BAB IV.doc Perdarahan Gastrointestinal

download BAB IV.doc Perdarahan Gastrointestinal

If you can't read please download the document

  • date post

    13-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    89
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of BAB IV.doc Perdarahan Gastrointestinal

BAB IV PEMBAHASAN

Berdasarkan pengelolaan kasus pada An. S dengan perdarahan gastrointestinal selama 2 hari, ada beberapa permasalahan yang yang muncul pada kasus akan dibahas dalam bab ini. Adapun pembahasan dimulai dari pengkajian, diagnosa utama, intervensi, implementasi dan evaluasi. Pengkajian pada An.S ditemukan beberapa masalah keperawatan antara lain : resti kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang tidak adekuat, cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan oleh perdarahan dan penurunan kondisi tubuh, kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit yang diderita dan resti kekurangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat. A. Diagnosa keperawatan, Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi1. Resti kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang tidak

adekuat (Wong, 2004:496). Kekurangan volume cairan adalah keadaan di mana seorang individu yang tidak menjalani puasa mengalami atau berisiko mengalami dehidrasi vaskular, interstisial atau intravaskular (Carpenito, 2001:139). Menurut Nanda (2005:89), kekurangan volume cairan adalah penurunan cairan intravaskuler, interstisial dan atau intraseluler, mengarah kepada dehidrasi, kehilangan cairan tanpa perubahan sodium.

Kehilangan cairan gastrointestinal berlebihan melalui muntah yaitu meningkatnya motilitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal merupakan akibat dari gangguan absorpsi dan sekresi cairan dan elektrolit yang berlebihan. Cairan, sodium, potasium, dan bikarbonat berpindah dari rongga ekstraseluler ke dalam tinja, sehingga mengakibatkan dehidrasi. (Suriadi, 2001:83). Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan output yang berlebihan melalui emesis. Ini terjadi karena pada kondisi gangguan gastrointestinal, cairan dan elektrolit banyak yang terbuang karena hiperperistaltik usus. Ini juga dipertegas dari pendapat Corwin (2001:521), peningkatan motilitas menyebabkan banyak air dan elektrolit terbuang karena waktu yang tersedia untuk penyerapan zat-zat tersebut di kolon berkurang. Menurut Hidayat (2006:14), kurang volume cairan ini disebabkan hilangnya cairan dalam tubuh atau juga masukan cairan yang kurang. Batasan karakteristik mayor (yang harus terdapat) pada diagnosa ini adalah ketidakcukupan masukan cairan oral, keseimbangan negatif antara masukan dan haluaran, penurunan berat badan. Sedangkan kriteria minor yang mungkin terdapat adalah peningkatan natrium serum, penurunan haluaran urine atau haluaran urin berlebihan, urin memekat atau sering berkemih, penurunan turgor kulit, haus / mual / anoreksia. (Carpenito, 2001:139).

Diagnosa keperawatan ini perawat tegakkan karena didukung dengan data nenek pasien mengatakan pasien muntah disertai darah, berwarna tua, kurang lebih 3 kali sehari, dan data objektif di peroleh data pasien tampak lemah, pasien tampak pucat, BAB 2 kali sehari, BAK 5-6 kali sehari, muntah 3 kali perhari @ 200 cc-600 cc. Menurut Mubarak (2008), muntah yaitu pengeluaran isi lambung/perut melalui esophagus dan mulut karena terjadi kontraksi otot abdominal dan otot dada yang di sertai dengan penurunan diafragma dan di kontrol oleh pusat muntah otak. Pada kasus ini lambung mungkin saja memberikan sinyal kepada pusat muntah diotak untuk mengeluarkan isinya akibat adanya iritasi dengan mukosa lambung yang mungkin sedang terluka atau mengalami peradangan. Darah dapat nampak akibat adanya gesekan makanan dengan dinding lambung atau esofagus yang mengakibatkan terjadinya erosi pada mukosa sehingga mengakibatkan perdarahan. Muntah pada bayi dan anakmerupakan gejala yang sering ditemukan dan seringkali merupakan gejala awal dari berbagai macam penyakit infeksi, misalnya faringitis, otitis media, pneumonia, infeksi saluran kencing, bila disertai adanya gejala panas badan. Mutah dapat juga merupakan gejala awal dari berbagai macam kelainan.

Muntah jika terjadi cukup sering pada bayi, bisa menyebabkan kehilangan cairan, elektrolit dan nutrient yang cukup signifikan yang pada akhirnya dapat menyebabkan dehidrasi dan terganggunya pertumbuhan anak. Selain itu didapatkan data obyektif mukosa bibir kering. Ini disebabkan sirkulasi darah ke perifer berkurang. Balance cairan = (inputoutput) 979,9 cc. Balance cairan pada kondisi normal biasanya input sama

dengan output. Adapun input/ masukan bisa didapat dari cairan oral, air dalam makanan, air dihasilkan metaolisme. Sedangkan ouput bisa didapat dari urin faeces, paru-paru, dan kulit. (Metheny, 2000:47). Pasien pucat dan lemah, karena pada kondisi ini banyak cairan yang hilang sehingga sehingga cairan yang berguna untuk proses metabolisme akan berkurang, yang nantinya suplai darah yang mencapai perifer akan berkurang sehingga pasien tampak pucat. Perawat memprioritaskan masalah ini sebagai masalah utama karena menurut hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow termasuk kebutuhan fisiologis yang memiliki prioritas tertinggi. Kebutuhan fisiologis meliputi oksigen, cairan, nutrisi, temperatur, istirahat dan seks. Sedangkan cairan secara prioritas merupakan kebutuhan fisiologis kedua setelah O2. Hirarki kebutuhan dasar manusia menurut Maslow adalah sebuah teori yang dapat digunakan perawat untuk memahami hubungan antara kebutuhan dasar manusia pada saat memberikan perawatan. Hirarki kebutuhan manusia mengatur kebutuhan dasar dalam 5 tingkatan prioritas. Tingkatan yang paling dasar, atau yang pertama meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan dan keamanan, kebutuhan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan rasa berharga dan harga diri, aktualisasi diri. (Perry & Potter, 2005:613). Tubuh manusia membutuhkan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran cairan. Cairan dimasukkan melalui mulut, atau secara parenteral, dan cairan meninggalkan tubuh dari saluran pencernaan, paru-

paru, kulit dan ginjal. Dehidrasi dan edema mengindikasi tidak terpenuhinya kebutuhan cairan. Dehidrasi mungkin karena demam berlebihan atau berkepanjangan, muntah, diare, trauma atau beberapa kondisi yang menyebabkan kehilangan cairan dengan cepat. (Perry & Potter, 2005:614). Implementasi yang dilakukan pada Rabu, 28 April 2010, mengukur suhu dan nadi pada pukul 09.20 WIB, suhu dan nadi ini tetap dimonitor karena pada saat dehidrasi perfusi jaringan berkurang sehingga nadi akan meningkat. Sebenarnya tindakan ini sudah dilakukan pada proses keperawatan di tahap pengkajian. Dan tindakan ini berdasarkan permasalahan yang ada menurut penulis bukan merupakan prioritas utama tindakan utama untuk mengatasi masalah. Akan tetapi tindakan ini bisa merupakan implementasi yang bisa dilakukan setelah implementasi yang paling prioritas. Implementasi prioritas yang dimaksud adalah

menganjurkan ibu untuk memberi banyak minum susu atau secara per oral dan nantinya kita bisa memonitor secara berkala apa terjadi peningkatan nadi, suhu dan frekuensi pernafasan. Menurut Wong (2004:496), ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan hidrasi sesuai kebutuhan tubuh. Pada pukul 09.20 WIB memantau balance cairan input dan output pasien. Dari balance cairan yang menggunakan rumus intake ouput kita bisa tahu banyaknya cairan lebih banyak pada cairan yang masuk (intake) atau yang keluar (ouput), ini juga sebagai indikator untuk menunjukkan masalah pada output yang berlebih pada kurang volume cairan.

Sedangkan menurut teori Wong (2004:496) ini bertujuan untuk memperbaiki kepatuhan terhadap aturan terapeutik. Pukul 17.00 WIB menganjurkan ibu pasien untuk memberi banyak minum susu selagi tidak kembung, responnya ibu sudah memberikan minum susu. Menurut Wong (2004:496) ini bertujuan untuk rehidrasi dan mengganti kehilangan cairan. Pada pukul 14.20 WIB mengukur balance cairan. Pada pukul 16.10 berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian cairan IV (infus) dan obat-obatan. Pemberian cairan secara parenteral ini ditujukan untuk mengganti cairan yang hilang karena dehidrasi dan juga cairan yang hilang akibat dehidrasi tidak dapat diatasi hanya dengan minum air Untuk terapi yang lain injeksi taxegram 2 x 150 mg/IV, plasminex 3 x 20 mg/IV dan menganjurkan nenek pasien untuk memberikan pasien minum susu sesuai dengan yang dianjurkan. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian minum susu atau memberikan banyak minum merupakan prioritas utama. Ini berkaitan erat dengan pada kasus muntah disertai dengan dehidrasi karena cairan lebih banyak yang dikeluarkan di samping pemberian cairan secara parenteral juga penting. Cairan merupakan faktor paling esensial yang diperlukan oleh tubuh selain nutrisi, dan 70 % tubuh manusia terdiri dari air. Kebutuhan tubuh akan air merupakan urutan kedua setelah kebutuhan oksigen. (Creasoft, 2008). Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam, evaluasi yang diperoleh adalah masalah teratasi sebagian dengan kriteria hasil yang

ingin dicapai anak mendapatkan cairan yang cukup untuk mengganti cairan yang hilang. Data subjektif, nenek pasien mengatakan pasien sudah mau minum susu. Data obyektif pasien sudah tidak muntah-muntah lagi, pasien sudah tidak mengeluarkan keringat dingin lagi, konjungtiva tidak anemis dan balance cairan : 979,1 cc. Jika kita lihat jumlah balance cairan sebagai indikasi status hidrasi pasien membaik. Analisa masalah teratasi sebagian dan lanjutkan intervensi dengan memonitor balance cairan, input dan output pasien. Faktor yang mendukung dalam masalah ini adalah kooperatifnya orang tua pasien atas segala tindakan atau prosedur yang dilakukan perawat dan juga kepatuhan dalam menjalani program terapeutik. Faktor yang menjadi penghambat adalah sering rewel dalam pemeriksaan.2. Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan oleh perdarahan

dan penurunan kondisi tubuh. Cemas/ansietas adalah keadaan dimana individu/kelompok

mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem saraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas, nonspesifik (Carpenito, 2001:9). Perubahan ste