Keratitis Numularis

download Keratitis Numularis

of 30

  • date post

    02-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    493
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of Keratitis Numularis

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Agama Bangsa/Suku Alamat Tanggal Pemeriksaan Dokter pemeriksa : Tn. B.M : 45 Tahun : Laki-laki : Islam : Bugis : Jln Sultan Alauddin 3 : 26 September 2012 : dr. Hj. M

II. ANAMNESIS Keluhan Utama Anamnesis Terpimpin : Dialami sejak 7 hari yang lalu sebelum ke BKMM akibat benda asing masuk mata : Nyeri pada mata kanan

kanan(semut) dan pasien megucek matanya. Mata merah (+). Air mata berlebih (+), Nyeri (+), kotoran mata berlebih (+), rasa mengganjal (+). Pasien sulit membuka kelopak mata(+),silau(+) . Riwayat hipertensi (-), Riwayat DM (-), Riwayat memakai kaca mata (+) ketika membaca, Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga(-)

III. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI1

Foto klinis pasien INSPEKSI No Pemeriksaan 1 Palpebra 2 Apparatus Lakrimalis 3 4 Silia Konjungtiva

OD Edema Lakrim

5 6

Bola mata Mekanisme muscular ODS OD OS Kornea Bilik mata depan Iris Pupil Lensa

Sekret Hipere konjun periko Norma Keseg

7 8 9 10 11 B. PALPASI No 1 2 3 4 Pemeriksaan Tensi okuler Nyeri tekan Massa tumor Glandula pre-aurikuler OD Tn (-) (-) Tidak ada pembesaran

Keruh fluore Norma Cokla Bulat, Jernih

OS Tn (-) (-) Tdk ada pembesaran

C. TONOMETRI D. VISUS

: Tidak dilakukan pemeriksaan : VOD = 1/2/60 : VOS = 3/60

E. CAMPUS VISUAL: Tidak dilakukan pemeriksaan.2

F. COLOR SENSE G. LIGHT SENSE

: Tidak dilakukan pemeriksaan. : Tidak dilakukan pemeriksaan. : OD Hiperemis(+)inj konjungtiva(+)inj perikornea(-) Keruh bagian sentral, fluorescent(-)Infiltrat berbentuk bulat seperti uang logam Normal Coklat, kripte (+) Bulat, Sentral, RC (+) Jernih OS Hiperemis (-)

H. PENYINARAN OBLIK No Pemeriksaan 1 Konjungtiva

2

Kornea

jernih

3 4 5 6

Bilik Mata Depan Iris Pupil Lensa

Normal Coklat, kripte (+) Bulat, Sentral, RC(+) Jernih

I. DIAFANOSKOPI : Tidak dilakukan pemeriksaan J. OFTALMOSKOP : Tidak dilakukan pemeriksaan K. SLIT LAMP :

SLOD : Konjungtiva hiperemis (+), kornea keruh bagian sentral ukuran diameter + 3mm , BMD normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat, RC (+) SLOS : Konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih , BMD normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat, RC (+) L. SEIDEL TES : Tidak dilakukan pemeriksaan M. EFLOURESCENT: kornea (-) N. LABORATORIUM Darah Rutin : WBC RBC HGB HCT 11.47 x 103 4,85 x 106 14,6 42,9 %3

PLT CT BT PT APTT Kimia Darah : GDS Ureum Kreatinin GOT GPT HbsAg

201 700 200 11,2 control 11.7 INR 0,9 21,2 control 23.7

126 19 0,8 35 65 Negatif

IV. RESUME Seorang laki-laki umur 45 tahun datang ke BKMM, dengan keluhan utama mata kanan terasa nyeri yang dialami sejak 7 hari yang lalu sebelum ke BKMM akibat benda asing masuk mata kanan(semut) dan pasien megucek matanya. Mata merah (+). Air mata berlebih (+), Nyeri (+), kotoran mata berlebih (+), rasa mengganjal (+). Pasien sulit membuka kelopak mata(+),silau(+) . Pada pemeriksaan inspeksi, OD konjungtiva hiperemis (+), kornea keruh bagian sentral, lakrimasi (+),BMD normal , iris coklat (kripte +), lensa jernih. Pada pemeriksaan visus, VOD = 1/2/60, VOS= 3/60. SLOD : Konjungtiva hiperemis (+), kornea keruh bagian sentral dengan infiltrate berbentuk seperti uang logam ukuran diameter + 3mm ,efluorescent(-), BMD normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat, RC (+)4

V. DIAGNOSIS OD Keratitis Numularis

VI. TERAPI Obat tetes:

Vigamox 6x1tetes OD

Obat oral :

Ciprofloxacin 2x1 Metylprednisolon 3x1

VII. ANJURAN Pemeriksaan laboratorium VII. Diskusi Dari anamnesis, pasien mengeluh adanya nyeri pada mata kanan akibat kemasukan benda asing(semut). Nyeri bisa disebabkan oleh aktifasi mediator-mediator radang akibat

trauma, selain itu juga bisa disebabkan oleh trauma pada daerah kornea, dimana daerah ini memiliki serabut saraf tidak bermielin (sensibilitas cabang pertama nervus trigimenus pada kornea), sehingga sangat sensitif terhadap rangsangan. Penglihatan pasien juga menjadi kabur setelah trauma. Pada pemeriksaan fisis didapatkan VOD = 1/2/60. Penglihatan kabur ini bisa disebabkan oleh adanya gangguan media5

refraksi. Kornea adalah salah satu media refrakta, adanya defek pada kornea membuat pembiasaan cahaya tidak berjalan sempurna yang membuat sinar datang menjadi terhalang sehingga membuat visus pasien menurun.

KERATITIS A.PENDAHULUAN Keratitis adalah infeksi kornea pada yang ditandai dengan timbulnya infiltrat pada lapisan kornea, biasanya diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena, yaitu keratitis superfisialis apabila mengenai lapisan epitel atau Bowman dan keratitis profunda atau interstisialis (atau disebut juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma Keratitis superfisial adalah radang kornea yang mengenai lapisan epitel dan membran Bowman, keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Kornea merupakan alat media refraksi penglihatan dan berperan besar dalam pembiasan cahaya diretina. Oleh karena itu setiap kelainan pada kornea termasuk infeksi dapat menyebabkan terganggunya penglihatan. Terganggunya penglihatan biasanya karena terjadi kekeruhan pada kornea akibat keberadaan6

infiltrat pada lapisan kornea. Bakteri pada umumnya tidak dapat menyerang kornea yang sehat, namun beberapa kondisi dapat menyebabkan infeksi bakteri terjadi. Contohnya, luka atau trauma pada mata dapat menyebabkan kornea terinfeksi. Mata yang sangat kering juga dapat menurunkan mekanisme pertahanan kornea. Beberapa etiologi yang dapat meningkatkan kejadian terjadinya keratitis antara lain: perawatan lensa kontak yang buruk, penggunaan lensa kontak yang berlebihan, trauma, keracunan obat, infeksi jamur, bakteri, virus, alergi, defisiensi vitamin A, kekebalan tubuh menurun karena penyakit yang Lain. Keratitis dapat menimbulkan gejala pada mata berupa tajam penglihatan menurun, tanda radang pada kelopak mata, rasa nyeri, mata merah, fotofobia, mata berair, sensasi benda asing didalam mata.

Di Indonesia kekeruhan kornea masih merupakan masalah kesehatan mata sebab kelainan ini menempati urutan kedua penyebab kebutaan.Kekeruhan kornea ini disebabkan oleh infeksi mikroorganisme berupa bakteri, jamur dan virus. Dan bila terlambat di diagnosis atau diterapi secara tidak tepat akan mengakibatkan kerusakan stroma dan meninggalkan jaringan parut yang luas. B. ANATOMI BOLA MATA Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda.17

Gambar 1 Gambar anatomi bola mata. Dikutip dari kepustakaan no. 3

Kornea (latin cornum = seperti Tanduk) adalah selaput bening mata. Kornea transparan (jernih), bentuknya hampir sebagian lingkaran dengan diameter vertikal 10-11mm. Dan horisontal 11-12mm, tebal0,6-1mm terdiri dari 5 lapis. Kemudian indeks bias 1,375 dengan kekutan pembiasan80%. Sifat kornea yang dapat ditembus cahaya ini disebabkan oleh struktur kornea yang seragam, avaskuler dan diturgesens atau keadaan dehidrasi jaringan kornea relatif yang dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsisawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel untuk mencegah dehidrasi dan cedera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan sifat transparan hilang dan edema kornea, sedangkan kerusakan epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat karena akan menghilang seiring dengan regenerasi epitel1

8

Kornea dipersarafi oleh banyak serat saraf sensoris terutama saraf siliarislongus, saraf nasosiliaris, Saraf Ke V saraf siliaris longus berjalan supra koroid, masuk kedalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel kornea edema terjadi. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi.

Gambar Gambar lapisan kornea. Dikutip dari kepustakaan no. 3

9

Kornea merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri atas lapis: 1 1.Epitel: Bentuk epitel gepeng berlapis tanpa tanduk. Bersifat larut dalam lemak. Ujung saraf kornea berakhir di epitel oleh karena itu pada kelainan epitel akan menyebabkan gangguan sensibilatas korena dan rasa sakit dan mengganjal. Daya regenerasi cukup Besar, perbaikan dalam beberapa hari tanpa membentuk jaringan parut. Tebalnya 50um, terdiri atas sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih, satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel poligonal didepannya melalui desmosom dan makulaokluden, Ikatan ini menghambat pengaliran udara, elektrolit dan glukosa yang merupakan pembatas. Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan menjadi erosi rekuren. Epitel berasal dari ektoderm permukaan.1 2.Membrana Bowman terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Ia mempertahankan bentuk kornea. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.Kerusakan akan berakhir dengan terbentuknya jaringan parut. 3.Stroma : Lapisan yang paling tebal dari kornea. Bersifat larut dalam air. Terdiri atas jaringan kolagen yang tersusun atas lamel-lamel, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur. Sedang d