Makalah Gizi Islamjadi

of 42 /42
BAB I PEMBUKAAN 1.1 Latar Belakang Menurut ilmu pengetahuan masa nifas atau disebut purpurium adalah masa dimulai sejak plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, waktunya kira-kira 6 minggu setelah itu. Dalam ilmu fiqih nifas diartikan sebagai darah yang keluar dari alat vital wanita disebabkan karena persalinan, baik sebelum, ketika atau sesudah berlangsungnya persalinan tersebut. Periode postpartum adalah waktu penyembuhan dan perubahan, waktu kembali ke keasaan tidak hamil. Dalam masa nifas alat-alat genetalia baik interna maupun eksterna berangsurangsur pulih seprti keadaan sebelum hamil. Untuk membantu mempercepat proses penyembuhan pada masa nifas, maka ibu nifas membutuhkan diet yang cukup kalori dan protein. Nutrisi yang dikonsumsi ibu nifas harus bermutu tinggi, bergizi dan cukup kalori. Kalori bagus untuk proses metabolisme tubuh, kerja organ tubuh, proses pembentukan asi wanita dewasa memerlukan 2.200 kalori. Ibu menyusui membutuhjan kalori sama dengan wanita dewasa +700 kalori tiap 6 bulan pertama kemudian + 500 kalori blan selanjutnya. 1

Embed Size (px)

description

fffff

Transcript of Makalah Gizi Islamjadi

BAB IPEMBUKAAN1.1 Latar BelakangMenurut ilmu pengetahuan masa nifas atau disebut purpurium adalah masa dimulai sejak plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, waktunya kira-kira 6 minggu setelah itu.Dalam ilmu fiqih nifas diartikan sebagai darah yang keluar dari alat vital wanita disebabkan karena persalinan, baik sebelum, ketika atau sesudah berlangsungnya persalinan tersebut.Periode postpartum adalah waktu penyembuhan dan perubahan, waktu kembali ke keasaan tidak hamil. Dalam masa nifas alat-alat genetalia baik interna maupun eksterna berangsurangsur pulih seprti keadaan sebelum hamil. Untuk membantu mempercepat proses penyembuhan pada masa nifas, maka ibu nifas membutuhkan diet yang cukup kalori dan protein.Nutrisi yang dikonsumsi ibu nifas harus bermutu tinggi, bergizi dan cukup kalori. Kalori bagus untuk proses metabolisme tubuh, kerja organ tubuh, proses pembentukan asi wanita dewasa memerlukan 2.200 kalori. Ibu menyusui membutuhjan kalori sama dengan wanita dewasa +700 kalori tiap 6 bulan pertama kemudian + 500 kalori blan selanjutnya.Sebagai orang muslim kita wajib mengikuti apa yangdiperintahkan oleh alah dan menjauhi apa yang di larang oleh Nya termasuk dalam pemilihan makanan yang akan kita makan. Hukum tentang makanan ini terumus dalam Halalan Toyyiban. Halalan Thayyiban dikenal manusia sehubungan dengan adanya peraturan khusus dan bersifat umum yang mengatur kesempurnaan pribadi dan hubungan yang baik antara sesama manusia dengan tujuan untuk mendidik manusia tentang cara-cara hidup yang baik dan bersih. Peraturan tersebut antara lain berhubungan dengan makanan, minuman dan lain-lain. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan masa nifas menurut hukum agama Islam dan menurut kebidanan?2. Apa yang dimaksud dengan halalan toyiban?3. Bagaimana menerapkan makanan gizi seimbang ibu nifas sesuai dengan halalan toyiban?1.3 Maksud dan TujuanMaksud dan tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada mahasiswa khususnya mahasiswa kebidanan tingkat diploma STIKES Aisyiyah Yogyakarta tentang makanan gizi seimbang untu ibu nifas sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu kami juga memberikan informasi tentang Halalan Toyyiban sehingga kita sebagai calon bidan dapat menerapka gizi seimbang sesuai dengan hukum islam.

BAB IIISI

2.1 Pengertian Masa Nifas1. Menurut Ilmu Kebidanan Dalam ilmu kedokteran masa nifas atau disebut puerpurium dihitung sejak satu jam setelah lahirnya plasenta (tali pusar) sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu (Ilmu Kebidanan, R. Soerjo Hadijono, 2008: 356).Masa nifas (purperium) adalah masa dmulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembeli seperti keadaan sebelum hamil.Jadi menurut ilmu pengetahuan masa nifas atau disebut purpurium adalah masa dimulai sejak plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, waktunya kira-kira 6 minggu setelah itu.2. Menurut Agama IslamPara ulama Islam sepakat mendefinisikan nifas sebagai darah yang keluar dari alat vital wanita sesaat setelah ia melahirkan. Madzhab Maliki kemudian menambahkan bahwa darah nifas selain keluar setelah proses kelahiran, juga merupakan darah yang keluar saat melahirkan itu sendiri. Madzhab Hanbali juga menghitung darah yang keluar dua atau tiga hari sebelum persalinan sebagai darah nifas (Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah: vol. 41/5). Secara umum dapat dikatakan bahwa dalam ilmu fiqih nifas diartikan sebagai darah yang keluar dari alat vital wanita disebabkan karena persalinan, baik sebelum, ketika atau sesudah berlangsungnya persalinan tersebut.Dalam fiqih hanya diatur masa paling lama/waktu maksimal (athwalu muddah) dari waktu nifas, yaitu empat puluh hari. Sehingga jika lewat dari empat puluh hari, darah yang keluar dari sang ibu dihitung darah istihadah. Pembatasan waktu maksimal dari masa nifas tersebut didasarkan pada Hadits: Salamah, ia berkata: Wanita-wanita yang mengalami masa nifas duduk (tidak melakukan ibadah khusus) selama 40 hari atau 40 malam (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan al-Daruquthni).

2.2 Hukum-Hukum Masa Nifas1. Hukum hukum Nifas : Hukum hukum nifas sama dengan hukum pada permasalahan haid, kecuali dalam perkara-perkara berikut ini :a) Masalah iddah Maka iddah talaqnya diperhitungkan dengan haid, tidak dengan nifas. Karena jika talaqnya terjadi sebelum kelahiran, maka iddahnya berakhir dengan kelahiran tersebut bukan dengan nifas. Sedangkan jika terjadi sesudah kelahiran, maka di tunggu kembali masa haidnya.b) Masa Ila Diperhitungkan berdasarkan masa haid, bukan berdasarkan masa nifas. Sedangkan yang dimaksud denganila adalah sumpah seorang suami untuk meninggalkan menggauli istrinya untuk selama-lamanya atau waktu yang lebih dari 4 bulan. Sehingga jika ada seorang suami yang bersumpah, kemudian istrinya menuntut agar sang suami menggaulinya maka diberikan waktu kepada suami selama empat bulan sejak sumpahnya. Jika telah genap empat bulan, maka sang suami dipaksa untuk menggaulinya atau berpisah dengan istrinya berdasarkan permintaan istri. Masa ( empat bulan ), jika ternyata seorang nifas, maka masa nifasnya tersebut tidak diperhitungkan, sehingga ditambahkan kepada masa empat bulan tadi, sesuai masa nifasnya. Berbeda dengan masa haid tersebut masuk dalam masa yang di perhitungkan untuk sang suami tadi.c) Masa baligh Masa baligh dicapai dengan terjadinya haid, bukan dengan terjadinya nifas. Karena seorang wanita tidak mungkin akan hamil sampai wanita mengalami inzal ( keluar mani), sedangkan tercapainya masa baligh adalah dengan keluarnya mani yang mendahului terjadinya proses kehamilan.d) Darah haid jika terputus kemudian keluar dari dalam masa biasa terjadi haid, maka secara yakin di hukumi sebagai haid. Misalnya : kebiasaan seorang wanita haidnya delapan hari, ternyata dia melihat darahnya selama empat hari kemudian berhenti selama dua hari, kemudian keluar lagi pada hari ketujuh dan kedelapan. Maka darah yang keluar secara yakin merupakan darah haid sehingga berlaku padanya hukum-hukum haid. Adapun darah nifas, jika berhenti sebelum 40 hari kemudian keluar darah lagi pada hari ke 40 maka diragukan keadaan darah tersebut. Dalam permasalahan seperti itu pendapat yang benar, bahwa darah tersebut jika kembali keluar pada masa yang memungkinkan wanita tersebut masih dalam masa nifas. Maka dihukumi sebagai darah nifas, jika tidak maka dihukumi darah haid. Kecuali jika terus menerus keluar maka di hukumi sebagai darah istihadhah. Pendapat ini mirip dengan apa yang dinukilkan di dalam Al Mugni ( 1/349) dari ucapan Al Imam Malik dimana beliau berkata : Jika seorang wanita mendapatkan darahnya keluar lagi sesudah dua atau tiga hari terhenti maka darah tersebut darah nifas. Jika tidak maka darah haid Ini pula pendapat yang di pilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : Tidak ada dalam perkara darah darah tersebut sesuatu yang diragukan menurut realiata yang ada pada darah tersebut. Akan tetapi karaguan ini adalah perkara yang sifatnya nisbi ( relatif). Berbeda sesuai dengan kadar ilmu dan pemahaman yang ada pada masing-masing orang. Sedangkan pada Al Kitab dan As Sunnah ada keterangan yang menjelaskan segala sesuatu. Adapun seorang yang telah menjalankan beban syariat sesuai dengan batas kemampuan yang ada pada dirinya, maka sudah lepas tanggungannya, sebagaimana firman Allah Taala : Allah tidak membenani seorang melainkan sesuai dengan kesanggupanya.. ( Al Baqarah : 286 ) Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggunpanmu ( At Taghabun : 16)e) Jika seorang wanita telah suci dari haidnya sebelum masa kebiasaan dari haidnya: Dibolehkan bagi sang suami untuk menggaulinya tanpa ada sedikitpun kemakhruhan pada perbuatan tersebut. Adapun nifas, jika dia telah suci sebelum 40 hari, maka makruh sang suami untuk menggaulinya menurut pendapat yang mashur dalam madzab (Hanabila, -pen). Pendapat yang benar bahwa tidak di makruhkan bagi sang suami . inilah pendapat jumhur ( mayoritas) ulama. Karena menghukumi makruh terhadap sesuatu perkara adalah hukum syari yang butuh dalil syari. Dan tidak ada dalil dalam permasalahan ini kecuali riwayat yang disebutkan oleh Al Imam Ahmad, dari Utsman bin Abil Ash : bahwa istrinya mendatanginya sebelum genap masa nifasnya 40 hari. Maka dia berkata kepada istrinya : Jangan kau dekati aku Ucapan beliau tersebut tidaklah mengharuskan hukum makruh. Karena bisa jadi ucapan tersebut muncul sebagai bentuk kehati-hatian, khawatir istrinya belum yakin betul akan kesuciaanya, atau khawatir akan menyebabkan keluar kembali darahnya akibat jima atau bisa juga sebab sebab yang lain.2.3 Gizi Ibu NifasPeriode postpartum adalah waktu penyembuhan dan perubahan, waktu kembali ke keasaan tidak hamil. Dalam masa nifas alat-alat genetalia baik interna maupun eksterna berangsurangsur pulih seprti keadaan sebelum hamil. Untuk membantu mempercepat proses penyembuhan pada masa nifas, maka ibu nifas membutuhkan diet yang cukup kalori dan protein.Nutrisi yang dikonsumsi ibu nifas harus bermutu tinggi, bergizi dan cukup kalori. Kalori bagus untuk proses metabolisme tubuh, kerja organ tubuh, proses pembentukan asi wanita dewasa memerlukan 2.200 kalori. Ibu menyusui membutuhjan kalori sama dengan wanita dewasa +700 kalori tiap 6 bulan pertama kemudian + 500 kalori blan selanjutnya.Gizi Ibu menyusui :a. Mengkonsumsi tambahan kalori 500 kalori tiap hari.b. Makan diet berimbang untuk mendapatkan protein,mineral dan vitamin yang cukup. c. Minum sedikitnya 3 liter setiap hai.d. Minum pil zat besi untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca persalinan.e. Minum vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan Vitamin A kepada bayinya melalui ASI.Makanan yng dikonsumsi ibu nifas dianjurkan mengandung 50-60% karbohdrat. Laktosa adalah bentu utama dari karbohidrat yang jumlahnya lebih besa dibanding pada susu sapi. Laktosa membantu bayi menyerap kalsium dan mudah dimetabolisme menjadi dua gula sederhana (galaktosa dan glukosa) yang dibutuhkan untuk pertumbuhan otak yang cepat yang terjadi selama masa bayi. Lemak yang dibutuhkan 25-35% total makanan. Lemak mengasilkan kira-kira setengah kalori yang diprosuksi oeleh air susu ibu. Jumlah protein yang diperlukan pada masa nifas adalah sekitar 10-15%. Protein dalam air susu ibu adalah whey. Kegunaa vitamin dan mineral adalah untuk melancarkan metabolisme tubuh. Beberapa vitamin dan mineral harus diperhatikan karena jumlahnya tidak mampu memenuhi kebutuhan bayi. Vitamin dan mineral yang paling mudah menurun kandungannya dalam makanan adalah Vit B6, tiamin, asam folat, kalsium, seng dan magnesium. Fungsi cairan adalah sebagai pelarut zat gizi dalam proses metabolisme tubuh. Minum cairan cukup akan membuat tubuh ibu tidak dehidrasi. 2.4 Halalan Thayyiban1. Pengertian Halalan Thayyiban Halalan Thayyiban dikenal manusia sehubungan dengan adanya peraturan khusus dan bersifat umum yang mengatur kesempurnaan pribadi dan hubungan yang baik antara sesama manusia dengan tujuan untuk mendidik manusia tentang cara-cara hidup yang baik dan bersih. Peraturan tersebut antara lain berhubungan dengan makanan, minuman dan lain-lain. Namun dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang menganggap bahwa kata halalan thayyiban sama dengan kata thayyiban, padahal dua kata tersebut mempunyai makna yang berbeda tetapi saling berkaitan.a. MakananDalam bahasa Indonesia, kita menyebut makanan sebagai segala yang dapat dan wajar dimakan, sementara gizi yang dalam bahasa Inggris ditulis nutrient didefinisikan that all food Contains only a limited number of classes of material which are essential to a good diet. These materials are water, carbohydrates, fats, proteins, vitamin, mineral and raughage or residue, artinya: bahwa semua makanan yang mengandung zat-zat tertentu yang pada dasarnya akan dapat membentuk makanan yang baik. Zat-zat tersebut adalah air, karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan zat kasar dari makanan atau sisa. Adapun yang dimaksud dari zat kasar dari makanan atau sisa disini adalah suatu jenis makanan seperti dedak dan kulit buah yang merangsang pergerakan makanan dan melancarkan pencernakan melalui usus besar. Menurut M. Quarish Shihab, Makanan adalah pemelihara kehidupan, semua makhluk hidup yang diciptakan Allah di permukaan muka bumi, baik manusia, binatang maupun tumbuhan mutlak memerlukannya. Dalam bahasa Arab yang merupakan bahasa al-Quran kata makanan dinyatakan dengan Thaam segala sesuatu yang dimakan atau dicicipi, karena itu minuman pun termasuk dalam pengertian Thaam. Kata thaam dalam berbagai bentuk terulang dalam al-Quran sebanyak 48 kali yang antara lain berbicara tentang beberapa aspek yang berkaitan dengan makanan. Menurut Zakiah Darajat, makan menurut pengertiannya bahasa merupakan memasukkan sesuatu melalui mulut, sedangkan makanan adalah segala sesuatu yang boleh di makan. Makanan sesuatu makanan biasanya untuk memenuhi keperluan jasmani sehingga dengan demikian dapat terjaga kelangsungan hidup.Jadi makanan merupakan segala sesuatu yang di masukkan mulut dan di rasakan oleh lidah masuk kedalam tubuh untuk memenuhi keperluan jasmani sehingga dengan demikian dapat terjaga kelangsungan hidup.b. HalalHalal berasal dari kata halla yang artinya melepaskan ikatan atau membuka ikatan suatu barang. Oleh sebab itu, kata halal sama dengan mubahan. Yang artinya dibebaskan atau diperbolehkan. Kata halal berasal dari akar, kata yang berarti lepas atau tidak terikat. Sesuatu yang halal adalah yang terlepas dari ikatan bahaya duniawi dan ukhrawi. Karena itu kata halal juga berarti boleh. Dalam bahasa hukum, kata ini mengacu segala sesuatu yang diperbolehkan agama, baik bersifat sunnah, makruh maupun mubah. Oleh karena itu boleh ada sesuatu yang halal (boleh) tetapi tidak dianjurkan untuk menggunakannya, atau dengan kata lain hukumnya makruh. Halal adalah salah satu nama bahasa Arab di mana kata kerjanya ialah halla, yahillu, hillan yang membawa arti membebaskan, melepaskan, memecahkan, membubarkan dan membolehkan. Al-Jurjani dalam Kitab al-Tarifat sebagaimana dikutip Sri Suryati menjelaskan bahawa pengertian halal dengan maksud pertama merujuk kepada keharusan menggunakan benda-benda atau apa-apa yang diperlukan untuk memenuhi keperluan jasmani seperti makanan, minuman dan obat-obatan. Manakala pengertian halal dengan maksud yang kedua adalah bersangkut paut dengan keharusan memanfaatkan, memakan, meminum dan mengerjakan sesuatu yang kesemuanya ditentukan berdasarkan nas.Halal didefinisikan sebagai sesuatu yang dibenarkan (tidak dilarang) penggunaan atau pemakaiannya. Menurut al-Quran, semua makanan yang baik dan bersih adalah halal. Selain itu Kata halal berasal dari akar yang berarti lepas atau tidak terikat. Sesuatu yang halal adalah yang terlepas dari ikatan bahaya duniawi dan ukhrowi. Karena itu kata halal juga berarti boleh. Dalam bahasa hukum, kata ini mencakup segala sesuatu yang dibolehkan agama, baik kebolehan itu bersifat sunnah, anjuran untuk dilakukan, makruh (anjuran untuk ditinggalkan) maupun mubah (netral atau boleh-boleh saja), tetapi tidak dianjurkannya, atau dengan kata lain hukumnya makruh.Segala yang ada di alam semesta ini halal untuk digunakan sehingga makanan yang terdapat di dalalmnya juga halal. Karena itu al-Quran mengecam mereka yang mengharamkan rizki halal yang disediakan Allah SWT. untuk manusia. Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT

Artinya : Dia-Lah Allah SWT. yang menjadiakn segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu ia jadikan-Nya tujuh langit! dan Dia Maha Mengetahui Segala Sesuatu ( QS.Al-Baqarah : 29) Pengecualian atau pengharaman harus bersumber dari nash, baik melalui al-Quran maupun hadits. Sedangkan pengecualian itu oleh kondisi manusia, yaitu karena ada makanan yang dapat memberi dampak negatif terhadap jiwa raganya. Atas dasar ini turun firman Allah SWT :

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqarah : 168).Jadi pengertian halalan berarti diperbolehkan menurut hukum Islam sebagaimana dijelaskan dalam berbagai ayat, yang mengangkat status hukum setiap perbuatan manusia, baik terhadap Allah SWT. ataupun terhadap manusia itu dengan cara yang sah. Demikian halnya dengan benda atau uang yang diperoleh dengan cara misalnya mencuri, menyuap, menipu dan menggelapkan barang, meskipun benda tersebut layak dan halal namun sifatnya adalah haram maka orang yang melakukannya harus bertanggung jawab di akhirat.c. Thayyib Dalam uraian sebelumnya telah dikemukakan bahwa kehalalan merupakan syarat pertama atau utama bagi makanan yang boleh dimakan yang telah ditetapkan hukum syara, adapun syarat yang lain ialah bahwa makanan itu harus thayyib.Kata thayyib dari segi bahasa berarti lezat, baik, sehat, menentramkan dan paling utama. Selain itu pengertian thayyib tersebut semakna dengan gizi yaitu sesuatu (zat) yang baik yang diperlukan oleh tubuh manusia. Dengan demikian ungkapan Halal lagi baik dapat diterjemahkan dengan halal lagi bergizi.Thayyib mempunyai makna yang lebih tepat dari ghidza. Thayyib berarti baik dan sesuai, sehingga tidak menimbulkan akibat negatif bagi yang memakannya.Thayyib berasal dari bahasa Arab thaba yang artinya baik, lezat, menyenangkan, enak dan nikmat atau berarti pula bersih atau suci. Oleh sebab itu, kata thayyib mempunyai bermacam arti yaitu baik, enak, lezat, nikma, bersih atau suci.Menurut M. Quraish Shihab, kata tayyib dari segi bahasa berarti lezat, baik, sehat, menenteramkan, dan paling utama. Pakar-pakar tafsir ketika menjelaskan kata thayyib dalam konteks perintah makanan menyatakan bahwa thayyib berarti makanan yang tak kotor dari segi zatnya atau rusak (kadaluarsa) atau dicampuri benda najis. Kata 'thayyib' menurut bahasa berarti lezat, baik, sehat, tenteram, dan paling utama. Ini berarti yang thayyib adalah yang tidak kotor atau rusak dari segi zatnya, kadaluwarsa tidak juga bercampur dengan najis atau yang mengundang selera yang hendak memakannya dan tidak membahayakan fisik,akal, dan jiwanya. Ada juga yang mengartikan sebagai makanan yang mengandung selera bagi yang akan memakannya atau tidak membahayakan fisik atau akalnya.25 Dan kita bias berkata kalau makanan itu thayyib dalam makanan jika makanan itu bersih, baik, lezat.Jadi yang dimaksud makanan halalan thayyiban menurut penjelasan al-Quran di atas merupakan segala yang baik dan wajar dimakan, yang baik untuk jiwa tidak membahayakan badan dan akal manusia, mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh manusia serta dimakan dalam takaran yang cukup dan seimbang.Kriteria Makanan Halalan ThayyibanPada prinsipnya, menurut kenyataan fisik, manusia dapat saja memakan segala jenis makanan yang ada di bumi. Akan tetapi semua itu baik dan cocok untuk tubuh dan jiwa manusia. Oleh karena itu, diperlukan beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar makanan tersebut mempunyai nilai makanan yang halalan thayyiban. Kreteria Makanan Halalan Thayiban antara lain:1) HalalAllah SWT. memerintahkan agar manusia memakan makanan yang sifatnya halal dan thayyib. Kata halal berasal dari akar kata yang berarti lepas atau tidak terikat. Sesuatu yang halal adalah yang terlepas dari ikatan bahaya duniawi dan ukhrawi. Karena itu kata halal juga berarti boleh. Dalam bahasa hukum, kata ini mencakup segala sesuatu yang diperbolehkan agama, baik bersifat sunah, makruh maupun mubah. Oleh karena itu boleh jadi ada sesuatu yang halal (boleh), tetapi tidak dianjurkannya, atau dengan kata lain hukumnya makruh.Semua itu menunjukkan bahwa segala yang ada di alam semestaini diperuntukkan manusia untuk ditundukkan dan dikuasai, termasuk makanan. Hubungannya dengan halal akan terlepas atau tidak terikat, kongkritnya tidak ada bahaya akan makanan tersebut kecuali pada makanan yang diharamkan.Pengecualian atau pengharaman harus bersumber dari Nas, baik melalui al-Quran maupun hadist. Sedang pengecualian itu lahir dan disebabkan oleh kondisi manusia, karena ada makanan yang dapat memberi dampak negatif terhadap jiwa raganya. [13]Atas dasar ini, turun firman Allah SWT, Surat An-Nahl ayat 116.

Artinya : Dan jangan lah kamu mengatakan terhadap apa yang di sebut-sebut oleh lidah mu secara dusta,ini halal dan ini haram untuk mengada adakan kebohongan terhadap Allah SWT. sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongann terhadap Allah SWT. tiadalah keberuntungan.(QS An-Nahl 116) [14]Pengertian halal berarti yang diperbolehkan menurut hukum Islam yang sudah dijelaskan dalam berbagai ayat yang menyangkut status hukum setiap perbuatan manuisa, baik terhadap Allah, ataupun terhadap manusia itu sendiri. Benda yang bias dimakan dan diminum halal apabila diperoleh dengan cara yang sah, dalam hal ini benda atau uang yang digunakan untuk memperoleh benda tersebut tidak diperoleh dengancara tidak jujur, misalnya mencuri, menyuap, menipu dan menggelapkan segala sesuatu yang diperoleh dengan cara tidak jujur, sekalipun benda tersebut layak dan halal, namun sifatnya adalah haram, dan orang yang melakukannya harus bertanggungjawab di akhirat.Dalam pembagian makanan yang halal menurut sumber bahannya dibedakan atas bahan makanan nabati, bahan makanan hewani dan bahan makanan olahan atau sintetik. Berdasarkan hal ini berikut diuraikan secara singkat tentang makanan halal dalam al-Quran yang terbagi dalam :a) Makanan Jenis NabatiMakanan jenis nabati yang dimaksudkan adalah makanan yang bahan dasarnya berasal dari tumbuh-tumbuhan. Dari sudut pengetahuan gizi, sayuran dan buah merupakan sumber pengatur yaitu sumber mineral.Begitu nilai gizi yang terdapat makanan nabati, sehingga al-Quran secara eksplisit tidak melarang makanan nabati tertentu, kalaupun ada tumbuh-tumbuhan tertentu yang kemudian terlarang. Maka hal tersebut termasuk dalam larangan umum memakan sesuatu yang buruk, atau merusak kesehatan.b) Makanan Jenis HewaniBinatang yang di halalkan Allah SWT. untuk di makan, banyak mengandung manfaat bagi kehidupan manusia. Dalam hal ini minuman yang di hasilakn binatang tersebut terdapat dalam firman Allah SWT. sebagai berikut:

Artinya : Dihalalkan bagi kamu binatang buruan laut dan makanan yang berasal dari laut, sebagai makanan yang lezat bagi kamu dan orang-orang dalam perjalanan (QS. al- Maidah:96)Dalam surat tersebut buruan laut maksudnya adalah binatang yang diperoleh dengan jalan usaha seperti mengail, memukat, dan sebagainya, baik dari laut, sungai, danau, kolam dan lain-lain. Sedangkan kata makanan yang berasal dari laut adalah ikan dan semacamnya yang diperoleh dengan mudah karena telah mati sehingga menggapung.2) Makanan Olahan atau SintetikMakanan olahan sering kali di sebut dengan makanan sintetik. Disamping jenis makanan nabati dan hewani, bahan-bahan makanan yang disebut di dalam al-Quran juga menyangkut kedua jenis bahan makanan tersebut, sebenarnya ada jenis kelompok bahan makanan lain menurut sumbernya, ialah bahan makanan sintetik, hasil tangan dan otak manusia, yang disebutkan secara implisit dalam al-Quran. Bahan makanan sintetik adalah bahan makanan hasil tangan manusia yang merupakan pelaksanaan dari hasil pemikiran (ilmu)

Artinya : Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan riski yang baik sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah SWT) bagi orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl: 67). Ayat tersebut berbicara tentang makanan sintetik yang dibuat dari buah-buahan, sekaligus merupakan ayat pertama yang berbicara tentang minuman keras dan keburukannya. Ayat tersebut membedakan dua jenis makanan sintetik memabukkan dan jenis makanan sintetik yang baik sehingga merupakan rizki yang baik.Islam memerithakan bahwa kehalalan merupakan syarat pertama dan utama makanan bergizi menurut al-Quran. Namun kita sadari tidak semua makanan yang halal akan cocok bagi manusia dalam kondisi tertentu. Oleh karena itu di perlukansyarat kedua yakni thayyib, firman Allah sebagai berikut :

Artinya :Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi(QS. al-Baqarah : 168) Kata thayyib dari segi bahasa berarti lezat, baik, sehat, menentramkan dan paling utama. Pakar-pakar tafsir ketika menjelaskan kata thayyib dalam konteks perintah makan menyatakan bahwa thayyib berarti makanan yang tidak kotor dari segi zatnya atau rusak (kadaluwarsa), atau dicampuri benda najis. Ada juga yang mengartikannya sebagai makanan yang mengandung selera bagi yang akan memakannya dan tidak membahayakan fisik dan akalnya.Penjelasan tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa thayyib pada makanan menyangkut hal-hal sebagai berikut :a. Menurut M. Quraish Shihab kata thayyib dalam makanan adalah makanan yang sehat, proporsional dan aman.1) Makanan yang sehat adalah makanan yang memiliki gizi yang cukup dan seimbang, dalam hal ini menurut kearifan dalam memilih dan mengatur keseimbangannya.2) Proporsional, artinya sesuai dengan kebutuhan pemakan, tidak berlebih dan tidak berkurang. Dengan demikian al-Quran dalam uraiannya tentang makan menekankan perlunya sikap proporsional itu. Makna ini sejalan dengan ayat yang mendukung hal ini yaitu :

Artinya : Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan(Qs. Al-Araf : 31) Maksud penjelasan di atas janganlah kamu berlebih-lebihan dapat di uraikan menurut pendekatan ilmu kesehatan dalam makanan halalaln thayyiban dan sanitasi makanan adalah sebagai berikut:a) Tidak berlebih-lebihan dalam cara memperolehCara yang bertentangan dengan aturan Allah dan bertentangan dengan aturan manusia (penggelapan), baik dalam bentuk korupsi, mencuri, merampok, menipu, manipulasi, dan sebagainya termasuk klasifikasi berlebih-lebihan. Hal yang berlebih-lebihan seperti ini merugikan pihak lain dan merusak sistem kehidupan bermasyarakat. Walaupun makanan itu bernilai tinggi (harga dan gizinya), karena diperoleh dengan cara yang berlebih-lebihan, maka akan kehilangan makna dan berkah sebagai makanan yang enak, bahkan menjadikan kehidupan tidak tenteram.b) Tidak berlebih-lebihan membuat resep makanSetiap jenis makanan merupakan kombinasi yang seimbang dan serasi dan berbagai macam bahan dasar, bahan mentah, bahan setengah jadi, dan bumbu-bumbu dengan kadar dan ukuran tertentu yang sudah disusun berdasarkan penelitian dan percobaan dan ditulis dalam bentuk resep masakan untuk mewujudkan menu atau susunan makanan jadi tertentu.c) Tidak berlebih-lebihan dalam proses penangananMaksud dari proses penanganan ialah pekerjaan memotong, mengaduk, mengolah, mengiris, mencacah, menggiling, mengayak, dan sebagainya. Bila berlebihan bisa menurunkan nilai gizi, mengurangi nilai gizi dan mengurangi tingkat keawetan.d) Tidak berlebih-lebihan dalam proses pemasakan.Terdapat beberapa jenis bahan makanan yang akan rusak nilai gizinya bila dipanaskan pada suhu tertentu atau dalam waktu yang lebih lama, atau dimasak berulang-ulang.e) Tidak berlebih-lebihan disajikanTermasuk berlebih-lebihan misalnya, jumlah keluarga 5 orang, lalu masak untuk konsumsi 10 orang, maka lebih baik apabila menyediakan masakan secukupnya untuk sejumlah keluarga.f) Tidak berlebih-lebihan dalam makananTerlalu banyak makanan yang diterima bisa merugikan tubuh, antara lain : Organ pencernaan akan bekerja esktra keras dari biasanya. Walaupun zat makanan yang dikonsumsi tubuh banyak atau melebihi kapasitas perut, zat makanan yang digunakan seperlunya saja. Makanan yang berlebih-lebihan menyebabkan seseorang menjadi malas karena organ pencernaan dan terpusatnya syaraf terhadap proses pencernaan.3) Aman. Artinya terhindar dari siksa Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. Tuntutan dperlunya makanan yang aman, antara lain dipahami dari firman Allah berikut :

Artinya : Makan lah ia dengan sedap lagi baik akibatnya. ( Qs. Al- Nisa :4) Ayat ini walaupun tidak turun dalam konteks petunjuk tentang makanan, tetapi penggunaan kata akala yang pada prinsipnya berarti makan dapat dijadikan petunjuk bahwa memakan sesuatu hendaknya yang sedap serta berakibat baik.Dengan itu, Agar perintah makan dengan perintah bertakwa yang tidak lain untuk menuntut manusia agar selalu memperhatikan ketakwaan, yaitu berusaha menghindar dari segala yang mengakibatkan siksa dan terganggunya rasa aman. Maksud perintah makanan diikuti dengan perintah bertaqwa supaya manusia selalu memperhatikan segi taqwa yang intinya berusaha menghindar dari segala yang mengakitbatkan siksa dan terganggunya rasa amanJika demikian, maka perintah bertakwa pada sisi duniawinya dan dalam konteks makanan, menuntut agar setiap makanan yang akan dicerna tidak mengakibatkan penyakit atau dengan kata lain memberi keamanan bagi pemakainya disamping harus memberi keamanan bagi kehidupan ukrawi nya.b. Dalam Ilmu gizi, pernyataan makanan yang thayyib (baik) : makanan yang dapat memenuhi fungsi-fungsi makanan.) [29] Adapun fungsi makanan, antara lain :1) Memenuhi kepuasan jiwaMemberi rasa kenyang, memenuhi kebutuhan naluri dan kepuasan jiwa, memenuhi kebutuhan sosial, budaya.2) Memenuhi fungsi fisiologikMemberikan tenaga (energi), mendukung pembentukan sel-sel atau bagian sel untuk pertumbuhan badan (growth).3) Mendukung pembentukan sel-sel atau bagian-bagian sel untuk menggantikan yang rusak dan aus terpakai (maintenance).4) Mengatur metabolisme zat-zat gizi dan keseimbangan cairan serta asam basa (regulatory mechanism).5) Berfungsi dalam pertahanan tubuh (defence mechanism).Menurut fungsinya, zat-zat makanan di bagi menjadi 3 golongan yaitu :1) Memberikan zat tenagaYang berfungsi untuk mengadakan pembakaran dalam tubuh, hingga timbul panas, yang diubah menjadi energi atau tenaga, yang termasuk golongan ini, ialah lemak, hidrat arang, sisa protein.2) Memberikan zat pembangunYang berfungsi untuk pembentukan jaringan baru selama pertumbuhan dan untuk mengganti jaringan-jaringan yang rusak, yang termasuk golongan ini adalah : protein, air dan garam.[31]3) Memberikan zat pengaturYang berfungsi untuk mengatur lancarnya pekerjaan alat-alat tubuh, dan melindungi tubuh dari macam-macam penyakit, termasuk dalam golongan ini, ialah vitamin. Vitamin di dalam tubuh merupakan kebutuhan mutlak, vitamin sangat aktif di dalam makanan, karena badan kita tidak dapat membentuknya.Menurut Ilmu gizi, pernyataan makanan yang thayyib (baik), makanan yang dapat memenuhi fungsi-fungsi makanan. Adapun fungsi makanan, antara lain :a) Memenuhi kepuasan jiwa(1) memberi rasa kenyang(2) memenuhi kebutuhan naluri dan kepuasan jiwa(3) memenuhi kebutuhan sosial, budaya.(4) Memenuhi fungsi fisiologik(5) Memberikan tenaga (energi)(6) Mendukung pembentukan sel-sel atau bagian sel untuk pertumbuhan badan (growth)(7) Mendukung pembentukan sel-sel atau bagian-bagian sel untuk menggantikan yang rusak dan aus terpakai (maintenance)(8) Mengatur metabolisme zat-zat gizi dan keseimbangan cairan serta asam basa (regulatory mechanism)(9) Berfungsi dalam pertahanan tubuh (defence mechanism)Menurut fungsinya, zat-zat makanan di bagi menjadi 3 golongan yaitu:a) Memberikan zat tenagaYang berfungsi untuk mengadakan pembakaran dalam tubuh, hingga timbul panas, yang diubah menjadi energi atau tenaga, yang termasuk golongan ini, ialah lemak, hidrat arang, sisa protein.(1) Lemak, gunanya : sebagai bahan pembakar untuk memperoleh tenaga pelarut beberapa macam vitamin (Vitamin A, D, E, K) melindungi ujung-ujung tulang

(2) Hidrat arang, gunanya : memberi perasaan kenyang menghasilkan panas dan tenag kelebihan hidrat arang dalam tubuh, ditimbun sebagai cadangan (3) Protein, gunanya: untuk pembentukan jaringan baru selama pertumbuhan untuk pemeliharaan jaringan-jaringan sebagai sumber zat tenaga, apabila tidak ada persediaan hidrat arang dalam lemak.b) Memberikan zat pembangunYang berfungsi untuk pembentukan jaringan baru selama pertumbuhan dan untuk mengganti jaringan-jaringan yang rusak, yang termasuk golongan ini adalah : protein, air dan garam.(1) Air, gunanya Untuk menolong proses pertukaran zat dalam tubuh Mengatur panas badan Melarutkan beberapa macam vitamin(2) Garam, zat garam termasuk golongan pembangun untuk pembentukan sel-sel badan Memberikan zat pengatur29Yang berfungsi untuk mengatur lancarnya pekerjaan alat-alat tubuh, dan melindungi tubuh dari macam-macam penyakit, termasuk dalam golongan ini, ialah vitamin.c) VitaminVitamin di dalam tubuh merupakan kebutuhan mutlak, vitamin sangat aktif di dalam makanan kita sehari-hari, karena badan kita tidak dapat membentuknya. Beberapa fungsi vitamin, membantu :(1) Penggunaan makanan oleh tubuh (terutama vitamin-vitamin B)(2) Pertumbuhan (vitamin A)(3) Pembentukan tulang (vitamin D)(4) Pembentukan jaringan-jaringan tertentu dan daya tahan terhadap penyakit (vitamin)(5) Pembentukan butir-butir darah merah (terutama vitamin B tertentu)(6) Pembekuan darah (vitamin K)[33]Ayat-ayat yang berkaitan dengan makanan halalan thayyiban.a. Surat al-Baqarah ayat 61. Artinya : Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.(Q.S. al-Baqarah 61) Maksudnya penjelasan Surat al-Baqarah ayat 61 adalah makanan hewani dan kandungn esnsial proteinnya seperti daging binatang, daging burung yang mencakup daging siman (salwa) adalah lebih baik dari pada makanan manusiayang mengandung protein nabati, ilihat dari arah kebutuhan kehidupan dan manfaat bagi jasmani. Kenyataan ini juga termaktub di dalam firman Allah taala yang ditujukan kepada bani Israil, sebagai peringatan bagi mereka akan nikmat-nikmat yang telah mereka dapatkan.[35]b. Surat Al-Baqarah Ayat 57.Artinya :Dan kami naungi kamu dengan awan, dan kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa", makanlah dari makanan yang baik-baik yang Telah kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Q.S. al-Baqarah: 57).Dari penjelasan ayat tersebut, meski mereka telah mendapatkan nikmat yang sangat besar ini namun mereka tidak mau menggunakannya sesuai haknya, mereka tidak mengetahui keutamaannyadan ketiggian harganya. Mereka justru berkata pada Sayyidina Musa alayhissalam bahwa kami (tidak bisa sabar dengan satu macam makanan saja yakni manna dan salwa). Sebab itu mohonkanlah utuk kami kepada tuhanmu, agar dia mengeluarkan bagi kami apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu : sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya. Musa tercenangheran melihat keadaan itu. Dan dia mengingkari omongan mereka seraya berkata pada mereka, kalian melebihkan jenis-jenis makanan ini daripada apa yang lebih utama dan lebih baik dari kesemuanya yakni manna dan salwa.Eksperimen praktis telah menegaskan dengan gamblang adanya pengaruh protein dalam pertumbuhan dan perkembangan. Sebagian besar makanan berprotein mengandung jumlah asam amino yang cukup, karena makanan tesebut biasanya tersusun dari susu, telur, daging. Ikan, makanan hijau, mencukupi kebutuhan orang dewasa dengan mudah. Dimasa pertumbuhan penambahan susu dan keju akan memperbagus kualitas makannya, termasuk juga unsur belerang yang dibutuhkan untuk membentuk protein tubuh yang terdapat di dalam beberapa jenis asam amino, seperti lisin (lysine), sistein (cysteine), metionin (methionine). Kesemuanya itu bukan parsial pada segala jenis protein, masing-masingnya tidak mengandung seluruh unsur itu secara mutlak. Sebagian mengandung sedikit protein sedangkan yang lain mengandung jumlah yang sangat banyak.[37]c. Surat Al-Nisa Ayat 4. Artinya : makan lah ia dengan sedap lagi baik akibatnya. ( Q.S. al- Nisa : 4) Ayat ini walaupun tidak turun dalam konteks petunjuk tentang makanan. Tetapi menggunakan kata akala yang pada prinsipnya berarti makanandapat dijadikan petunjuk bahwa memakan sesuatu hendaknya yang sedap serta berakibat baik.Pada akhirnya penulis dapat menyimpulkan pesan allah tentang makan dan makanan dlam firmannya dalam surat al-Anam Ayat 142 setelah menyebut makanan nabati dan hewani : d. Surat Al-Anam Ayat 142.Artinya : Dan di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (Q.S al-anam : 142) Pada umumnya jenis makanan yang Halalan Thayyiban menurut agama Islam, maka makanan tersebut baik menurut pertimbangan ilmu persyaratan makanan yang baik (Thayyiban) menurut ilmu gizi ialah yang dapat memenuhi kebutuhan tubuh sehingga semakin banyak kebutuhan tubuh tersebut dipenuhi maka semakin baiklah sifatnya.Makanan-makanan yang baik ialah makanan yang enak atau halal dan makanan halal yang diperoleh itu kebalikan dari makanan yang haram yang dilarang. Adapun menurut etimologi, thayyiban itu artinya barang yang suci. Barang yang suci ini biasanya dinisbatkan kepada barang yang halal. Sedangkan menurut istilah aslinya adalah segala yang enak dan dianggap baik.

BAB IIIPENUTUP3.1 KesimpulanBerdasarkan penjelasan di atas maka yang dimaksud dengan kreteria makanan yang halalan thayyiban adalah segala sesuatu yang diperbolehkan atau dihalalkan oleh agama dan sesuatu yang telah dihalalkan agama maka secara otomatis baik (thayyiban) menurut ilmu pengetahuan dan tidak membahayakan tubuh, yang baik untuk jiwa tidak membahayakan badan dan akal manusia, mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh manusia serta dimakan dalam takaran yang cukup dan seimbang. Dalam pemilihan makanan gizi seimbang unuk ibu nifas harus disesuaikan dengan kebutuhan Ibu termasuk kebutuhan akan makanan halalan thoyyiba.3.2 SaranSetelah penulis menyelesaikan makalah ini penulis berharap agar makalah ini dapat digunakan dan bermanfaat dalam usaha peningkatan mutu pelayanan kesehatan, adapun saran dari penulis :1. Perawatan yang diberikan agar leboh ditingkatkan2. Gizi yang cukup dan sesuai dengan halalan thoyyiban selama masa nifas sangat penting untuk terlaksanaakannya proses penyembuhan.

1