Keratitis UI

download Keratitis UI

of 37

  • date post

    01-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    269
  • download

    1

Embed Size (px)

description

good

Transcript of Keratitis UI

DISKUSI PAGI

KERATITIS & ULKUS KORNEA

Oleh:

Christopher Rico Andrian (0906554251)

Lutfie (0906487871)

Narasumber

dr. Soedarman Sjamsoe, SpM

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA

JAKARTA

MARET 2013

DAFTAR ISI

Halaman Judul 1

Daftar Isi2

Tinjauan Pustaka 4

1 Anatomi dan Histologi Kornea4

2 Fisiologi Kornea5

3 Pemeriksaan Penyakit Kornea7

4 Patogenesis Keratitis dan Ulkus Kornea10

5 Keratitis Superfisial dan Dalam14

6 Keratitis Infektif17

7 Keratitis Non Infektif30Daftar Pustaka 35TINJAUAN PUSTAKA1. Anatomi dan Histologi Kornea

Kornea berasal dari bahasa Latin, kornu, yang berarti tanduk.Kornea merupakan bagian tunika fibrosa yang transparan, tidak mengandung pembuluh darah, dan kaya akan ujung-ujung serat saraf. Kornea berasal dari penonjolan tunika fibrosa ke sebelah depan bola mata.1 Kornea berhubungan dengan sklera pada limbus yang merupakan depresi sirkumferensial yang dapat disebut juga dengan sulkus sklera. Ketebalan kornea pada manusia dewasa rata-rata adalah 0,52 mm pada bagian tengah, dan 0,65 mm pada bagian perifer, dengan diameter 11,75 mm secara horizontal. 2Kornea bertanggung jawab terhadap kekuatan optik dari mata. Dengan tidak adanya pembuluh darah maka untuk memenuhi kebetuhan nutrisi dan pembuangan produk metabolik pada kornea dilakukan melalui aqueous humor pada bagian posterior dan melalui air mata yang melewati air mata pada bagian anterior. Korena diinervasi oleh cabang pertama dari nervus trigeminus yang menyebabkan segala kerusakan pada kornea (abrasi kornea, keratitis, dll) menimbulkan rasa sakit, fotofobia, dan refleks lakrimasi.3Secara histologis, kornea dibagi menjadi 5 bagian yaitu:a. Epitel kornea1,3Epitel kornea merupakan lanjutan dari konjungtiva disusun oleh epitel gepeng berlapis tanpa lapisan tanduk. Lapisan ini merupakan lapisan kornea terluar yang langsung kontak dengan dunia luar dan terdiri atas 5-6 lapis sel. Basal sel kolumnar pada lapis sel pertama melekat dengan membran basement dibagian bawahnya dengan hemidesmosome. Dua lapisan diatas sel basal tersebut merupakan sel wing, atau sel payung, dan dua lapisan diatas berikutnya merupakan sel gepeng.Epitel kornea ini mengandung banyak ujung- ujung serat saraf bebas. Sel-sel yang terletak di permukaan cepat menjadi aus dan digantikan oleh sel-sel yang terletak di bawahnya yang bermigrasi dengan cepat. Stem cell epitelial ini terletak pada superior dan inferior limbus. b. Membran Bowman 1,2

Membran Bowman merupakan lapisan fibrosa aseluler yang terletak di bawah epitel tersusun dari serat kolagen tipe 1.c. Stroma Kornea1,2

Stroma kornea tersusun dari serat-serat kolagen tipe 1 yang berjalan secara paralel membentuk lamel kolagen dengan sel-sel fibroblast diantaranya. Lamel kolagen ini berjalan paralel dengan permukaan kornea dan bertanggung jawab terhadap kejernihan kornea. Ketebalan stroma kornea mencakup 90% dari ketebalan kornea. Stroma kornea tidak dapat beregenerasi.d. Membran Descemet1,2,3 Membran descemet merupakan membran dasar yang tebal tersusun dari serat-serat kolagen yang dapat dibedakan dari stroma kornea. Memiliki ketebalan sekitar 3 mm pada saat lahir dan meningkat ketebalannya sepanjang usia. Membran Descemet memiliki potensi untuk beregenerasi.e. Endotel kornea

Lapisan ini merupakan lapisan kornea yang paling dalam tersusun dari epitel selapis gepeng atau kuboid rendah. Sel-sel ini mensintesa protein yang mungkin diperlukan untuk memelihara membran Descement. Sel-sel ini mempunyai banyak vesikel dan dinding selnya mempunyai pompa natrium yang akan mengeluarkan kelebihan ion-ion natrium ke dalam kamera okuli anterior. Ion-ion klorida dan air akan mengikuti secara pasif. Kelebihan cairan di dalam stroma akan diserap oleh endotel sehingga stroma tetap dipertahankan dalam keadaan sedikit dehidrasi (kurang cairan), suatu faktor yang diperlukan untuk mempertahankan kualitas refraksi kornea. Kornea bersifat avaskular (tak berpembuluh darah) sehingga nutrisi didapatkan dengan cara difusi dari pembuluh darah perifer di dalam limbus dan dari humor aquoeus di bagian tengah. Kornea menjadi buram bila endotel kornea gagal mengeluarkan kelebihan cairan di stroma. Pada manusia dewasa, densitas dari endotel kornea adalah sekitar 2.500 sel/mm2. Densitas ini berkurang sepanjang usia kurang lebih 0,6% setiap tahun dan sel-sel endotel tetanga membesar berusaha untuk mengisi ruang kosong. Sel-sel endotel ini tidak dapat beregenerasi. Pada densitas 500 sel/mm2, akan terjadi edema kornea dan transparansi menjadi berkurang.

Gambar 1. Histologi Kornea32. Fisiologi Kornea

Fungsi dari kornea adalah sebagai membran protektif dan sebagai jendela yang dilewati oleh cahaya untuk sampai ke retina.

Transparansi KorneaSifat transparan dari kornea dihasilkan oleh berbagai faktor yang saling berhubungan, yaitu susunan dari lamela kornea, sifat avaskular, serta keadaan dehidrasi relatif (70%) yang dijaga oleh adanya efek barrier dari epitelium, endotelium, dan pompa bikarbonat yang bekerja secara aktif pada endotelium.

Keadaan dehidrasi tersebut dihasilkan oleh evaporasi air dari laporan air mata prekorneal yang menghasilkan lapisan dengan sifat hipertonis. Dalam hal ini, endotelium memegang peranan yang lebih besar daripada epitelium. Demikian pula bila terjadi kerusakan pada endotelium, akan diperoleh dampak yang lebih besar.1-6Penetrasi pada kornea yang sehat atau intak oleh obat bersifat bifasik. Substansi larut lemak dapat melewati epithelium dan substansi larut air dapat melewati stroma. Obat yang diharapkan untuk dapat menembus kornea harus memiliki kedua sifat tersebut.4Metabolisme Kornea

Untuk menyokong sifat fisiologis tersebut, kornea membutuhkan energi. Adapun sumber energi kornea diperoleh melalui:

1. Zat terlarut, misalnya glukosa, masuk ke kornea secara pasif melalui difusi sederhana maupun secara transpor aktif melalui aqueous humor, serta melalui difusi dari kapiler perilimbal.

2. Oksigen, secara langsung diperoleh dari udara atmosfer melalui lapisan air mata. Proses ini dijalankan secara aktif melalui epitelium.

Sumber energi ini kemudian diproses / dimetabolisme, terutama oleh epitelium dan endotelium. Dalam hal ini, karena epitelium jauh lebih tebal daripada endotelium, suplai energi yang dibutuhkan pun jauh lebih besar, sehingga akitivitas metabolisme tertinggi di mata dijalankan oleh kornea.4 Kornea adalah jaringan yang braditrofik, yaitu jaringan dengan metabolisme yang lambat dan karenanya juga penyembuhan yang lambat.5Sebagaimana jaringan lain, epitelium dapat melangsungkan metabolisme secara aerobik maupun anaerobik. Secara aerobik, proses yang terjadi adalah glikolisis (30%) dan heksosa monofosfat (65%). Secara anaerobik, metabolisme akan menghasilkan karbon dioksida, air, dan juga asam laktat.2-4Kornea juga dilengkapi oleh beberapa materi antioksidan untuk menangkal radikal bebas yang dapat terjadi sebagai efek samping dari proses metabolisme. Adapun antioksidan yang terkandung dalam jumlah terbesar pada kornea adalah glutation reduktase, selain terdapat pula askorbat, superoksida dismutase, serta katalase.

Proteksi dan Persarafan Kornea

Struktur ini menerima persarafan dari cabagn ophtalmik dari nervus trigeminalis. Kornea sendiri adalah sebuah struktur vital pada mata dan karenanya juga bersifat sangat sensitif. Sensasi taktil minimal telah dapat menimbulkan refleks penutupan mata. Adapun lesi pada kornea akan membuat ujuang saraf bebas terpajan dan sebagai akibatnya, akan timbul nyeri hebat diikuti refleks pengeluaran air mata beserta lisozim yang terkandung di dalamnya (epifora) dan penutupan mata secara involunter (blefarospasme) sebagai mekanisme proteksinya.5Resistensi Kornea terhadap Infeksi

Epitelium kornea, dengan sifat hidrofobik dan regenerasi cepatnya, merupakan pelindung yang sangat baik dari masuknya mikroorganisme ke dalam kornea. Akan tetapi, bila lapisan ini mengalami kerusakan, lapisan stroma yang avaskular serta lapisan Bowman dapat menjadi tempat yang baik bagi mikroorganisme, misalnya bakteri, amuba, dan jamur.

Faktor predisposisi yang dapat memicu inflamasi pada kornea di antaranya adalah blefaritis, perubahan pada epitel kornea (misalnya mata kering), penggunaan lensa kontak, lagoftalmus, kelainan neuroparalitik, trauma, dan penggunaan kortikosteroid. Untuk dapat menimbulkan infeksi, diperlukan inokulum dalam jumlah besar atau keadaan defisiensi imun.

Di dalam kornea itu sendiri, terdapat Streptococcus pneumoniae, yang merupakan bakteri patogen kornea yang sesungguhnya. Salah satu bakteri oportunis yang dapat menginfeksi adalah Moraxella liquefaciens. Umumnya, mikroorganisme ini ditemui pada pengonsumsi alkohol sebagai akibat dari deplesi piridoksin. Di samping itu, ditemukan pula kelompok lain, misalnya Serratia marcescens, Mycobacterium fortuitum-chelonei complex, Streptococcus viridans, Staphylococcus epidermidis, virus, amuba, dan jamur.

Faktor lain, yaitu defisiensi imun, dapat disebabkan oleh konsumsi kortikosteroid lokal maupun sistemik, sehingga organisme oportunistik dapat menyerang dan menginfeksi kornea.23. Pemeriksaan Penyakit Kornea

Untuk dapat memperoleh gambaran yang komperehensif mengenai proses patologi yang terjadi pada kornea, diperlukan data yang dapat diperoleh melalui pemeriksaan berikut:Anamnesis (Gejala)Melalui anamnesis, dikumpulkan data mengenai riwayat trauma, mengingat keberadaan benda asing dan abrasi merupakan penyebab yang cukup sering pada penyakit kornea. Di samping itu, ditanyakan pula mengenai riwayat penyakit kornea sebelumnya, misalnya pada keratitis akibat infeksi herpes simpleks. Riwayat imunodefisiensi maupun penggunaan obat obatan topikal, terutama kortikosteroid, juga penting untuk dita