Referat Efek Samping Anti Psikosis

download Referat Efek Samping Anti Psikosis

of 17

  • date post

    28-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    102
  • download

    18

Embed Size (px)

description

referat Anti Psikosis ini ditujukan untuk kepaniteraan jiwa

Transcript of Referat Efek Samping Anti Psikosis

BAB I

PENDAHULUAN

Sejak ditemukannya klorpromazin, suatu neuroleptik golongan fenotiazin pada tahun 1950, pengobatan untuk psikosis terutama skizofrenia terus dikembangkan. Istilah neuroleptik sebagai sinonim antipsikotik berkembang dari kenyataan bahwa obat antipsikotik sering menimbulkan gejala saraf berupa gejala ekstrapiramidal. Dengan dikembangkannya golongan baru yang hampir tidak menimbulkan gejala ektrapiramidal istilah neuroleptik tidak lagi dapat dianggap sinonim dari istilah antipsikotik. Selanjutnya ditemukan generasi kedua antipsikotik yaitu haloperidol, yang penggunaannya cukup luas hingga selama 4 dekade.

Pada tahun 1990, ditemukan klozapin yang dikenal sebagai generasi pertama antipsikotik golongan atipikal. Disebut atipikal karena golongan obat ini sedikit menyebakan reaksi ekstrapiramidal (EPS : extrapyramidal symptom) yang umum terjadi dengan obat antipsikotik tipikal yang ditemukan lebih dahulu. Sejak ditemukan klozapin, pengembangan obat baru golongan atipikal ini terus dilakukan. Hal ini terlihat dengan ditemukannya obat baru yaitu risperidon, olanzapin, zotepin, ziprasidon dan lainnya.

Kebanyakan antipsikotik golongan tipikal mempunyai afinitas tinggi dalam menghambat resepor dopamin 2, hal inilah yang diperkirakan menyebabkan reaksi ekstrapiramidal yang kuat. Obat golongan atipikal pada umumnya mempunyai afinitas yang lemah terhadap dopamin 2, selain itu juga memiliki afinitas terhadap reseptor dopamin 4, serotonin, histamin, reseptor muskarinik, dan reseptor alfa adrenergik. Golongan antipsikotik atipikal diduga efektif untuk gejala positif (seperti bicara kacau, halusinasi, delusi) maupun gejala negatif (miskin kata-kata, afek yang datar, menarik diri dari lingkungan, inisiatif menurun) pasien skizofrenia. Golongan antipsikotik tipikal umumnya hanya berespon untuk gejala positif.

BAB II

ANTIPSIKOTIKObat yang digunakan untuk psikosis memiliki banyak sinonim antara lain antipsikotis, neuroleptik, mayor tranquillizers, dan ataractics antipsychotics. Antipsikotik digunakan untuk mengatasi gejala akibat gangguan mental yang berat seperti skizofrenia, gangguan delusional, gangguan afektif berat dan gangguan psikosis organik. Antipsikosis konvensional umumnya dapat mengurangi gejala positif, seperti: halusinasi, waham, tidak kooperatif, dan gangguan alam berpikir seperti loncat pikir/flight of ideas maupun inkoherensi. Gejala positif skizofrenia tersebut bereaksi secara lebih responsif terhadap obat antipsikotik, sedangkan gejala negatifnya seperti: afek yang datar, apatis, anhedonia, dan blokade diri ternyata lebih sulit diatasi. Namun, saat ini sudah ditemukan derivat baru untuk mengatasi gejala negatif tersebut. Obat-obatan ini dikelompokkan dalam antipsikotik aspesifikMekanisme KerjaSecara umum, terdapat beberapa hipotesis tentang cara kerja antipsikotik, yang dapat digolongkan berdasarkan jalur reseptor dopamin atau reseptor non-dopamine. Hipotesis dopamin untuk penyakit psikotik mengatakan bahwa kelainan tersebut disebabkan oleh peningkatan berlebihan yang relatif dalam aktifitas fungsional neurotransmiter dopamin dalam traktus tertentu dalam otak. Hipotesis ini berlandaskan observasi berikut:

Sebagian besar obat antipsikotik memblok reseptor postsinaps pada SSP, terutama pada sistem mesolimbik-frontal.

Penggunaan obat yang meningkatkan aktivitas dopamin, seperti levodopa (prekursor dopamin), amfetamin (merangsang sekresi dopamin), apomorfin (agonis langsung reseptor dopamin) dapat memperburuk skizofrenia ataupun menyebabkan psikosis de novo pada pasien.Pemeriksaan dengan positron emission tomography (PET) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan reseptor dopamin pada pasien skizofrenia (baik yang menjalani terapi ataupun tidak) bila dibandingkan dengan orang yang tidak menderita skizofrenia.

Pada pasien skizofrenia yang terapinya berhasil, telah ditemukan perubahan jumlah homovallinic acid (HVA) yang merupakan metabolit dopamin, pada cairan serebrospinal, plasma, dan urin.

Telah ditemukan peningkatan densitas reseptor dopamin dalam region tertentu di otak penderita skizofren yang tidak diobati. Pada pasien sindroma Tourette, tic klinis lebih jelas jika jumlah reseptor D2 kaudatus meningkat.

Lima reseptor dopamin yang berbeda telah ditemukan, yaitu D1 D5. Setiap satu reseptor dopamin adalah berpasangan dengan protein G dan mempunyai tujuh domain transmembran. Reseptor D2, ditemukan dalam kaudatus-putamen, nukleus accumbens, kortek serebral dan hipotalamus, berpasangan secara negatif kepada adenyl cyclase. Efek terapi relatif untuk kebanyakan obat-obatan antipsikotik lama mempunyai korelasi dengan afinitas mereka terhadap reseptor D2. Akan tetapi, terdapat korelasi dengan hambatan reseptor D2 dan disfungsi ekstrapiramidal. Beberapa antipsikotik yang lebih baru mempunyai afinitas yang lebih tinggi terhadap reseptor-reseptor selain reseptor D2. Contohnya, tindakan menghambat alfaadrenoseptor mempunyai korelasi baik dengan efek antipsikotik kebanyakan obat baru ini Inhibisi reseptor serotonin (S) juga merupakan cara kerja obat-obatan antipsikotik baru ini. Clozapin, satu obat yang mempunyai tindakan menghambat reseptor D1, D4, 5-HT2, muskarinik dan alfa-adrenergik yang signifikan, mempunyai afinitas yang rendah terhadap

reseptor D2. Kebanyakan obat-obatan atipikal yang baru (seperti olanzapin, quetiapin, resperidon dan serindole) mempunyai afinitas yang tinggi terhadap reseptor 5-HT2A, walaupun obat-obat tersebut juga bisa berinteraksi dengan reseptor D2 atau reseptor lainnya. Kebanyakan obat atipikal ini menyebabkan disfungsi ekstrapiramidal yang kurang dibandingkan dengan obat-obatan standar.Farmakokinetik

Metabolisme obat-obat anti psikotik secara farmakokinetik dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain pemakaian bersama enzyme induce seperti carbamazepin, phenytoin, ethambutol, barbiturate. Kombinasi dengan obat-obat tersebut akan mempercepat pemecahan antipsikotik sehingga diperlukan dosis yang lebih tinggi.

Clerance Inhibitors seperti SSRI ( selective serotonin receptor inhibitor) , TCA (tricyclic antidepresan), beta blocker, akan menghambat sekresi obat-obat antipsikotik sehingga perlu dipertimbangkan dosisi pemberiannya bila diberikan bersama-sama. Kondisi strees, hipoalbumin karena malnutrisi atau gagal ginjal dan gagal hati dapat mempengaruhi ikatan protein obat-obat antipsikotik tersebut.

FarmakodinamikObat-obat antipsikotik terutama bekerja sebagai antagonis reseptor dopamin dan serotonin di otak, dengan target untuk menurunkan gejala-gejala psikotik seperti halusinasi, waham dan lain-lain. Sistem dopamin yang terlibat yaitu sistem nigrostriatial, sistem mesolimbikokortikal, dan sistem tuberoinfundibuler. Karena kerja yang spesifik ini maka dapat diperkirakan efek samping yang mungkin timbul sistem-sistem tersebut mengalami hambatan yang berlebih. Bila hambatan pada sistem nigrostriatial berlebihan maka akan terjadi gangguan terutama pada aktifitas motorik, sedangkan sistem mesolimbokortikal mempengaruhi fungsi kognitif, dan fungsi endokrin terganggu bila sistem tuberoinfundibuler terhambat berlebihan.ManfaatKlinis

Tabel di bawah memuat antipsikotik yang paling sering diresepkan. Golongan kimia antipsikotik tipikal yang konvensional dibedakan oleh kedalaman, jenis, dan keparahan efek samping yang dihasilkan. Keefektifan klinis keseluruhan obat tersebut dalam dosis yang ekuivalen adalah sama.Antispikotik atipikal terbaru, seperti klozapin, risperidon, olanzapin, dan ziprasidon, mempunyai efek klinis yang lebih besar daripada antipsikotik kelas lain dengan efek samping ekstrapiramidal akut yang minimal. Penggunaan utama antipsikotik untuk skizofrenia, sindrom otak organik dengan psikosis. Obat ini juga berguna untuk pasien yang mengalami ansietas berat dan menyalahgunakan obat atau alkohol karena benzodiazepin dikontraindikasikan bagi mereka.

ReaksiYang Merugikan danPertimbanganKeperawatanEfek samping antipsikotik banyak dan bervariasi serta menuntut banyak perhatian klinis dari perawat untuk memberikan perawatan yang optimal. Beberapa efek samping hanya menyebabkan rasa tidak nyaman bagi pasien, dan kebanyakan mudah ditangani, tetapi beberapa diantaranya mengancam jiwa. Perawat harus memberi perhatian khusus pada gejala atau sindrom ekstrapiramidal (EPS), baik jangka pendek maupun jangka panjang. Obat-obat yang paling umum untuk mengatasi EPS jangka pendek adalah:1.Benztropin,

1-6mg/hari2.Triheksifenidil,1-10mg/hari3.Difenhidramin,25-150mg/hari

Efek merugikan klozapin yang paling serius adalah agranulositosis, yang terjadi pada kira-kira 1% sampai 2% pasien. Tabel 2 menyajikan beberapa efek samping yang lebih umum dan pertimbangan keperawatannya.

Dopamin merupakan salah satu neurotransmitter pada manusia yang sangat berperan pada mekanisme terjadinya gangguan psikotik. Dopamin sendiri diproduksi pada beberapa area di otak, termasuk subtantia nigra dan area ventral tegmental. Dopamin jua merupakan neurohormon yang dihasilkan oleh hipotalamus. Fungsi utama hormon ini adalah menghambat pembentukan prolaktin dan lobus anterior kelenjer pituitary.

Domain memiliki banyak fugsi di otak, termasuk peran pentingnya pada perilaku dan kognisi, pergerakan volunter, motivasi, penghambat produksi prolaktin (berperan dalam masa menyusui), tidur mood, perhatian, dan proses belajar.

Dopaminergik neurom (neuron yang menggunakan dopamin sebagai neurotransmitter utamanya . terdapat pada area ventral tegmental (AVT) pada midbrain, substantia nigra pars compacta dan nucleus arcuata pada hipotalamu, jalur dopaminergik merupakan jalur neural pada otak yang mengirimkan dopamin dari satu regio di otak ke regio lainnya.

Penghambatan reseptor dopamin adalah efek utama yang berhubungan dengan keuntungan terapi obat-obatan antipsikotik lama. Terdapat beberapa jalur utama dopamin diotak, antara lain :1. Jalur dopamin nig