refrat keratitis

download refrat keratitis

of 27

  • date post

    27-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.392
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of refrat keratitis

www.teammedical.co.cc www.calvariatmc.blogspot.com

BAB I PENDAHULUAN

Mata kadang-kadang dipandang sebagai sasaran khusus untuk proses imunologi. Dalam kenyataannya kelainan imunologik lebih banyak tampak pada mata dibanding dengan organ lain di badan, sebab organ lain pada saat terjadi serangan tetap dalam keadaan "tenang". Kelainan mata yang dijumpai akibat proses imunologik dapat berupa konjungtiva yang hiperemi, khemosis, dan disertai rasa sakit. Jika proses imunologik menyangkut kornea, dapat ditandai oleh hiperemi konjungtiva, epifora, fotofobia, dan kabur, kadang-kadang timbul rasa sakit. Kekaburan yang berat akibat proses imunologik pada kornea dapat menyebabkan kebutaan. Beberapa peneliti telah melaporkan tentang ketidakberhasilan menangani berbagai keratitis. Suwono (1988) menerangkan, bahwa dari 8 kasus ulkus kornea dengan hipopion pada tahun 1987 terdapat 6 kasus sembuh, sedangkan 2 kasus mengalami eviserasi karena endoftalmitis. Syawal (1988) meneliti 25 penderita ulkus kornea antara tahun 1984-1987 dan 4 penderita di antaranya mengalami eviserasi. Panda dan Gupta (1991) meneliti 91 mata dengan ulkus kornea karena bakteri stafilokokus yang menunjukkan, bahwa lebih dari 60% specimen resisten terhadap pemberian kloramfenikol dan kloksasilin dan 2 mata terjadi endoftalmitis. Selanjutnya Rahman dan Dhaka (1991) melaporkan, bahwa keratitis jamur hanya 35% yang responsif terhadap pengobatan anti-jamur baik sistemik maupun lokal. Hoetaryo (1988) meneliti 183 penderita keratitis herpes simpleks menyatakan, bahwa peradangan kornea di sini akibat reaksi hipersensitivitas yang timbul karena adanya sel yang rusak. Ishikawa (1991) memeriksa 50 kasus keratitis diskiformis dengan angka kekambuhan 30% dalam periode 2 tahun setelah pengobatan antiviral dan kortikosteroid. Tokushima (1991) menyatakan, bahwa keratitis virus merupakan penyakit yang banyak terjadi, dan merupakan penyakit yang sukar diobati. Karena berbagai permasalahan mengenai keratitis yang tidak memuaskan, maka perlu dipikirkan kemungkinan adanya proses imunologik yang ikut berperan. Tulisan ini bertujuan

1

www.teammedical.co.cc www.calvariatmc.blogspot.com

untuk menelaah beberapa kelainan kornea yang melibatkan proses imunologik. Dengan demikian diharapkan dalam penanganan keratitis memiliki dimensi yang lebih luas namun lebih terarah. Permukaan mata secara regular terpajan ligkungan luar dan mudah mengalami trauma, infeksi, dan reaksi alergi yang merupakan sebagian besar penyakit ada jaringan ini. Kelainan kornea sering menjadi penyebab timbulnya gejala pada mata. Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrate sel radang pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh, biasanya diklasifikasikan dalam lapisan yang terkena seperti keratitis superficial, intertitisial dan profunda.

2

www.teammedical.co.cc www.calvariatmc.blogspot.com

BAB II PEMBAHASAN

I. Keratitis 1.1 Definisi Keratitits adalah peradangan pada kornea, membran transparan yang menyelimuti bagian berwarna dari mata (iris) dan pupil. Keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Bakteri pada umumnya tidak dapat menyerang kornea yang sehat, namun beberapa kondisi dapat menyebabkan infeksi bakteri terjadi. Contohnya, luka atau trauma pada mata dapat menyebabkan kornea terinfeksi. Mata yang sangat kering juga dapat menurunkan mekanisme pertahanan kornea. Beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan kejadian terjadinya keratitis antara lain:

Perawatan lensa kontak yang buruk; penggunaan lensa kontak yang berlebihan Herpes genital atau infeksi virus lain Kekebalan tubuh yang menurun karena penyakit lain Higienis yang tidak baik Nutrisi yang kurang baik (terutama kekurangan vitamin A)

1.2 Penyebab Penyebab keratitis bermacam-macam. Bakteri, virus dan jamur dapat

menyebabkan keratitis. Penyebab paling sering adalah virus herpes simplex, tipe 1. Selain itu penyebab lain adalah kekeringan pada mata, pajanan terhadap cahaya yang sangat terang, benda asing yang masuk ke mata, reaksi alergi atau mata yang terlalu sensitif3

www.teammedical.co.cc www.calvariatmc.blogspot.com

terhadap kosmetik mata, debu, polusi atau bahan iritatif lain, kekurangan vitamin A dan penggunaan lensa kontak yang kurang baik. 1.3 Gejala Umum Gejala keratitis antara lain:

Keluar air mata yang berlebihan Nyeri Penurunan tajam penglihatan Radang pada kelopak mata (bengkak, merah) Mata merah Sensitif terhadap cahaya

1.4 Pengobatan Antibiotik, anti jamur dan anti virus dapat digunakan tergantung organisme penyebab. Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secepatnya, tapi bila hasil laboratorium sudah menentukan organisme penyebab, pengobatan dapat diganti. Terkadang, diperlukan lebih dari satu macam pengobatan. Terapi bedah laser terkadang dilakukan untuk menghancurkan sel yang tidak sehat, dan infeksi berat membutuhkan transplantasi kornea. Obat tetes mata atau salep mata antibiotik, anti jamur dan antivirus biasanya diberikan untuk menyembuhkan keratitis, tapi obat-obat ini hanya boleh diberikan dengan4

www.teammedical.co.cc www.calvariatmc.blogspot.com

resep dokter. Pengobatan yang tidak baik atau salah dapat menyebabkan perburukan gejala. Obat kortikosteroid topikal dapat menyebabkan perburukan kornea pada pasien dengan keratitis akibat virus herpes simplex. Pasien dengan keratitis dapat menggunakan tutup mata untuk melindungi mata dari cahaya terang, benda asing dan bahan iritatif lainnya. Kontrol yang baik ke dokter mata dapat membantu mengetahui perbaikan dari mata. 1.5 Pencegahan Pemakai lensa kontak harus menggunakan cairan desinfektan pembersih yang steril untk membersihkan lensa kontak. Air keran tidak steril dan tidak boleh digunakan untuk membersihkan lensa kontak. Pemeriksaan mata rutin ke dokter mata disarankan karena kerusakan kecil di kornea dapat terjadi tanpa sepengetahuan kita. Jangan terlalu sering memakai lensa kontak. Lepas lensa kontak bila mata menjadi merah atau iritasi. Ganti lensa kontak bila sudah waktunya untuk diganti. Cuci tempat lensa kontak dengan air panas, dan ganti tempat lensa kontak tiap 3 bulan karena organisme dapat terbentuk di tempat kontak lensa itu. Makan makanan bergizi dan memakai kacamata pelindung ketika bekerja atau bermain di tempat yang potensial berbahaya bagi mata dapat mengurangi resiko terjadinya keratitis. Kacamata dengan lapisan anti ultraviolet dapat membantu menahan kerusakan mata dari sinar ultraviolet. II. Keratitis Bakteri 2.1 Definisi Keratitis bakteri adalah gangguan penglihatan yang mengancam. Ciri-ciri khusus keratitis bakteri adalah perjalanannya yang cepat. Destruksi corneal lengkap bisa terjadi dalam 24 48 jam oleh beberapa agen bakteri yang virulen. Ulkus kornea, pembentukan abses stroma, edema kornea dan inflamasi segmen anterior adalah karakteristik dari penyakit ini. 2.2 PATOFISIOLOGI5

www.teammedical.co.cc www.calvariatmc.blogspot.com

Awal dari keratitis bakteri adalah adanya gangguan dari epitel kornea yang intak dan atau masuknya mikroorganisme abnormal ke stroma kornea, dimana akan terjadi proliferasi dan menyebabkan ulkus. Factor virulensi dapat menyebabkan invasi mikroba atau molekul efektor sekunder yang membantu proses infeksi. Beberapa bakteri memperlihatkan sifat adhesi pada struktur fimbriasi dan struktur non fimbriasi yang membantu penempelan ke sel kornea. Selama stadium inisiasi, epitel dan stroma pada area yang terluka dan infeksi dapat terjadi nekrosis. Sel inflamasi akut (terutama neutrofil) mengelilingi ulkus awal dan menyebabkan nekrosis lamella stroma.

Difusi produk-produk inflamasi (meliputi cytokines) di bilik posterior, menyalurkan selsel inflamasi ke bilik anterior dan menyebabkan adanya hypopyon. Toksin bakteri yang lain dan enzim (meliputi elastase dan alkalin protease) dapat diproduksi selama infeksi kornea yang nantinya dapat menyebabkan destruksi substansi kornea.

Grup bakteri yang paling banyak menyebabkan keratitis bakteri adalah Streptococcus, Pseudomonas, Enterobacteriaceae (meliputi Klebsiella, Enterobacter, Serratia, and Proteus) dan golongan Staphylococcus. Lebih dari 20 kasus keratitis jamur (terutama candidiasis) terjadi komplikasi koinfeksi bakteri. 2.3 ANGKA KEJADIAN Di Amerika Serikat kira-kira 25.000 penduduk Amerika setiap tahun menderita penyakit ini. Secara global, insidensi keratitis bakteri bervariasi secara luas, dimana negara dengan industrialisasi yang rendah menunjukkan angka pemakai soft lens yang rendah sehingga bila dihubungkan dengan pemakai soft lens dan terjadinya infeksi menunjukkan hasil penderita yang rendah juga. 2.4 ANGKA KESAKITAN DAN KEMATIAN Untuk kasus inflamasi yang berat, ulkus yang dalam dan abses stromal dapat bergabung sehingga menyebabkan tipisnya kornea dan pengelupasan stroma yang terinfeksi. Proses-proses ini menyebabkan komplikasi berikut ini: 1. LEUKOMA KORNEA: jaringan parut dengan munculnya vaskularisasi kornea, timbul sebagai akhir dari keratitis bakteri. Tergantung dari lokasi dan dalamnya perkembangan stroma, menyebabkan timbulnya leukoma kornea yang secara jelas terlihat signifikan memerlukan bedah korna untuk rehabilitasi6

www.teammedical.co.cc www.calvariatmc.blogspot.com

visual (meliputi phototherapeutic keratectomy (PTK) atau penetrating keratoplasty [PK]) 2. ASTIGMATISME IREGULER: komplikasi lain yang mungkin terjadi karena infeksi ini tidak rata penyembuhan stromanya sehingga menyebabkan astigmatisme ireguler (membutuhkan lensa kontak gas-permeable atau PTK untuk meningkatkan penglihatan) 3. PERFORASI KORNEA: ini merupakan komplikasi yang paling banyak dari keratitis bakteri yang secara sekunder menyebabkan endophthalmitis dan hilangnya penglihatan. 2.5 PEMERIKSAAN KLINIS Pasien dengan keratitis bakteri biasanya mengeluh nyeri dengan oncet cepat, fotophobia dan menurunnya visus. Penting untuk mengetahui riwayat penyakit sistemik lengkap