TP Ikterus

download TP Ikterus

of 29

  • date post

    06-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    272
  • download

    10

Embed Size (px)

description

Ikterik

Transcript of TP Ikterus

Hiperbilirubinemia pada bayi atau Neonatal hyperbilirubinemia sering terjadi pada bayi yang baru lahir dimana permasalahan yang sering ditemui adalah peningkatan bilirubin hingga 5 mg/dL oleh karena akumulasi bilirubin dalam sirkulasi darah

BAB I

PENDAHULUAN

Hiperbilirubinemia pada bayi atau neonatal hiperbilirubinemia sering terjadi pada bayi yang baru lahir dimana permasalahan yang sering ditemui adalah peningkatan bilirubin hingga diatas 5 mg/dL oleh karena akumulasi bilirubin dalam sirkulasi darah. Peningkatan serum bilirubin dalam darah dikarenakan oleh ketidakseimbangan antara produksi dan eliminasi bilirubin. Kadar bilirubin yang tinggi dapat bersifat toksik pada system saraf pusat yang dapat menyebabkan gangguan neurologis. 1Bilirubin adalah hasil dari pemecahan dan daur ulang sel darah merah yang sudah tua dan tidak terpakai. Hasil pemecahan itu disebut bilirubin indirek yang tidak larut dalam air, dan pada plasma akan diikat bersama albumin menjadi yang disebut bilirubin indirek. Saat bayi masih di dalam rahim, bilirubin indirek ini akan dibuang oleh plasenta dan diproses di organ hati ibu menjadi bilirubin direk (larut dalam air), untuk kemudian dibuang melalui urin dan tinja ibu. Semua proses ini alamiah dan hampir dialami oleh semua bayi. Segera setelah lahir, bayi harus memecah sendiri bilirubin indirek di organ hatinya. Namun, karena fungsi organ hati bayi belum matang, proses itu jadi lambat. Bilirubin indirek akan menumpuk di dalam darah dan jaringan tubuh. Kondisi ini menyebabkan kulit, mata dan selaput lendir bayi tampak kuning. Bilirubin indirek adalah fokus utama yang sering dijumpai oleh dokter pada kasus hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir. 1Seringkali di jumpai pada bayi cukup bulan yang lahir mengalami jaundice secara klinis pada minggu pertama pasca kelahiran dan beberapa memiliki penyakit yang menyebabkan hiperbilirubinemia. Hiperbilirubin pada sebagian penderita dapat bersifat fisiologis dan pada sebagian lagi mungkin bersifat patologis yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian. Terdapat beberapa faktor risiko terjadinya hiperbilirubinemia diantaranya adalah penyakit hemolitik, metabolik dan endokrin bayi, dan kemungkinan infeksi atau abnormalitas pada fungsi hati bayi sehingga terjadinya hiperbilirubinemia. 1BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Ikterus Neonatorum adalah warna kuning di kulit, konjungtiva, dan mukosa akibat penumpukan bilirubin dalam serum. Sedangkan hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan konsentrasi bilirubin serum yang menjurus ke arah terjadinya kerniikterus atau ensefalopati bilirubin jika kadar bilirubin tidak dikendalikan. Ikterus dapat terjadi secara fisiologis, yaitu ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak mempunyai dasar patologis, kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau mempunyai potensi menjadi kernikterus dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi.2Ikterus patologis yaitu ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Kernicterus merupakan suatu sindroma neurologik yang timbul sebagai akibat penimbunan bilirubin tak terkonjugasi dalam sel sel otakIkterus yang kemungkinan besar menjadi patologis yaitu :21. Ikterus klinis yang terjadi pada 24 jam pertama.

2. Ikterus dengan peningkatan bilirubin-lebih dari 5 mg%/hari.

3. Ikterus yang mempunyai hubungan dengan proses hemolitik, infeksi atau keadaan patologis lain yang telah diketahui.

4. Ikterus dengan kadar bilirubin serum melebihi 12,5 mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg% pada neonatus kurang bulan.

5. Ikterus yang menetap >8 hari pada neonatus cukup bulan atau > 14 hari pada neonatus kurang bulan.

6. Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%.

7. Ikterus yang disertai oleh :

Berat lahir 15

Gambar 2. Pembagian Ikterus menurut Krammer

Disamping ikterus, hiperbilirubinemia dapat pula disertai gejala-gejala sebagai berikut :

1. Dehidrasi : asupan kalori yang tidak adekuat (misalnya kurang minum, muntah)

2. Pucat (sering berkaitan dengan anemia hemolitik atau kehilangan darah ekstravaskuler

3. Trauma lahir: bruising, sefalhematoma, dan pendarahan tertutup lainnya

4. Pletorik: polisitemia yang dapat disebabkan oleh keterlambatan memotong tali pusat, bayi KMK

5. Letargik dan gejala klinis sepsis lainnya

6. Petekie : berkaitan dengan infeksi congenital, sepsis atau eritroblastosis

7. Mikrosefali, korioretinitis: berkaitan dengan anemia hemolitik, infeksi congenital, penyakit hati

8. Hepatosplenomegali

9. Omfalitis

10. Hipotiroidisme

11. Massa abdominal kanan: berkaitan dengan duktus koledokus

12. Feses dempul disertai urine warna coklat tua: pikirkan kearah ikterus obstruktif. 2.7 Diagnosis

Anamnesis

Anamnesis ikterus pada riwayat obstetri sebelumnya sangat membantu dalam menegakkan diagnosis hiperbilirubinemia pada bayi. Termasuk dalam hal ini anamnesis mengenai riwayat inkompabilitas darah, riwayat transfusi tukar, atau terapi sinar pada bayi sebelumnya. Di samping itu faktor resiko kehamilan dan persalinan juga berperan dalam diagnosis dini ikterus/hiperbilirubinemia pada bayi. Faktor resiko tersebut antara lain adalah kehamilan dengan komplikasi, persalinan dengan komplikasi, obat yang diberikan pada ibu selama hamil/persalinan, kehamilan dengan diabetes melitus, gawat janin, malnutrisi intrauterin, infeksi intranatal, dan lain-lain.

Dalam anamnesis pun perlu ditelusuri mengenai riwayat pasase mekonium saat lahir, riwayat asupan cairan (riwayat minum ASI dan/atau susu formula) untuk mengetahui kemungkinan adanya breast- feeding jaundice atau breast- milk jaundice. Waktu timbulnya ikterus mempunyai arti yang penting pula dalam diagnosis dan penatalaksanaan penderita karena saat timbulnya ikterus berkaitan erat dengan kemungkinan penyebabnya.7-10 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dibagi dalam pemeriksaan fisik umum dan pemeriksaan fisik khusus. Pemeriksaan fisik umum meliputi keadaan umum pasien (gangguan nafas, apnea, instabilitas suhu, dll). Pemeriksaan fisik khusus difokuskan pada penilaian kuning pada bayi.

WHO dalam panduannya menerangkan cara menentukan ikterus secara visual, sebagai berikut:

Pemeriksaan dilakukan dengan pencahayaan yang cukup (di siang hari dengan cahaya matahari) karena ikterus bisa terlihat lebih parah bila dilihat dengan pencahayaan buatan dan bisa tidak terlihat pada pencahayaan yang kurang.

Tekan kulit bayi dengan lembut dengan jari untuk mengetahui warna di bawah kulit dan jaringan subkutan.

Tentukan keparahan ikterus berdasarkan umur bayi dan bagian tubuh yang tampak kuning ( menurut Kramer)

Pemeriksaan Penunjang

Dalam merencanakan pemeriksaan penunjang, dianjurkan dengan memprioritaskan pemeriksaan- pemeriksaan yang mengarahkan kepada hiperbilirubinemia yang paling mungkin. Sejumlah pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan pada hiperbilirubinemia patologik adalah:9a) Kadar bilirubin serum (total). Kadar bilirubin serum direk dianjurkan untuk diperiksa, bila dijumpai bayi kuning dengan usia > 10 hari dan atau dicurigai adanya suatu kolestasis.

b) Darah tepi lengkap dan gambaran apusan darah tepi untuk melihat morfologi eritrosit dan hitung retikulosit.

c) Penentuan golongan darah dan faktor Rh dari ibu dan bayi. Bayi yang berasal dari ibu dengan Rh negatif harus dilakukan pemeriksaan golongan darah, faktor Rh, uji Coombs pada saat bayi dilahirkan, kadar hemoglobin dan bilirubin tali pusat juga diperiksa (Normal bila Hb > 14 mg/dl dan bilirubin tali pusat < 4 mg/dl).

d) Pemeriksaan kadar enzim G6PD

e) Pada ikterus yang lama, lakukan uji fungsi hati (dapat dilanjutkan dengan USG hati, sintigrafi sistem hepatobilier), uji fungsi tiroid, uji urine terhadap galaktosemia.

f) Bila secara klinis dicurigai sepsis, lakukan pemeriksaan kultur darah, urine, IT ratio dan pemeriksaan C reaktif protein(CRP).Tabel 4: Penegakkan diagnosis ikterus neonatorum berdasarkan waktu kejadiannya

WaktuDiagnosis bandingAnjuran pemeriksaan

Hari ke-1 Inkompatibilitas darah(Rh, ABO)

Sferositosis

Infeksi intrauterin (TORCH)

Anemia hemolitik non-sferositosis(mis G6PD) Kadar bilirubin serum berkala, hb, golongan darah ibu/bayi, uji Coombs

Darah tepi lengkap, riwayat keluarga

Ig M, serologi, trombosit, biakan darah/urine

Uji tapis defisiensi enzim

Hari ke-2 Infeksi

Keadaan-keadaan seperti hari 1, tetapi baru timbul kemudian. Darah tepi, biakan darah/urine, pungsi lumbal (kalau perlu), foto paru,dll

Idem seperti di atas

Hari ke-3 s/d 5 Fisiologis (KU baik, mau minum, BB naik, H/L ttb, kadar bilirubin total 5 hari atau menetap s/d 10 hari Minum ASI

Infeksi bakteri/virus

Anemia hemolitik

Galaktosemia

Hipotiroidisme

Obat-obatan

Sindrom Lucey-Driscoli

Fibrosis kistik

Penyakit Gilbert

Ikterus obstruktif Awasi keadaan umum, berat badan dan minumnya

Pemeriksaan darah/urine sesuaikan dengan diagnosis

2.8 PenatalaksanaanStrategi mengelola bayi baru lahir dengan hiperbilirubinemia meliputi; pencegahan, penggunaan farmakologi, fototerapi dan transfusi tukar.

Strategi Pencegahan Hiperbilirubinemia: 5a) Pencegahan primer

Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya paling sedikit 8-12 kali perhari untuk beberapa hari pertama.

Tidak memberikan cairan tambahan rutin seperti dekstrose atau air pada bayi yang mendapat ASI dan tidak mengalami dehidrasi.

b) Pencegahan sekunder

Semua wanita hamil harus diperiksa golongan darah ABO dan rhesus serta penyaringan serum untuk antibodi isoi