Referat Bipolar Fix

download Referat Bipolar Fix

of 29

  • date post

    08-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    232
  • download

    4

Embed Size (px)

description

Ilmu Kesehatan Jiwa

Transcript of Referat Bipolar Fix

BAB I LATAR BELAKANG

Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya rekuren serta dapat berlangsung seumur hidup. Setiap episode dipisahkan sekurangnya dua bulan tanpa gejala penting mania atau hipomania. Tetapi pada beberapa individu, gejala depresi dan mania dapat bergantian secara cepat, yang dikenal dengan rapid cycling. Episode mania yang ekstrim dapat menunjukkan gejala-gejala psikotik seperti waham dan halusinasi. Kejadian relaps pada pasien bipolar dilaporkan sebanyak 70% selama 5 tahun terakhir. Prevalensi antara laki-laki dan wanita sama besar. Onset gangguan bipolar adalah dari masa anak-anak (usia 5-6 tahun) sampai 50 tahun atau lebih. Rata-rata usia yang terkena adalah usia 30 tahun. Gangguan bipolar cenderung mengenai semua ras. Antidepresan monoterapi yang digunakan untuk gangguan bipolar menurut penelitian, dapat mencetuskan perubahan mood depresi menjadi manik maupun hipomanik. Alexander Vikrotin (2015) mengidentifikasi 3.240 pasien gangguan bipolar yang terdiri atas pasien yang belum diterapi dengan antidepresan, dan pasien yang telah menerim antidepresan monoterapi atau kombinasi dengan mood stabilizer. Risiko perubahan mood menjadi manik maupun hipomanik menjadi lebih besar pada pasien yang menggunakan antidepresan monoterapi. Sedangkan pasien yang diterapi kombinasi dengan antidepresan dan mood stabilizer (lithium, valproate, atau lamotrigine) tidak menunjukkan peningkatan risiko perubahan mood menjadi manik.

BAB IIGANGGUAN AFEKTIF BIPOLARA. GANGGUAN BIPOLAR1. DefinisiGangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya rekuren serta dapat berlangsung seumur hidup. Setiap episode dipisahkan sekurangnya dua bulan tanpa gejala penting mania atau hipomania. Kelainan fundamental pada kelompok gangguan ini adalah perubahan suasana perasaan (mood) atau afek, biasanya ke arah depresi (dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya), atau ke arah elasi (suasana perasaan yang meningkat). Perubahan suasana perasaan ini biasanya disertai dengan suatu perubahan pada keseluruhan tingkat aktivitas, dan kebanyakan gejala lainnya adalah sekunder terhadap perubahan itu, atau mudah dipahami hubungannya dengan perubahan tersebut. Ada empat jenis GB tertera di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV-Text Revision (DSM-IV TR) yaitu GB I, GB II. gangguan siklotimia, dan GB yang tak dapat dispesifikasikan.Tabel 1. Definisi Gangguan Bipolar

Sumber : American Family Physician, 2012

2. EpidemiologiGangguan bipolar adalah gangguan yang lebih jarang dibandingkan dengan gangguan depresif berat. Prevalensi gangguan bipolar di Indonesia hanya sekitar 2%. Prevalensi antara laki-laki dan wanita sama besar. Onset gangguan bipolar adalah dari masa anak-anak (usia 5-6 tahun) sampai 50 tahun atau lebih. Rata-rata usia yang terkena adalah usia 30 tahun. Gangguan bipolar cenderung mengenai semua ras. Epidemiologi Penelitian melaporkan usia rata-rata saat onset 21 tahun untuk gangguan bipolar. Ketika studi meneliti usia saat onset yang bertingkat menjadi interval 5 tahun, usia puncak pada timbulnya gejala pertama jatuh antara usia 15 dan 19, diikuti oleh usia 20 - 24. Onset mania sebelum usia 15 telah kurang dipelajari. Gangguan bipolar mungkin sulit untuk mendiagnosis pada kelompok usia ini karena presentasi atipikal dengan ADHD. Dengan demikian, usia saat onset bipolar disorder masih belum jelas dan mungkin lebih muda dari yang dilaporkan untuk sindrom penuh, karena ada ketidakpastian tentang presentasi gejala pada anak-anak. Penelitian kohort menunjukkan keturunan pasien dengan gangguan bipolar, dapat membantu untuk mengklarifikasi tanda-tanda awal pada anak-anak. Onset mania setelah usia 60 kurang mungkin terkait dengan riwayat keluarga gangguan bipolar dan lebih mungkin untuk dihubungkan dengan diidentifikasi faktor medis umum, termasuk stroke atau lainnya pusat sistem saraf lesi.

3. EtiologiGangguan bipolar disebabkan oleh berbagai macam faktor. Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di otak. Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kanak-kanak, stress yang menyakitkan, stress kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya.

Faktor GenetikPenurunan gangguan bipolar ditunjukkan oleh fakta bahwa kira-kira 50 persen pasien Gangguan bipolar memiliki sekurangnya satu orangtua dengan suatu gangguan mood, paling sering Gangguan depresif berat. Jika satu orangtua menderita gangguan bipolar, terdapat kemungkinan 25 persen bahwa anaknya menderita suatu gangguan mood. Jika kedua orangtua menderita Gangguan bipolar, terdapat kemungkinan 50-75 persen anaknya menderita Gangguan mood.Faktor BiologisHingga saat ini neurotransmitter monoamine seperti norepinefrin, dopamine, serotonin, dan histamine menjadi foKus teori dan masih diteliti hingga saat ini. Sebagai biogenik amin norepinefrin dan serotonin adalah neurotransmitter yang paling berpengaruh dalam patofisiologi gangguan mood ini.NorepinefrinTeori ini merujuk pada penurunan regulasi dan penurunan sensitivitas dari reseptor adrenergik dan dalam klinik hal ini dibuktikan oleh respon pada penggunaan anti depresan yang cukup baik sehingga mendukung adanya peran langsung dari system noradrenergik pada depresi. Bukti lainnya melibatkan reseptor 2 presinaps pada depresi karena aktivasi pada reseptor ini menghasilkan penurunan dari pelepasan norepinefrin. Reseptor 2 juga terletak pada neuron serotoninergic dan berperan dalam regulasi pelepasan serotonin. Serotonin Teori ini didukung oleh respon pengobatan SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) dalam mengatasi depress. Rendahnya kadar serotonin dapat menjadi factor resipitat depresi, beberapa pasien dengan dorongan bunuh diri memiliki konsentrasi serotonin yang rendah dalam cairan cerebropinalnya dan memiliki kadar konsentrasi rendah uptake serotonin pada platelet. DopamineSelain dari norepinefrin dan serotonin, dopamine juga diduga memiliki peran. Data memperkirakan bahwa aktivitas dopamine dapat mengurangi depresi dan meningkat pada mania. Dua teori mengenai dopamine dan depresi adalah bahwa jalur mesolimbic dopamine tidak berfungsi terjadi pada depresi dan dopamine reseptor D1 hipoaktif pda keadaan depresi. Kelainan di otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini. Terdapat perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melalui pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission tomography (PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang kecil pada amygdale dan hippocampus. Korteks prefrontal, amygdale, dan hippocampus merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek).

Faktor LingkunganLingkungan memegang peranan penting dalam gangguan perkembangan bipolar. Faktor lingkungan yang sangat berperan pada kehidupan psikososial dari pasien dapat menyebabkan stress yang dipicu oleh faktor lingkungan. Stress yang menyertai episode pertama dari gangguan bipolar dapat menyebabkan perubahan biologik otak yang bertahan lama. Perubahan bertahan lama tersebut dapat menyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberian signal intraneuronal. Perubahan mungkin termasuk hilangnya neuron dan penurunan besar dalam kontak sinaptik. Hasil akhir perubahan tersebut adalah menyebabkan seseorang berada pada resiko yang lebih tinggi untuk menderita gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya stressor eksternal.

4. Gambaran KlinikTerdapat dua pola gejala dasar pada gangguan bipolar yaitu, episode depresi dan episode mania.

Episode manik:Paling sedikit satu minggu (bisa kurang, bila dirawat) pasien mengalami mood yang elasi, ekspansif, atau iritabel. Pasien memiliki, secara menetap, tiga atau lebih gejala berikut (empat atau lebih bila hanya mood iritabel) yaitu: a. Grandiositas atau percaya diri berlebihanb. Berkurangnya kebutuhan tidurc. Cepat dan banyaknya pembicaraand. Lompatan gagasan atau pikiran berlombae. Perhatian mudah teralihf. Peningkatan energi dan hiperaktivitas psikomotorg. Meningkatnya aktivitas bertujuan (sosial, seksual, pekerjaan dan sekolah)h. Tindakan-tindakan sembrono (ngebut, boros, investasi tanpa perhitungan yang matang).Gejala yang derajatnya berat dikaitkan dengam penderitaan, gambaran psikotik, hospitalisasi untuk melindungi pasien dan orang lain, serta adanya gangguan fungsi sosial dan pekerjaan. Pasien hipomania kadang sulit didiagnosa sebab beberapa pasien hipomania justru memiliki tingkat kreativitas dan produktivitas yang tinggi. Pasien hipomania tidak memiliki gambaran psikotik (halusinasi, waham atau perilaku atau pembicaraan aneh) dan tidak memerlukan hospitalisasi.

Episode Hipomanik Paling sedikit empat hari, secara menetap, pasien mengalami peningkatan mood, ekspansif atau irritable yang ringan, paling sedikit terjadi gejala (empat gejala bila mood irritable) yaitu: a. Grandiositas atau meningkatnya kepercayaan dirib. Berkurangnya kebutuhan tidurc. Meningkatnya pembicaraand. Lompat gagasan atau pemikiran berlombae. Perhatian mudah teralihf. Meningkatnya aktifitas atau agitasi psikomotorg. Pikiran menjadi lebih tajamh. Daya nilai berkurangTidak ada gambaran psikotik (halusinasi, waham, atau prilaku atau pembicaraan aneh) tidak membutuhkan hospitalisasi dan tidak mengganggu fungsi personal, sosial, dan pekerjaan. Sering kali dilupakan oleh pasien tetapi dapat dikenali oleh keluargaEpisode Depresi Mayor Paling sedikit dua minggu pasien mengalami lebih dari empat simptom atau tanda yaitu :a. Mood depresif atau hilangnya minat atau rasa senangb. Menurun atau meningkatnya berat bada