Referat Divertikel Kolon Fix

download Referat Divertikel Kolon Fix

of 20

  • date post

    29-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    102
  • download

    12

Embed Size (px)

description

bedah

Transcript of Referat Divertikel Kolon Fix

DIVERTIKEL KOLON

I. PENDAHULUANDivertikulosis merupakan suatu keadaan pada kolon yang dicirikan dengan adanya hernasi mukosa melalui muskularis yang membentuk kantong seperti botol. Bila satu kantong atau lebih mengalami peradangan, keadaan ini disebut sebagai divertikulitis.1Divertikulosis sangat sering dijumpai pada masyarakat Amerika dan Eropa, diperkirakan sekitar separuh populasi dengan umur lebih dari 50 tahun memiliki divertikula kolon. Kolon sigmoid adalah tempat yang paling sering terjadinya divertikulosis Divertiklosis kolon merupakan penyebab yang umum dari perdarahan saluran cerna bagian bawah, berperan hingga 40% sampai 55% dari semua kasus perdarahan. Divertikula kolon merupakan lesi yang diperoleh secara umum dari usus besar pada perut.2

Gambar 1. Diverticulosis pada KolonDikutip dari kepustakaan 3

Divertikulosis diperkirakan sebagai kelainan yang didapat, tetapi etiologinya tidak terlalu dipahami. Teori yang paling banyak diterima adalah tentang kurangnya dietary fiber yang menghasilkan volume feses yang kecil, sehingga membutuhkan tekanan intraluminal yang tinggi dan regangan dinding kolon yang tinggi untuk propulsi.2,3II. EPIDEMIOLOGIInsidensi divertikulosis secara keseluruhan tinggi, penyakit ini menyerang sekitar 10% penduduk menurut sebagian besar pemeriksaan mayat. Divetikulosis jarang terjadi pada usia dibawah 35 tahun, tetapi meningkat seiring bertambahnya usia sehingga pada usia 85 tahun, duapertiga penduduk mengalami penyakit ini. Lokasi terjadinya divertikulosis yang paling sering adalah kolon sigmoid yaitu sekitar 90% kasus.1Menurut jenis kelamin, divertikulosis pada usia 70 tahun perempuan lebih sering daripada laki-laki.4Pada pemeriksaan kolonoskopi terhadap 876 pasien di RS. Pendidikan Makassar, ditemukan 25 pasien (2,85%), penyakit divertikular dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 5:3, umur rata-rata 63 tahun dengan persentase terbanyak pada kelompok umur 60-69 tahun. Hematokezia merupakan gejala terbanyak dan lokalisasinya terutama di kolon bagian kiri (kolon sigmoid atau kolon desendens).4

III. ANATOMI DAN FISIOLOGIa. Anatomi KolonUsus besar atau kolon berbentuk tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 1,5 m (5 kaki) yang terbentang dari sekum hingga kanalis ani. Diameter usus besar sudah pasti lebih besar daripada usus kecil, yaitu sekitar 6,5 cm (2,5 inci), tetapi makin dekat anus diameternya semakin kecil.1Usus besar dimulai dari valvula ileocaecal sampai anus, usus besar dibagi menjadi sekum, kolon dan rektum. Pada sekum terdapat katup ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. Sekum menempati sekitar dua atau tiga inci pertama dari usus besar. Katup ileosaekal mengendalikan aliran kimus dari ileum ke dalam sekum dan menceah terjadinya aliran balik bahan fekal dari usus besar ke usus halus. Kolon dibagi lagi menjadi kolon asenden, transversum, desenden dan sigmoid. Tempat kolon membentuk kelokan tajam pada abdomen kanan dan kiri atau berturut-turut disebut sebagai fleksura hepatica dan fleksura lienalis. Kolon sigmoid mulai setinggi krista iliaka dan membentuk lekukan berbentuk-S. Lekukan bagian bawah membelok ke kiri sewaktu kolon sigmoid bersatu dengan rektum.1,2Hampir seluruh usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti yang ditemukan pada bagian usus lain. Lapisan otot longitudinal usus besar tidak sempurna, tetapi terkumpul dalam tiga pita yang disebut taenia coli. Panjang taenia lebih pendek daripada usus, sehingga usus tertarik dan berkerut membentuk kantong-kantong kecil yang disebut sebagai haustra. Apendises epiplopika adalah kantong-kantong kecil peritonium berisi lemak dan melekat di sepanjang taenia. Lapisan mukosa usus besar jauh jauh lebih tebal daripada lapisan mukosa usus halus dan tidak mengandung vili atau rugae. Kripte Lieberkuhn (kelenjar intestinal) terletak lebih dalam dan mempunyai lebih banyak sel goblet dibandungkan usus halus.1,2,5

Gambar 2. Anatomi Kolon dan Potongan Melintang KolonDikutip dari Kepustakaan 5

Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan berdasarkan suplai darah yang diterima. Sekum, kolon asendens dan bagian kanan kolon trensversum diperdarahi oleh cabang arteri mesenterika superior yaitu arteri ileokolika, arteri kolika dekstra, dan arteri kolika media, sedangkan kolon trasversum bagian kiri, kolon descendens, kolon sigmoid dan sebagian besar rektum diperdarahi oleh arteri mesenterika inferior melalui arteri kolika sinistra, arteri sigmoid dan arteri hemoroidalis superior. Suplai tambahan ke rektum berasal dari arteri hemoroidalis media dan inferior yang dicabangkan dari arteri iliaka interna dan aorta abdominalis.2,5,6

Gambar 3. Pembuluh Darah Arteri pada KolonDikutip dari kepustakaan 5

Pembuluh vena kolon berjalan paralel dengan arterinya. Aliran darah vena disalurkan melalui vena mesenterika superior untuk kolon ascendens dan kolon transversum dan melalui vena mesenterika inferior untuk kolon descendens, sigmoid dan rektum. Keduanya bermuara ke dalam vena porta, tetapi vena mesenterika inferior melalui vena lienalis. Aliran vena dari kanalis analis menuju ke vena kava inferior.2,5,6

Gambar 4. Pembuluh Darah Arteri pada KolonDikutip dari kepustakaan 5

Kelenjar getah bening umumnya dikelompokkan tergantung pada lokasinya. Kelenjar Epicolic terletak di sepanjang dinding usus dan appendiks epiploica. Kelenjar paraclic yang berdekatan dengan arteri marginal. Kelenjar intermediate terletak di sepanjang cabang utama dari pembuluh darah besar, Kelenjar principal (utama) terletak di arteri mesenterika superior atau inferior. Aliran limfe kolon sejalan dengan aliran darahnya. Hal ini penting diketahui sehubungan dengan penyebaran keganasan dan kepentingannya dalam reseksi keganasan kolon. Sumber aliran limfe terdapat pada muskularis mukosa. 5,6

Gambar 5. Aliran pada KolonDikutip dari kepustakaan 5Persarafan usus besar dilakukan oleh sistem saraf otonom kecuali sfingter eksterna yang berada dalam pengendalian voluntar. Kolon dipersarafi oleh serabut saraf simpatis yang berasal dari nervus splanknikus dan pleksus presakralis serta serabut saraf simpatis yang berasal dari nervus vagus. Rangsangan simpatis menghambat sekresi dan kontraksi serta merangsang sfringter rektum. Rangsangan parasimpatis mempunyai efek yang berlawanan.1,6

b. Fisiologi KolonFungsi usus besar adalah menyerap air, vitamin dan elektrolit, eksresi mukus serta menyimpan feses, dan kemudian mendorongnya keluar. Usus besar memiliki berbagai fungsi yang semuanya berkaitan berkaitan dengan proses akhir isi usus. Fungsi yang paling penting dalah absorpsi air dan elektrolit, yang sudah hampir selesai dalam kolon dekstra. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang enampung feses yang sudah terdehidrasi hingga berlangsungnya defekasi.1,6Kolon mengabsorpsi sekitar 800 ml air perhari, bandingkan dengan usus halus yang mengabsorpsi sekitar 8000 ml. Namun demikian, kapasitas absorpsi usus besar adalah sekitar 1500-2000 ml/hari. Bila jumlah ini dilampaui (misalnya akibat hantaran cairan berlebihan dari ileum) akan mengakibatkan diare. Berat akhir feses yang dikeluarkan per hari sekitar 200 g dan 80-90% diantaranya adalah air. Sisanya terdiri dari residu makanan yang tidak terabsorpsi, bakteri, sel epitel yang terlepas dan mineral yang tidak terabsorpsi.1Sejumlah kecil penecernaan dalam usus besar terutama disebabkan oleh bakteri dan bukan oleh kerja enzim. Usus besar menyekresi mukus alkali yang tidak mengandung enzim. Mukus ini bekerja untum melumas dan melindungi mukosa. Pembentukan berbagai gas seperti NH3, CO2, H2, H2S dan CH4 membantu pembentukan gas (flatus) dalam kolon, fermentasi bakteri pada sisa karbonhidrat juga melepaskan CO2, H2 dan CH4 yang juga beperan dalm pembentukan flatus dalam kolon. Dalam sehari secara normal dihasilkan sekitar 1.000 ml flatus.1,5Pada umumnya usus besar bergerak secara lambat. Gerakan usus besar yang khas adalah gerakan pengadukan haustral. Kantong atau haustra meregang dan dari waktu ke waktu otot sirkular akan berkontraksi untuk mengosongkannya. Gerakan ini tidak progresif, tetapi menyebabkan isi usus bergerak bolak-balik dan meremas-remas sehingga memberi cukup waktu untuk terjadinya absorpsi.1,5Terdapat dua jenis peristaltik propulsif: 1) kontraksi lambat dan tidak teratur, berasal dari segmen proksimal dan bergerak kedepan, menyumbat beberapa haustra, dan 2) peristaltik massa, merupakan kontraksi yang melibatkan segmen kolon. Gerakan peristaltik ini menggerakkan massa feses ke depan dan akhirnya merangsang defekasi.1

IV. ETIOLOGI DAN PATOGENESISMenurut Painter dan Burkitt pada tahun 1960, penyebab terjadinya penyakit divertikel adalah kurangnya serat dan rendahnya residu dalam makanan yang dikonsumsi sehingga menyebabkan perubahan milieu interior dalam kolon, pendapat tersebut diperkuat oleh penelitian-penelitian selanjutnya dimana terbukti bahwa kurangnya serat dalam makanan merupakan faktor utama terjadinya penyakit divertikel sehingga disebut juga penyakit defisiensi serat.4,7Pada mereka yang mengkonsumsi kurang serat akan menyebabkan penurunan massa feses menjadi kecil-kecil dan keras, waktu transit kolon yang lebih lambat sehingga menyebabkan absorpsi air lebih banyak dan output menurun menyebabkan tekanan dalam kolon meningkat untuk mendorong massa feses mengakibatkan segmentasi kolon yang berlebihan. Pada segmentasi yang meningkat akan terjadi oklusi pada kedua ujung segmen sehingga tekanan intraluminal meningkat secara berlebihan dan menyebabkan terjadi herniasi mukosa/submukosa dan terbentuk divertikel.2,4,7Divertikel saluran cerna paling sering ditemukan dikolon, khususnya disigmoid. Divertikel kolon adalah divertikel palsu karena terdiri atas mukosa yang menonjol melalui lapisan otot seperti hernia kecil. Divertikel ini disebut divertikel pulsi (pukulan) karena disebabkan oleh tekanan tinggi di usus bagian distal ini. Besarnya berkisar antara beberapa milimeter sampai d