TUGAS TERSTRUKTUR PARASITOLOGI

download TUGAS TERSTRUKTUR PARASITOLOGI

of 20

  • date post

    05-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    67
  • download

    0

Embed Size (px)

description

parasitologi

Transcript of TUGAS TERSTRUKTUR PARASITOLOGI

TUGAS TERSTRUKTUR PARASITOLOGI NEMATODA PARASIT USUS

DISUSUN OLEH : 1. Roffa Hijrani 2. Lenny Rachmawati 3. Alvianti Fatma Pratami 4. Rossita Kurnia Rahayu 5. Leti Siana (G1B012007) (G1B012008) (G1B012009) (G1B012015) (G1B012016)

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT PURWOKERTO 2013

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Nematoda adalah cacing yang bentuknya panjang, silindrik tidak bersegmen, dan tubuhnya bilateral. Nematoda pada manusia digolongkan menjadi dua menurut tempat hidupnya, yaitu Nematoda usus dan Nematoda jaringan. Spesies Nematoda usus yang ditemukan pada manusia Ascaris Lumbricoides, Trichuris trichiura, Oxyuris vermicularis,Strongyloides stercolaris, Ancylostoma duodenale, Ancylostoma braziliense, Ancylostoma caninum, Necator americanus,Toxocara canis dan Toxocara cati. Umumnya manusia menupakan hospes definitive. Tiap spesies Nematoda usus memiliki morfologi yang berbeda-beda. Cacing betina ukurannya lebih besar daripada jantan. Tiap larva spesies Nematode usus berada di dalam sirkulasi darah(siklus paru), kecuali Trichuris trichiura. Gejala klinis dipengaruhi oleh tingkat infeksi(jumlah cacing), jenis parasite, stadium parasite,(larva/dewasa), lokalisasi parasite, dan lamanya kasus infeksi. Diagnosis penyakit ditegakkan dengan menemukan telur dalam feses, bilasan duodenum, larva dalam jaringan melalui teknik jaringan tekan atau diwarnai,uji intradermal, uji serologis. Pengobatan penyakit harus disertai dengan upaya peningkatan hygiene dan sanitasi. Infeksi umumnya melalui media tanah yang terkontaminasi feses yang mengandung telur cacing (soil transmitted helminthes), misalnya askarialis, trikurialis, dan cacing tambang. Dalam siklus hidupnya cacing nematode usus membutuhkn kondisi lingkungan yang mempunyai temperature dan kelembapan yang sesuai. Upaya pencegahan dengan melakukan pengobatan secara individual atau massal, menghindari kontak debu, tidak defekasi disembarang tempat, memasak sayuran hingga matang,memakai alas kaki, menghindari kontak/ berdekatan dengan anjing dan kucing. Sebagian besar nematoda tersebut menyebabkan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai nematoda khususnya nematoda parasit usus.( Muslim,2009) B. Tujuan. 1. Mengetahui klasifikasi, epidemiologi, distribusi geografis & kondisi penyakit terkini, morfologi, siklus hidup, patologi, pencegahan dan pengendalian.

BAB II ISI Pada uraian berikut akan dibahas beberapa spesies dari Nematoda yang merupakan parasite pada manusia. 1. Ascaris lumbricoide(cacing gelang) 1.1 Klasifikasi Phylum Kelas Ordo superfamili Genus Spesies 1.2 Epidemiologi Distribusi di seluruh dunia. Prevalensi tertinggi pada Negara beriklim tropisdan subtropics, dan daerah yang sanitasinya tidak baik. Telur Ascaris lumbricoides berkembang sangat baik pada tanah liat dengan kelembapan tinggi dan suhu 25-30c, membutuhkan waktu 2-3 minggu agar telur menjadi infektif. Prevalensi di Indonesia tinggi, terutama pada anak-anak yang mencapai 60-90 %. (Muslim, 2009) 1.3 Distribusi Geografis Parasit ini ditemukan kosmopolit. Survey yang dilakukan di beberapa tempat di Indonesia menunjukan bahwa prevalensi A.lumbricoides masih cukup tinggi, sekitar 60-90%.(Sutanto, 2008) 1.4 Morfologi Morfologi Ascaris lumbricoides yaitu : Cacing jantan memiliki ukuran 10-31 cm, ekor melingkar, memiliki 2 spikula. Cacing betina memiliki ukuran 22-35 cm, ekor lurus, pada 1/3 bagian anterior memiliki cincin kopulasi. Mulut terdiri atas 3 buah bibir. : Nemathelminthes : Nematoda : Ascaridida : Ascaridoidea : Ascaris : Ascaris lumbricoides

Telur yang dibuahi berukuran sekitar 60 x 45 mikron, berbentuk oval, berdinding tebal dengan 3 lapisan dan berisi embrio.

Telur yang tidak dibuahi berukuran sekitar 90 x 40 mikron, berbentuk bulat lonjong atau tidak teratur, dindingnya terdiri atas 2 lapisan dan dalamnya bergranula.

Telur decorticated, telurnya tanpa lapisan albuminoid yang lepas karena proses mekanik.(Prianto,juni,2006)

1.5 Siklus Hidup Ascaris lumbricoides

Ascaris Lumbricoides 1.6 Patologi dan Gejala Klinis Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan larva.Gangguan pada larva biasanya terjadi pada saat di paru paru. Pada orang yang rentan, terjadi perdarahan kecil pada dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru - paru yang disertai dengan batuk, demam, dan eosinofilia. Pada foto toraks tampak infiltrate yang menghilang dalam waktu 3 minggu. Keadaan ini disebut dengan Sindrom Loeffler. Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa biasanya ringan. Kadang kadang penderita mengalami gejala gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi. Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi malabsorbsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi. Efek yang serius terjadi bila cacing cacing ini menggumpal dalam usus sehingga terjadi obstruksi usus ( ileus ). Pada keadaan tertentu cacing dewasa mengembara ke saluran empedu, apendiks, atau ke bronkus dan menimbulkan keadaan gawat darurat sehingga kadang kadang perlu tindakan operatif. (Sutanto, 2008) 1.7 Pencegahan, Pengandalian dan Pengobatan Pencegahan pada cacing jenis ini yaitu dengan kesadaran penggunaan jamban keluarga yang baik dan benar. Selain itu, dengan menghindari pencemaran feses pada tanah di sekitar halaman rumah, dibawah pohon, dan tempat pembuangan sampah. Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau masal dengan syarat mudah diterima, efek samping rendah, aturan pakai mudah, dan murah. Obat yang biasa digunakan adalah piperasin, tiabendazol, heksilresorkinol, dan hetrazan. Golongan obat ini dapat memilikiefek samping, sedangkan obat-obat baru yang efektif dipakai di antaranya adalah pirantel pamoat, mebendazol, albendazol, dan levamisol (Muslim,2009).

2. Trichuris trichiura (cacing cambuk) 2.1 Klasifikasi Kelas Subkelas Ordo Superfamili Genus Species 2.2 Epidemiologi. Factor penting untuk penyebaran penyakit adalah kontaminasi tanah dengan tinja. Telur tumbuh di tanah liat, lembab, dan teduh dengan suhu optimum 30C. pemakaian tinja sebagai pupuk kebun merupakan sumber infeksi. Frekuensi di Indonesia tinggi. Di beberapa pedesaan di Indonesia frekuensinya berkisar 3090%. Di daerah yang sangat endemic infeksi dapat dicegah dengan pengobatan penderita trikuriasis, pembuatan jamban yang baik, pendidikan tentang sanitasi dan kebersihan perorangan,terutama anak. Mencuci tangan sebelum makan, dan mencuci sayuran yang akan dimakan mentah adalahpenting apalagi di negeri yang memakai tinja sebagai pupuk (Sutanto, 2008). 2.3 Distribusi Geografis. Cacing ini bersifat kosmopolit, terutama ditemukan di daerah panas dan lembab, seperti Indonesia (Sutanto, 2008). 2.4 Morfologi dan Siklus Hidup. Trichuris trichiura jauh lebih kecil dari Ascaris lumbricoides,anterior panjang dan sangat halus, posterior lebih tebal. Betina panjangnya 35-50 mm,dan jantan panjangnya 30-45 mm. Telur berukuran 50-54x32 mikron, bentuk seperti tempayan/tong, di kedua ujung ada operculum (mucus yang jernih) berwarna kuning tengguli, bagian dalam jernih, dan dalam feses segar terdapat sel telur. Kerusakan mekanik di mukosa usus oleh cacing dewasa dan respons alergi disebabkan oleh jumlah cacing yang banyak, lama infeksi, usia, dan status kesehatan umum hospes. Infeksi berat dan menahun terutama terjadi pada anakanak.cacing tersebar di kolon dan rectum sehingga dapat terjadi prolapse rektal yang menyebabkan pendarahan pada tempat perlekatan dan menimbulkan anemia. Anemia terjadi karena malnutrisi dan kehilangan darah akibat kolon rapuh. Di : Nematoda : Adenophorea : Enoplida : Trichinelloidea : Trichuris : Trichuris trichuira

samping itu, cacing ini juga mengisap darah. Gejala klinis terjadinya diare disertai sindrom disentri, anemia, prolaps rektal, dan berat badan menurun. Secara klinis infeksi lama(kronis) dPt menimbulkan anemia hipokromik (Muslim,2009).

2.5 Patologi dan Gejala Klinis. Cacing Trichuris pada manusia terutama hidup di sekum, akan tetapi dapat juga ditemukan di kolon asendens. Pada infeksi berat, terutama pada anak, cacing tersebar di seluruh kolon dan rectum. Kadang-kadang terlihat di mukosa rectum yang mengalami prolapses akibat mengejannya penderita pada waktu defekasi. Cacing ini memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus, hingga terjadi trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan mukosa usus. Di tempat perlekatannya dapat terjadi pendarahan. Di samping itu cacing ini juga mengisap darah hospesnya, sehingga dapat menyebabkan anemia. Penderita terutama anak-anak dengan infeksi Trichuris yang berat dan menahun, menunjukan gejala diare yang sering diselingi sindrom disentri, anemia, berat badan turun, dan kadang-kadang disertai prolapses rectum. Infeksi berat Trichuris trichuira sering disertai dengan infeksi cacing lainnya atau protozoa. Infeksi ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis yang jelas atau sama sekali tanpa gejala. Parasite ini sering ditemukan pada pemeriksaan tinja secara rutin (Sutanto, 2008). 2.6 Pencegahan, Pengobatan, dan Pengendalian. Upaya tindakan pencegahan data dilakukan seperti pada kasus askariasis. Infeksi parasite ini diobati dengan menggunakan pirantel pamoat, mebendazol, oksantel pamoat, dan levamisol. (Muslim,2006)

3. Oxyuris vermicularis(cacing kremi) 3.1 Klasifikasi. Phylum Kelas Ordo Superfamili Genus Species 3.2 Epidemiologi. Penyebarannya lebih luas dibandingkan nematode usus lainnya. Penularan sering terjadi pada suatu keluarga atau kelompok yang hidup di lingkungan yang sama.(Muslim.2006) 3.3 Distribusi geografis. Distribusi geografik secara kosmopolit, terutama di iklim tropisdan subtropics. Lebih banyak ditemukan di daerah dengan suhu dingin daripada panas. Penyebaran juga disebabkan oleh pengaruh hubungan yang erat antar kelompok manusia, seperti di asrama, panti asu