Tabloid Teknokra Edisi 125

download Tabloid Teknokra Edisi 125

of 12

  • date post

    04-Apr-2016
  • Category

    Documents

  • view

    261
  • download

    3

Embed Size (px)

description

merupakan terbitan Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung

Transcript of Tabloid Teknokra Edisi 125

  • Tabloid Mahasiswa Universitas LampungNo. 125 Tahun XII Edisi 30 November s.d.

    20 Desember 2012

    Akses: teknokra.comTeknologi, Inovasi, Kreativitas, dan Aktivitas

    Ilmiah Bisa, Populer Juga Boleh!

    Hlm. 7Hlm. 12 Hlm. 6Penanganan kasus meninggalnya Echa oleh pihak kepolisian membuat keluarga geram.

    Biaya konversi D3 ke S1 sebesar 15 Juta membuat Arian Korizal memupuskan impiannya menjadi Sarjana.

    John Hendri

    Ilmu yang peroleh di bangku sekolah mampu mengubah pola pikir seorang putra minang dan membawanya merengkuh gelar Profesor.

  • Foto Novalinda Silviana

    Pelindung: Prof. Dr. Ir. H. Sugeng P. Harianto, M.S. Penasehat: Prof. Dr. Sunarto, SH.MH Staf Ahli: Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M. Sc., Dr. M. Thoha B. Sampoerna Jaya, M,S., Syafarudin, S.Sos., Maulana Mukhlis, S.Sos., M.Ip.,Tony Wijaya S.Sos., M.A.

    Tabloid TEKNOKRA diterbitkan oleh Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) TEKNOKRA Universitas LampungALAMAT: Gedung PKM Lt. 1 Jl. Soemantri Brodjonegoro No. 1 Bandarlampung 35145, TELEPON: (0721) 788717 EMAIL: ukpmteknokraunila@yahoo.co.id, WEBSITE: teknokra.com

    Sampaikan Keluhanmu lewat SMS Mahasiswa, dengan format Nama_Jurusan/Angkatan_Komentar. Kirim ke 085766749755, 085380905885 atau Teknokra Unila @TeknokraUnila

    Suara Mahasiswa

    Comment 2Salam Kami

    Pemimpin Umum : Dian Wahyu Kusuma Pemimpin Redaksi : Nely Merina Pemimpin Usaha : Agnes Lisdiani Kepala Kesekretariatan: Esty Indriyani Safitri Kepala Pusat Pe-nelitian dan Pengembangan: Alvindra Redaktur Pelaksana: Lutfi Yulisa Redaktur Pelaksana Online: Reno Bima Yudha Redaktur Berita: Rika Wati Vina Oktavia Redaktur Foto: Novalinda SilviNovalinda Silviana Redaktur Artistik: Apro han Saputra Redaktur Webdesign: Syintia Kamala (Non Aktif) Fotografer: Faqih AA (Non Aktif) Staf Artistik: M. Burhan Reporter: Sinta S, Jenni A, Yovi L Webde-signer: Hermawan S, Faris Y Kameramen: Yurike PS, Windi DS Manajer Keuangan: Inayati Sofiah Koordinator Periklanan: Desfi Dian Mustika Koordinator Pemasaran: Desisonia (Non Aktif) Staf Keuangan: Rukuan Sujuda Staf Periklanan: Veni PS Staf Pema-saran: M. Faza P Staf Analisis dan Perpustakaan: Bina MZ (Non Aktif), Puji LN Staf Pengkaderan dan SDM: Rudiyansyah Staf Ke-sekretariatan: Indarti, Fitri W Magang: Eko S, Harry C, Meilinda O, Nurul F, Puspa A, Hayatun N, Tara M, Adi N, Andi W, Desi N, Hanna F, Imam G, Imam M, Khoirul A, Kurnia M, M. Nur, Murti K, Nindi L, Puspita S, Riskiani J, Romilda O, Wuri S.

    No. 125 Tahun XII Trimingguan Edisi 30 November-20 Desember 2012

    Judul:Teka-teki

    Kematian Echa

    Ide & Desain: Aprohan Saputra

    COVERKyay Adienjamo

    Oleh Aprohan Saputra

    Ayo kejar gelar sarjana!!!

    Loch, kenapa, Dien?

    Konversi D-3 ke S-1 mahal, Yay...

    tahu ga, Rp14.535.000,00,-

    Berusaha tak kenal lelah meski sebenarnya lelah. Tetap terjaga meski sebenarnya butuh tidur. Pengalaman tak biasa yang kami dapatkan di UKPM Teknokra. Semua demi menjaga eksistensi terbitan. Usaha yang melahirkan terbitan ketujuh kami kali ini.

    Terbitan ini adalah nafas terakhir di kepengurusan tahun ini. Nafas terakhir yang menunggu nafas baru untuk tetap berkarya. Semangat untuk kepengurusan tahun depan akan selalu kami genggam. Semua agar kami tetap bersama pembaca sekalian. Bersama-sama menjadi saksi setiap dinamika yang terjadi di kampus ini.

    Bagi kami, eksistensi terbitan adalah sebuah harga mati. Harga yang harus kami bayar agar tetap hidup. Kerena tanpa adanya terbitan, gelar Lembaga Penerbitan

    Mahasiswa tak pantas disandang. Seiring berjalannya waktu,

    kami sadar terbitan yang dituntut bukan sekedar media cetak. Jika anak sekolah dasar saja sudah mampu mengoperasikan blackberry, mahasiswa harusnya sudah mampu mengoperasikan website. Kini, terbitan Teknokra online sedang kami upayakan agar tak kalah eksis dengan terbitan majalah dan tabloid kami. Eksistensi Teknokra tentu perlu dukungan para pembaca.

    Paradigma mahasiswa rupanya hampir mengalami pergeseran. Budaya membaca berubah menjadi budaya ngobrol. Lihat saja, indonesia menjadi salah satu pengguna facebook terbanyak di dunia. Mahasiswa menjadi salah satu penyumbang terbesar penggunanya.

    Budaya ini tentu berbahaya jika terus dipelihara. Mahasiswa lebih asyik ngobrol ketimbang membaca.

    Tengoklah, seberapa sering kita membuka facebook setiap harinya dan sejarang apa kita membuka buku untuk dibaca.

    Membaca sebenarnya hal sederhana yang penuh makna. Tuhan saja mengajarkan kita pertama kali untuk membaca. Bukan menulis, apalagi ngobrol. Pepatah juga megabadikan membaca sebagai jendela dunia. Sebuah isyarat yang menyadarkan kita pentingnya membaca.

    Teknokra hadir sebagai alternatif agar budaya ngobrol tak benar-benar membudaya. Harapannya, masih banyak mahasiswa yang membaca terbitan kami. Dari sini, pembaca sekalian dapat menumbuhkan kembali budaya membaca. Membaca kabar terkini seputar kampus tercinta. Membaca hal-hal yang paling dekat dengan kita. Selamat Membaca. Tetap Berpikir Merdeka.=

    Eksistensi

    Harga MatiUnila tak peka melihat mahasiswanya. Atau justru memang tak ingin dilihat. Buktinya, lulusan-lulusan terbaiknya dilepas begitu saja. Malahan, ada yang dipersulit biaya. Meski mahasiswa inginnya tetap belajar dikampus hijau ini.

    Biaya transfer D3 ke S1 yang mencapai 15 juta membuat mahasiswa tak jadi menyandang gelar sarjana.

    Anehnya lagi, tak ada yang bisa bertanggungjawab soal kebijkan ini. Pemimpin kampus justru saling lempar tanggungjawab. Mengaku tak tahu kemana uang 15 juta itu masuk. Padahal, rapat penentuan kebijakan diikuti oleh para pimpinan universitas dan fakultas.

    PR II yang mengurusi bagian keuangan justru baru tahu saat dikonfirmasi. Baru mangkat yang dijadikan alasan. Alasan yang seharusnya tak jadi alasan. PR I yang bertanggungjawab mengatur akademik juga mengaku tak tahu banyak. Padahal, untuk dapat transfer ke S1 diperlukan surat pengantar dengan tanda tangan PR I. PR I rupanya lebih senang mengurusi dosen yang mangkir daripada mahasiswa yang ingin jadi dosen rajin.

    Rektor juga tak dapat berbuat banyak. Solusi yang mahasiswa inginkan tak kunjung diberikan. Rupanya rektor tak sadar, untuk mewujudkan Top Ten University diperlukan sumber daya yang mumpuni. Bukan hanya dosen, mahasiswa juga butuh perhatian.

    PD II fakultas FISIP ikut tak ingin disalahkan. Fakultas hanya memberikan usulan anggaran untuk perkuliahan. Urusan uang berarti urusan universitas. PD II justru menilai dana 15 juta memang harusnya dibayar mahasiswa. Lunas. Angka 15 juta dipatok untuk program UML. Program bagi orang-orang kaya, katanya.

    Kebijakan biaya transfer D3 ke S1 yang menguras kantong mahasiswa perlu diurai kembali. Dana Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) dinilai menjadi alasan membengkaknya biaya. Yang jadi pertanyaan, apakah mahasiswa yang menjalani transfer dari D3 ke S1 sempat merasakan hasil pengembangannya? Padahal, mereka hanya menyelesaikan studinya tak lebih dari dua tahun. Pembangunan rumah sakit pendidikan yang awalnya digadang-gadang selesai 2014 saja tak ada kabar. Lalu, mengapa mereka diminta membayar biaya serupa dengan mahasiswa UML S1?

    Pimpinan Unila yang tidak tidur saat rapat mengambil kebijakan ini tentu yang paham jawabannya. Mereka juga yang harusnya bertanggungjawab jika ada permasalahan soal kebijakan. Bukannya saling lempar jawaban. Bak peribahasa lempar batu sembunyi tangan.

    Jangan sampai mahasiswa harus menggelar aksi demo agar aspirasinya didengar. Tapi apa mau dikata? Jika usaha menemui pihak yang harusnya berwenang tak ada hasil. Solusi bijak permasalahan ini kiranya adalah penurunan biaya transfer D3 ke S1.

    Yang diinginkan tentu lahirnya kebijakan bagi mahasiswa yang ingin tetap belajar. Kebijakan yang menolong mahasiswa yang punya keinginan. Kebijakan yang tak sekedar meloloskan uang sebagai syarat. Karena setiap warga negara memang berhak mendapatkan pendidikan. Seperti amanat UUD 1945 yang mungkin mulai terlupakan.=

    Lempar Kebijakan Sembunyi Tanggung Jawab

    Pada dasarnya, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) bertujuan membangunkan masyarakat yang masih tidur sehingga mereka berpikiran untuk maju. Namun sebagian dari mahasiswa KKN tidak tahu apa yang harus mereka lakukan agar desa tempat mereka KKN menjadi maju dan berkualitas. Dan sebagian dari masyrakat desa pun salah menafsirkan bahwa mahasiswa KKN merupakan penyokong financial (uang) bagi mereka.

    Padahal yang harus dikontribusikan oleh mahasiswa

    bukanlah uang melainkan ilmu yang mereka peroleh diperkuliahan. Dengan panduan yang telah dibuat oleh panitia KKN. Dan sedikit saran bahwa dalam melaksanakan program KKN yang berjalan 40 hari lamanya memang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Oleh sebab itu mahasiswa harus lebih kritis untuk memilah mana program yang menjadi prioritas.

    Untuk pemberian materi KKN oleh panitia pun harusnya lebih dioptimalkan karena kebanyakan dari mereka tak tahu apa yang harus dikerjakan disana. Peran Dewan

    Pembimbing Lapangan (DPL) pun perlu di tingkatkan. Karena DPL memiliki bukan hanya membimbing mahasiswa tapi juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat bahwa mahasiswa KKN adalah penggerak masyarakat desa dengan ilmu bukan sponsor dana desa. Dengan begitu paradigma masyarakat bisa berubah sehingga mahasiswa KKN bisa menjalankan program kerja dengan baik tanpa terbebani oleh biaya yang besar.

    Dede Jihan RasikaBahasa Inggris 09

    Redaksi hanya akan memuat SMS/komentar yang disertai identitas lengkap dan bisa dipertanggungjawab-kan, Nama/Jurusan/Fakultas/Angkatan. Kami akan me ncocokkannya dengan data siakad Unila.

  • No. 125 Tahun XII Trimingguan Edisi 30 November-20 Desember 2012

    Kampus Hijau 3

    Unila-Tek: Awalnya ngeliat antivirus lokal yang semuanya sama saja, jadi pengen