Ganbipolargguan Bipolar Referat

download Ganbipolargguan Bipolar Referat

of 24

  • date post

    27-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    225
  • download

    8

Embed Size (px)

description

referat

Transcript of Ganbipolargguan Bipolar Referat

REFERATGANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR

Pembimbing :dr. Agung Hermawanto, SpKJ

Disusun oleh :Maulana Wasis Waskito (1410221036)Hudza Rabbani (1410221034)

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN KESEHATAN JIWARUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO2015PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya sehingga referat ini telah berhasil diselesaikan. kasus yang berjudul Gangguan Afektif Bipolar" dibuat sebagai salah satu persyaratan mengikuti ujian kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Jiwa RSPAD Gatot Soebroto periode 9 Februari-14 Maret 2015. Tiada gading yang tak retak dan tiada hasil yang indah tanpa dukungan pihak-pihak yang telah memberikan pertolongan, demikianlah presentasi kasus ini tersusun dan terselesaikan. Oleh sebab itu, penulis menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terimakasih kepada :1. Dr. Agung Hermawanto, SpKJ selaku pembimbing yang sabar dalam membimbing dan memberikan pengarahan. Beliau juga telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan, masukan, serta koreksi demi kesempurnaan kasus ini.2. Ucapan terima kasih kepada seluruh staff RSPAD Gatot Soebroto yang turut mendukung penyelesaian kasus ini hingga akhir.3. Ucapan terimakasih kepada seluruh keluarga FK UPN 2010 terkhusus untuk sahabat-sahabat tercinta dan semua pihak terkait yang telah membantu proses pembuatan kasus ini terimakasih untuk semangat dan kebersamaan selama ini.Penulis menyadari bahwa kasus ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, penulis mohon maaf jika terdapat kekurangan. Penulis berharap kasus ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta bagi semua pihak yang membutuhkan.

Jakarta, 22 Februari 2015Penulis

Maulana Wasis Waskito Hudza Rabbani BAB IPENDAHULUANI.1 Latar Belakang Gangguan afektif bipolar adalah kondisi umum yang dijumpai, dan diantaragangguan mental menempati posisi kedua terbanyak sebagai penyebab ketidakmampuan/disabilitas. Depresi bipolar sama pada kelompok pria dan wanita denganangka kejadian sekitar 5 per 1000 orang. Penderita depresi bipolar dapat mengalamibunuh diri 15 kali lebih banyak dibandingkan dengan penduduk umum. Bunuh diripertama-tama sering terjadi ketika tekanan pada pekerjaan, studi, tekanan emosionaldalam keluarga terjadi pada tingkat yang paling berat. Pada risiko bunuh diri dapatmeningkat selama menopause.1Kebanyakan pasien dengan gangguan afektif bipolar secara potensial denganterapi yang optimal dapat kembali fungsi yang normal. Dengan pengobatan yangkurang optimal hasilnya kurang baik dan dapat kambuh untuk melakukan bunuh dirilagi. Data menunjukkan bahwa pengobatan sering kurang optimal.1Studi longitudinal bahwa pasien dengan kecenderungan bunuh diri pada kasusdengan afektif bipolar 50% dapat dikurangi dengan terapi maintenance/pemeliharaandan terapi depresi yang tepat.1Prof dr Sasanto Wibisono, SpKJ (K), guru besar di bagian Psikiatri FKUImenjelaskan perbedaan ekstrem perasaan (manik dan depresi) penderita Bipolar tidakselalu bisa diamati oleh lingkungannya karena masing-masing individu reaksinyaberlainan. Ada yang menonjol kutub maniknya, sementara yang lain menonjoldepresinya.Kondisi tidak normal itu bisaterjadi hanyabeberapaminggusampai 2-3bulan.Setelah itu kembali ''normal'' untuk jangka waktu relatif lama, namun dikesempatan lain muncul kembali.2

I.2 Rumusan Masalah1. Apa yang dimaksud dengan gangguan afektif bipolar?2. Bagaimana epidemiologi kejadian gangguan afektif bipolar?3. Apa penyebab dari gangguan afektif bipolar? 4. Bagaimana patogenesis dari gangguan afektif bipolar?5. Apa saja tanda dan gejala dari gangguan afektif bipolar?6. Bagaimana kriteria diagnosis dari gangguan afektif bipolar?7. Bagaimana penatalaksanaan dari gangguan afektif bipolar?8. Bagaimana prognosis pasien dengan gangguan afektif bipolar?I.3 TujuanSesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari pembuatan referat ini adalah SebagaiBerikut:1.Diketahuinya definisi dari gangguan afektif bipolar2.Diketahuinya epidemiologi dari kejadian gangguan afektif bipolar 3.Diketahuinya penyebab dari gangguan afektif bipolar.4.Diketahuinya patogenesis dari gangguan afektif bipolar.5.Diketahuinya tanda dan gejala dari gangguan afektif bipolar.6.Diketahuinya kriteria diagnosis dari gangguan afektif bipolar. 7.Diketahuinya penatalaksanaan dari gangguan afektif bipolar.8.Diketahuinya prognosis pasien dengan gangguan afektif bipolar.

I.4 Manfaat 1. Referat ini diharap memberikan pengetahuan tentang pengertian gejala dari gangguan afektif bipolar yang berhubungan dengan psikiatri dan juga dapat memberikan terapi yang tepat2. Referat ini dapat menambah referensi dalam meningkatkan ilmu pengetahun

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

II.1 DEFINISIGangguan mood yang ditandai dengan episode mania, hipomania, depresi, dan campuran.1

II.2 EPIDEMIOLOGIDapat dikatakan insiden gangguan bipolar tidak tinggi, berkisar antara 0,3-1,5%. Namun, angka itu belum termasuk yang misdiagnosis. Risiko kematian terus membayangi penderita bipolar. Biasanya kematian itu dikarenakan mereka mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri. Risiko bunuh diri meningkat pada penderita bipolar yang tidak diterapi yaitu 5,5 per 1000 pasien. Sementara yang diterapi hanya 1,3 per 1000 pasien.2

II.3 ETIOPATOGENESISPenyebab gangguan bipolar multifactor. Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di otak. Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kanak-kanak, stress yang menyakitkan, stress kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya.3

II.3.1 Faktor BiologiII.3.1.1 HerediterDidapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) tipe bipolar memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya, berdasar etiologi biologik 50% pasien bipolar memiliki orang tua dengan riwayat gangguan alam perasaan atau gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja). Jika seseorang orang tua mengidap gangguan bipolar maka 27% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan. Bila kedua orang tua mengidap gangguan bipolar maka 75% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan. Keturunan pertama dari sesorang yang menderita gangguan bipolar berisiko mederita gangguan serupa sebesar 7 kali. Bahkan risiko pada anak kembar sangat tinggi terutama pada kembar monozigot (40-80%), sedangkan kembar dizigot lebih rendah yakni 10-20%.4

II.3.1.2 GenetikBeberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar dengan kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari kromosom tersebut yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yang telah diselidiki adalah 4p16, 12q23-q24,18 sentromer, 18q22, 18q22-q23, dan 21q22. Yang menarik dari studi kromosom ini, ternyata penderita sindrom down (trisomi 21) berisiko rendah menderita gangguan bipolar. (4)Penelitian terbaru menemukan gen lain yang berhubungan dengan penyakit ini yaitu gen yang mengekspresi brain derived neurothopic factor (BDNF). BDNF adalah neurotropin yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps, neurogenesis, dan perlindungan otak neuron. BDNF diduga ikut terlibat dalam pengaturan mood. Gen yang mengatur BDNF terletak pada kromosom 11p13. Terdapat 3 penelitian yang mencari tahu hubungan antara BDNF dengan gangguan bipolar dan hasilnya positif. (4)

II.3.1.3 NeurotransmitterSejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar, peneliti mulai menduga adanya hubungan neurotransmitter dengan gangguan bipolar. Neurotransmitter yang berperan adalah dopamine, serotonin, dan noradrenalin. Gen-gen yang berhubungan dengan neurotransmitter tersebut pun mulai diteliti seperti gen yang mengkode monoamine oksidase A (MAOA), tirosin hidroksilase, catechol-ometiltransferase (COMT), dan serotonin transporter (5HTT).4

II.3.1.4 Kelainan otakKelainan pada otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini. Terdapat perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melalui pencitraan MRI, didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang kecil pada amigdala dan hippocampus. Korteks prefrontal, amigdala, dan hippocampus merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek).4Penelitian lain menunjukan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang pada otak penderita bipolar. Seperti diketahui, oligodendrosit menghasilkan membrane myelin yang membungkus akson sehingga mampu mempercepat hantaran konduksi antar saraf. Bila jumlah oligodendrosit berkurang, maka dapat dipastikan komunikasi antar saraf tidak berjalan lancar.4

II.3.2 Faktor PsikososialII.3.2.1 Peristiwa kehidupan dan stress lingkunganSatu pengamatan klinis yang telah lama direplikasi adalah bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan suasana perasaan daripada episode selanjutnya. Hubungan tersebut telah dilaporkan untuk pasien gangguan depresif berat dan gangguan bipolar I.5

II.3.2.2Faktor psikoanalitik dan psikodinamikaDalam upaya untuk mengerti depresi, Sigmund Freud mendalilkan suatu hubungan antara kehilangan suatu objek dan melankolia. Ia menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan pasien depresi diarahkan secara internal karena identifikasi dengan objek yang hilang. Freud percaya bahwa interojeksi mungkin merupakan satu-satunya cara bagi ego untuk melepaskan suatu objek. Ia membedakan melankolia atau depresi dari duka cita atas dasar bahwa pasien terdepresi merasakan penurunan harga diri yang melanda dalam hubungan dengan perasaan bersalah dan mencela diri sendiri, sedangkan orang yang berkabung tidak demikian.5Melanie Klein selanju