Makalah Leukemia Acc

of 46/46
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Leukemia merupakan keganasan yang sering dijumpai tetapi hanya merupakan sebagian kecil dari kanker secara keseluruhan. Beberapa data epidemologi menunjukan hasil sebagai berikut. Insedensi leukemia di Negara Barat adalah 13/100.000 penduduk/tahun. Leukemia merupakan 2,8% dari seluruh kasus kanker. Belum ada angka pasti mengenai inside leukemia di Indonesia. Frekuensi relatif leukemia di negara barat menurut Gumz adalah sebagai berikut : Leukemia akut 60% LLK (Leukemia Limfositik Kronik) 25% LMK (Leukemia myelogenous Kronik) 15% Di Indonesia, frekuensi LLK (Leukemia Limfositik Kronik) sangat rendah. LMK (Leukemia Myelogenous Kronik) merupakan leukemia kronis yang paling sering dijumpai. Usia, Insiden leukemia menurut usia didapatkan data sebagai berikut. LLA (Leukemia Limfositik Akut) terbanyak pada anak-anak dan dewasa. LMA (Leukemia Myelogenous Akut) pada semua usia, lebih sering pada orang dewasa. LMK pada semua usia tersering usia 40-60 tahun. LLK terbanyak pada orang tua. Jenis kelamin, Leukemia lebih sering dijumpai pada laki- laki dibandingkan wanita dengan perbandingan 2 : 1. (Wiwik handayani. 2008. Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem hematologi) 1
  • date post

    13-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    257
  • download

    10

Embed Size (px)

Transcript of Makalah Leukemia Acc

BAB I PENDAHULUANA. LATAR BELAKANG Leukemia merupakan keganasan yang sering dijumpai tetapi hanya merupakan sebagian kecil dari kanker secara keseluruhan. Beberapa data epidemologi menunjukan hasil sebagai berikut. Insedensi leukemia di Negara Barat adalah 13/100.000 penduduk/tahun. Leukemia merupakan 2,8% dari seluruh kasus kanker. Belum ada angka pasti mengenai inside leukemia di Indonesia. Frekuensi relatif leukemia di negara barat menurut Gumz adalah sebagai berikut : Di Leukemia akut 60% LLK (Leukemia Limfositik Kronik) 25% LMK (Leukemia myelogenous Kronik) 15% Indonesia, frekuensi LLK (Leukemia Limfositik Kronik)

sangat rendah. LMK

(Leukemia Myelogenous Kronik) merupakan leukemia kronis yang paling sering dijumpai. Usia, Insiden leukemia menurut usia didapatkan data sebagai berikut. LLA (Leukemia Limfositik Akut) terbanyak pada anak-anak dan dewasa. LMA (Leukemia Myelogenous Akut) pada semua usia, lebih sering pada orang dewasa. LMK pada semua usia tersering usia 40-60 tahun. LLK terbanyak pada orang tua. Jenis kelamin, Leukemia lebih sering dijumpai pada laki-laki dibandingkan wanita dengan perbandingan 2 : 1. (Wiwik handayani. 2008. Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem hematologi) B. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan umum Setelah membaca makalah ini diharapkan mahasiswa/i memahami serta dapat mengaplikasikan asuhan keperawatan dengan gangguan leukemia. 2. Tujuan khusus a. Mahasiswa mampu memahami anatomi dan fisiologi hematologi. b. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar penyakit leukemia. c. Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan dengan klien gangguan leukemia.

1

C. Metode penulisan Dalam penulisan makalah ini kami mengunakan metode deskriptif, yang diperoleh dari literatur dari berbagai media, baik buku maupun internet yang di sajikan dalam bentuk makalah.

D. SISTEMATIKA PENULISAN BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan, metode penulisan, dan yang terakhir sistematika penulisan. BAB II : Tinjauan teoritis yang terdiri dari anatomi dan fisiologi hematologi, konsep dasar penyakit leukemia, dan terakhir asuhan keperawatan pada penyakit leukemia BAB III : Penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran

DAFTAR PUSTAKA

2

BAB II TINJAUAN TEORIANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM HEMATOLOGI A. Anatomi Sistem hematologi tersusun atas darah dan tempat darah di produksi, termasuk sumsum tulang dan nodus limpa. Darah adalah organ khusus yang berbeda dengan organ lain karena berbentuk cairan . Darah merupakan medium transpor tubuh, volume darah manusia sekitar 7% - 10% berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter. Keadaan jumlah darah pada tiap orang tidak sama, bergantung pada usia, pekerjaan, serta keadaan jantung atau pembuluh darah. (Wiwik handayani. 2008. Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem hematologi)

B. Fisiologi Dalam keadaan fisiologis, darah selalu berada dalam pembuluh darah, sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai berikut. a. Sebagai alat pengangkut yang meliputi hal-hal berikut ini. 1) Mengatur gas karbondioksida (CO2) dari jaringan perifer kemudian di keluarkan melalui paru-paru untuk di distribusikan ke jarinagn yang memerlukan. 2) Mengangkut sisa-sisa / ampas dari hasil metbolisme jaringan berupa urea, kreatinin dan asam urat. 3) Mengangkut sisa makanan yang di serap melalui usus untuk di sebarkan keseluruh jaringan tubuh. 4) Mengangkut hasil-hasil metabolisme jaringan. b. Mengatur keseimbangan cairan tubuh c. Mengatur panas tubuh d. Berperan serta dalam mengatur pH cairan tubuh e. Mempertahankan tubuh dari serangan infeksi f. Mencegah perdarahan (Wiwik handayani. 2008. Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem hematologi)

3

C. Komponen Darah Darah terdiri atas dua komponen utama, yaitusebagai berikut. a. Plasma darah : bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit, dan protein darah. b. Butir butir darah (blood corpuscles), yang terdiri atas tiga elemen berikut : 1) Eritosit 2) Leukosit 3) Trombosit (Wiwik handayani. 2008. Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem hematologi) D. Hematopoiesis Hematopoiesis merupakan proses pembentukan darah. Tempat hematopoiesis pada manusia berpindah-pindah, sesuai dengan usianya. Yolk sac Hati dan lien Susum tulang : usia 0-3 bulan intrauteri : usia 3-6 bulan intrauteri : usia 4 bulan intrauteri sampai dewasa

Pada orang dewasa, dalam keadaan fisiologis, semua hematopoiesis terjadi pada sumsum tulang. Dalam keadaan patologis, hematopoiesis terjadi diluar sumsum tulang, terutama di lien yang disebut sebagai hematopoiesis ekstrameduler. Untuk kelangsungan hematopoiesis diperlukan beberapa hal berikut ini. a. Sel induk hematopoietik (hematopoietic stem cell) Sel induk hematopoietik ialah sel-sel yang akan berkembang menjadi sel-sel darah, termasuk sel darah merah (eritosit), sel darah putih (leukosit), butir pembeku (trombosit), dan juga beberapa sel dalam sumsum tulang seperti fibroblast. Sel induk yang paling primitif disebut sebagai pluripotent stem cell yang mempunyai sifat mampu memperbarui diri sendiri, sehingga tidak pernah habis terus membelah (self renewal), mampu memperbanyak diri (proliferatif), dan mampu mematangkan diri menjadi sel-sel dengan fungsi tertentu (diferensiatif).

4

b. Lingkungan mikro (miroenvirontment) sumsum tulang Lingkungan mikro sumsum tulang adalah subtansi yang memungkinkan sel induk tumbuh segera konduksif. Komponen mikro ini meliputi hal-hal berikut ini. 1) Mikrosirkulasi dalam sumsum tulang. 2) Sel-sel stroma (sel endotel, sel lemak, fibroblast, makrofag, dan sel retikulum). 3) Matriks ekstraseluler (fibronektin, hemonektin, laminin, kolagen, dan proteoglikan) 4) Lingkungan mikro sangat penting dalam hematopoiesis, karena berfungsi untuk melakukan hal-hal berikut ini. 5) Menyediakan nutrisi dan bahan hematopoiesis yang dibawah oleh peredaran darah mikro dalam sumsum tulang. 6) Komunikasi antar sel. 7) Menghasilkan zat yang mengatur hematopiesis (hematopoietic growth factor, cytokine). c. Bahan-bahan pembentuk darah Bahan yang diperlukan untuk pembentuk darah adalah sebagai berikut. 1) 2) 3) 4) Asam folat dan vitamin B12 : bahan pokok pembentuk sel. Besi: diperlukan untuk pembentukan hemoglobin Cobait, magnesium, Cu, dan Zn Vitamin: vitamin C, dan B kompleks.

d. Mekanisme regulasi Mekanisme regulasi sangat penting untuk mengatur arah dan kuantitas pertumbuhan sel dan pelepasan sel darah yang matang dari sumsum tulang ke darah tepi, sehingga susum tuang dapat merespon kebutuhan tubuh dengan cepat. Zat-zat yang berpengaruh dalam mekanisme regulasi adalah sebagai berikut. 1) Faktor pertumbuhan hematopiesis (hematopoietic growth factor) a) Granulocyte colony stimulating factore (G-CSF) b) Macrophage colony stimulating factor (M-CSF) c) Thrombopoietin d) Burts promoting activity (BPA) e) Stem cell factor

5

2) Hormon Sitokinin berfungsi mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi akar, mendorong pembelahan sel dan pertumbuh-an secara umum, mendorong perkecambahan, dan menunda penuaan.: ada dua jenis sitokinin, yaitu sitokinin yang merangsang pertumbuhan sel induk, dan keduanya harus seimbang. 3) Hormon hemaupoetik spesifik Eritropoietin: hormon yang dibentuk diginjal khusus merangsang pertumbuhan prekursor eritrosit. 4) Hormon non-spesifik a) Androgen: menstimulasi eritropoiesis b) Estrogen: inhibisis eritropoiesis c) Glukokortikoed d) Hormon tiroid e) Growth hormon (Wiwik handayani. 2008. Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem hematologi) E. Hemostasis Apabila tubuh kita mengalami perdarahan akibat dari rudapaksa, maka secara otomatis tubuh akan mengatasi perdarahan tersebut. Adapun prinsip dari hemostasis adalah sebagai berikut. a. Mengurangi Aliran Darah yang Menuju Daerah Trauma Cara untuk mengurangi darah yang menuju daerah trauma adalah sebagai berikut. 1) Vasokontriksi Pembuluh darah yang robet/terluka akibat rudapaksa adalah merupakan ransangan bagi pembuluh darah itu sendiri secara refleks akan mengalami vasokontriksi pada daerah robekan. Trombosit yang keluar dari pembulah darah karena adanya penumpukan kasar dari daerah luka, maka pecah dan mengeluarkan serotomin yang berperan sebagai vasokonstriktor. Dengan demikian, maka daerah pembuluh darah yang robek tadi akan semakin mengecil atau menyempit, sehingga aliran darah pada daerah tersebut menjadi mengecil sampai terhenti.

6

2) Penekanan oleh edema Daerah yang terkena rudapaksa akan mengalami edema. Selanjutnya daerah yang edema tersebut akan menekan pembuluh darah. Dengan demikian, bisa menambah sempitnya aliran darah yang menuju daerah trauma. Vasokontriksi pembuluh darah

Pembentukan platelet,adhesi platelet dan agregasi

pembentukan bekuan fibrin akibat aktivasi faktorfaktor pembekuan intrinsik dan ekstrinsik

Pembentukan bekuan fibrin akibat aktivasi faktor-

faktor pembekuan instrinsik dan ekstrinsik

Retraksi bekuan

Langkah- langkah hemostasis Skema 2.1

Penghancur bekuan b. Mengadakan Sumbatan/Menutup Lubang Perdarahan Hal tersebut berperan didalam penyumbatan atau penutupan luka adalah trombus, yaitu bekuan darah didalam pembuluh darah pada orang yang masih hidup. Trombosit yang terkena permukaan kasar seperti pada pembuluh darah yang terkena akan pecah atau menempel atau mengalami pengumpalan pada pembuluh darah membentuk bekuan darah yang disebut dengan trombus. Trombus ini akan menyumbat lubang/luka pada pembuluh darah.

7

Dengan demikian, darah yang mengalir pada pembuluh darah tersebut akan berkurang atau berhenti. Menurut jenisnya, trombus dibagi menjadi dua, yaitu: (1) trombus putih yang tertutup oleh platelet dan fibrin denan kandungan elitrosit yang relatif sedikit; (2) trombus merah yang tersusun oleh fibrin dan selsel darah merah. Nama Fibrinogen Protrombin Kalsium Labile factor, proaccelerin, dan aceelerator (Ac-) globulin Proconvertin, serum prothrombin convertin accelerator (SPCA), cothromboplastin, dan autoprothrombin-I VIII Antihemophilic factor, antihemovili globulin (AHG) IX Plasma thromboplastine component (PTC) christmast factor X Stuart-power factor XI Plasma tromboplastine antecedent (PTA) XII Faktor hageman XII Faktor stabilisasi fibrin (Wiwik handayani. 2008. Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem hematologi) F. Pembekuan Darah Pembekuan darah adalah proses dimana komponen cairan darah ditranformasi menjadi material semisolit yang dinamakan bekuan darah. Bekuan darah tersusun terutama oleh sel-sel darah yang terperangkap dalam jaringan-jaringan fibrin. Fibrin adalah suatu protein yang tidak larut dan berupa benang berbentuk semacam jaringan-jaringan. Fibrin yang terbentuk berasal dari fibrinogen yang terdapat dalam flasma dalam keadaan larut. Berubahnya fibrin dari fibrinogen ini karena adanya trombin, yaitu suatu proteolitik enzim yang baru bisa bekerja apabila dalam keadaan aktif. Menurut Howell proses pembekuan darah dibagi menjadi tiga stadium, yaitu sebagai berikut. Stadium I Stadium II Stadium III : pembentukan trombeplastine : perubahan dari protrombin menjadi thrombin : perubahan dari fibrinogen menjadi fibri Faktor I II IV V VII

8

a. Langkah-langkah faktor intrinsik dan ekstrinsik dalam pembekuan darah Apabila jaringan mengalami cedera, jalur ekstrinsik akan diaktivasi dengan pelepasan subtansi yang dinamakan tromboplastine. Sesuai urutan reaksi, protombine mengalami konfersi menjadi trombine, yang pada gilirannya mengatalisir fibrinogen menjadi fibrin. Kalsium merupakan kofaktor yang diperlukan dalam berbagai reaksi ini. Pembekuan darah melalui jalur intrisik diaktifasi saat lapisan kolagen pembuluh darah terpajan. Faktor pembekuan kemudian secara berurutan akan diaktifkan, seperti jalur ekstrinsik, sampai pada akhirnya terbentuk fibrin. (Wiwik handayani. 2008. Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem hematologi)

G. Sel Darah Putih (leukosit) Bahasan mengenai sel darah putih yang akan dibahas mencangkup: struktur leukosit, fungsi sel darah putih, jenis-jenis sel darah putih, dan jumlah sel darah putih. a. Struktur Leukosit Bentuknya dapat berubah-ubah dan dapat bergerak denga perentaraan kaki palsu (pseudopodia) mempunyai berbagai macam inti sel, sehingga ia dapat dibedakan menurut inti selnya serta warnanya bening (tidak berwarna). Sel darah putih disumsum tulang dari sel-sel bakal. Jenis-jenis dari golongan sel ini adalah golongan yang tidak bergranula, yaitu limfosit TB; monosit dan makrofag, serta golongan yang bergranula, yaitu: eusinopin, basofil, dan neotrofil. b. Fungsi Sel Darah Putih Fungsi dari sel darah putih adalah sebagai berikut. 1) Sebagai serdadu tubuh, yaitu membunuh dan memakan bibit penyakit/bakteri yang masuk kedalam tubuh jaringan RES (sistem retikuloendotel). 2) Sebagai pengankut, yaitu mengangkut/membawa zat lemak dari dinding usus melalui linfa terus kepembuluh darah. c. Jenis-jenis Sel Darah Putih Sel darah putih terdiri atas beberapa jenis sel darah sebagai berikut.

9

1) Agranulosit Memiliki granula kecil didalam protoplasmanya, memiliki diameter sekitar 10-12 mikron. Berdasarkan pewarnaan granula, granulosit terbagi menjadi tiga kelompok berikut ini. a) Neutrofil: granula yang tidak bewarna inti sel yang terangkai, kadang seperti terpisah-pisah, protoplasmanya banyak berbintik-bintik halus/granula, serta banyaknya sekitar 60-70%. b) Eosinofil: granula bewarna merah dengan pewarnaan asam, ukuran dan bentuk hamper sama dengan neutrofil, tetapi granula dalam sitoplasma lebih besar, banyaknya kira-kira 24%. c) Basofil: granula bewarna biru dengan pewarnaan basa, sel imi lebih kecil dari pada eosinofil, tetapi mempunyai inti yang bentuknya teratur, didalam protoplasmanya terdapat granula-granula yang besar, banyaknya kira-kira o,5% disumsum merah. Neutrofil, eosinofil, dan basofil berfungsi sebagai fagosit untuk mencerna dan menghancurkan mikroorganisme dan sisa-sisa sel. Selain itu, basofil bekerja sebagai sel mast dan mengeluarkan peptide vasoaktif. (Wiwik handayani. 2008. Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem hematologi) 2) Granulosit Granulosit terdiri atas limposit dan monosit. a) Limfosit Limfosit memiliki nucleus besar bulat dengan menempati sebagai besar sel limfosit berkembang dalam jaringan limfe. Besar sel limfosit berkembang dalam jaringan limfe. Ukuran berfariasi dari 7 sampai dengan 15 mikron. Banyaknya 20-25% dan fungsinya membunuh dan memakan bakteri yang masuk kedalam jaringan tubuh.

Limfosit ada 2 macam, yaitu lomfosi T dan limfosit B. Limfosit T. limfosit T meninggalkan sumsum tulang dan berkembang lama, kemudian bermigrasi menuju ke timus. Setelah meninggalkan timus, sel-sel ini beredar dalam darah sampai mereka bertemu dengan antigenantigen dimana mereka telah diprogramkan untuk mengenalinya. Setelah dirangsang oleh antigennya, sel-sel ini menghasilkan bahan-bahan kimia

10

yang menghancurkan mikroorganisme dan memberitahu sel-sel darah putih lainya bahwa telah terjadi infeksi. Limfisit B. terbentuk disumsum tulang lalu bersirkulasi dalam darah sampai menjumpai antigen dimana mereka telah deprogram untuk mengenalinya. Pada tahap ini, limfosit B mengalami pematangan lebih lanjut dan menjadi sel plasma serta menghasilkan antibodi.

b) Monosit Ukurannya lebih besar dari lemfosit, protoplasmanya besar, warna biru sedikit abu-abu, serta mempunyai bintik-bintik sedikit kemerahan. Inti sel bulat atau panjang. Monosit dibentuk didalam sumsum tulang, masuk kedalam sirkulasi dalam bentuk imatur dan mengalami proses pematangan menjadi makrofag setelah masuk kejaringan. Funsinnya sebagai fagosit. Jumlahnya 34% dari total komponen yang ada di sel darah putih. Jumlah Sel Darah Putih Pada orang dewasa, jumlah sel darah putih total 4,0-11,0 x 109/1 yang terbagi sebagai berikut. Agranulosit: Neutrofil 2,5-7,5 x 109 Eosinofil 0,04-0,44 x 109 Basofil 0-0,10 x 109

Granulosit Limfosit 1,5-3,5 x 109 Momosit 0,2-0,8 x 109 (Wiwik handayani. 2008. Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem hematologi)

11

KONSEP DASAR PENYAKIT LEUKEMIA A. Pengertian Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001) Leukemia merupakan penyakit maligna yang disebabkan abnormal overproduksi dari tipe sel darah putih tertentu, biasanya sel-sel imatur dalam sumsum tulang. Karakteristik dari leukemia adalah sel-sel yang abnormal, tidak terkontrolnya proliferasi dari satu tipe sel darah putih seperti granulosit, limfosit, monosit. (Tartowo. 2008. Keperawatan medikal bedah gangguan sistem hematologi. Hal 67) Leukimia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa proliferasio patologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sum-sum tulang dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke jaringan tubuh yang lain (Mansjoer, 2002) Jadi, leukemia merupakan kelebihan produksi sel darah putih yang abnormal, yang tidak terkontrolnya proliferasi dari satu tipe sel darah putih seperti granulosit, limfosit, dan monosit. Ditandai sumsum tulang belakang dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke jaringan tubuh yang lain.

B. Etiologi leukemia Meskipun pada sebagian besar penderita leukimia faktor-faktor penyebabnya tidak dapat diidentifikasi, tetapi ada beberapa faktor yang terbukti dapat menyebabkan leukemia, yaitu sinar radio aktif dan virus. 1. Faktor Genetik Insiden leukemia akut pada anak-anak penderita Sindrom Down adalah 20 kali lebih banyak dari pada normal. Kelainan pada kromosom 21 dapat menyebabkan leukimia akut. Insiden leukemia akut juga meningkatkan pada penderita kelainan kongenital dengan aneuloidi, misalnya agranulositosis kongenital, sindrom Ellis van Greveld, penyakit seliak, sindrom Bloom, anemia fanconi, sindrom klenefelter, dan sindrom trisomi D.

12

2. Sinar Radioaktif Sinar radioaktif merupakan faktor eksternal yang paling jelas dapat menyebabkan leukemia pada binatang maupaun manusia. Angka kejadian leukemia mieloblastik akut (AML) dan leukimia granulositik kronis (LGK) jelas sekali meningkat sesudah sinar radioaktif akan menderita leukemia pada 6% klien, dan baru terjadi sesudah 5 tahun. 3. Virus Beberapa virus tertentu sudah dibuktikan menyebabkan leukemia pada binatang. Sampai sekarang belum dapat dibuktikan bahwa penyebab leukemia pada manusia adalah virus. Meskipun demikian, ada beberapa penelitian yang mendukung teori virus sebagai penyebab leukemia, yaitu enzyme reverse transcriptase ditemukan dalam darah manusia. Seperti diketahui enzim ini didalam virus onkogenik seperti retrovirus tipe C, yaitu jenis virus RNA yang menyebabkan leukemia pada binatang. Enzim tersebut menyebabkan virus yang bersangkutan dapat membentuk bahan genetik yang kemudian bergabung dengan genom yang terinfeksi. (Wiwik handayani. 2008. Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem hematologi) C. Klasifikasi Leukemia Berdasarkan perbedaan tipe leukemia dibedakan menjadi dia yaitu leukemia akut dan leukemia kronis a. Leukemia akut Leukimia akut mempunyai kejadian yang cepat dengan tipe yang progresif, dimana pasien dapat meninggal beberapa hari atau beberapa bulan jika tidak diobati 1) Leukimia Limfoblastik Akut (LLA) Adanya kerusakan pada limfoid dengan karakteristik proliferasi sel limfoid imatur pada sumsum tulang Limpa denopati, hepatosplenomegali dan gangguan susunan saraf pusat dapat terjadi pada jumlah leukosit sampai dengan 100.000/mm3 Secara morfologis LLA dibagi menjadi 3 yaitu: L1 : Jenis LLA yang paling banyak pada masa anak-anak sel, sel limfoblas kecil-kecil

13

L2 : LLA pada orang dewasa, sel lebih besar, inti ireguler, populasi sel heterogen. L3 : Sel-sel besar, populasi sel homogeny. 2) Leukimia Myelogenous Akut (LMA) Pada leukemia jenis ini terjadi kerusakan dalam pertumbuhan dan pematangan sel megakariosit, monosit, granulosit dan eritrosit. Prognosisnya dalam jangka panjang biasanya jelek. Menurut FAB, LMA terdiri atas: M1 : Myelostik leukemia akut tanpa diferensiasi M2 : Myelositik leukemia akut dengan diferensiasi M3 : Promyelositik leukemia akut. M4 : Myelomonositik leukemia akut M 5 : Monositik leukemia akut dengan deferensiasi M5A: Monoblastik leukemia akut tanpa diferensiasi M 6 : Eritroleukemia b. Leukemia kronis Leukemia kronis terdiri dari: 1) Leukemia myelogenous kronik (LMK) Terjadi akibat kerusakan murni di pluripotent stem cell. Pada pemeriksaan darah perifer ditemukan adanya leukositosis dan trombositosis. Ditemukan juga adanya peningkatan produksi dari granulosit seperti netrofil, eosinofil dan basofil. 2) Leukemia lympositik kronik (LLK) Karakteristik leukemia jenis ini adalah adanya proliferasi awal limfosit B. Hasil pemeriksaan darah perifer ditemukan peningkatan jumlah sel limfosit baik matur maupun imatur. Peningkatan jumlah limfosit akan memfiltrasi kelenjar limfe, hati, limpa dan sumsum tulang. Perkembangan penyakit ini mulai stage 0 - IV sampai dengan 5 tahun. (Tartowo. 2008. Keperawatan medikal bedah gangguan sistem hematologi. Hal 68-69)

14

Stage Stage 0 Stage I Stage II Stage III

Gambaran Absolut limfosis dalam drh > 15.000/mm3 Absolut limfosis dan adanya pembesaran limfe Absolut limfosis disertai pembesaran limfa dan hati Absolut limfosis disertai pembesaran limfa dan hati laki-lakilaki dan Hb