Ppt Mauk 1 Final

Click here to load reader

  • date post

    03-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    82
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of Ppt Mauk 1 Final

FRANSISCA ALVIONITA(406107020) YOLANDA TEJA(406117027) NINA APRIYANA(406117031) MARIO SETIADI(406117067) REYJEN(406117069)

Pada tahun 2011 World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 54% kematian anak disebabkan oleh keadaan gizi yang buruk

Masalah gizi di Indonesia mengakibatkan lebih dari 80% kematian anak

Kabupaten Tangerang didapatkan 2.166 balita menderita gizi buruk

Di Puskesmas Kecamatan Mauk berdasarkan hasil perhitungan pada tahun 2011 didapatkan 5.960 balita

Diperkirakan labiopalatoschizis terjadi setiap 70 dari 1000 kelahiran di dunia

Pada ras Asia dan India Amerika 1 tiap 500 kelahiran

Di Indonesia diperkirakan bibir sumbing terjadi pada tiap 1 dari 600 kelahiran.

Alasan dipilihnya An. AM dalam kunjungan kasus kedokteran

keluarga ini karena An. AM adalah salah satu pasien gizi burukdengan labiopalatoschizis di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk yang telah menjalani terapi pemulihan status

gizi selama 2 tahun sejak tahun 2010 namun belummenunjukkan perkembangan signifikan. Keadaan gizi buruk ini dikhawatirkan akan menyebabkan pertumbuhan dan

perkembangan pasien terhambat dan lebih jauh lagi dapatmenyebabkan kematian pada pasien.

Pernyataan Masalah Buruknya status gizi pada pasien sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan pasien disertai dengan adanya kelainan kongenital labiopalatoschizis.

Pertanyaan Masalah1. 2.

Apakah penyebab gizi buruk pada pasien? Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk pada pasien? Bagaimana pengaruh status gizi buruk dan labiopalatoschizis pada kondisi fisik pasien? Bagaimana peran keluarga dalam upaya pengobatan pasien? Bagaimana pengaruh lingkungan terhadap kondisi pasien? Bagaimana alternatif jalan keluar untuk mengatasi masalah yang ada?

3.

4. 5. 6.

Tujuan Umum

Tercapainya peningkatan status gizi pasien sehingga memungkinkan dikoreksinya kelainan kongenital

labiopalatoschizis supaya tercapai pertumbuhan danperkembangan pasien yang optimal

Tujuan Khusus1. 2.

Diketahuinya penyebab gizi buruk pada pasien. Diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk pada pasien. Diketahuinya pengaruh status gizi buruk dan labiopalatoschizis pada kondisi fisik pasien. Diketahuinya peran keluarga dalam upaya pengobatan pasien. Diketahuinya pengaruh lingkungan terhadap kondisi pasien. Diketahuinya alternatif jalan keluar untuk mengatasi masalah yang ada.

3.

4. 5. 6.

Nama Pasien : An. Abdul Malik Nama kepala keluarga : Bpk. Kaisin Jenis kelamin : laki-laki Tempat/ tanggal lahir : Tangerang, 26 Juni 2008 Umur : 4 tahun 2 bulan Agama : Islam Suku bangsa : Sunda Status pernikahan : belum menikah

Alamat: Marga Mulya RT. 01/ RW. 01, Kec. Mauk, Kab. Tangerang, Prov. Banten Nama ayah : Tn. Suganda Nama ibu : Ny. Erna Pekerjaan orang tua: buruh tetap Pendidikan terakhir orang tua: SD

Keluhan utama Keluhan tambahan

rewel, sulit makan

berat badan dan tinggi badan pasien yang tidak bertambah sesuai dengan usianya

Sejak lahir An. AM memiliki kelainan bawaan bibir sumbing. Terdapat celah pada bibir, kedua sisi hidung, dan langit-langit mulut pasien (2 x3 cm). Kelainan ini menyebabkannya sulit menerima makanan yang diberikan. Sejak lahir tidak mengkonsumsi ASI, hanya susu formula. Mulai mendapat makanan padat sejak usia 2 bulan. Nenek An AM biasanya menyuapi menggunakan tangan.

An AM juga sering rewel dan memiliki postur tubuh

yang kurus dan pendek. Saat ini masih belum dapat berbicara dengan lancar maupun jalan tanpa dituntun sebagaimana yang seharusnya dapat dilakukan oleh anak seusianya.

Kerap kali mengalami sakit batuk dan pilek. Dalam

satu tahun, dapat mengalami 5-6 kali batuk dan pilek. Ketika sakit, hanya mendapat pengobatan tradisional berupa jamu dan ramuan dan juga obat-obatan warung. Pada tahun 2010, dibawa berobat pertama kali ke Puskesmas Kec. Mauk karena sakit batuk dan pileknya. Kemudian ditimbang dan diukur tinggi badannya, dan diketahui bahwa pasien masuk dalam kriteria anak dengan status gizi buruk.

Tahun 2010 -2011, mendapat MP-ASI berupa biskuit

dari Puskesmas Kecamatan Mauk. Tahun 2011, tidak berkunjung sehingga tidak mendapatkan MP-ASI. Sudah 2 kali dikonsulkan ke Sp. B dan Sp. A untuk dilakukan operasi bibir sumbing namun ditolak karena status gizi pasien yang buruk.

Penyakit

Umur

Penyakit

Umur

Penyakit Penyakit

Umur

Alergi

-

Difteri

Jantung Penyakit

-

Cacingan

-

Diare

Lupa Ginjal

-

DemamBerdarah Kejang -

Penyakit Darah

DemamTyphoid Otitis Parotitis Morbili Operasi Tuberkulosis Lainnya Kecelakaan Radang Paru -

Riwayat penyakit keluarga penyakit jantung : Disangkal darah tinggi : Disangkal kencing manis : Disangkal penyakit asma : Disangkal

Tidak ada anggota keluarga yang mengalami hal yang serupa dengan pasien. Riwayat Lingkungan Di sekitar rumah pasien tidak ada tetangga yang terkena gizi buruk maupun labiopalatoschizis.

Selama hamil, ibu pasien rutin memeriksakan

kandungannya ke dukun beranak (>3 kali). Ibu pasien tidak minum vitamin selama kehamilan namun sering minum jamu, tidak pernah suntik TT, sesekali dipijat oleh dukun beranak. Riwayat trauma, riwayat tekanan darah tinggi, kencing manis, perdarahan disangkal. Kesan : pemeliharaan prenatal kurang baik.

Bayi laki-laki lahir dari ibu G1 P0 A0, usia ibu saat

kehamilan adalah 21 tahun, ibu hamil 40 minggu. Kemudian bayi lahir secara spontan oleh dukun beranak. Bayi lahir langsung menangis dan berwarna merah. BBL: 2500 gr, PBL: 53 cm, lingkar kepala dan lingkar dada pasien saat lahir tidak diketahui. Kesan : neonatus aterm, vigorous baby dengan labiopalatoschizis.

Riwayat pertumbuhan

BBL 2500 gr dan PBL 53 cm. Saat ini BB 6,6 kg dan PB 72, 9 cm. Riwayat perkembangan Tersenyum : lupa (Normal: 2-3 bulan) Tengkurap : 6 bulan (Normal: 6-9 bulan) Duduk : 1 tahun (Normal: 6-9 bulan) Berdiri : 1,5 tahun (Normal: 9-12 bulan) Berceloteh : 1,5 tahun (Normal: 6 bulan) Saat ini anak berusia 4 tahun 2 bulan dan terdapat gangguan dalam perkembangan verbal (belum bisa bicara dengan lancar). Kesan : pertumbuhan dan perkembangan terganggu.

Keadaan umum : tampak sakit ringan, kurang aktif

dengan status gizi buruk. Kesadaran : compos mentis Status Generalis : Berat badan : 6,6 kg Tinggi badan : 72,9 cm Lingkar kepala : 43 cm Lingkar lengan atas : 11 cm Status gizi : BB/ TB < -3 SD (gizi buruk) Heart rate : 80 x/menit Suhu : 36 0C Pernapasan : 50 x/menit Usia klinik : tidak sesuai

Hidung

: Bentuk hidung abN, ada kelainan kongenital, tidak terdapat septum nasi, sekret (-/-), nafas cuping hidung (-).

Mulut Bibir

: Kering (-), bibir sianosis (-), trismus (-), labiopalatoschizis (+). Gusi : tidak tampak perdarahan. Tonsil : T1-T1 tidak hiperemis, detritus tidak melebar. Faring : Arkus faring sulit dinilai, faring hiperemis (-), tidak ada uvula. Pemeriksaan lain dalam batas normal.

Pemeriksaan tambahan: Diagnosis Kerja

Status gizi buruk dengan labiopalatoschizis. Diagnosis Banding : Terapi yang telah diberikan Non farmakologis

:

Pemberian MPASI rutin setiap bulan. Edukasi terhadap keluarga agar pasien

dirawat inap di Puskesmas Kecamatan Mauk. Farmakologis :

Multivitamin (Calcidol sirup).

No.

Nama

L/P

Usia (thn)

Hubungan dengan Kepala Keluarga

Pendidikan terakhir

Pekerjaan

Agama

Status Pernikahan

Hubungan dengan Pasien

1. 2.

Tn. K Ny. K

L P

70 thn 65 thn

kepala keluarga Istri

tidak sekolah tidak sekolah

Petani ibu rumah

Islam Islam

menikah menikah

kakek nenek

tangga3. 4. Tn. S An. AM L L 34 thn 4 thn 2 bulan Anak Cucu SD belum sekolah buruh tetap Islam belum bekerja Islam menikah tidak menikah ayah pasien

NO1.

NAMATn. K

BCG

DPT

POLIO

CAMPAK

HEPATITIS B-

2. Ny. K 3. Tn. S + 4. An. AM

-

-

-

-

-

-

-

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Anggota keluarga yang meninggal dunia yaitu: Ny. C (bibi pasien) ketika umur 40 tahun tahun karena tumor di leher. Nn. E (sepupu pasien) ketika umur 25 tahun karena kecelakaan. An. N (sepupu pasien) ketika umur 1,5 tahun karena kejang. An. Ng (sepupu pasien) ketika umur 2 tahun karena kejang.

Ayah pasien buruh tetap Ibu pasien TKW di Arab Saudi, memberikan tunjangan per bulan pada pasien. Kakek dan nenek pasien tidak aktif bekerja dan menggantungkan pendapatan dari ayah pasien. Penghasilan rata-rata adalah : Tn. S : Rp 840.000 Ny. E : Rp 20.000,Rp 860.000,-

+

Perkiraan pengeluaran selama sebulan : Untuk makanan : Rp 600.000,Untuk listrik : Rp 50.000,Untuk air minum : Rp 15.000,Untuk transportasi : Rp 40.000,lain-lain : Rp 100.000,- + Total seluruh pengeluaran : Rp 805.000,kesan : sosio ekonomi menengah ke bawah.

III.6. Pola berobat pasien dan keluarga An. AM dan keluarganya biasa membeli obat warung atau berobat ke Puskesmas bila sakit. III.7. Pola makan sehari-hariIII.7.1. Kebiasaan makan III.7.1.1. Kebiasaan makan Tn. K kebutuhan energi Tn. K: (66,6 + (13,75 x55)+(5x164)(6,8x70) x 1,2 = 1400 kkal karbohidrat: 840gram ,protein: 210 gram,lemak: 350 gram

Tabel 3.1 pola makan sehari-hari Tn Kjenis makanan pagi nasi 100 g tempe 50 g minyak goreng 5 g siang nasi 200 g labu siam 70g minyak goreng 10g teri kering 50g 349 25 88,6 80 78,9 5,4 0 0 6,8 0,5 0,5 16,5 0,7 0,08 5 1,45 174,5 80 44,3 39,45 6,35 0 3,4 9,15 0,25 0,35 2 4,9 kalori (kkal) karbohidrat(g) protein (g) lemak(g)

minyak goreng 10 gmalam nasi 200 g

88,6

0

0,5

5

349

78,9

6,8

0,7

labu siam 70gminyak goreng 10g teri goreng 50 minyak goreng 10g total

2588,6 80 88,6 1561

5,40 0 0 214,4

0,50,5 16,5 0,5 62,4

0,0810 1,45 10 31,71

Kesan: pola makan Tn K sesuai dengan kebutuhan

III.7.1.2. Kebiasaan makan Ny. K kebutuhan energi Ny. K: (655 +(99,6x60)+(1,8x150)(4,7x65))x1,2 = 1434 kkal karbohidrat: 860g, protein: 215 g, lemak: 358g

Tabel 3.2 pola makan Ny Kjenis makanan kalori (kkal) karbohidrat(g) protein (g) lemak(g)

paginasi 100 g tempe 50 g minyak goreng 5 g siang 174,5 80 44,3 39,45 6,35 0 3,4 9,15 0,25 0,35 2 4,9

nasi 200 glabu siam 70g minyak goreng 10g teri kering 50g minyak goreng 10 g malam nasi 200 g labu siam 70g minyak goreng 10g teri goreng 50 minyak goreng 10g total

34925 88,6 80 88,6 349 25 88,6 80 88,6 1561

78,95,4 0 0 0 78,9 5,4 0 0 0 214,4

6,80,5 0,5 16,5 0,5 6,8 0,5 0,5 16,5 0,5 62,4

0,70,08 5 1,45 5 0,7 0,08 10 1,45 10 31,71

Kesan: pola makan Ny K sesuai dengan kebutuhan gizinya

III.7.1.3 Kebiasaan makan Tn. S kebutuhan energi Tn. S: (66,6 + (13,75 x 63)+(5x167)-(6,8x70) x 1,55 = 2000 kkal karbohidrat: 1425g, protein: 356 g, lemak: 593g

Tabel 3.3 pola makan Tn Sjenis makanan pagi nasi 300 g tempe 50 g minyak goreng 5 g siang nasi 300 g labu siam 70g minyak goreng 10g teri kering 50g minyak 10 g malam nasi 300 g labu siam 70g minyak goreng 10g teri goreng 50 minyak goreng 10g total 523,5 80 44,3 523,5 25 88,6 80 88,6 523,5 25 88,6 80 88,6 2259,2 118,35 6,35 0 118,35 5,4 0 0 0 118,35 5,4 0 0 0 372,2 10,2 9,15 0,25 10,2 0,5 0,5 16,5 0,5 10,2 0,5 0,5 16,5 0,5 77 1,4 2 4,9 1,4 0,08 10 1,45 10 1,4 0,08 10 1,45 10 53,76 kalori (kkal) karbohidrat(g) protein (g) lemak(g)

Kesan: pola makan Tn S sesuai dengan kebutuhan gizinya

III.7.1.4. Kebiasan makan An. AM kebutuhan energi An AM: 6,6x100 = 660 kkal karbohidrat: 396 gram, protein: 99 gram, lemak: 165 gram

Tabel 3.4 pola makan An AMjenis makanan pagi nasi 20g labu siam 30g minyak 2 g siang biskuit PMT 6 keping sore nasi 20g ikan teri 20g minyak 2 g total 34,9 10,5 17,72 210 34,9 31,8 17,72 357,5 7,89 2,35 0 40 7,89 0 0 58,13 0,68 0,2 0,01 5 0,68 6,66 0,01 13,24 0,07 0,03 1,96 2 0,07 0,58 1,96 6,67 energi(kkal) karbohidrat(g) protein(g) lemak(g)

Kesan: pola makan An AM tidak sesuai dengan kebutuhan gizinya

III.7.2. Kebiasaan minum Sumber air minum pasien membeli dari PAM. III.7.3. Kebiasaan penggunaan air Kebutuhan air untuk keperluan mandi diambil dari air sumur galian. Kualitas air sumur galian: Makroskopik: warna : bening bau : tidak berbau rasa : asin kotoran : tidak ada

III.8.1. Perumahan Status rumah : Rumah pribadi Lokasi rumah : Terletak di samping jalan. Jalan menuju rumah dapat dilewati oleh mobil, letak rumah pasien dan tetangga saling berdekatan, jauh dengan tempat pembuangan sampah, dekat dengan ternak ayam.

Kondisi bangunan Luas bangunan

: 75 m2 (7,5 m x 10 m). Luas tanah : 75 m2 (7,5 m x 10 m). Jumlah Ruangan : 7 ruangan, terdiri atas 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 2 gudang, 1 dapur, 1 kamar mandi. Dinding rumah : Terbuat dari tembok. Atap rumah : Terbuat dari genting. Langit-langit : Terbuat dari anyaman bambu. Lantai rumah : Terbuat dari keramik dan semen.

Jumlah orang dalam rumah

: 4 orang. Jumlah keluarga dalam rumah : 1 keluarga. Alat kesejahteraan keluarga di rumah Di dalam rumah terdapat 1 buah televisi, 1 buah kipas angin,

2 lemari baju, 1 penanak nasi dan 1 tungku kompor.

III.8.2. Ventilasi Ventilasi rumah terdiri dari : Pintu : 0,8 m x 2 m = 1,6 m2 Jendela : 0,5m x 1,5 m = 0,75 m2 x7=5,25

m2 Lubang angin : 0,25 x 0,8 = 0,2 m2 Total ventilasi Persentase : 7,05

: 7,05 m2

m2 / 75 m2 x 100% = 9,4 %

ventilasi rumah pasien tergolong dalam kriteria kurang.

III.8.3. Pencahayaan Pencahayaan rumah kurang karena sinar matahari masuk hanya ke ruang tamu dan kamar tidur. Sebaliknya gudang maupun dapur tidak mendapatkan cahaya sinar matahari. Sedangkan pada sore dan malam hari menggunakan lampu listrik. III.8.4. Pembuangan tinja Jamban berjarak 13 meter dari rumah. Jenis jamban yang digunakan adalah overhung latrine (jamban empang). Jarak dari sumur ke jamban 15 meter

III.8.5. Kamar mandi Kamar mandi terpisah dari jamban. Lantai kamar mandi terbuat dari semen. III. 8. 6. Pembuangan sampah Sampah setiap hari dibuang di tempat pembuangan sampah yang berada di depan rumah pasien. Air kotor bekas cucian langsung dibuang ke saluran pembuangan. III.8.7. Halaman rumah Di depan rumah pasien terdapat tanah kosong.

Sulit makan

Rewel BB dan TB pasien yang tidak bertambah sesuai dengan

usianya

PENATALAKSANAAN

TANGGAL INTERVENSI & FOLLOW UP

HASIL INTERVENSI

Farmakologis: Multivitamin untuk meningkatkan nafsu makan

I: 10 Sept 2012 Ps mengkonsumsi FU: 11-15 Sept 2012 multivitamin scr teratur Tdp perubahan nafsu makan ps I: 10 Sept 2012 FU: 15 Sept 2012 Kakek, nenek, ayah ps lebih memperhatikan ps

Non Farmakologis: Memotivasi keluarga untuk lebih memperhatikan pasien

AKSIS II (Klinis) Gizi buruk dengan labiopalatoschizis

PENATALAKSANAAN

TANGGAL INTERVENSI & FOLLOW UPI: 10 Sept 2012 FU: 11-15 Sept 2012

HASIL INTERVENSI

Non Farmakologi: Menggunakan alat bantu makan berupa dot bersendok

Ps telah menggunakan dot bersendok mudah konsumsi makanan asupan > Keluarga ps mampu mengolah F75, F100, promina sesuai edukasi Ps menghabiskan seluruh formulasi makanan yang diberikan

Edukasi keluarga tg cara I: 10 Sept 2012 pengolahan makanan yang FU: 11-15 sept baik 2012 Mengawasi kepatuhan I: 10 Sept 2012 makan untuk mencapai BB FU: 11-15 Sept optimal 2012

PENATALAKSANAAN

TANGGAL

HASIL INTERVENSITerjadi peningkatan BB pasien

Memantau peningkatan BB dan TB I: 10 Sept 2012 pasien FU: 11-15 Sept 2012

Pemberian Formula F75 3x200 cc I: 10 Sept 2012 dan bubur promina 2x25 mg/hari FU: 11-15 Sept pada hari 1 dan 2 serta F 100 4x200 2012 cc dan bubur promina 2x25 mg/hari pada hari 3-6 Merencanakan terapi pembedahan palatoschizis

Klrg ps memberikan: F75 3x200 cc dan promina 2x25 mg (hari 1 dan 2) F100 4x200cc dan promina 2x25 mg (hari 36) -

Tanggal Intervensi 10 September 2012 11 September 2012 12 September 2012

BB 6,6 kg 6,6 kg 6,7 kg

TB 72,9 cm 72,9 cm 72,9 cm

13 September 201214 September 2012 15 September 2012

6,8 kg6,9 kg 7,0 kg

72,9 cm72,9 cm 72,9 cm

PENATALAKSANAAN Edukasi terhadap keluarga pasien untuk mengawasi pasien untuk tidak memasukkan tangan ke dalam mulut

TANGGAL I: 10 Sept 2012 FU 15 Sept 2012

HASIL INTERVENSI Keluarga sudah mengawasi pasien agar tidak memasukkan tangan ke dalam mulut

Kurangnya perhatian dari keluarga

Tidak mampu berinteraksi dengan orang sekitar Sosial sosial dan ekonomi kalangan menengah kebawah Keluarga bergantung pada penghasilan ayah (buruh tetap) Tingkat pendidikan dan pengetahuan rendah Ventilasi kurang Lantai dapur masih berupa tanah Langit-langit terbuat dr anyaman bambu dan banyak bag

berlubang Ayah perokok

PENATALAKSANAAN Memotivasi klrg ps untuk mendorong ps berinteraksi dg org sktr

TANGGAL I: 10 Sept 2012 FU: 15 sept 2012

HASIL INTERVENSI Klrg ps mulai membawa ps untuk berinteraksi dg org sktr

Memberi edukasi pd ayah dan I: 10 Sept 2012 Kakek dan ayah ps terlihat kakek ps mengenai bahaya rokok FU: 15 Sept 2012 mulai merokok di luar dan menyarankan merokok di rumah luar rumah

PENATALAKSANAANMenyarankan nenek ps cuci tangan seblm memberi mkn ps

TANGGAL

HASIL INTERVENSI

Menyarankan klrg ps utk membersihkan rumahMenyarankan klrg ps utk membuka jendela t.u. pagi hari

I: 10 Sept 2012 Nenek ps sudah mencuci FU: 15 Sept 2012 tangan sebelum memberi makan ps I: 10 Sept 2012 Klrg ps sudah terlihat FU: 15 Sept 2012 membersihkan rumahnya I: 10 Sept 2012 Klrg ps sudah membukan FU: 15 Sept 2012 jendela pada pagi hari

Terbatas dalam melakukan kegiatan sehari-hari Diharapkan dengan mengikuti intervensi yang

diberikan, diperoleh perbaikan dari segi klinis, perilaku, psikososial dan fungsional

Gizi buruk: Labiopalatoschizis Ad vitam: dubia ad Ad vitam: dubia ad malam bonam Ad functional: dubia ad Ad functionam: dubia ad malam malam Ad sanational: dubia ad Ad sanational: dubia ad malam bonam

Penyebab gizi buruk pada pasien adalah kurangnya asupan

nutrisi pada pasien Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk pada pasien adalah: Adanya kelainan bawaan berupa labiopalatoschizis yang menyebabkan kesulitan makan pada pasien Kurangnya perhatian dari keluarga pasien mengenai asupan nutrisi pada pasien Rendahnya pengetahuan keluarga pasien mengenai perilaku hidup bersih dan sehat

Status gizi buruk pasien yang disebabkan karena asupan

yang kurang berpengaruh terhadap rentannya pasien terhadap infeksi (batuk, pilek) yang mengakibatkan pasien menjadi rewel serta gangguan tumbuh kembang. Asupan yang kurang ini juga dipengaruhi salah satunya oleh keadaan labiopalatoschizis yang mengakibatkan pasien sulit makan. labiopalatoschizis juga mengakibatkan pasien sulit bicara

Peran keluarga dalam upaya pengobatan pasien adalah

keluarga pasien menaati anjuran-anjuran diberikan dalam upaya pengobatan pasien

yang

Pengaruh lingkungan terhadap kondisi pasien adalah

kurangnya pencahayaan pada rumah, rumah yang kotor, paparan asap rokok, dapur dan gudang yang lembab, banyak serangga di dalam rumah, keadaan rumah tidak rapih (barang berserakan), jendela rumah selalu tertutup, lantai rumah kotor dan jarang dibersihkan sehingga menyebabkan pasien makin rentan terkena penyakit lain seperti batuk dan pilek

Alternatif jalan keluar untuk mengatasi masalah yang ada

adalah: Multivitamin untuk meningkatkan nafsu makan Memotivasi keluarga untuk lebih memberi perhatian kepada pasien Menggunakan alat bantu makan berupa dot bersendok. Edukasi keluarga tentang cara pengolahan makan yang baik dan benar. Rencana tatalaksana gizi: Pemberian formula F75 3 x 200 cc dan bubur promina 2x1/hari pada hari 1 dan 2, dilanjutkan dengan pemberian formula F100 4x200 cc dan bubur promina 2x1/ hari pada hari 3-6.

Mengawasi kepatuhan makan untuk mencapai berat

badan yang optimal. Memantau peningkatan berat badan dan tinggi badan pasien. Edukasi terhadap keluarga pasien untuk mengawasi pasien sehingga pasien tidak memasukkan tangan ke dalam mulut serta mencuci tangan lebih sering. Memotivasi keluarga pasien untuk mendorong pasien berinteraksi dengan orang sekitar.

Memberi edukasi pada kakek dan ayah pasien mengenai

bahaya merokok dan menyarankan kakek dan ayah pasien untuk merokok di luar rumah. Menyarankan nenek pasien untuk mencuci tangan sebelum memberi makan pasien Menyarankan keluarga pasien untuk membersihkan rumah. Menyarankan keluarga pasien untuk membuka jendela rumah terutama pada pagi hari.

Membawa pasien untuk pemantauan status gizi pasien

ke poliklinik gizi di puskesmas secara rutin. Melakukan anjuran perilaku hidup bersih dan sehat sebagaimana yang dianjurkan. Lebih memperhatikan asupan gizi pada pasien. Memotivasi pasien untuk bergaul dengan temanteman sebayanya.

Tetap memantau pasien agar status gizi pasien terjaga

Tetap memantau keluarga dan lingkungan pasien

dalam mendukung proses penyembuhan pasien Merencanakan intervensi bedah kepada pasien ketika berat badan pasien telah memenuhi persyaratan

Azwar A. (1996). Pengantar administrasi kesehatan, Edisi ketiga, Binarupa Aksara, Jakarta Dinas Kesehatan. (2011 last update). Profil kesehatan kabupaten tangerang 2010, Available from: http://www.dinkes.bantenprov.go.id/files/10isi-profildinkes-kab.tangerang-2010.pdf (Accessed: 2011) Puskesmas Mauk. (2012). Profil kesehatan kecamatan mauk 2011, Puskesmas Mauk, Tangerang Soesanto E. (2008, Oktober last update). Perbedaan tingkat pengetahuan ibu balita tentang gizi buruk sebelum dan setelah dilakukan pendidikan kesehatan di puskesmas mranggen II mranggen demak, Available from: http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/FIKkeS/article/view/229/238 (Accessed: 2008, Oktober) Supit L, Theddeus OH. (2008, Desember last update). Cleft lip and palate review: epidemiology, risk factors, quality of life, and importance of classifications, Available from: http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/17408226239.pdf (Accessed: 2008, Desember)