persentasi kasus psikotik akut

download persentasi kasus psikotik akut

of 32

  • date post

    02-Jun-2018
  • Category

    Documents

  • view

    224
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of persentasi kasus psikotik akut

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    1/32

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    2/32

    "#$% &

    LAPORAN KASUS

    I. Identitas Pasien

    !

    No. Rekam Medik : 44.82.XX

    ! Nama Inisial : Tn. G

    ! Jenis kelamin : Laki-laki

    ! TTL : jakarta, 2 november 1987

    ! Usia : 27 tahun

    ! Alamat : Jl. Bebet no 12A RT 012/010 semper barat

    ! Pendidikan : SMK

    !

    Pekerjaan : karyawan di perusahaan swasta

    ! Agama : Islam

    ! Status pernikahan : menikah

    ! Suku bangsa : Betawi

    ! Tanggal masuk :12 desember 2014 di Pavilliun Amino

    II. Riwayat Psikiatri

    !

    Autoanamnesa : 15 Desember 2014 di Pavilion Amino.! Alloanamnesa : Jumat , 18 dan 19 Desember 2014 di Pavilion Amino

    dengan orang tua pasien (Ny.K ), dan atasan tempat bekerja .

    A. Keluhan Utama

    Pasien gaduh gelisah dan memberontak.

    B. Keluhan Tambahan

    Sering bicara ngaco.

    C. Riwayat Gangguan Sekarang

    Allo-anamnesis ( 18,19 Desember 2014 dengan ibu pasien dan

    atasan pasien

    !""#$%&%'&()*) ,'( )%*%+,%- &.'/ )%0$#0 #1#*#0 2#*3%04

    Menurut pengakuan atasan pasien . pasien sampai kantor di pagi hari

    dan melamun. Pasien kemudian ingin keluar namun tidak mendapat

    izin dari atasan.pasien ingin bertemu direksi agar boleh keluar.

    Namun pasien dilarang oleh satpam. Pasien memberontak dan marah-

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    3/32

    "#$% 6

    marah kepada satpam dan orang di sekitar lingkungan dimana dia

    bekerja, kemudian pasien pun di pulangkan bersama atasan dan

    bebrapa teman kerjanya serta satpam untuk mengawal. Di perjalanan

    pulang pasien terkesan biasa saja sudah tidak mengamuk ataupun

    marah-marah lagi. Pasien sudah mengorol biasa kepada rekan-rekan

    kerjanya, pasien juga ikut tertawa dan bercanda . sesampainya di

    rumah ibunya, pasien tiba-tiba mencurigai PM ( Polisi Militer ) ingin

    menembak dan membunuh dia serta akan mencelakakan keluarga

    nya. Pasien sampai menyuruh ibu, istri dan anaknya ntuk pergi dari

    ruah dan tinggal di rumah tetangganya dulu sampai PM tersebut pergi

    dari rumah nya. Pasien teriak-teriak karena takut kalau dirinya

    berserta keluarganya di bunuh dengan cara di tembak. Pasien sangat

    sayang sama ibu dan keluarganya jadi lebih baik pasien yang

    menghadapi PM tersebut dan keluarga harus di ungsikan ke tetanga

    sekitar. Kemudian ibu dan rekan-rekan kerjanya membawa pasien ke

    RSJ Grogol , berhubung disana penuh dan tidak ada tempat maka

    pasien di rujuk ke RSPAD Gatot Subroto. Ketika di perjalanan

    menuju RSPAD , pasien menolak untuk di rawat dan pasien tidak

    merasa kalau dirinya sakit. Pasien pun nekat untuk turun dari

    mobilnya.

    Atasan pasien juga bercerita kalau 5 hari yang lalu pasien juga pernah

    berantem dengan teman kerjanya. Kejadian berawal pada saat pasien

    sedang mengangkat barang-barang bersama temannya, lalu pasien

    tiba-tiba menonjok temannya tersebut. Teman pasien tersebut karena

    merasa tidak salah lalu membalas dengan menonjoknya. Terjadilah

    pertengkaran antara keduanya sehingga pasien dan temannya tersebut

    di lerai oleh satpam kantornya. Menurut pengakuan pasien kepada

    atasannya dia melakukan hal tersebut karena pasien curiga kepada

    teman nya yang akan mencelakainya. Makanya pasien memukul

    temennya tersebut. Semenjak kejadian tersebut pasien di pindahkan

    tugas nya ke bagian gudang agar tidak bertemu teman nya tersebut.

    Setelah di pindah tugas oleh atasannya ke bagian gudang, pasien pun

    juga sering beradu cekcok kepada teman barunya. Pasien merasakan

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    4/32

    "#$% /

    kaalu teman di temapt barunya dia beerja sekarang juga tidak suka

    kepada pasien dan ingin mencelakainya.

    !""#$%&%'&()*) ,'( )%*%+,%- &.'/ )%0$#0 3,7 2#*3%04

    8%07-71 2%0$#97#0 3,7 2#*3%0 #0#9 0:# 1%-*%,71 *7)#; ,%-2-3/ ;#-3 :#0$

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    5/32

    "#$% F

    istri dan anaknya ). Makamya pasien menyuruh ibu berserta

    keluarganya untuk meninggalkan rumah agar terhindar dari kejaran

    Polisi Militer tersebut.

    Pasien juga mencurigai ibunya akan mencekoki dirinya dengan

    narkoba agar pasien mati, sehingga pasien sering membentak dan

    memaki ibunya tersebut. Pasien

    D. Riwayat Gangguan Sebelumnya

    1. Riwayat Gangguan Psikiatrik

    Tidak pernah memiliki riwayat gangguan psikiatrik

    sebelumnya

    2. Riwayat Gangguan Medik

    Pasien tidak pernah ada gangguan medik sebelumnya.

    3. Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol

    Pasien tidak mengkonsumsi alkohol dan merokok tiap

    harinya.

    III.

    Riwayat Kehidupan Pribadi1. Riwayat Prenatal dan Perinatal

    Pasien lahir normal dan kelahirannya dibantu oleh dokter. Kelainan saat

    kelahiran disangkal. Riwayat kesehatan ibu baik selama kehamilan. Tidak

    terdapat masalah pada saat kehamilan dan persalinan.

    2. Riwayat Masa Kanak Awal (0-3 tahun)

    Pasien anak ke dua dari enam bersaudara (!,!,!,!,!). Mendapat ASI

    dari ibu hingga berusia 1 tahun. Pasien memiliki hubungan yang baik

    dengan kedua orangtua dan saudara-saudari kandungnya. Pasien paling

    dekat dengan ibu. Tidak terdapat permasalahan atau gangguan sewaktu

    kanak-kanak.

    3. Riwayat Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)

    Pasien tumbuh dan berkembang dengan normal. Pasien mengakubersekolah di SD 09 pagi semper Jakarta utara. Menurut kesaksian Ny.K,

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    6/32

    "#$% I

    pasien bukan merupakan anak bandel dan memiliki banyak teman. Pasien

    sadar dirinya perempuan. Gangguan mengompol atau lainnya disangkal.

    4. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja (pubertas hingga remaja)

    Menurut Ny. K, pasien bercita-cita ingin menjadi orang sukses karir yang

    sukses. Hubungan dengan orang tua dan saudaranya baik.

    5. Riwayat Masa Dewasa

    a. Riwayat Pendidikan

    Pasien mengaku bersekolah di SD 09 pagi semper. Menurut

    kesaksian Ny.K, pasien bukan merupakan anak bandel dan memiliki

    banyak teman. Pada tahun 2002 pasien masuk SMP di negri 1 semper

    tidak ada masalah dalam sekolahnya . pasien memiliki banyak teman.

    Pada tahun 2005 pasien masuk di SMK priuk tidak ada masalah

    dalam sekolahnya. Pasien memiliki banyak teman.

    b. Riwayat Pekerjaan

    Pasien sebelum di rawat di paviliun amino bekerja di PT. Kerismas

    sebagai karyawan yang bertugas di bagain logistik. Pasien bekerja

    sebagai tukang angkat barang-barang dan terkadang pasien di minta

    untuk membeli makanan. Karena ada masalah bertengkar dengan

    rekan tempat bekerjanya kemudian pasien di pindah tugas ke bagian

    lain yaiutu bagian gudang. Apsien di bagian gudang juga bekerja

    sebagai pengangkut barang-barang dan pesuruh .

    c. Riwayat Pernikahan & Hubungan

    Pasien sudah menikah selama 3 tahun. Pasien akhir-akhir ini menjadi

    sering bertengkar dengan istrinya karena istri pasien mengambil alih

    uang gaji pasien. Sedangkan boasanya gaji pasien di berikan kepada

    ibu nya. Karena istri pasien tidak bekerja maka istri pasien

    mengambil alih seluruh uang pasien.

    d. Riwayat Kehidupan beragama

    Bedasarkan keterangan dari orang tua dan pasien, pasien beragama

    Islam. Pasien mengaku rajin sholat 5 waktu, tetapi akhir-akhir ini

    pasien menjadi semakin malas untuk sholat.

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    7/32

    "#$% J

    e. Riwayat Hukum

    Pasien tidak mempunyai riwayat hukum.

    f. Riwayat Aktivitas Sosial

    Sebelum perawatan di Paviliun Amino, Tn. G adalah orang yang baik

    dan ramah kepada seluruh anggota keuarganya. Tn. G merupakan

    orang yang suka bercanda dan melawak. Semenjak seminggu

    sebelum kejadian pasen menjadi sering diam dan melamun. Pasien

    juga kalau di ajak ngobrol menjadi ngaco pembiaraanya.

    g. Riwayat Psikoseksual

    Pasien memiliki orientasi seksual normal, yaitu heteroseksual.

    h. Riwayat Keluarga

    Pasien anak ke dua dari enam bersaudara (!,!,!,!,!). Mendapat

    ASI dari ibu hingga berusia 1 tahun. Pasien memiliki hubungan yang

    baik dengan kedua orangtua dan saudara-saudari kandungnya. Pasien

    paling dekat dengan ibu. Tidak terdapat permasalahan atau gangguan

    sewaktu kanak-kanak.

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    8/32

    "#$% 5

    Genogram

    Keterangan:

    Laki-Laki Meninggal

    Perempuan Pasien

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    9/32

    "#$% (

    i. Situasi Kehidupan sekarang

    Sebelum perawatan Paviliun Amino, pasien tinggal bersama ibunya

    di daerah semper priol. Kebutuhan sehari-hari pasien terpenuhi

    dengan bekerja di PT.Kerismas sebagai kuli dan pesuruh.

    j. Persepsi Pasien tentang diri dan kehidupan

    Saat ini pasien menganggap dirinya sebagai seorang yang tidak sakit.

    Pasien mengatakan bahwa sekarang dirinya menjadi lebih baik dari

    pada sebelum di rawat, lebih baiknya adalah pasien menjadi tidak

    gampang curiga pada seseorang. Pasien juga merasakan kalau tidak

    betah berada di tempat perawatan ini, pasien menginginkan pulang

    karena pasien kangen kepada istri dan anaknya.

    k. Persepsi Keluarga terhadap Pasien

    Keluarga pasien mengetahui bahwa pasien menderita gangguan jiwa

    dan pasien butuh pengobatan. Keluarga berharap pasien bisa sembuh

    kembali. Keluarga pasien tidak menyangka hal ini dapat terjadi pada

    pasien.

    l.

    Mimpi, Fantasi, dan Nilai-Nilai

    Pasien mengatakan tidurnya enak dan tidak pernah mimpi buruk.

    Pasien berharap untuk segera pulang ke rumah karena pasien merasa

    bosan di ruang perawatan.

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    10/32

    "#$% '.

    IV. Status Mental

    1. Deskripsi Umum

    a.

    Penampilan

    Pasien berjenis kelamin laki-laki berusia 27 tahun dengan

    penampilan sesuai usia, postur tubuh tegak, kulit sawo matang,

    rambut tertata baik dan tidak berantakan. Pasien memakai baju

    berwarna biru dengan celana bahan berwarna hitam. Tidak tampak

    adanya kecemasan seperti telapak tangan yang basah, mata

    mebelalak atau terlihat tegang.

    b.

    Perilaku & Aktivitas Psikomotor

    Pasien duduk dengan tenang di atas kasur menghadap pemeriksa

    selama wawancara. Kontak mata dengan pemeriksa tidak terjaga

    baik.

    c. Sikap terhadap Pemeriksa

    Pasien kooperatif dan bersahabat dalam menjawab pertanyaan-

    pertanyaan yang diajukan pemeriksa. Pasien menjawab pertanyaan

    yang diberikan oleh pemeriksa, akan tetapi pasien terkadangenggan menjawab pertanyaan.

    2. Alam Perasaan (Mood dan Afek)

    a. Mood

    Eutimik ( mood dalam rentang normal, menyatakan tidak adanya

    mood yang depresi atau melambung )

    b. Afek

    Luas (rentang emosi lengkap diekspresikan sesuai) dan sesuai

    (appropriate). Respons emosional yang dirasa saat ini harmonis

    dengan gagasan, pikiran, atau bicara yang menyertai. Dapat

    terlihat dari ekspresi wajah, nada suara, dan gerak tubuh.

    c. Keserasian

    Serasi antara apa yang diutarakan dan afek yang terlihat.

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    11/32

    "#$% ''

    3. Pembicaraan

    Bicara spontan, volume suara cukup, intonasi rendah, artikulasi jelas, pasien

    menjawab dengan jels semua pertanyaan yang di berikan. Isi pembicaraan dapat

    dimengerti dan pasien menjawab sesuai dengan pertanyaannya, namun terkadang

    kontak mata pasien saat berbicara tidak fokus kearah lawan bicara dan mudah

    terdistraksi dengan suara-suara diluar ruangan.

    4. Gangguan Persepsi

    Saat diwawancara, pasien menyangkal adanya halusinasi.

    5. Pikiran

    a. Proses Pikir & Alur Berpikir

    Pasien memiliki asosiasi baik dimana merupakan aliran pikiran

    berupa perpindahan ide dari satu subjek ke subjek lain saling

    berhubungan. Proses pikir koheren (pikiran yang secara umum

    dapat dipahami, pikiran atau kata-kata yang keluar saling

    berhubungan, sehingga terbentuk organisasi yang baik), logis,

    banyak, cepat dan jawaban sesuai.

    b. Isi Pikiran

    Pasien memiliki gangguan isi pikir, seperti waham kejar

    (kepercayaan yang salah pada seseorang yang merasa dirinyadilecehkan, dicurangi atau dikejar, sering ditemukan pada pasien

    dengan kasus hukum yang memiliki kecenderungan patologis

    untuk mengambil tindakan hukum karena adanya suatu perlakuan

    salah yang imajiner).

    6. Sensorium & Kognisi

    a. Kesiagaan & Taraf Kesadaran:

    Kesiagaan baik dan kesadaran compos mentis

    Orientasi

    Waktu: Pasien dapat membedakan waktu pagi, siang, dan malam.

    Pasien mengetahui tanggal dan hari pemeriksaan.

    Tempat: Pasien mengetahui bawah dirinya sedang dirawat di

    Pavilion Amino RSPAD Gatot Soebroto.

    Orang: Pasien dapat mengingat identitas lengkapnya, nama orang

    tua dan saudara-saudarinya.

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    12/32

    "#$% '&

    b. Ingatan

    ! Jangka Panjang: Pasien dapat mengingat tanggal lahir, nama

    sekolah, nama lengkap anggota keluarga dan peristiwa ayah

    dan kaka pasien meninggal.

    ! Jangka Sedang: baik, pasien dapat mengingat kegiatannya

    dengan teman satu ruangannya dalam seminggu terakhir

    ! Jangka Pendek: Secara umum dari wawancara dapat disimpulkan

    bahwa keterangan pasien tidak dapat dipercaya sepenuhnya, karena

    pasien memiliki kecurigaan yang kuat sehingga ada kecenderungan

    menutupi informasi. Pemeriksa harus melakukan konfirmasi

    terhadap keluarga pasien.

    !

    Segera: Pasien dapat mengingat dan mengulang 5 kata-kata

    yang dikatakan pemeriksa secara berurutan.

    c. Konsentrasi & Perhatian

    Kurang baik, karena pasien saat diberikan pertanyaan berhitung

    yang sederhana memerlukan waktu yang lama untuk berpikir. Saat

    wawancara, perhatian pasien seringkali teralihkan dengan suara-

    suara diluar ruangan.

    d.

    Kemampuan Membaca & MenulisTidak dapat dieksplorasi. Pasien menolak untuk menulis karena merasa

    curiga.

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    13/32

    "#$% '6

    e. Kemampuan Visuo-spasial

    Baik, pasien dapat menunjukan jarum jam dengan benar.

    f. Pikiran Abstrak

    Baik, pasien mengetahui arti peribahasa berakit-rakit ke hulu

    berenang-renang ke tepian.

    g. Inteligensi & Daya Informasi

    Pasien dapat menjawab nama presiden RI dan wakil presiden RI

    pada saat ini.

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    14/32

    "#$% '/

    7. Pengendalian Impuls

    Saat ini baik. Pasien sadar terhadap perilaku sopan dan dapat menilai

    bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.

    8.

    Daya Nilai & Tilikan

    a. Daya Nilai Sosial: Pasien bersikap sopan terhadap dokter spesialis

    kesehatan jiwa, dokter residen, dokter muda, perawat, dan pasien

    Pavilion Amino lainnya.

    b. Uji Daya Nilai:baik.

    c. Penilaian Realita: RTA terganggu.

    d. Tilikan: Derajat 1, pasien menyangkal secara total kalau dirinya

    sakit.

    9. Taraf dapat dipercaya (realiabilitas)

    Secara umum dari wawancara dapat disimpulkan bahwa keterangan

    pasien tidak dapat dipercaya sepenuhnya, karena pasien memiliki

    kecurigaan yang kuat sehingga ada kecenderungan menutupi informasi.

    Pemeriksa harus melakukan konfirmasi terhadap keluarga pasien.

    V. Pemeriksan Diagnosis Lebih Lanjut

    1. Status Interna

    ! Keadaan Umum : baik

    ! Kesadaran : compos mentis

    ! Status Gizi : baik (BB: 54 kg; TB: 169 cm; IMT: 18,9)

    ! Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

    ! Hidung : sekret (-), konka edema (-/-), deviasi septum (-)

    ! Telinga : membran timpani intak, serumen (+/+)

    ! Mulut : gigi lengkap 32 buah, karang gigi (-), karies (-)

    ! Leher : pembesaran KGB (-) tiroid (-)

    ! Paru : SN vesikuler, ronki (-/-), wheezing (-/-)

    ! Jantung : BJ I-II reguler, murmur (-/-), gallop (-/-)

    ! Abdomen : BU 6-8x/menit, hepar/lien tak teraba, nyeri (-)

    ! Ekstremitas : dalam batas normal

    ! Kulit : dalam batas normal

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    15/32

    "#$% 'F

    ! Tanda Vital

    a. Tekanan Darah : 120/80 mmHg

    b. Nadi : 80x/menit

    c. Frekuensi Nafas : 20x/menit

    d.

    Suhu : 36.5oC

    2. Status Neurologis

    ! GCS : 15 (E4M6V5)

    ! Tanda rangsang meningeal : negatif

    ! Tanda efek ekstrapiramidal

    i.

    Tremor : negatif

    ii. Akatisia : negatif

    iii. Bradikinesia : negatif

    iv. Rigiditas : negatif

    ! Cara berjalan : normal

    ! Keseimbangan : normal

    Motorik :

    F F

    F F

    ! Sensorik : normal

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    16/32

    "#$% 'I

    VI. Ikhtisar Penemuan Hasil Bermakna

    Telah dilakukan pemeriksaan terhadap pasien, Tn. G, berusia 27 tahun,

    beragama Islam, dengan pendidikan lulusan SMkK dan pasienbekerja di PT.

    Kerismas, pasien bekerja sebagai kuli. Pasien melakukan pekerjaan

    mengangkat-angkat barang logistik. Pasien sudah menikah. Pasien dibawa

    untuk di rawat di paviliun amino pada tanggal 12 desember 2014 dan ini

    merupakan perawatan pertama kalinya. Pasien di bwa berobat oleh keluarga

    dan rekan kerjanya di karenakan pasien mengamuk di tempat kerjanya dan

    pasien juga gaduh gelisah di rumah karena takut keluarganya di celakai oleh

    Polisi Militer. Pasien juga berbicara terkadang menjadi ngaco.

    Ibu pasien mengatakn kalau 4 hari sebelum masuk rumah sakit pasien menjadi

    sering marah kepada ibunya. Setelah di tanyakan, pasien itu merasa kalau

    dirinya akan di cekoki narkoba oleh ibunya. Pasien juga mengira kaau ibunya

    akan membunuh nya. Pasien juga menjadi tidak nyaung disaat berbicara.

    Atasan pasien juga mengatakan 8 hari sebelum masuk rumah sakit pasien

    bertengkar dengan rekan kerjanya di karenakan pasien curiga kalau semua

    rekan kerjanya itu tidak suka melihat pasien dan ingin membunuh pasien,

    karena kejadian pertengkaran tersebut pasien jadi di pindah ke bagian lain. Di

    tempat yang baru pasien pun beradu muut dengan rekan kerjanya yang baru.

    Pasien juga curiga kalau rekan kerjanya dan atasannya akan membunuh dan

    mencelakai dirinya,

    Berdasarkan pemeriksaan status mental, penampilanPasien berjenis kelamin

    laki-laki berusia 27 tahun dengan penampilan sesuai usia, postur tubuh tegak,

    kulit sawo matang, rambut tertata baik dan tidak berantakan. Pasien memakai

    baju berwarna biru dengan celana bahan berwarna hitam. Tidak tampak

    adanya kecemasan seperti telapak tangan yang basah, mata mebelalak atau

    terlihat tegang. Pada perilaku dan aktivitas motorik, pasien duduk dengan

    tenang di atas kasur menggunakan selimut. Kontak mata kurang terjaga. Sikap

    terhadap pemeriksa adalah Pasien kooperatif dan bersahabat dalam

    menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pemeriksa. Pasien menjawab

    pertanyaan yang diberikan oleh pemeriksa, akan tetapi pasien terkadang

    enggan menjawab pertanyaan.

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    17/32

    "#$% 'J

    Mood eutimik, afek luas (rentang emosi lengkap diekspresikan sesuai) dan

    sesuai (appropriate), didapat keserasian antara apa yang diutarakan dan afek.

    PembicaraanBicara spontan, volume suara cukup, intonasi rendah, artikulasi jelas,

    pasien menjawab dengan jels semua pertanyaan yang di berikan. Isi pembicaraan

    dapat dimengerti dan pasien menjawab sesuai dengan pertanyaannya, namun

    terkadang kontak mata pasien saat berbicara tidak fokus kearah lawan bicara dan

    mudah terdistraksi dengan suara-suara diluar ruangan.

    Proses pikirpasien memiliki asosiasi baik, koheren, logis, banyak, cepat dan

    jawaban sesuai. Isi pikir pasien memiliki gangguan isi pikir, seperti waham

    kejar (kepercayaan yang salah pada seseorang yang merasa dirinya dilecehkan,

    dicurangi atau dikejar. Orientasibaik. Derajat tilikan 1, pasien menyangkal

    secara total kalau dirinya sakit.

    Tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan fisik umum dan neurologis.

    VII. Formulasi Diagnostik

    Aksis I

    Berdasarkan autoanamnesis dan alloanamnesis, riwayat perjalan penyakit, dan

    pemeriksaan, pada pasien ini ditemukan adanya pola perilaku dan alam pikir

    yang secara klinis bermakna dan menimbulkan suatu penderitaan (distress)

    dan hendaya berat (disability) dalam kemampuan menilai realitas, fungsi

    mental, dan fungsi kehidupan sehari-hari yang bermanifestasi dengan gejala

    tidak mampu bekerja, menjalin hubungan sosial dan menjalankan kehidupan

    rutin pasien. Dengan demikian berdasarkan PPDGJ III dapat disimpulkan

    bahwa pasien ini mengalami suatu gangguan jiwa.

    Berdasarkan autoanamnesis dan alloanamnesis, pasien tidak pernah menderita

    penyakit yang secara fisiologis menganggu fungsi otak, seperti cidera/ trauma

    kepala atau penyakit lain yang berhubungan dengan gangguan jiwa. Pada

    pemeriksaan fisik dan neurologis juga tidak ditemukan keadaan yang dapat

    menunjukkan gangguan fungsi otak. Oleh sebab itu, diagnosis gangguan

    mental organik (F00-F09) dapat disingkirkan.

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    18/32

    "#$% '5

    Dari autoanamnesis dan alloanamnesis diketahui pula bahwa tidak terdapat

    riwayat pengguanaan zat psikoaktif ataupun alkohol, sehingga diagnosis

    gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif (F10-F19)

    dapat disingkirkan.

    Pada pasien ini didapatkan gangguan terhadap penilaian realita berupa riwayat

    halusinasi auditorik dan halusinasi visual, adanya waham presekutorik/ kejar

    (+), waham referensi (+), sering marah-marah (perilaku kacau, sikap larut

    dalam dirinya sendiri (self-absorbed attitude), penarikan diri secara sosial,

    serta tilikan pasien terganggu. Dari penemuan tersebut dapat dikatakan bahwa

    pasien memiliki gangguan psikotik dimana telah terjadi hendaya berat dalam

    menilai realitas berupa RTA yang terganggu dan tilikan (insight) yang juga

    terganggu sehingga bermanifestasi berupa adanya waham, halusinasi,

    pembicaraan kacau, dan perilaku kacau yang menimbulkan penderitaan

    (distress)dan hendaya berat (disability/ impaiement)pada pasien.

    Berdasarkan uraian tersebut, maka berdasarkan PPDGJ III pasien pada aksis I

    memenuhi kriteria diagnostik F23 gangguan psikotik akut, yakni terpenuhinya

    kriteria umum diagnosis psikotik akut.

    Aksis II

    Berdasarkan auto-anamnesisdan allo-anamnesis, pasien menderita gangguan

    kepribadian cemas menghindar

    F60.6 Gangguan kepribadian dependen

    Gangguan dengan ciri-ciri :

    a) Mendorong atau membiarkan orang lain untuk mengambil

    sebagian besar keputusan penting untuk dirinya ;

    b)

    Meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah dari orang lain

    kepada siapa ia bergantung, dan kepatuhan yang tidak

    semstinya terhadap keinginan mereka;

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    19/32

    "#$% '(

    c) Keengganan untuk mengajukan permintaan yang layak kepada

    orang dimana tempat ia bergantung;

    d) Perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian,

    karena ketakutan yang dibesar-besarkan tentang

    ketidakmampuan mengurus dirinya sendiri;

    e) Terbatasnya kemampuan untuk membuat keputusan sehari-hari

    tanpa mendapat nasehat yang berlebihan dan dukungan dari

    orang lain.

    Pada pasien yang nampak adalah poin a, c dan e.

    Aksis III

    Tidak ada diagnosa untuk aksis III karena tidak ditemukan kelainan fisiologis

    pada riwayat penyakit pasien dan dari hasil pemeriksaan fisik.

    Aksis IV

    Pada pasien ditemukan adanya masalah berkaitan dengan lingkungan sosial (

    rekan kerja dan keluarga).

    Aksis V

    Penilaian kemampuan penyesuaian menggunakan skala Global Assesment of

    Functioning (GAF) menurut PPDGJ III didapatkan pada Aksis V GAF HLPY

    (Highest Level Past Year) adalah 70-61, beberapa gejala ringan dan menetap,

    disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik. Penilaian GAF ini

    berdasarkan pada keluhan yang dimiliki pasien.

    GAF current adalah 40-31, dimana 40-31 adalah: beberapa disabilitas dalam

    hubungan dengan realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa

    fungsi. Penilaian GAF ini berdasarkan pada keluhan yang muncul kembali

    sejak 2 hari SMRS (tanggal 23 Oktober 2013) dimana terdapat kesulitan dan

    gangguan yang nyata dalam menjalani kegiatan sosial, pekerjaan, dan aktivitas

    sehari-hari.

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    20/32

    "#$% &.

    Gaf saat ini adalah 70-61, dimana 60-51 adalah beberapa gejala ringan dan

    menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik. Penilaian

    GAF ini berdasarkan pada keluhan yang dimiliki pasien.

    Evaluasi Multi-Aksial (PPDGJ-III)

    Aksis I : F23 Psikotik akut

    Aksis II : F60.7 Gangguan kepribadian dependen

    Aksis III : Tidak ada (none)

    Aksis IV : Masalah rekan kerja dengan keluarga

    Aksis V : GAF current(saat ini) adalah 40-31

    GAF HLPY (highest level past year) adalah 70-61

    GAF saat ini 70-61

    VIII. Formulasi Diagnostik

    ! Organobiologik : tidak ada

    ! Psikologik

    Mood : eutimik

    Afek : luas dan sesuai (approriate)

    Gangguan Persepsi : Halusinasi (-), perilaku halusinatorik (+)

    Proses Pikir : asosiasi baik, koheren, logis, banyak, cepat

    dan jawaban sesuai

    Isi Pikir : normal

    Tilikan : derajat 1, RTA terganggu

    ! Lingkungan & Sosioekonomi

    Masalah yang berkaitan dengan pekerjaan.

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    21/32

    "#$% &'

    IX. Penatalaksanaan

    Psikofarmaka

    o Risperidone 2 x 2mg

    o Clozaryl 1 x 12,5 mg

    Psikoterapi & intervensi psikososial

    o Terhadap pasien

    ! Terapi Suportif

    ! Mengembangkan hubungan terapeutik yang membuat pasien

    merasa nyaman dan diterima, berempati dan hangat

    mendengarkan pasien, serta memahami hal-hal yang menjadi

    perhatian pasien dan menolongnya untuk menentukan arah

    tujuan. Tujuan terapi adalah mengevaluasi situasi kehidupan

    saat ini berserta kekuatan dan kelemahannya, dan selanjutnya

    membantu pasien melakukan hubungan realistic terhadap apa

    saja yang memungkinkan untuk dapat berfungsi lebih baik.

    ! Sosial Skill Training

    ! Bertujuan untuk memperbaiki fungsi social penderita mulai

    dari hal yang paling sederhana seperti bagaimana mengurus

    aktivitas hidup sehari-hari, mengajarkan perilaku adaptif,

    menjelaskan aturan minum obat, melatih kemampuan untuk

    mendeteksi tanda-tanda awal kekambuhan dan segera mencari

    bantuan dan melatih kemampuan untuk melakukan hubungan

    interpersonal dengan orang yang baru dikenal oleh pasien

    seperti bagaimana cara memulai suatu percakapan, bagaimana

    mengekspresikan ekspresinya (ekspresi emosi yang konstruktif)

    serta mendidik pasien untuk dapat mencari jalan keluar dalam

    menyelesaiakan suatu masalah.

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    22/32

    "#$% &&

    o Terhadap keluarga

    ! Memberikan penjelasan yang bersifat komunikatif, edukatif,

    dan informatif mengenai keadaan pasien sehingga keluarga

    dapat mengerti dan menerima keadaan pasien serta memberi

    dukungan kepada pasien.

    ! Menjelaskan mengenai terapi yang diberikan serta

    menyarankan untuk senantiasa memberi dukungan selama

    masa pengobatan (suportif)

    ! Memberikan konseling kepada keluarga yakni membantu

    keluarga menerima dan menghadapi kondisi pasien.

    X. Prognosis

    1. Quo ad vitam : dubia ad bonam

    2.

    Quo ad functionam : dubia ad bonam

    3. Quo ad sanationam : dubia ad bonam

    K#< :#0$ +%+2%-,%-#1 2-B$0B*3*L

    M7-#0$0:# )7970$#0 )#-3 9%

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    23/32

    "#$% &6

    XI. DISKUSI

    Pada pasien ini ditemukan adanya pola perilaku atau pola psikologis yang

    secara klinis cukup bermakna, dan yang secara khas berkaitan dengan suatu gejalapenderitaan (distress) atau hendaya (disability/impairment) di dalam fungsi

    psikososial. Dengan demikian berdasarkan PPDGJ-III dapat disimpulkan bahwa

    pasien mengalami suatu gangguan jiwa.

    Berdasarkan PPDGJ-III kriteria diagnosis untuk psikotik akut adalah:

    Merupakan urutan diagnosis yang mencerminkan urutan prioritas

    yang diberikan untuk ciri-ciri utama terpilih dari gangguan ini.

    Urutan prioritas yang dipakai ialah :

    a) Onset yang akut (dalam masa 2 minggu atau kurang = jangka

    waktu gejala-gejala psikotik menjadi nyata dan menggangu

    sedikitnya beberapa aspek kehidupan dan pekerjaan sehari-hari,

    tidak termasuk periode ciri khas yang menentukan seluruh

    kelompok;

    b) Adanya sindrom yang khas (berupa polimorfik =

    beraneka ragam dan berubah cepat, atau schizoprenia- like =gejala skizofrenik yang khas)

    c) Adanya stres akut yang berkaitan (tidak selalu ada, sehingga

    dispesifikasi dengan karakter ke 5; .x0=tanpa penyerta stres akut;

    .x1=dengan penyerta stres akut) kesulitan ata problem yang

    berkepanjangan tidak boleh dimasukan sebagai sumber stres

    dalam konteks ini.

    d) Tanpa diketahui berapa lama gangguan akan berlangsung;

    Tidak ada gangguan dalam kelompok ini yang memenuhi kriteria

    episode manik (F30.-) atau episode depresif (F32.-), walaupun

    perubahan emosional dan gejala-gejala afektif dapat menonjol dari

    waktu ke waktu

    Tidak ada penyebab organik, seperti trauma kapitis, delirium , atau

    demensia. Tidak merupakan intoksikasi akibat penggunaan alkohol

    atau obat-obatan

    Pasien memenuhi kriteria a, b dan c

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    24/32

    "#$% &/

    Berdasarkan diagnosis diatas, psikofarmaka yang dipilih adalah:

    a. Risperidone 2 x 2mg

    Risperidone termasuk antipsikotik turunan benzisoxazole.

    Risperidone merupakan antagonis monoaminergik selektif

    dengan afinitas tinggi terhadap reseptor serotonergik 5-HT2

    dan dopaminergik D2. Risperidone berikatan dengan reseptor

    "1-adrenergik. Risperione tidak memiliki afinitas terhadap

    reseptor kolinergik.Meskipun risperidone merupakan antagonis

    D2 kuat, dimana dapat memperbaiki gejala positif skizofrenia,

    hal tersebut menyebabkan berkurangnya depresi aktivitasmotorik dan induksi katalepsi dibanding neuroleptik klasik.

    Antagonisme serotonin dan dopamin sentral yang seimbang

    dapat mengurangi kecenderungan timbulnya efek samping

    ekstrapiramidal, dia memperluas aktivitas terapeutik terhadap

    gejala negatif dan afektif dari skizofrenia.

    b. Clozaryl 1 x 12,5 mg

    Clozapine efektif untuk mengontrol gejala-gejala psikosis dan

    skizofrenia baik yang positif (irritabilitas) maupun yang

    negative (social disinterest dan incompetence, personal

    neatness) efek yang bermanfaat terlihat dalam waktu 2 minggu,

    diikuti perbaikan secara bertahap pada minggu-minggu

    berikutnya. Obat ini berguna untuk pengobatan pasien yang

    refrakter dan terganggu berat selama pengobatan. Selain itu,

    karena resiko efek samping ekstrapiramidal yang sangat rendah,

    obat ini cocok untuk pasien yang menunjukkan gejala

    ekstrapiramidal yang berat bila diberikan antipsikosis yang lain,

    maka penggunaanya hanya dibatasi pada pasien yang resisten

    atau tidak dapat mentoleransi antipsikosis yang lain. Pasien

    yang diberi clozapine perlu dipantau jumlah sel darah putihnya

    setiap minggu.

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    25/32

    "#$% &F

    Follow up pasien

    Sabtu (20-12-2014) Minggu (21-12-2014)

    S Pasien mengatakan bahwa pasien

    ingin pulang. Pasien ingin agar

    diinformasikan kepada

    keluarganya kalau pasien ingin

    pulang dan sudah tidak betah

    Pasien mengatakan bahwa pasien

    ingin pulang. Pasien ingin agar

    diinformasikan kepada

    keluarganya kalau pasien ingin

    pulang dan sudah tidak betah

    O Status mental

    Laki-laki sesuai dengan

    usianya perawatan baik,

    tenang, kooperatif,

    disforik, afek terbatas,

    proses pikir : koheren

    Isi pikir: preokupasi

    pulang

    RTA : terganggu , derajat

    2

    Status mental

    Laki-laki sesuai dengan

    usianya perawatan baik,

    tenang, kooperatif,

    disforik, afek terbatas,

    proses pikir : koheren

    Isi pikir: preokupasi

    pulang

    RTA : terganggu , derajat

    2

    A

    Psikotik akut Psikotik akut

    P Risperidon 2x2mg

    Clozaril 1x12,5mg

    Risperidon 2x2mg

    Clozaril 1x12,5mg

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    26/32

    "#$% &I

    %&'&( )*+(,

    1. -".//0". 12345634 &406 7!89:

    '?'G%S303*3

    "*39B139 #)#

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    27/32

    "#$% &J

    A? K#-7* #)# 9%#)##0 %+B*3B0#< :#0$ ,%-#0%9#-#$#+0:# V

    )? \#

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    28/32

    "#$% &5

    ]#0=719#0 B,#1 #0132*39B139 *%97-#0$0:# 6 ,7

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    29/32

    "#$% &(

    ! O#0$$7#0 C#;#+ +%0%1#2 97-#0$ 6 ,7

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    30/32

    "#$% 6.

    !">="45H3."=34

    Z1-7917- ;#

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    31/32

    "#$% 6'

    !"#$"% '()$"*"

    '? G3-%91B-#1 i%0)-#< "%%'* ?%&0% 0%& 3(@%"% 0%

  • 8/10/2019 persentasi kasus psikotik akut

    32/32