Pneumonia Referat

download Pneumonia Referat

of 31

  • date post

    17-Feb-2015
  • Category

    Documents

  • view

    56
  • download

    7

Embed Size (px)

description

referat pneumonia

Transcript of Pneumonia Referat

BAB I PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG

Infeksi saluran napas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan, baik di negara sedang berkembang maupun negara maju. Di samping itu infeksi saluran napas bawah menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi serta kerugian produktivitas kerja. Infeksi saluran napas bawah dapat dijumpai dalam berbagai bentuk, tersering adalah bentuk pneumonia.1,2 Pneumonia merupakan infeksi pada parenkim paru. Berbagai spesies bakteri, mikoplasma, klamidia, riketsia, virus, fungi dan parasit dapat menyebabkan pneumonia. Jadi pneumonia bukan penyakit yang tunggal melainkan infeksi spesifik yang masing-masing dengan

epidemiologis, patogenesis, gambaran klinik dan perjalanan klinis yang berlainan.2 Proses menua adalah sebuah proses yang mengubah orang dewasa sehat menjadi rapuh disertai menurunnya cadangan hampir semua sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan kematian. Proses menua normalnya merupakan suatu proses yang ringan, ditandai dengan turunnya fungsi secara bertahap tetapi tidak ada penyakit sama sekali sehingga kesehatan tetap terjaga baik. Sebaliknya proses menua patologis ditandai dengan kemunduran fungsi organ saja, melainkan ditambah dengan penyakit yang muncul pada usia tua. Tiga hal fundamental yang berkaitan dengan kesamaan dalam pola proses menua pada hampir semua spesies mamalia. 1. Proses menua dipengaruhi oleh kemunduran fungsi organ. 2. Laju proses menua ditentukan oleh gen yang bervariasi antar spesies. 3. Laju proses menua dapat diperlambat oleh restriksi kalori, paling tidak pada hewan tikus. 1

Banyak hal dimasa lalu yang diduga berhubungan dengan faktor risiko penyakit pada proses penuaan seperti diet, merokok, alkohol, dan pajanan lingkungan. 1,2,3 Peningkatan insiden dan prevalensi pneumonia pada usia tua juga dikaitkan dengan penyakit yang diderita pasien seperti diabetes melitus, penyakit jantung, malnutrisi dan penyakit hati kronik. Sebagai contoh, diabetes melitus menyebabkan penurunan fungsi sistim imun tubuh baik proses kemotaksis maupun fagositosis. Pada gagal jantung kongestif yang disertai edema paru, fungsi clearance paru berkurang sehingga kolonisasi kuman disaluran napas mudah berkembangbiak. Pasien yang sebelumnya sering mengkonsumsi obat-obatan bersifat sedatif atau hipnotik berisiko tinggi mengalami aspirasi sehingga mempermudah terjadinya infeksi.Hal itu disebabkan kedua obat tersebut menekan rangsang batuk.2,3,4

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1.

DEFINISI Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorik dan alveoli sehingga menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.1 Pneumonia juga didefinisikan sebagai suatu peradangan akut parenkim paru akibat infeksi mikroorganisme (bakteri, mikoplasma, klamidia, riketsia, virus, fungi dan parasit). 1-4 Geriatric (geriatrics= geriatric medicine) berasal dari kata kata geros (usia lanjut),yaitu cabang ilmu kedokteran yang mengobati kondisi dan penyakit yang dikaitkan dengan proses menua dan usia lanjut. Dimana pasien geriatri adalah pasien usia lanjut dengan penyakit ganda. 1,2 Pneumonia geriatri adalah suatu peradangan akut parenkim paru yang berasal dari suatu infeksi mikroorganisme pada usia lanjut. 1

II.2.

EPIDEMIOLOGI Penyakit saluran napas menjadi penyebab angka kematian dan kecacatan yang tinggi di seluruh dunia. Sekitar 80% dari seluruh kasus baru praktek umum berhubungan dengan infeksi saluran napas yang terjadi di masyarakat (pneumonia komunitas) atau didalam rumah sakit (pneumonia nosokomial). Pneumonia merupakan bentuk infeksi saluran napas bawah akut parenkim paru yang serius dijumpai sekitar 15-20%.1 Pneumonia juga merupakan penyakit yang mengenai sekitar 1% dari seluruh penduduk Amerika. Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap penyakit ini karena respons imunitas mereka masih belum berkembang dengan baik. Pneumonia seringkali merupakan hal yang terakhir terjadi pada orang tua dan orang yang lemah akibat penyakit kronik tertentu.4 3

Penyakit paling banyak diderita para lansia adalah infeksi akut paru (pneumonia) dan kardiovaskular. Penyakit pneumonia saat ini menjadi ancaman bagi usia tua dan berdampak pada morbiditas maupun mortalitas.5 Di negara maju saja, seperti Amerika, pneumonia dan influenza menduduki peringkat ke-4 sebagai penyebab kematian tertinggi. Ditemukan sekitar 18,2 kasus pneumonia per 1000 penduduk berusia 6569 tahun. Angka itu meningkat menjadi 52,3 kasus per 1000 penduduk berusia 85 tahun ke atas. Di Taiwan, kematian akibat pneumonia mencapai hampir 200 per 100.000 pasien lansia pada 2002. Dapat pula disimpulkan, risiko pneumonia pada usia >65 tahun lebih tinggi 6 kali dibanding usia 37,8o C ). Pada pneumonia pada usia tua sering kali memberikan gejala yang tidak khas. Selain batuk dan demam pasien tidak jarang datang dengan keluhan gangguan kesadaran (delirium), tidak mau makan, jatuh dan inkontinensia akut. 7

Pemeriksaan Fisik Tanda-tanda fisis pada tipe pneumonia klasik bisa didapatkan berupa demam, sesak napas, tanda-tanda konsolidasi paru (perkusi paru yang pekak, ronki nyaring, suara pernapasan bronkial). Bentuk klasik pada Pneumonia komunitas (PK) primer berupa bronkopneumonia (pneumonia lobaris atau pleuro pneumonia). Gejala atau batuk yang tidak khas dijumpai pada Pk sekunder ataupun Pneumonia nosokomial (Pn). Dapat diperoleh bentuk manifestasi lain infeksi paru seperti efusi pleura, pneumotoraks / hidropneumotoraks. Pada pasien Pn atau dengan gangguan imun dapat dijumpai gangguan kesadaran oleh hipoksia. Warna, konsistensi, dan jumlah sputum penting untuk diperhatikan. 1,2

Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan radiologis Foto torak dapat memastikan keberadaan dan lokasi infiltrat pada paru yaitu: menilai derajat infeksi paru, mendeteksi adanya kelainan pleura, kavitasi paru atau limfadenopati hilus; dan mengukur respon pasien terhadap terapi antimikroba.3 Sehingga foto toraks merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan diagnosis.2,3 Pola radiologis dapat berupa pneumonia alveolar dengan gambaran air bronchogram (airspase disease) misalnya oleh Streptococcus

pneumoniae : bronkopneumonia (segmental disease) oleh antara lain staphylococcus. Virus atau mikoplasma; dan pneumonia interstisial 15

(interstisial disease) oleh virus dan mikoplasma. Distribusi infiltrat pada segmen apikal lobus bawah atau inferior lobus atas sugestif untuk kuman aspirasi. Tetapi pada pasien yang tidak sadar, lokasi ini bisa dimana saja. Infiltrat dilobus atas sering ditimbulkan telebsiella, tuberkulosis atau amiloidosis. Pada lobus bawah dapat terjadi infiltrat akibat Staphylococcus atau bakteriemia.1 Bentuk lesi berupa kavitasi dengan air fluid level sugestif untuk abses paru, infeksi anaerob gram negatif atau amiloidosis. Efusi pleura dengan pneumonia sering ditimbulkan S.pneumoniae. Dapat juga oleh kuman anaerob, S.pyogenes, E-coli dan Staphylococcus (pada anak). Kadang-kadang oleh K.pneumoniae, P.pseudomallei.1 Pneumonia hematogenus yang terjadi akibat embolisi septik pada pasien tromboflebitis atau endokarditis sisi kanan atau akibat bakterimia pada pasien dengan endokarditis sisi kiri terlihat pada hasil foton toraknya sebagai daerah multipel infiltrasi paru yang selanjutnya dapat mengalami kavitasi. Distribusi yang difus menujukkan infeksi oleh P.carinii, sitomegali virus, virus campak atau cirus Herpes zoster, infeksi oleh kedua mikroorganisme yang disebutkan terakhir ini. Di diagnosis dengan adanya ruam yang jelas yang selalu menyertai pneumonia. Empiema dan pembesaran kelenjar limfe hilus tidak lazim terdapat pada pneumonia pneumocytis dan sitomegalovirus.3 Kavitas yang terjadi jika bahan yang nekrotik diekskresikan ke dalam jalan napas yang berhubungan sehingga terjadi pneumonia nekrotikan (kavitas kecil yang multipel yang masing-masing berdiameter < 2 cm dalam satu atau lebih lobus atau segmen bronkopulmoner). Kuman anaerob oral, S.aureus, S.pneumoniae serotipe III, baksil aerob gram negatif, M.tuberkulosis atau fungi dan keadaan kavitas. Sebaliknya H.Influenzae, M.pneumoniae, virus dan kebanyakan S.pneumoniae dengan serotipe lainnya hampir tidak pernah menyebabkan kavitas.1,7,8 Foto toraks perlu diulang untuk melihat kemungkinan infeksi yang terinfeksi atau 16

sekunder / tambahan. Efusi pleura penyerta

pembentukan abses. Pada pasien yang mengalami perbaikan klinis ulangan foto toraks dapat ditunda karena resolusi pneumonia berlangsung 4-12 minggu. 1,7,8,9 Pemeriksaan Laboratorium1,2 Leukositosis umumnya menandai adanya infeksi bakteri, biasanya lebih dari 10000/l kadang-kadang mencapai 30.000/l, dan pada hitung jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri, yaitu terjadinya infeksi akut serta terjadi peningkatan LED (Laju Endap Darah). Leukosit normal / rendah dapat disebabkan oleh infeksi virus/ mikoplasma atau pada infeksi yang berat sehingga tidak terjadi respons leukosit ,orangtua atau orang dengan keadaan umum lemah. Leukopenia menunjukan depresi imunitas misalnya neutropeni pada infeksi kuman gram negatif atau S. aureus. 1,2,4,7

2.

3.

Pemeriksaan bakteriologis Untuk menentukan diagnosis etiologi diperlukan bahan yang

berasal dari sputum, darah, aspirasi, jarum transtorakal. Torakosentris, bronkospi atau biopsi. Untuk tujuan terapi empiris dilakukan pemeriksaan apus gram, burri gin, quellung tes dan Z. Nielson. Kuman predominan pada sputum yang disertai PMN kemungkinan merupakan penyebab infeksi. Kultur kuman merupakan pemeriksaan utama praterapi dan bermanfaat untuk evaluasi terapi selanjutnya. Kultur darah dapat positif pada 20-25% penderita yang tidak diobati. 1,2,4,7

17

4.

Pemeriksaan Khusus Titer antibodi terhadap virus, legionela dan mikoplasma. Nilai

diagnostik bila titer tinggi atau ada kenaikan