu et al., 2001).

Proses infeksi mikorizaTerjadinya infeksi mikoriza pada akar tanaman melalui beberapa tahap, yakni:1. Pra infeksi. Spora dari mikoriza benrkecambah membentuk appressoria.2. Infeksi. Dengan alat apressoria melakukan penetrasi pada akar tanaman.3. Pasca infeksi. Setelah penetrasi pada akar, maka hifa tumbuh secara interselluler, arbuskula terbentuk didalam sel saat setelah penetrasi. Arbuskula percabangannya lebih kuat dari hifa setelah penetrasi pada dinding sel. Arbuskula hidup hanya 4-15 hari, kemudian mengalami degenerasi dan pemendekan pada sel inang. Pada saat pembentukan arbuskula, beberapa cendawan mikoriza membentuk vesikel pada bagian interselluler, dimana vesikel merupakan pembengkakan pada bagian apikal atau interkalar dan hifa.4. Perluasan infeksi cendawan mikoriza dalam akar terdapat tiga fase:a. Fase awal dimana saat infeksi primer.b. Fase exponential, dimana penyebaran, dan pertumbuhannya dalam akar lebih cepat .c. Fase setelah dimana pertumbuhan akar dan mikoriza sama.5. Setelah terjadi infeksi primer dan fase awal, pertumbuhan hifa keluar dari akar dan di dalam rhizosfer tanah. Pada bagian ini struktur cendawan disebut hifa eksternal yang berfungsi dalam penyerapan larutan nutrisi dalam tanah, dan sebagai alat transportasi nutrisi ke akar, hifaeksternal tidak bersepta dan membentuk percabangan dikotom.

Manfaat MikorizaLambert dan Cole, (1980) mengemukakan bahwa pada tanaman Lathyrus sylvestris, Lotus americanus, Coromilla varia, yang terinfeksi mikoriza umur dua tahun, pertumbuhannya 6-15 kali lebih besar dari pada pertumbuhan tanaman tanpa mikoriza. Selanjutnya De La Cruz et al., (1992); Linderman, (1996) menyebutkan bahwa sebagian besar pertumbuhan tanaman yang diinokulasi dengan cendawan mikoriza menunjukkan hubungan yang positif yaitu meningkatkan pertumbuhan tanaman inangnya.Hal ini dapat terjadi karena infeksi cendawan mikoriza dapat meningkatkan penyerapan unsur hara oleh miselium eksternal dengan memperluas permukaan penyerapan akar atau melalui hasil senyawa kimia yang menyebabkan lepasnya ikatan hara dalam tanah. Tisdall, (1991) melaporkan bahwa miselium ekstra radikal didalam tanah sekitar akar menghasilkan material yang mendorong agregasi tanah sehingga da