Tp Virtopsy

Click here to load reader

  • date post

    03-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    127
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Aspek Hukum Virtual Otopsi di Indonesia

Transcript of Tp Virtopsy

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Otopsi virtual Pengertian otopsi adalah pemeriksaan medis terhadap mayat dengan membuka rongga kepala, leher, dada, perut, dan panggul serta bagian tubuh lain bila diperlukan, disertai dengan pemeriksaan jaringan dan organ tubuh di dalamnya, baik secara fisik maupun dengan dukungan pemeriksaan laboratorium. Pelaksanaan otopsi seperti pengertian di atas mendapat istilah baru yaitu otopsi konvensional.1 Otopsi konvensional dapat dimodifikasi berdasarkan keperluan seperti diseksi leher pada kasus pencekikan, diseksi bagian dorsal pada kecelakaan kendaraan bemotor, diseksi tenggelam dengan tes diatom jika diperlukan.3 Konsep virtopsy lahir dari adanya keinginan untuk mengimplementasikan teknologi terbaru radiologi untuk keuntungan ilmu forensic. Virtopsy berasal dari kata virtual dan autopsy, virtual dalam bahasa Latin yang berarti bermanfaat, autopsy kombinasi bahasa Yunani dari autos yang berarti oleh diri sendiri dan opsomen yang berarti melihat melalui mata. Jadi autopsy berarti melihat dengan mata sendiri. Untuk menghilangkan kesubyektifitasan dari autos, maka istilah virtual dan autopsy digabungkan dengan menghilangkan aoutos, menjadi istilah baru yaitu virtopsy. Virtopsy berarti dokumentasi obyektif dan proses analisis dari segi fisik dan petunjuk yang ada. Adanya kemajuan pada multislice computed tomography (MSCT) dan magnetic resonance imaging (MRI), meningkatkan kontras dan resolusi serta menawarkan kemungkinan rekonstruksi 2D dan 3D. Tujuannya untuk investigasi kemungkinan penting yang terjadi dari otopsi forensic minimal invasive yang menggunakan teknik pencitraan radiologi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan sistematis untuk mengevaluasi teknik dan keakuratan teknik pencitraan radiologi dibandingkan dengan metode otopsi konvensional.2,3 Dalam otopsi virtual menggunakan beberapa peralatan pemindaian canggih yang saling melengkapi yaitu: Pemindaian permukaan tiga dimensi (3D color encoded surface scanning) yang didesain untuk pemetaan tubuh bagian luar. Penggunaan alat ini dapat memberikan informasi dan menyimpan gambaran area permukaan secara detail.4

Multi slice computed tomography (MSCT). CT scan adalah suatu alat radiologi yang menggunakan radiasi dan rekonstruksi oleh komputer untuk mebuat citra secara tomografi (potongan). MSCT menggunakan empat sampai 6 detektor sehingga mampu memberikan hasil pencitraan dalam potongan yang lebih tipis. (Dirnhofer et al) Kelebihan: mampu memberikan gambaran secara potongan, mampu membuat gambaran tiga dimensi objek tertentu, dapat memperkirakan jumlah cairan pada kasus tertentu (darah). Pada virtual otopsi alat ini dapat memdeteksi dengan baik fraktur, perdarahan dalam jumlah besar pada trauma jaringan, terkumpulnya udara patologis pada organ (pada kasus emboli udara, emfisema subkutis akibat trauma, hiperbarik trauma atau efek dari pembusukan). Alat ini hanya membutuhkan waktu singkat untuk pemeriksaan yaitu kurang lebih 10 menit. (MJ Thali)

(MRI) yang akan dapat memvisualisasikan tubuh bagian dalam, sehingga dapat diperiksa secara detail setiap potongan bagian tubuh. Magnetic resonance imaging (MRI) adalah suatu alat radiologi yang digunakan untuk menampilkan citra berupa potongan gambar tubuh manusia yang bekerja dengan prinsip resonansi. Kelebihan : memberikan gambaran dari berbagai posisi tanpa mengubah posisi jenazah. Mampu melihat jaringan lunak (otot, sumsum tulang belakang atau sarar) dengan jelas. Karena kelebihan dari alat ini, pada virtual otopsi alat ini sensitif lebih spesifik pada kasus trauma jaringan lunak, trauma saraf dan bukan saraf serta kasus bukan trauma. Pemeriksaan menggunakan alat ini lebih lama jika dibandingkan dengan CT scan. MRI spectroscopy melalui pengukuran kadar metabolit dalam otak dapat memperkirakan saat kematian. (MJ thali)

5

Gambar 1. Bagan alur otopsi virtual2 2.2. Otopsi virtual pada berbagai Kasus Selain cara kematian (seperti sebab alamiah, kecelakaan, pembunuhan, bunuh diri, sebab yang tidak diketahui), kematian dapat memiliki sebab yang bervariasi. Beberapa penyebab spesifik mengenai organ tertentu seperti otak, jantung, dan paru. Penemuan sistemik yang bervariasi dapat juga mengindikasikan sebab kematian.2 Otak Temuan tipe trauma pada radiologi klinis divisualisasikan sama bagus pada pencitraan postmortem. Peningkatan tekanan intracranial akibat trauma atau iskemik, secara khas bermanifestasi pada otopsi berupa herniasi transtentorial dari lobus temporal atau herniasi serebelum ke dalam foramen magnum, dengan kesan pada dasar serebelum yang sama dengan foramen magnum. Bila terdapat banyak temuan patologis dalam otak yang bertanggung jawab terhadap peningkatan tekanan intracranial, pencitraan postmortem memberikan visualisasi yang detail. Kapasitas ini sangat membantu ketika terjadi peningkatan derajat pembusukan membuat otopsi tidak dapat dilakukan pada struktur otak yang tersisa. Pada beberapa kasus, MRI postmortem memberikan gambaran anatomi otak yang cukup baik dan memungkinkan untuk eksklusi perubahan patologis dalam otak. Studi terbaru melakukan investigasi sensitivitas dan signifikasi dari MRI postmortem untuk membedakan perubahan otak. Pemeriksaan MRI 3-T pada tubuh mengindikasi kurangnya sensitifitas untuk lesi otak yang lebih kecil dari 5 mm, pada system 1,5-T dapat diatasi dengan meningkatkan intensitas medan hingga gambaran matriks mencapai 1024.6

Selanjutnya, studi pencitraan postmortem berjanji mengatasi keterbatasan pencitraan crosssectional dalam menggambarkan lesi otak yang kecil dalam region yang sangat penting.2

Gambar 2. Gambaran pada otak2 Jantung

7

Sebagian besar kematian alami disebabkan insufisiensi jantung. Penyakit jantung kronis seperti kardiopati atau iskemik akut dapat menimbulkan insufisiensi jantung. Jantung sering menjadi target injury dalam pembunuhan atau bunuh diri. Injury pada jantung secara khas bermanifestasi pada pencitraan postmortem sebagai cardial tamponade dan hematothorax. Kegagalan ventrikel kanan setelah emboli udara vena pada trauma kepala seperti pada luka tembak di kepala atau luka tusuk di leher, merupakan penyebab kematian yang berhubungan dengan jantung. Berlawanan dengan teknik otopsi tradisional, CT postmortem memberikan visualisasi 3D yang detail dari struktur yang mengalami emboli, dengan jumlah emboli.2

8

Gambar 3. Gambaran pada jantung2 Paru Investigasi postmortem dapat digunakan untuk menilai dalam menentukan penyebab kematian. Contohnya, pneumothorax mudah dideteksi pada pencitraan postmortem. Edema pulmo, yang sering ditemui pada kematian toksikologi atau jantung, memiliki pencitraan9

postmortem yang dapat dibandingkan dengan temuan pencitraan cross-sectional klinis, seperti peningkatan gambaran ground-glass pada CT atau peningkatan intensitas sinyal pada MRI. Pneumonia juga menyebabkan hyperattenuation dan hyperintensity. Perubahan paru pada gambaran postmortem axial dapat ditutupi oleh overlap sedimentasi darah, temuan ini tidak seharusnya diinterpretasi salah sebagai pneumonia local pada paru bagian dorsal. 2

Gambar 4. Gambaran pada paru210

Temuan otopsi pada tenggelam adalah ditemukan adanya lumpur/pasir atau cairan tempat korban tenggelam dalam saluran nafas atau paru, paru-paru yang menggembung dan kongesti, cairan dalam sinus paranasal, lambung, dan dilatasi paru-paru kanan dan pembuluh darah vena. Tanda-tanda tersebut merupakan variable-variabel yang diteliti dengan menggunakan MRI dan kemudian dikonfirmasi dengan temuan otopsi pada penelitian yang dilakukan Levy et al. Dari hasil penelitiannya didapatkan bahwa adanya sedimentasi pada trakea dan percabangan bronkus utama (93%), cairan di dalam sel mastoid (100%), cairan dalam sinus paranasal (25%) dan 89% paru-paru dengan gambaran ground-glass. Sementara itu 89% lambung korban mengalami distensi. Hasil yang sama juga ditemukan pada penelitian di Switzerland, meskipun pada penelitian ini mereka menggunakan MSCT. Kedua penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan MRI maupun MSCT hasil yang didapat tidak jauh berbeda dengan hasil temuan otopsi dan histopatologi.1

Gambar 5. Gambaran paru axial3 Kulit, lemak subkutan, dan otot Lapisan jaringan-jaringan ini tidak bernilai untuk evaluasi lokasi dan kekuatan yang mengenai jaringan tersebut. Contohnya pada gambar di bawah ini, kontusio akibat cedera langsung regio pantat saat kecelakaan sepeda motor. Untuk menilai luasnya kerusakan pada lapisan lemak subkutan (hematoma tau laserasi), digunakan gulungan permukaan tambahan11

pada kaki. Pencitraan memberikan perbedaan antara jaringan lemak dengan hematom saja dan adanya laserasi pada lemak subkutan. Hematom jaringan setelah cekikan, dapat ditampakkan dengan baik menggunakan MRI. Pada kasus cekikan oleh orang lain, lesinya tampak lebih berat, jadi penulis optimis akan kemampuan MRI untuk menunjukkan hematom otot pada beberapa kasus.3 Temuan sistemik Temuan yang bervariasi mengindikasikan penyebab kematian yang berbeda. Pada hipotermia, area pendarahan dalam otot-otot tubuh menunjukkan tipe dan merupakan indikasi tertentu, walaupun mekanismenya tidak jelas. Pada kasus trauma tajam, penyebab kematian adalah pendarahan yang masif, misalnya pada kehilangan darah pada lokasi luka, pendarahan pada organ internal, dan pendarahan pada area subendocardial mengindikasikan pendarahan yang mengancam kematian. Dengan menggunakan pencitraan cross-sectional volume, berat organ dapat diperkirakan seperti pada otopsi konvensional. Pengukuran volum suatu organ secara radiologi dengan cara mengalikan factor densitas jaringan organ tersebut, misalnya 1,5g/mL untuk hati dan limpa.2 2.3. Perbandingan Otopsi Virtual dengan Otopsi Konvensional Dokumentasi nondestruktif pada jenazah penting untuk dua alasan yaitu :1,4 1. Memberikan informasi tanpa melakukan otopsi konservatif, 2. Dapat digunakan pada budaya dan situasi saat otopsi tidak dapat ditoleransi oleh