Tugas Referat Fix!!

download Tugas Referat Fix!!

of 21

  • date post

    15-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    137
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Tugas Referat Fix!!

BAB I PENDAHULUAN Perkembangan industri yang sangat pesat di Indonesia menimbulkan dampak yang positif yaitu terbuka lapangan kerja yang akan meningkatkan taraf hidup masyarakat dan potensi dampak negatif yaitu terjadinya pencemaran pada lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat sekitarnya. Lingkungan kerja yang tercemar dari gangguan kesehatan dari penyakit akibat kerja. Kontaminasi udara yang dihirup masuk melalui hidung masuk melalui paru dapat berbentuk debu, asap, uap, atau uap air. Penimbunan partikel yang terjadi pada saat inhalasi maupun ekhalasi terbanyak pada hidung. Masalah kesehatan dapat terjadi jika pekerja terpajan partikel tersebut melebihi nilai ambang batas serta terjadi pajanan terus menerus selama beberapa tahun yang dapat merupakan penyebab gangguan kesehatan pada pekerja terutama penyakit pada saluran pernapasan yaitu rhinitis akibat kerja. Gejala yang ditimbulkan rhinitis akibat kerja akan memberi dampak pada kualitas hidup pekerja seperti gangguan tidur yang menyebabkan kelelahan, penurunan penampilan, dan konsentrasi di tempat kerja, serta mengantuk saat bekerja. Hal ini disertai gejala tambahan seperti sakit kepala, rasa lemah,malas, dan perubahan emosi yang sangat mengganggu. Keluhan tersebut semakin hari bertambah berat sehingaa mempengaruhi keadaan fisik, emosi, fungsi sosial dan dapat menimbulkan stress. Upaya perlindungan tenaga kerja diperlukan dalam membina tenaga kerja agar tetap pada tingkat produktivitas yang tinggi antara lain dengan mencegah timbulnya pengaruh negative dari berbagai faktor yang merupakan faktor risiko lingkungan kerja.

1

BAB II ANATOMI HIDUNG 2.1 ANATOMI Hidung luar berbentuk pyramid dengan bagia-bagiannya dari atas ke bawah:1 1. Pangkal hidung (bridge) 2. Batang hidung (dorsum nasi) 3. Puncak hidung (hip) 4. Ala nasi 5. Kolumela 6. Lubang hidung (nares anterior)

Gambar 1. Anatomi Hidung Luar Hidung luar di bentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari :1 1. 2. 3. Lubang hidung Prosessus frontalis os maksila Prosesus frontalis os nasal

2

Gambar. Anatomi Kerangka Hidung Kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu :1 1.2.

Sepasang kartilago nasalis lateralis superior Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago alar mayor Tepi anterior kartilago septum Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang

3.

dipisahkan oleh septm nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.2 Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai ala nasi, tepat di belakang nares anterior, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise. 1 Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior, dan superior. Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os etmoid, vomer, krista nasalis os maksila, krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan adalah kartilago septum dan kolumela. 13

Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang, sedangkan di luarnya dilapisi oleh mukosa hidung. 1 Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah adalah konka inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media, lebih kecil lagi adalah konka superior, sedangkan konka yang terkecil disebut konka suprema. Konka suprema ini biasanya rudimenter. 1

Gambar 3. Anatomi Hidung Dalam Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. 1 Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medius dan superior. Meatus inferior terletak diantara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateteral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis. Meatus medius terdapat muara sinus frontal, sinus maksila, dan sinus etmoid anterior.Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid. 2

4

2.2 PENDARAHAN HIDUNG Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a. etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a. oftalmika dari a.karotis interna. Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a. maksilaris interna, diantaranya ialah ujung a. palatine mayor dan a. sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n. sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media. Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a. facialis. 1 Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina, a, etmoid anterior, a. labialis superior dan a. palatine mayor , yang disebut pleksus Kiesselbach (Littles area). Pleksus Kiesselbach letaknya superficial dan mudah cedera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis terutama pada anak-anak.1 Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v. oftalmika yang berhungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intrakranial. 1 2.3 PERSARAFAN HIDUNG Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n. nasosiliaris, yang berasal dari n. oftalmikus (N.V-1). Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n. maksilaris melalui ganglion sfenopalatina. 1 Ganglion sfenopalatina selain memberikan persarafan sensoris, juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut saraf sensoris dari n. maksilaris (N.V-2), serabut parasimpatis dari n. petrosus superfisialis mayor dan serabut saraf simpatis dari n. petrosus profundus. Ganglion sfenopalatina terletak dibelakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media. 1 Fungsi penghidu berasal dari n. olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina kribrsa dari permukaan bukbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung. 3

5

2.4 MUKOSA HIDUNG Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernapasan (mukosa respiratori) dan mukosa penghidu (mukosa olfaktorius). Mukosa pernapasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia (ciliated pseudostratifed collumner epithelium) dan diantaranya terdapat sel goblet.3 Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu tidak bersilia (pseudostratified collumner non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang-kadang terjadi metaplasia, menjadi sel epitel skuamosa.2 Dalam keadaan normal mukosa respiratori berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Di bawah epitel terdapat tunika propria yang banyak mengandung pembuluh darah, kelenjar mukosa dan jaringan limfoid.1 Pembuluh darah pada mukosa hidung mempunyai susunan yang khas. Arteriol terletak pada bagian yang lebih dalam dari tunika propria dan tersusun secara pararel dan longitudinal. Arteriol ini memberikan pendarahan pada anyaman kapiler periglanduler dan sub epitel. Pembuluh eferen dari anyaman kapiler ini membuka ke rongga sinusoid vena yang besar yang dindingnya dilapisi oleh jaringan elastic dan otot polos. Pada bagian ujungnya sinusoid mempunyai sfingter otot. Selanjutnya sinusoid akan mengalirkan darahnya ke pleksus vena yang lebih dalam lalu ke venula. Dengan susunan demikian mukosa hidung menyerupai jaringan kavernosa yang erektil, yang mudah mengembang dan mengerut. Vasodilatasi dan vasokonstriksi pembuluh darah dapat dipengaruhi saraf otonom. 1 2.5 SISTEM TRANSPOR MUKOSILIER Sistem transport mukosilier merupakan system pertahanan aktif rongga hidung terhadap virus, bakteri, jamur atau partikel berbahaya lain yang terhirup bersama udara. Efektivitas system transport mukosilier dipengaruhi oleh kualitas silia dan palut lendir. Palut lendir ini dihasilkan oleh sel-sel goblet pada epitel dan kelenjar seromusinosa submukosa. 1

6

Bagian bawah dari palut lendir terdiri dari cairan serosa sedangkan bagian permukaannya terdiri dari mucus yang lebih elastic dan banyak mengandung protein plasma seperti albumin, IgG, IgM dan faktor komplemen. Sedangkan cairan serosa mengandung laktoferin, lisozim, inhibitor lakoprotease sekretorik, dan IgA sekretorik (s-IgA). 1 Glikoprotein yang dihasilkan oleh sel mucus penting untuk pertahanan local yang bersifat antimicrobial. Iga berfungsi untuk mengeluarkan mikroorganisme dari jaringan dengan mengikat antigen tersebut pada lumen salurab napas, sedangkan IgG beraksi didalam mukosa dengan memicu reaksi inflamasi jika terpajan dengan antigen bakteri. 1 Pada sinus maksilaris, system transport mukosilier menggerakkan secret sepanja