Referat Cardio Emergency

download Referat Cardio Emergency

of 24

  • date post

    04-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    222
  • download

    0

Embed Size (px)

description

cardio

Transcript of Referat Cardio Emergency

3

BAB II

ELEKTROKARDIOGRAMA. PendahuluanElektrokardiogram (EKG) adalah rekaman listrik jantung yang diperoleh dengan bantuan elektroda yang ditempel di permukaan tubuh seseorang. Elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari tentang EKG. Elektrokardiograf sendiri sebenarnya adalah suatu alat yang sederhana, relatif murah, praktis dan dapat dibawa ke mana-mana, tetapi harus diingat bahwa walaupun alat ini sangat berguna, banyak pula keterbatasannya. Dalam usaha menginterpretasikan gambaran elektrokardiogram harus selalu diingat bahwa gambaran EKG normal belum tentu menunjukkan jantung normal, sebaliknya gambaran EKG abnormal belum tentu menunjukkan jantung yang tidak normal pula. Betapa banyak kita lihat penderita yang menunjukkan stenosis bermakna di arteri koroner, ternyata mereka mempunyai EKG normal. Sebaliknya, kitapun banyak melihat wanita-wanita muda yang EKG-nya menunjukkan gambaran abnormal seperti gelombang T terbalik di sandapan prekordial, ternyata mempunyai jantung yang normal, termasuk arteri koronernya. Bagaimanapun, EKG hanya merupakan alat bantu diagnosis penyakit jantung. Gambaran klinis penderita tetap merupakan pegangan yang penting dalam diagnosis, apalagi penatalaksanan penyakit penderita. Suatu kesalahan yang besar bilamana diagnosis dan penatalaksanaan penderita hanya semata-mata didasarkan pada rekaman EKG.(Lily Ismudiantiati Rilantono, 1996)Dalam bab ini akan dibahas mengenai: 1) Anatomi sistem konduksi, 2) Cara membuat rekaman EKG, 3) EKG normal, 4) Hipertrofi atrium dan ventrikel, 5) Gangguan konduksi intraventrikuler, 6) Iskemi dan infark miokard, 7) Bradikardi (Gangguan nodus sinus dan Blok nodus AV), 8) Takikardi (Takikardi Supraventrikuler dan Takikardi Ventrikuler). (Lily Ismudiantiati Rilantono, 1996)B. Anatomi sistem konduksiPada orang normal, rangsangan listrik jantung berawal dinodus sinoatrial (SA). Rangsang itu kemudian dihantarkan keseluruh jantung melalui jaringan konduksi tertentu. Dari nodus SA ke nodus AV (atrioventri-culernode), rangsang dihantarkan melalui traktus intranodal (anterior, medial dan posterior). Berkas His mulai dari nodus AV, melewati central fibrous body sehingga mencapai tepi atas septum interventrikuler. Dari sini berjalan pada sisi kiri pars membranosa. Berkas cabang kanan (RBB - right bundle branch) biasanya merupakan terusan berkas His. la berjalan sebagai struktur tunggal di lapisan subendokard di sisi kanan sehingga mencapai dasar muskulus papilaris anterior. Dari sini ia terbagi menjadi 3, yakni cabang anterior, posterior dan lateral. Yang terakhir ini menuju dinding lateral ventrikel kanan (RV) dan bagian bawah septum membentuk bangunan seperti kipas yang akhirnya sebagai anyaman Purkinje. Cabang kiri (LBB = left bundle branch)umumnya mempunyai variasi yang lebih banyak. Segera setelah bercabang dari berkas His, ia terbagi 2 atau lebih, yang berjalan di subendokard dan masing-masing membentuk bangunan seperti kipas. Biasanya terdapat hubungan satu sama lain. Fasikulus anterior (superior) terdiri dari bangunan panjang dan tipis berjalan menuju muskulus papilaris anterior. Sedang fasikulus posterior (inferior) biasanya lebih pendek dan lebih lebar menuju ke septum bagian posterior. Kadang-kadang ditemukan fasikulus septal. (Lily Ismudiantiati Rilantono, 1996)C. Cara membuat rekaman EKGRangsang listrik jantung yang berasal dari nodus SA dan menyebar ke atrium, nodus AV dan akhirnya ke ventrikel, dapat direkam sebagai bentuk EKG. Gelombang yang terekam secara alfabetis diberi nama P, Q, R, S, T dan U.

Gambar 1 EKG Normal

Gambar 2 Variasi EKGKeterangan gambar:Gelombang P

( Depolarisasi Atrium

Kompleks QRS( Depolarisasi Ventrikal

Segmen ST

Gelombang T

( Repolarisasi Ventrikal

Gelombang U

Gelombang P, QRS, T dan U direkam pada kertas khusus. Ada 2 macam sistem yang biasa digunakan oleh mesin-mesin EKG di pasaran yaitu sistem yang menggunakan pemanas dan sistem yang menggunakan injektor tinta. Pada sistem dengan pemanas, jarum (stylus) yang dipanasi menempel pada kertas EKG sehingga menyebabkan bekas (hitam atau biru) membentuk gambaran EKG. Tebal tipisnya rekaman EKG dapat diatur berdasarkan derajat pemanasan jarum. Makin panas makin tebal rekaman EKG. Bilamana sistem pemanasan putus atau macet, maka rekaman EKG tidak dapat dibuat. Sistem ini paling banyak dipakai. Sistem kedua adalah dengan injektor tinta, dimana rekaman EKG dibuat dari semprotan tinta. (Lily Ismudiantiati Rilantono, 1996)Kertas EKG yang dijual di pasaran, sudah siap dengan garis-garis halus yakni garis vertikal dan horizontal. Garis-garis vertikal dan horizontal tersebut membentuk kotak-kotak kecil bujur sangkar dengan sisi 1 mm. Setiap 5 mm garis vertikal maupun horizontal terdapat garis yang lebih tebal. Garis yang lebih tebal ini membentuk kotak bujur sangkar dengan sisi 5 mm. Yang harus diperhatikan dalam merekam EKG adalah kecepatan kertas dan standarisasi amplitudo. (Lily Ismudiantiati Rilantono, 1996)Kecepatan baku yang biasa digunakan adalah 25 mm/detik sehingga tiap mm kertas menunjukkan 0,04 detik. Tiap kotak besar (5 mm) menunjukkan 0,20 detik. Kebanyakan mesin-mesin EKG mempunyai 2 kecepatan yakni 25 mm/detik dan 50 mm/detik. (Lily Ismudiantiati Rilantono, 1996)Standarisasi amplitudo baku yang biasa dipakai adalah 1, artinya tiap 1 cm defleksi vertikal menunjukkan 1 mV. Bilamana gambaran EKG terlalu besar sehingga seluruh defleksi gelombang QRS tidak tertangkap, maka standarisasi dapat diturunkan menjadi 1/2 (dalam hal ini 1 mV sama dengan 0,5 cm atau 5 mm). Sebaliknya bila rekaman EKG kelihatan terlalu kecil seperti pada low voltage maka standarisasi dapat dinaikkan menjadi 2 (1 mV samadengan 2 cm). (Lily Ismudiantiati Rilantono, 1996)Apabila terlihat bentuk QRS lebar, jangan terburu-buru menilai bahwa rekaman EKG menunjukkan adanya gangguan hantaran intraventrikular, tetapi lihat dulu bagaimana bentuk gelombang P. Bilamana gelombang P juga lebar dan interval PR juga memanjang maka kekeliruan kecepatan (kecepatan 50 mm/detik) mungkin menjadi penyebab lebarnya gelombang QRS. (Lily Ismudiantiati Rilantono, 1996)Dari uraian mengenai kecepatan kertas EKG dan standarisasi amplitudo, maka ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam setiap rekaman EKG. Pertama adalah lebar (lama) gelombang, yang biasanya dinyatakan dengan detik atau mili detik dan kedua adalah amplitudo (voltage) yang biasa dinyatakan dengan mm (standarisasi 1) atau mV. Dalam memberikan uraian mengenai amplitudo atau defleksi, jangan lupa menyatakan positif atau negatif. Positif bila defleksinya keatas, dan negatif bila defleksinya ke bawah. (Lily Ismudiantiati Rilantono, 1996)D. Sandapan EKGAliran listrik jantung seperti yang diterangkan di atas mempunyai besaran dan arah (vektor). Oleh karena tubuh merupakan konduktor listrik yang cukup baik, maka rekaman yang dilakukan melalui elektroda yang diletakkan di permukaan tubuh yang jauh letaknya dari jantung tetap dapat dilakukan. Oleh karena aliran listrik jantung merupakan vektor, maka rekaman perlu dilakukan dari berbagai sudut. Oleh karena itulah dibuat rekaman dari berbagai sandapan. Dikenal 12 sandapan EKG. Enam sandapan dinamakan sandapan ekstremitas yakni I, II, III, aVR, aVL dan aVF. Sandapan-sandapan ini diperoleh dari rekaman dengan elektroda yang diletakkan di ekstremitas. Keenam sandapan ekstremitas dibagi lagi menjadi 2 subkelompok yakni sandapan ekstremitas bipolar (I, II, III) dan sendapan ekstremitas unipolar (aVR, aVL dan aVF).Enam sandapan lainnya adalah sandapan prekordial. Elektroda diletakkan di berbagai posisidi dinding dada.

Gambar 3 Posisi sandapanE. Sandapan ekstremitas bipolarUntuk merekam sandapan ini semua ekstremitas penderita dihubungkan melalui elektroda logam dengan kabel konektor ke mesin EKG. Kaki kanan hanya berfungsi sebagai electrical ground. Sebenarnya rangsang listrik jantung diteruskan oleh tubuh ke ekstremitas. Oleh karena itu elektroda yang diletakkan di pergelangan tangan kanan sebenarnya merekam potensial listrik jantung di bahu kanan penderita, demikian pula elektroda yang diletakkan di pergelangan tangan kiri. Meletakkan elektroda di pergelangan tangan atau kaki semata-mata untuk kepraktisan. Jelaslah, pada penderita dengan ekstremitas yang puntung, elektroda dapat diletakkan pada bagian paling distal dari puntung ekstremitas.Sandapan bipolar disebut demikian oleh karena sandapan ini hanya merekam perbedaan tegangan dari 2 elektroda. Sandapan I merekam perbedaan tegangan antara lengan kiri dan lengan kanan. Sandapan II merekam perbedaan tegangan antara kaki kiri (LL - left leg) dengan lengan kanan (RA - right arm) dan sandapan III merekam perbedaan tegangan antara kaki kiri (LL) dengan lengan kiri (LA - left arm), Secara skematis, ketiga sandapan ini dapat digambarkan.sebagai segi>tiga Einthoven. RA Lead 1 LA

Gambar 4. Segitiga EinthovenSeperti terlihat dalam gambar diatas maka sandapan I merupakan garis horisontal. Elektroda lengan kiri sebagai kutub positif dan elektroda lengan kanan sebagai kutub negatif, sehingga I - LA - RA (potensial tangan kiri potensial tangan kanan). Sandapan II serong ke bawah. Kutub positif di kaki kiri, sedang kutub negatif di tangan kanan. Oleh karena itu II - LL - RA (potensial kaki kiri tangan kanan). Sandapan III juga serong kebawah. Kutub positif di kaki kiri sedang kutub negatif di tangan kiri, oleh karena itu III - LL - LA. Hubungan antara ketiga sandapan itu sebagai berikut: Sandapan I + III = IIDengan kata lain, tegangan I ditambah tegangan III sama dengan tegangan II. I = LA - RA III = LL LA + I + III = LL RA=II

F. Sandapan unipolarSadapan unipolar akan mengukur potensial listrik jantung dari satu tempat ke tempat lain yang mempunyai potensial nol. Tempat terakhir ini adalah dengan menghubungkan ketiga