Presentasi Kasus Saraf SNH

of 47 /47
Moderator: dr. Tugas Ratmono Sp.S Disusun oleh : Holy Fitria Ariani (07120100080) Presentasi Kasus Stroke Non Hemoragik Kepaniteraan Klinik Ilmu Saraf RSPAD Gatot Soebroto Universitas Pelita Harapan Period 21 April – 25 Mei 2014

Embed Size (px)

description

b

Transcript of Presentasi Kasus Saraf SNH

PowerPoint Presentation

Moderator: dr. Tugas Ratmono Sp.SDisusun oleh : Holy Fitria Ariani (07120100080)Presentasi KasusStroke Non Hemoragik

Kepaniteraan Klinik Ilmu Saraf RSPAD Gatot SoebrotoUniversitas Pelita Harapan Period 21 April 25 Mei 2014Identitas PasienNo.Rekam Medik: 420710Nama : Tn. DSUmur: 62 tahunJenis Kelamin: Laki-lakiAgama: KristenStatus pernikahan: MenikahSuku bangsa: BatakPekerjaan: Pegawai Negeri Sipil PEMDA DKITanggal masuk: 03-06-2014Dirawat yang ke: 2 (kedua) kaliTanggal diperiksa: 03-06-2014 (Perawatan hari ke-1)

AnamnesaAutoanamnesa dan alloanamnesis pada tanggal 3 mei 2014

Keluhan Utama : Kelemahan pada anggota gerak sebelah kiri sejak 2 hari yang lalu.

Kelamahan Tambahan :Biacara pasien pelo.

Riwayat Penyakit Sekarang3 mei 2014 pasien datang ke rumah sakit RSPAD Gatot Soebroto dengan kelemahan anggota gerak sebelah kiri dan biacara pelo sejak 2 hari yang lalu. Sebelum di bawa ke RSPAD, pasien dibawa ke salah satu RS swasta di JakartaPada mulanya pasien yang sedang tidur kaget karena saat bangun tubuh pasien lemah secara mendadak pada sebelah kiri dan bicara pasien tiba-tiba pelo. Pasien mengatakan sebelum terjadinya kelemahan pasien mengkonsumsi soto daging sebelum. Pasien menyangkal adanya mual, muntah, demam, dan sakit kepala.. 2 hari SMRSRiwayat PenyakitTerdahuluPasien mengatakan dirinya memiliki riwayat stroke sebelumnya sekitar 2,5 tahun yang lalu. Saat serangan stroke pertamanya, kelemahan yang dirasakan pasien juga berada di sisi sebelah kiri tubuh pasien tetapi tidak disertai dengan bicara pelo. Saat serangan stroke pertama, pasien dirawat di Rumah Sakit selama 2 minggu.Pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi sejak 5 tahun yang lalu. Hipertensi pasien merupakan hipertesi grade II dan tidak terkontrol. Hanya bila saat pasien sakit kepala dan saat pasien mengetahui tensinya tinggi, pasien baru meminum obat captopril. Selain itu pasien juga memiliki riwayat penyakit DM sejak beberapa tahun yang lalu. untuk DMnya pasien rutin meminum obat metformin.Pasien memiliki kebiasaan merokok sejak SMP. Pasien bisa merokok kira-kira 4 bungkus sehari. Pasien sudah berhenti merokok sejak 2,5 tahun yang lalu saat pasien mengalami stroke pertama. Kebiasaan makan pasien baik dan istri pasien selalu mengkontrolnya karena pasien cenderung ingin mengkonsumsi makanan tinggi kolesterol. Riwayat Kebiasaan Pasien Pasien mengatakan keluarganya tidak ada mengalami keluhan seperti dirinya.

Tidak ada penyakit keturunan seperti kanker ataupun jantung di keluarga pasien. Riwayat Penyakit KeluargaPemeriksaan FisikStatus Internus :

Keadaan Umum: Tampak sakit sedangGizi: BaikBB: 65 kg,TB: 168 cm, BMI : 23.03 (18.50-24.99) NormalTanda Tanda VitalTekanan Darah Kanan: 175 / 110 mmHgTekanan Darah Kiri: 170 / 100 mmHgNadi Kanan: 75x / menitNadi Kiri: 71 x / menitPernafasan: 20 x / menitSuhu: 36,3oC (per aksila)Limfonodi: Tidak teraba pembesaran KGBJantung: Bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-).Paru: Suara nafas vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-). Hepar: Tidak teraba. Lien: Tidak teraba.Ekstremitas: Akral hangat, edema (-), sianosis (-), perfusi < 2 detik.

Status Psikiatri :Tingkah laku: Baik, wajar.Perasaan hati: Euthym.Orientasi: Baik.Jalan fikiran: Koheren.Daya ingat: Baik.

Status NeurologisTingkah Kesadaran: Kompos mentisE4M6V5GCS15.Sikap tubuh: Berbaring terlentang.Cara berjalan: Sulit dilakukan.Gerakan abnormal: tidak ada.KepalaBentuk: Normocepal.Simetris: Simetris.Pulsasi : Teraba pulsasi arteri temporalis (+/+).Nyeri tekan: Tidak ditemukan.LeherSikap: Normal.Gerakan: Bebas ke segala arah..Vertebra: Dalam batas normal.Nyeri tekan: Tidak ditemukan.

Tanda Rangsang Meningeal kanankiriKaku Kuduk:(-)Laseque:> 700> 700Kernig:> 1350> 1350Brudzinsky I:(-)(-)Brudzinsky II:(-)(-)

Nervi CranialiskanankiriN. I (Olfaktorius) Daya penghidu:NormosmiaNormosmiaN. II (Optikus) Ketajaman penglihatan:> 6/60> 6/60 Pengenalan warna:BaikBaik Lapang pandangan:Sama dengan pemeriksa Fundus:Tidak dilakukan

N. III (Okulomotorius) / N. IV (Trokhlearis) / N. VI (Abdusens) Kanan KiriPtosis: (-)(-)Strabismus:(-)(-)Nistagmus:(-)(-)Eksoftalmus:(-)(-)Enoftalmus:(-)(-)Gerakan Bola MataLateral:(+)(+)Medial:(+) (+)Atas Lateral:(+)(+)Atas Medial:(+)(+)Bawah Lateral:(+)(+)Bawah Medial:(+)(+)Atas:(+)(+)Bawah:(+)(+)Gaze:Baik ke segala sisiPupilUkuran Pupil:3 mm3 mmBentuk Pupil:BulatBulatIsokor / Anisokor:IsokorPosisi:Di tengahRefleks Cahaya Langsung :(+)(+)Refleks Cahaya Tidak Langsung :(+)(+)Refleks Akomodasi / Konvergensi:(+)(+)

N. V (Trigeminus)kanankiriMenggigit:(+)(+)Membuka mulut:(+)(+)SensibilitasAtas:(+)(+)Tengah:(+)(+)Bawah:(+)(+)Refleks masseter:(+) normal(+) normalRefleks zigomatikus:(-)(-)Refleks kornea:(+)(+)Refleks bersin:Tidak dilakukanN.V II (Fasialis)Pasif:Kerutan kulit dahi:(+)simetris(+)Kedipan mata:(+)simetris(+)Lipatan nasolabial: Lipatan sebelah kiri tertinggalSudut mulut :Sudut sebelah kiri tertinggalAktif:Mengerutkan dahi:(+)simetris(+)Mengerutkan alis:(+)simetris(+)Menutup mata:(+)simetris(+)Meringis:Sudut sebelah kiri tertinggalMenggembungkan pipi: simetrisGerakan bersiul:simetrisDaya pengecapan lidah 2/3 depan :Tidak dilakukanHiperlakrimasi:(-)(-)Lidah kering:(-)

N. VIII (Akustikus)Mendengar suara gesekan jari tangan: (+)/(+)Mendengar detik arloji:(+)/(+)Tes Schwabach:Tidak dilakukanTes Rinne:Tidak dilakukanTes Weber:Tidak dilakukanN. IX (Glossofaringeus) kanan kiriArkus faring:Simetris.Posisi uvula:Di tengah (sentral), tidak deviasi.Daya pengecapan lidah 1/3 belakang :Tidak dilakukan.Refleks muntah:Tidak dilakukan.

N. X (Vagus)Denyut nadi:Teraba reguler, ekual.Arkus faring:Simetris.Bersuara:Jelas, tidak sengau.Menelan:Baik, tidak tersedak.N. XI (Aksesorius)Memalingkan kepala:Baik /BaikSikap bahu:Simetris, sama tinggi.Mengangkat bahu: (+)/(+)N. XII (Hipoglossus)Menjulurkan lidah:Deviasi ke sebelah kiriKekuatan lidah: Melemah (Kurang)Atrofi lidah: Tidak ditemukanArtikulasi: Terganggu (pelo)Tremor lidah: Tidak tampak

Refleks FisiologiskanankiriRefleks TendonRefleks Biceps:(++)(+++)Refleks Triceps:(++)(+++)Refleks Patella:(++)(+++)Refleks Achilles:(++)(+++)Refleks Periosteum : Tidak dilakukanRefleks PermukaanDinding perut:(+)(+)Kremaster: Tidak dapat dilakukanSfingter Ani: Tidak dilakukanRefleks PatologisHoffman Trommer:(-)(-)Babinski:(-)(+)Chaddock:(-)(+)Oppenheim:(-)(-)Gordon:(-)(+)Schaeffer:(-)(-)Rosollimo:(-)(-)Mendel Bechterew:(-)(-)Klonus paha:(-)(-)Klonus kaki:(-)(-)

Sensibilitas Kanan KiriEksteroseptifNyeri:BaikBaikSuhu:BaikBaikTaktil:BaikBaikProprioseptifVibrasi:Tidak dilakukanPosisi:BaikBaikTekan dalam:BaikBaikKoordinasi dan KeseimbangankanankiriTes Romberg: tidak dapat dilakukanTes Tandem: tidak dapat dilakukanTes Fukuda: tidak dapat dilakukanDisdiadokokinesis: tidak dapat dilakukanRebound phenomenon: tidak dapat dilakukanDismetri: tidak dapat dilakukanTes telunjuk hidung:Baiktidak dapat dilakukanTes telunjuktelunjuk: tidak dapat dilakukanTes tumit lutut: tidak dapat dilakukan

Fungsi OtonomMiksi Inkontinensia: tidak dapat dinilaiRetensi: tidak dapat dinilaiAnuria: tidak dapat dinilai*Pasien ini dipasang kateterDefekasiInkontinensia: tidak adaRetensi: tidak adaFungsi LuhurFungsi bahasa: baikFungsi orientasi: baikFungsi memori: baikFungsi emosi: baikFungsi kognitif: baik

Pemeriksaan PenunjangHasil pemeriksaan laboratorium tanggal 3 Mei 2014

Hasil pemeriksaan CT Scan kepala non kontras tanggal 3 Mei 2014

Kesan: Infark di kortikal dan subkortikal lobus parietal kanan region vertex, di periventrikel lateralis kiri, kapsula externa kiri dan infark lakunar dan mesensefalon.Hasil pemeriksaan Rontgen thoraks tanggal 3 Mei 2014

Kesan: Kardiomegali dan aorta elongasi. Tak tampak kelainan pada paru.

ResumePasien laki-laki datang ke RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan kelemaan anggota gerak sebelah kiri sejak 2 hari yang lalu. Pada mulanya pasien sedang tidur lalu pada saat pasien bangun tidur secara mendadak pasien merasakan dirinya mengalami kelemahan pada anggota gerak sebelah kirinya dan bicaranya pelo. Pasien memiliki riwayat serangan stroke 2,5 tahun yang lalu. pasien mengalami kelemahan pada sebelah kiri tetapi tidak mengalami bicara pelo. Pasien sembuh dari strokenya dan dapat beraktivitas kembali. Pasien memilki riwayat hipertensi tidak terkontrol. Pasien juga memiliki riwayat DM tetapi rutin meminum obat metformin. Pasien memiliki riwayat merokok sejak SMP tetapi telah berenti sejak serangan stroke pertama kurang lebih 2,5 tahun yang lalu. Pasien juga memiliki kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan tinggi kolesterol. Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum baik, tekanan darah 170/90 mmHg. Suhu afebris. GCS 15, Status internus lainnya ditemukan dalam batas normal. Status psikiatris dalam batas normal. Kelainan Neurologis yang ditemukan:Nervus kranialis: N. VII Pasif : Lipatan nasolabial tertinggal sebelah kiri dan sudut mulut tertinggal sebelah kiri.N VII Aktif: Saat pasien meringis, bagian sebelah kiri sudut bibir pasien tertinggalN. XII : Lidah deviasi ke kiri saat dijulurkan, kekuatan otot lidah melemah, dan artikulasi terganggu.MotorikGerakan: Bebas pada anggota gerak kanan dan sulit di gerakan pada anggota gerak kiri.Trofi : Atrophy tampak pada telapak tangan dan jari tangan kiri.Kekuatan

Refleks fisiologis Biceps : (++) / (+++)Triceps: (++) / (+++)Patella: (++) / (+++)Achiless: (++) / (+++)

Hasil pemeriksaan penunjang:Laboratorium: hiperglikemia (GDS: 145 mg/dL), Hipokalemia (3,4 mmol/L).CT Scan kepala :Infark di kortikal dan subkortikal lobus parietal kanan region vertex, di periventrikel lateralis kiri, kapsula externa kiri dan infark lakunar dan mesensefalon.*infark lama di insula sisi kiri dan kapsula externa kiriRontgen thoraks AP: Kardiomegali dan aorta elongasi. Tak tampak kelainan pada paru.

DiagnosisDIAGNOSISDiagnosa Klinis: Hemiparese sinistra spastik, Parese N. VII sinistra tipe sentral, Parese N. XII sinistra tipe sentral.Diagnosa Topik: Hemisfer serebral dextraDiagnosa Etiologi: Stroke Non Hemoragik

Diagnosa Banding: Stroke Hemoragik

PenatalaksanaanPengelolaan umum :Breathing Diberikan Oksigen 2-4 L/menit.Blood pantau tekanan darah setiap jam 12 siang, jam 5 sore, jam 10 malam, dan jam 5 pagi.Brain pemberian citicoline sebagai neuroprotektor.Bladder pasien dipasang folley kateter untuk memudahkan urinasi.Bowel Infus Ringer Laktat 1000 ml / 24 jam. kebutuhan cairan dan kalori terus dipantau, dan pasien masih dapat makan dan minum per oral.Bone cegah terjadinya dekubitus, posisi pasien miring kanan dan kiri bergantian. Pasien koperatif, dapat melakukannya sendiri walau kadang-kadang butuh bantuan karena adanya kelemahan pada sisi kiri pasien.

MedikamentosaTerapi dari departemen neurologi:Injeksi Citicoline 500 mg/ 12 jamClopidogrel 75 mg/ 24 jam POTerapi Hipertensi :Captopril 12,5 mg / 8 jam POTerapi Lainnya :Ranitidin 1 amp

Non Medikamentosa:Pengendalian faktor resiko, pada pasien ini adalah hipertensi dan kadar gula darah. Dengan makan makanan rendah garam, rendah kolesterol dan diet diabetes sesuai jumlah kebutuhan kalori. Fisioterapi ntuk mengoptimalkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional pasien stroke, sehingga mampu mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penanganan fisioterapi pasca stroke adalah kebutuhan yang mutlak bagi pasien untuk dapat meningkatkan kemampuan gerak dan fungsinya.Pemeriksaan Anjuran:MRI kepala non kontras untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih teliti lagi adanya lesi atau sesuatu yang abnormal pada jaringan dan vaskularisasi otak.Profil lipid (kolesterol total, LDL, HDL, Trigliserida)

PrognosisVIII. PROGNOSISAd vitam : BonamAd fungsionam : Dubia ad bonamAd sanam: Dubia ad bonamAd cosmeticum: Bonam

Analisa KasusPasien mengeluhkan kelemahan pada anggota gerak sebelah kiri yang terjadi secara mendadak saat pasien bangun tidur. Lalu pasien juga mengalami gangguan berbicara yaitu bicara pelo. Pada kasus ini diagnosa klinis hemiparese sinistra spastik, parese N.VII tipe sentral, dan parese N. VIII tipe sentral ditegakkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap pasien :

Tampak kelemahan pada sisi kiri tubuh pasien disertai kaku.Kekuatan motorik dari pasien yang kurang.Pemeriksaan reflex fisiologis menunjukan hiperefleks pada anggota gerak sebelah kiri.Reflex patologis, positif pada babinski, chaddock, dan gordon. Telapak tangan dan jari tangan pasien sebelah kiri, terlihat otot yang mengalami atrofiLesi UMNUntuk pemeriksaan fisik nervus kranialis, didapatkan parese N. VII sinistra tipe sentral, terlihat dari nasolabial dan sudut bibir kiri yang tertinggal. Saat pasien diperintah untuk meringis, terlihat bahwa sudut bibir kirinya tertinggal. Lalu didapatkan juga parese N. XII sinistra tipe sentral yang terlihat pada saat pasien berbicara terdapat gangguan artikulasi. Lalu saat pasien menjulurkan lidahnya, lidah pasien deviasi ke sebelah kiri. Kekuatan dari lidah pasien juga sedikit melemah.

Diagnosa etiologik Stroke Non Hemoragik (SNH) ditegakkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan penunjang:

Pada anamnesa didapatkan onset terjadi mendadak pada saat pasien sehabis beristirahat, pada pasien ini kelemahan terjadi secara tiba-tiba saat pasien bangun tidur.

Gangguan vaskular pada pasien ini hipertensi grade II yang tak terkontrol dan Diabetes Militus tipe 2 merupakan faktor resiko yang besar pencetus stroke.

Kebiasaan pasien merokok dan mengkonsumsi makanan tinggi kolesterol juga memperburuk dan memperbesar kemungkinan terjadinya stroke.

Sebelumnya pasien memiliki riwayat stroke 2,5 tahun yang lalu. Hal ini bisa terlihat bahwa stroke kali ini yang terjadi adalah stroke berulang. Hasil dari CT- Scan kepala memperlihatkan adanya infark pada cerebral hemisfer kanan sampai ke mesenfalon. Hasil CT-scan sangat cocok dengan defisit neurologis yang dialami pasien. CT-scan kepala memperlihatkan bahwa stroke yang diderita pasien merupakan jenis stroke infark (non hemoragik).

Diagnosa etiologik SNH dapat ditegakkan melalui pemakaian scoring stroke. Pada pasien ini saya menggunakan algoritma stroke gajah mada. Pada algoritma stroke gajah mada ada 3 poin yang dinilai yaitu, penurunan kesadaran, nyeri kepala, dan reflex Babinski. Pada pasien ini tidak terdapat penurunan kesadaran dan nyeri kepala, tetapi reflex patologis Babinski positive. Sesuai dengan algoritma stroke gajah mada, apabila reflex patologis Babinski positif dan kedua lainnya negatif, maka pasien ini di diagnosis sebagai stroke iskemik akut atau stroke infark.

Untuk diagnosis banding untuk kasus ini adalah stroke hemoragik. SH dapat disingkirkan dari anamnesis dan gejala klinis dari pasien :Pada stroke hemoragik, serangan biasanya terjadi saat pasien melakukan aktivitas, seperti bekerja atau berolah raga. Tetapi pada pasien ini, serangan terajdi saat pasien bangun tidur. Pada pasien ini tidak terjadi penurunan kesadaran yang biasanya terjadi pada stroke hemoragik. Pada pasien ini juga tidak ditemui adanya peningkatan TIK yang biasanya terjadi pada stroke hemoragik. Pada algoritma stroke gajah mada kasus pasien ini sudah jelas mengarah ke arah stroke non hemoragik, karena dari ketiga komponen penilaian skor, hanya reflex patologis Babinski saja yang postif. Pemeriksaan penunjang yaitu CT-Scan kepala pasien yang mengindikasikan bahwa memang ada infark yang letak di hemisfer cerebri kanan.

Patofisiologis pada kasus ini adalah infark iskemik cerebri yang erat hubungannya dengan plak aterosklerosis dan arteriosclerosis. Plak ini dapat menimbulkan berbagai macam manifestasi klinis dengan cara menyempitkan lumen pembuluh darah, oklusi mendadak pembuluh darah, dapat terbentuk thrombus yang kemudian terlepas sebagai emboli, dan dapat juga menyebabkan anurisma. Hal ini semua menyebabkan suplai darah ke otak berkurang, akibatnya oksigen yang dibutuhkan oleh otak juga berkurang sehingga otak kekurangan oksigen (hipoksia).

Bila penurunan aliran darah otak mencapai 10-20 ml/100 gr/menit, terjadi kegagalan aktivitas listrik neuronal dan sebagian struktur intra sel berada dalam proses disintegrasi dan terajdi edema intraseluler. Pada keadaan ini timbul deficit neurologis. Kematian sel terjadi aliran darah otak kurang dari 10 ml/100 gr/menit diakibatkan oleh kegagalan energi sehingga K+ keluar dan Ca++ masuk kedalam sel. Berkurangnya aliran darah otak pleh thrombosis, emboli atau hemodinamik akan menyebabkan keadaan iskemia di suatu bagian otak.

Penatalaksanaan dalam penanganan kasus ini adalah dengan memberikan anti platelet seperti clopidogrel atau aspirin. Pemberian obat ini dimaksudkan untuk menghambat reaksi pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma. Untuk menjaga kestabilan tekanan darah, pasien diberi medika mentosa kaptopril (antihipertensi golongan ACE Inhibitor) untuk menurunkan dan menstabilkan tekanan darah.

Pemberian citicoline pada pasien ini diberikan sebagai neuroprotektif, menjaga dan memperbaiki membran neuron, meningkatkan ketersediaan neurotransmiter, meningkatkanmetabolisme glukosa di otak dan meningkatkan aliran darah otak, mengurangi stress oksidatif dan respon inflamasi yang berlebihan, menurunkan konsentrasi glutamat yang meningkat, dan memperbanyak konsentrasi ATP yang menurun pada saat terjadi iskemi. Penatalaksanaan non-medikamentosa seperti fisioterapi sangat dianjurkan untuk mengoptimalkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional pasien stroke, sehinga mereka mampu mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Program rehabilitasi ini bisa dibilang merupakan program yang tidaklah mudah, karena setelah stroke terkadang menyisakan kelumpuhan terutama pada sisi yang terkena, timbul nyeri, subluksasi pada bahu, pola jalan yang salah dan masih banyak kondisi yang perlu dievaluasi oleh fisioterapis.

Prognosis pada pasien ini :Untuk ad vitamnya pasien ini bonam asal mau mengurangi atau menghilangkan faktor resiko yang ada. Pasien ini pernah mengalami stroke sebelumnya dengan kelemahan di sisi yang sama, hal ini membuat otot telapak tangan dan sebagian jari tangan kiri pasien atrofi, meskipun lengan pasien baik dan dapat di gerakkan ke segala arah, ad fungsionam dubia ad bonam. Ad sanam untuk pasien ini dubia ad bonam, karena stroke bisa mengalami kekambuhan ditambah pasien sudah memiiki riwayat kekambuhan dan pasien memiliki banyak faktor resiko. Untuk ad cosmeticum pada pasien ini bagus, tidak terjadi kecatatan pada tubuh pasien.

Tijauan PustakaStroke adalah gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak dalam beberapa detik atau secara cepat dalam beberapa jam dengan gejala atau tanda-tanda sesuai dengan daerah yang terganggu. Definisi menurut WHO: stroke adalah terjadinya gangguan fungsional otak fokal maupun global secara mendadak dan akut yang berlangsung lebih dari 24 jam akibat gangguan aliran darah otak. Dengan kata lain stroke merupakan manifestasi keadaan pembuluh darah cerebral yang tidak sehat sehingga bisa disebut juga cerebral arterial disease atau cerebrovascular disease.

Stroke non hemoragikmerupakan proses terjadinya iskemia akibat emboli dan trombosis serebral biasanya terjadi setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari dan tidak terjadi perdarahan. Namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder.Berdasarkan kausal :Stroke TrombotikStroke trombotik terjadi karena adanya penggumpalan pada pembuluh darah di otak. Trombotik dapat terjadi pada pembuluh darah yang besar dan pembuluh darah yang kecil. b.Stroke Emboli/Non TrombotikStroke emboli terjadi karena adanya gumpalan dari jantung atau lapisan lemak yang lepas. Sehingga, terjadi penyumbatan pembuluh darah yang mengakibatkan darah tidak bisa mengaliri oksigen dan nutrisi ke otak.

PatofisiologiInfark ischemic cerebrisangat erat hubungannya denganaterosklerosisdanarteriosklerosis. Aterosklerosisdapat menimbulkan bermacam-macam manifestasi klinis dengan cara:1.Menyempitkan lumen pembuluh darah dan mengakibatkan insufisiensi aliran darah.2.Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadinya thrombus dan perdarahan aterm.3.Dapat terbentuk thrombus yang kemudian terlepas sebagai emboli.4.Menyebabkan aneurisma yaitu lemahnya dinding pembuluh darah atau menjadi lebih tipis sehingga dapat dengan mudah robek.

Manifestasi KlinisTanda dan gejala dari stroke adalah :1.Kehilangan motorikDisfungsi motorik paling umum adalahhemiplegia(paralisis pada salah satu sisi) danhemiparesis(kelemahan salah satu sisi) dan disfagia2.Kehilangan komunikasiDisfungsi bahasa dan komunikasi adalahdisatria(kesulitan berbicara) atauafasia(kehilangan berbicara).3.Gangguan persepsiMeliputi disfungsi persepsi visualhumanus, heminapsiaatau kehilangan penglihatan perifer dan diplopia, gangguan hubungan visual, spesial dan kehilangan sensori.4. Kerusakan fungsi kognitifparestesia(terjadi pada sisi yang berlawanan).5. Disfungsi kandung kemih meliputi:inkontinensiaurinarius transier, inkontinensia urinarius peristenatau retensi urin (mungkin simtomatik dari kerusakan otak bilateral),Inkontinensia urinariusdandefekasiyang berlanjut (dapat mencerminkan kerusakan neurologi ekstensif).

Pemeriksaan Penunjang 1.Angiografi serebralMenentukan penyebab stroke scr spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri.2.Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT).Untuk mendeteksi luas dan daerah abnormal dari otak, yang juga mendeteksi, melokalisasi, dan mengukur stroke (sebelum nampak oleh pemindaian CT).3.CT scanPenindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan posisinya secara pasti.4.MRI (Magnetic Imaging Resonance)Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi dan bsar terjadinya perdarahan otak. Hasil yang didapatkan area yang mengalami lesi dan infark akibat dari hemoragik.5.EEGPemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan dampak dari jaringan yang infark sehingga menurunya impuls listrik dalam jaringan otak.

6.Pemeriksaan laboratoriuma.Lumbal pungsi: pemeriksaan likuor merah biasanya dijumpai pada perdarahan yang masif, sedangkan pendarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama.b.Pemeriksaan darah rutin(glukosa, elektrolit, ureum, kreatinin)c.Pemeriksaan kimia darah: pada strok akut dapat terjadi hiperglikemia.d.gula darah dapat mencapai 250 mg di dalam serum dan kemudian berangsur-rangsur turun kembali.e.Pemeriksaan darah lengkap: untuk mencari kelainan pada darah itu sendiri.

PenatalaksanaanTujuan intervensi adalah berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan melakukan tindakan sebagai berikut:Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan lendiryang sering, oksigenasi, kalau perlu lakukan trakeostomi, membantu pernafasan.Mengendalikan tekanan darah berdasarkan kondisi pasien, termasuk untuk usaha memperbaiki hipotensi dan hipertensi.Berusaha menentukan dan memperbaiki aritmia jantung.Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat, harus dilakukan secepat mungkin pasien harus dirubah posisi tiap 2 jam dan dilakukan latihan-latihan gerak pasif.Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIKDengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan rotasi kepala yang berlebihan,

Pengobatan Konservatifa.Vasodilator meningkatkan aliran darah serebral (ADS) secara percobaan, tetapi maknanya: pada tubuh manusia belum dapat dibuktikan.b.Dapat diberikan histamin, aminophilin, asetazolamid, papaverin intra arterial.c.Anti agregasi thrombosis seperti aspirin digunakan untuk menghambat reaksi pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma.d.Anti koagulan dapat diresepkan untuk mencegah terjadinya/ memberatnya trombosis atau emboli di tempat lain di sistem kardiovaskuler.

Daftar PustakaBaehr, M. dan Frotscher, M. Serebrum. Dalam: Diagnosis Topik Neurologis DUUS: Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala. Edisi ke-4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hlm. 292-309.Price, A. Sylvia.2006 Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC.L. Hauser, Stephen. Disease of Nervous System : Harrisons Neurology in clinical medicine. 3rd Edition. 2013 : Mc Graw Hill.World Health Organization, 2006. STEP Stroke Surveillance. Available from: http://www.who.int/entity/chp/steps/Section1_Introduction.pdf Anonym. Pengenalan & Penatalaksanaan Kasus-kasus Neurologi. 2007. Edisi ke-2. Jakarta: Departemen Saraf RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad.S. Snell, Richard. Clinical Neuroanatomy, 7th edition. 2010 : Lippincott Willams and Wilkins.