Referat Knf Fix

download Referat Knf Fix

of 23

  • date post

    15-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    221
  • download

    6

Embed Size (px)

description

referat knf

Transcript of Referat Knf Fix

REFERATKarsinoma Nasofaring

Pembimbing :Dr. Susilaningrum, Sp.THT-KL

Disusun Oleh:Sulaiman Nulhakim ( FK UPN)Shresta S.M( FK UPH )Septriani Bukang ( FK UKRIDA )

Kepaniteraan Klinik 09 Februari 14 Maret 2015Departemen Telinga, Hidung Dan Tenggorokan RSPAD Gatot Soebroto Jakarta

BAB IPENDAHULUAN

Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang paling banyak dijumpai di antara tumor ganas THT di Indonesia, dimana karsinoma nasofaring termasuk dalam lima besar tumor ganas, dengan frekuensi tertinggi bersama tumor ganas serviks uteri, tumor payudara, tumor getah bening dan tumor kulit, sedangkan didaerah kepala dan leher menduduki tempat pertama (KNF mendapat persentase hampir 60% dari tumor di daerah kepala dan leher, diikuti tumor ganas hidung dan sinus paranasal 18%, laring 16%, dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam persentase rendah).1,2Santosa (1988) mendapatkan jumlah 716 (8,46%) penderita KNF berdasarkan data patologi yang diperoleh di Laboratorium Patologi anatomi FK Unair Surabaya (1973 1976) diantara 8463 kasus keganasan di Seluruh tubuh. Survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 1980 secara pathology based mendapatkan angka prevalensi karsinoma nasofaring 4,7 per 100.000 penduduk atau diperkirakan 7000 8000 kasus per tahun di seluruh Indonesia.2,3Penanggulangan karsinoma nasofaring sampai saat ini masih merupakan suatu masalah, dikarenakan oleh etiologi yang masih belum pasti, gejala dini yang tidak khas serta letak nasofaring yang tersembunyi,dan tidak mudah diperiksa oleh mereka yg bukan ahli sehingga diagnosis sering terlambat, dengan ditemukannya metastasis pada leher sebagai gejala pertama. Dengan makin terlambatnya diagnosis maka prognosis akan semakin buruk dengan angka bertahan hidup berkisar 5 tahun.1Dengan melihat hal tersebut, diharapkan dokter dapat berperan dalam pencegahan, deteksi dini, terapi maupun rehabilitasi dari pasien yang menderita karsinoma nasofaring. Penulis berusaha untuk menuliskan aspek-aspek yang dirasakan perlu untuk dipahami oleh para dokter melalui tinjauan pustaka dalam referat ini dan diharapkan dapat bermanfaat.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1.Anatomi dan Fisiologi NasofaringNasofaring merupakan rongga dengan dinding kaku di atas, belakang dan lateral.Batas-batas nasofaring yaitu batas atas (atap) adalah os sphenoid dan sebagian prosessusbasilaris, batas anterior adalah koana dan palatum molle, batas posterior adalah vertebraservikal dan batas inferior adalah permukaan atas palatum molle dan berhubungan denganorofaring.4Batas nasofaring3: Superior : basis kranii, diliputi oleh mukosa dan fascia Inferior : bidang horizontal yang ditarik dari palatum molle Anterior : choane, oleh os vomer dibagi atas choane kanan dan kiri. Posterior : - vertebra cervicalis I dan II Fascia space = rongga yang berisi jaringan longgar Mukosa lanjutan dari mukosa atas Lateral : - mukosa lanjutan dari mukosa atas dan belakang Muara tuba eustachii Fossa rosenmulleriPada dinding lateral nasofaring lebih kurang 1,5 inci dari bagian belakang konkanasal inferior terdapat muara tuba eustachius. Pada bagian belakang atas muara tubaeustachius terdapat penonjolan tulang yang disebut torus tubarius dan dibelakangnyaterdapat suatu lekukan dari fossa Rosenmuller dan tepat diujung atas posteriornya terletakforamen laserum. Pada daerah fossa ini sering terjadi pertumbuhan jaringan limfe yangmenyempitkan muara tuba eustachius sehingga mengganggu ventilasi udara telinga tengah.4 Dinding lateral nasofaring merupakan bagian terpenting, dibentuk oleh laminafaringobasilaris dari fasia faringeal dan otot konstriktor faring superior. Fasia inimengandung jaringan fibrokartilago yang menutupi foramen ovale, foramen jugularis,kanalis karotis dan kanalis hipoglossus. Struktur ini penting diketahui karena merupakantempat penyebaran tumor ke intrakranial.4

Gambar 1. Anatomi nasofaring5

Gambar 2.Nasofaring dilihat dengan nasoendoskopi5Nasofaring berbentuk kerucut dan selalu terbuka pada waktu respirasi karena dindingnya dari tulang, kecuali dasarnya yang dibentuk oleh palatum molle. Nasofaring akan tertutup bila palatum molle melekat ke dinding posterior pada waktu menelan, muntah, mengucapkan kata-kata tertentu.3Fungsi nasofaring adalah sebagai berikut3: Sebagai jalan udara pada respirasi Jalan udara ke tuba eustachii Resonator Sebagai drainage sinus paranasal kavum timpani dan hidung

2.2.Histologi NasofaringMukosa nasofaring dilapisi oleh epitel bersilia repiratory type. Setelah 10tahun kehidupan, epitel secara lambat laun bertransformasi menjadi epitelnonkeratinizing squamous, kecuali pada beberapa area (transition zone). Mukosamengalami invaginasi membentuk kripta. Stroma kaya akan jaringan limfoid danterkadang dijumpai jaringan limfoid yang reaktif. Epitel permukaan dan kriptasering diinfiltrasi dengan sel radang limfosit dan terkadang merusak epitelmembentuk reticulated pattern. Kelenjar seromucinous dapat juga dijumpai,tetapi tidak sebanyak yang terdapat pada rongga hidung.6

Gambar 3.Sel epitel transisional, pelapis nasofaring72.3Definisi Karsinoma NasofaringKarsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang tumbuh didaerah nasofaring dengan predileksi di fosa Rossenmuller dan atap nasofaring.2

2.4.EpidemiologiAngka kejadian Kanker Nasofaring (KNF) di Indonesia cukup tinggi, yakni 4,7 kasus/tahun/100.000 penduduk atau diperkirakan 7000 8000 kasus per tahun di seluruh Indonesia (Survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 1980 secara pathology based). Santosa (1988) mendapatkan jumlah 716 (8,46%) penderita KNF berdasarkan data patologi yang diperoleh di Laboratorium Patologi anatomi FK Unair Surabaya (1973 1976) diantara 8463 kasus keganasan di Seluruh tubuh. Di RSCMJakarta ditemukan lebih dari 100 kasus setahun, RS. Hasan Sadikin Bandung rata-rata 60 kasus, Ujung Pandang 25 kasus, Denpasar 15 kasus, dan di Padang dan Bukit tinggi (1977-1979). Dalam pengamatan dari pengunjung poliklinik tumor THT RSCM, pasien karsinoma nasofaring dari ras Cina relative sedikit lebih banyak dari suku bangsa lainya.1,3Ras mongoloid merupakan faktor dominan timbulnya KNF, sehingga kekerapan cukup tinggi pada pendduduk Cina bagian selatan, Hongkong, Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang diawetkan (diasap, diasin), bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih, sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini. Di dalam ikan yang diawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan.1,4Tumor ini lebih sering ditemukan pada pria dibanding wanita dengan rasio 2-3:1 dan apa sebabnya belum dapat diungkapkan dengan pasti, mungkin ada hubungannya dengan faktor genetic, kebiasaan hidup, pekerjaan dan lain-lain. Distribusi umur pasien dengan KNF berbeda-beda pada daerah dengan insiden yg bervariasi. Pada daerah dengan insiden rendah insisden KNF meningkat sesuai dengan meningkatnya umur, pada daerah dengan insiden tinggi KNF meningkat setelah umur 30 tahun, puncaknya pada umur 40-59 tahun dan menurun setelahnya.Prevalensi KNF di Indonesia adalah 3,9 per 100.000 penduduk setiap tahun. Di rumah Sakit H. Adam Malik Medan, Provinsi Sumatera Utara, penderita KNF ditemukan pada lima kelompok suku. Suku yang paling banyak menderita KNF adalah suku Batak yaitu 46,7% dari 30 kasus.8

2.5Etiologi1,2,9Terjadinya karsinoma nasofaring mungkin multifaktorial, proses karsinogenesisnya mungkin mencakup banyak tahap. Faktor yang mungkin terkait dengan timbulnya kanker nasofaring adalah : Kerentanan Genetik, walaupunkarsinomanasofaringtidak termasuk tumor genetic, tetapi kerntanan terhadap karsinoma nasofaring pada kelompok masyarakat tertentu relatif menonjol dan memiliki agregasi familial. Analisis korelasi menunjukkan gen HLA (human leukocyte antigen) dan gen pengode enzim sitokrom p4502E (CYP2E1) kemungkinan adalah gen kerentanan terhadap karsinoma nasofaring Virus Eipstein-Barr, Banyak perhatian ditujukan kepada hubungan langsung antara karsinoma nasofaring dengan ambang titer antibody virus Epstein-Barr (EBV). Serum pasien-pasien orang asia dan afrika dengan karsinoma nasofaring primer rmaupun sekunder telah dibuktikan mengandung antibody Ig G terhadap antigen kapsid virus (VCA) EB dan seringkali pula terhadap antigen dini (EA); dan antibody Ig A terhadap VCA (VCA-IgA), sering dengan titer yang tinggi.(1) Faktor Habit dan Lingkungan: Sering mengonsumsi makanan yang mengandung bahan pengawet, termasuk makanan yang diawetkan dengan cara diasinkan atau diasap yang mengandung nitrosamin Sering mengonsumsi makanan dan minuman yang panas atau bersifat panas dan merangsang selaput lendir, seperti yang mengandung alkohol. Selain itu, sering mengisap asap rokok, asap industri, asap minyak tanah, asap kayu bakar, asap obat nyamuk, atau asap candu. Sering mengisap udara yang penuh asap atau rumah yang pergantian udaranya kurang baik. Faktor genetik, yakni yang mempunyai garis keturunan penderta kanker nasofaring

2.6 Gejala Dan Tanda Karsinoma NasofaringKarsinoma nasofaring biasanya dijumpai pada dinding lateral dari nasofaring termasuk fossa rosenmuler. Yang kemudian dapat menyebar ke dalam ataupun keluar nasofaring ke sisi lateral lainnya dan atau posterosuperior dari dasar tulang tengkorak atau palatum, rongga hidung atau orofaring. Metastase khususnya ke kelenjar getah bening servikal. Metastase jauh dapat mengenai tulang, paru-paru, mediastinum dan hati (jarang). Gejala yang akan timbul tergantung pada daerah yang terkena1,2. Sekitar separuh pasien memiliki gejala yang beragam, tetapi sekitar 10% asimtomatik. Pembesaran dari kelenjar getah bening leher atas yang nyeri merupakan gejala yang paling sering dijumpai. Gejala dini karsinoma nasofaring sulit dikenali oleh karena mirip denga