Referat Pneumonia Feri

download Referat Pneumonia Feri

of 37

  • date post

    05-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    819
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of Referat Pneumonia Feri

REFERAT PNEUMONIA

Diajukan kepada : dr. Endang Widiastuti, Sp.PD

Disusun oleh : FERI SULISTYA 2006 031 0008

SMF ILMU PENYAKIT DALAM RS JOGJA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2011

1

LEMBAR PENGESAHAN REFERAT PNEUMONIA

Dipresentasikan : TANGGAL : 6 Agustus 2011 TEMPAT : RS JOGJA

Mengetahui, Pembimbing

Dr. Endang Widiastuti, Sp.PD

2

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pneumonia merupakan infeksi pada parenkim paru. Pneumonia dapat disebabkan berbagai spesies bakteri, mikoplasma, klamidia, riketsia, virus, fungi dan parasit. Pneumonia bukan penyakit tunggal melainkan sekelompok infeksi spesifik yang masing-masing dengan epidemiologi, patogenesis, gambaran klinis dan perjalanan klinis yang berlainan. Identifikasi mikroorganisme yang menjadi penyebabnya sangat penting karena sifat infeksi tersebut yang serius dan pasien umumnya memerlukan terapi antimikroba yang harus segera diberikan sebelum kepastian mikroorganisme penyebabnya ditentukan melalui hasil pemeriksaan laboratorium. Etiologi mikroba yang spesifik masih membingungkan pada sekitar sepertiga pasien, misalnya jika tidak terdapat sputum untuk pemeriksaan, hasil kultur darahnya steril dan tidak terdapat cairan pleura. Pilihan awal terapi antimikroba seringkali dilakukan secara empiris berdasarkan keadaan ketika infeksi tersebut didapat, gambaran klinis, corak abnormalitas pada hasil foto toraks, hasil pewarnaan sputum atau cairan tubuh yang terinfeksi lainnya dan pengetahuan mengenai pola kerentanan pasien terhadap berbagai preparat antimikroba. Setelah mikroorganisme penyebabnya diketahui, terapi antimikroba yang khusus dapat dipilih.1

1.2 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan dari referat ini adalah agar kita khususnya penyusun dapat lebih memahami tentang Pneumonia, patofisiologi, klinis dan terapinya.

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI Infeksi saluran napas bawah akut (ISNBA) menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi serta kerugian produktivitas kerja. ISNBA dapat dijumpai dalam berbagai bentuk, tersering adalah dalam bentuk pneumonia. Pneumonia ini dapat terjadi secara primer atau merupakan tahap lanjutan manifestasi ISNBA lainnya misalnya sebagai perluasan bronkieaktasis yang terinfeksi. Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. Pada pemeriksaan histologis terdapat pneumomitis atau reaksi inflamasi berupa alveolitis dan pengumpulan eksudat yang berlangsung dalam jangka waktu yang bervariasi. Istilah pneumonia lazim dipakai bila peradangan terjadi oleh proses infeksi akut yang merupakan penyebab yang tersering, sedangkan istilah pneumolitis sering dipakai untuk proses non infeksi. Bila proses infeksi teratasi, terjadi resolusi dan biasanya struktur paru normal kembali. Namun pada pneumonia nekrotikans yang disebabkan antara lain oleh staphylococcus atau kuman Gram negatif terbentuk jaringan parut atau fibrosis. Secara klinis, dagnosis pneumonia didasarkan atas tanda-tanda kelainan fisis dan adanya gambaran konsolidasi pada foto dada. Namun diagnosis lengkap

4

haruslah mencakup diagnosis etiologi dan anatomi. Pendekatan diagnosis ini harus didasarkan kepada pengertian natogenesis penyakit hingga diagnosis yang dibuat mencakup bentuk manifestasi, bertanya proses penyakit dan etiologi pnumonia. Cara ini akan mengarahkan dengan baik kepada terapi empiris dan pemilihan anti biotic yang paling sesuai terhadap mikroorganisme penyebabnya. Pneumonia komunitas (PK) adalah infeksi akut pada parenkim paru pada individu yang tidak dirawat di rumah sakit atau tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang sebelum timbulnya gejala. Pneumonia nosokomial (PN) adalah pneumonia yang terjadi > 48 jam atau lebih setelah dirawat di rumah sakit baik di ruang rawat umum ataupun ICU tetapi tidak sedang memakai ventilator. Pneumonia yang berhubungan dengan pemakaian ventilator (PBV) adalah pneumonia yang terjadi setelah 48-72 jam atau lebih setelah intubasi tracheal. 2.2 EPIDEMIOLOGI Penyakit saluran napas menjadi penyebab angka kematian dan kecacatan yang tinggi di seluruh dunia. Sekitar 80% dari seluruh kasus baru praktek umum berhubungan dengan infeksi saluran nafas yang terjadi di masyarakat (pneumonia komunitas/PK) atau di dalam rumah sakit (pneumonia nosokomial/PN). Pneumonia yang merupakan bentuk infeksi saluran nafas bawah akut di parenkim paru yang serius dijumpai sekitar 15-20%. Pneumonia nosokomial di ICU lebih sering daripada diruangan umum yaitu 42%: 13% dan sebagian besar yaitu sejumlah 47 terjadi pada pasien yang menggunakan alat Bantu mekanik. Kelompok pasien ini merupakan bagian terbesar dari pasien yang meninggal di ICU akibat PN.

5

Pneumonia dapat terjadi pada orang normal tanpa kelainan imunitas yang jelas. Namun pada kebanyakan pasien dewasa yang menderita pneumonia didapati adanya satu atau lebih penyakit dasar yang mengganggu daya tahan tubuh. Pneumonia semakin sering dijumpai pada orang yang lanjut usia dan sering terjadi pada penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Juga dapat terjadi pada pasien dengan penyakit yang lain seperti diabetes mellitus (DM), payah jantung, penyakit arteri koroner, keganasan, insufisiensi renal, penyakit syaraf kronik dan penyakit hati kronik. Faktor predisposisi lain adalah kebiasaan merokok, pasca infeksi virus, diabetes mellitus, imunodefisiensi, kelainan atau kelemahan struktur organ dada dan penurunan kesadaran. Juga adanya tindakan invasive seperti infus, intubasi, trakeostomi, atau pemasangan ventilator. Perlu di teliti juga factor lingkungan khususnya tempat kediaman misalnya panti jompo, pengguanaan antibiotic, dan obat suntik IV. 2.3 PATOGENESIS Pengertian epidemiologi dan patogenesis serta perkembangan antibiotik memberikan sumbangan yang besar pada pengelolaan penyakit paru. Patogenesisi pneumonia mencakup interaksi antara mikroorgaisme (MO) penyebab yang masuk melalui berbagai jalan, dengan daya tahan tubuh pasien. Proses pneumonia terutama dapat mengenai interstisium atau alveoli. Terlibatnya seluruh lobus disebut pneumonia lobaris. Bila proses terbatas pada alveoli kemudian menyebar secara berdekatan dengan ke bronkus, disebut bronkopneumonia. Bakteri penyebab bila terhisap ke paru perifer melalui saluran napas menyebabkan reaksi jaringan berupa edema, yang mempermudah proliferasi dan

6

penyebaran kuman. Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi, yaitu terjadinya sebukan sel PMN (polimorfonuklear), fibrin, eritrosit, cairan edema dan kuman di alveoli. Proses ini termasuk dalam stadium hepatisasi merah., sedangkan stadium hepatisasi kelabu adalah kelanjutan proses infeksi berupa deposisi fibrin ke permukaan pleura. Ditemukan pula fibrin dan leukosit PMN di alveoli dan proses fagositosis yang cepat, dilanjutkan stadium resolusi dengan peningkatan jumlah sel makrofag di alveoli, degenerasi sel dan menipisnya fibrin, serta menghilangnya kuman dan debris. Proses kerusakan yang terjadi dapat dibatasi dengan pemberian antibiotik sedini mungkin agar sistem bronkopulmonal yang tidak terkena dapat diselamatkan 2.4 ETIOLOGI ISNBA dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, tersering disebabkan oleh bakteri. Kuman penyebab pneumonia yang tersering dijumpai berbeda jenisnya di suatu negara, dan antara satu daerah dengan daerah lain pada satu negara, di luar RS dan di dalam RS, antara RS besar/tersier dengan RS yang lebih kecil. Karena itu perlu diketahui dengan baik epidemiologi kuman di suatu tempat. Diketahui berbagai pathogen yang cenderung dijumpai pada factor resiko tertentu misalnya H. influenza pada pasien perokok, patogen atipikal pd lansia, gram (-) pd pasien rumah jompo, PPOK, penyakit jantung,pasca terapi AB

7

spektrum luas. Ps. aeruginosa pada pasien bronkiektasis, terapi steroid (>10 mg/hari), malnutrisi dan imunosupresi disertai lekopeni. Pada PK rawat jalan jenis patogen tdk diketahui 40% kasus, dilaporkan adanya Str. Pneumoniae 9-20%, M. pneumoniae 13-37%, Chlamydia

pneumoniae 17%. Pada PK rawat inap di luar ICU , 20-70% tdk diketahui, Str. Pneumoniae 20-60%, H. influenza 3-10%, dan S. aureus, gram (-) enterik, M. pneumonia, C. pneumoniae legionella dan virus sp 10%. Patogen pada PK rawat inap ICU , 50-60% tdk diketahui, 33% Str. Pneumoniae. Rumah jompo, S. aureus resisten methisilin, gram (-), M. tuberculosis, virus tertentu, dan influenza. PN juga tersering disebabkan oleh bakteri. Kuman penyebabnya sering berbeda jenisnya antara ruangan biasa dengan ruangan perawatan intensif (ICU) tergantung pada 3 faktor : tingkat berat sakit, ada risiko utk jenis patogen tertentu, dan masa menjelang timbul onset pneumonia. PN bacterial dapat dibagi atas PN awitan awal dalam waktu kurang dari 3 hari yang kumannya sering pula di dapat di luar RS, biasanya disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae (5-10%), M. Catarrhalis ( 2 hari, lama dirawat di ICU, terapi steroid/AB Kelainan struktur paru (bronkiektasis,kistik fibrosis), malnutrisi Aspirasi, selesai operasi abdomen Antibiotik pneumonia mekanik sebelum onset dan ventilasi

Tabel 1. Faktor risiko utama untuk pathogen pada PN Pada waktu akhir-akhir ini sejumlah kuman baru/oportunis telah menimbulkan infeksi pada pasien dengan kekebalan tubuh yang rendah, isalnya Legionella, Chlamydia trachomatis, M. atypical, berbagai jenis jamur (C. albicans, Aspergilus fumigatus) dan virus. 2.5 GAMBARAN KLINIS DAN KLASIFIKASI Gambaran klinis pneumonia bervariasi berdasarkan faktor-faktor infeksi yang berperan pada pasien. Karena itu perlu dibuat klasifikasi pneumonia. Terdapat berbagai klasifiksai pneumonia, namun yang terbaik adalah klasifiksai klinis yang mengarahkan kepada diagnosis dan terapi secara empiris dengan mempertimbangkan faktor-faktor terj