PBL BLOK 13 Tentang Anak(1)

download PBL BLOK 13 Tentang Anak(1)

of 24

  • date post

    18-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    224
  • download

    0

Embed Size (px)

description

fq35f453q

Transcript of PBL BLOK 13 Tentang Anak(1)

Tinjauan pustaka

Penyakit Dermatitis Atopik pada Kulit ManusiaRichard Leonardo

10-2010-324C3

PendahuluanDermatitis atopik (D.A) adalah penyakit kulit reaksi inflamasi yang didasari oleh faktor herediter dan faktor lingkungan, bersifat kronik residif dengan gejala eritema, papula, vesikel, kusta, skuama dan pruritus yang hebat. Bila residif biasanya disertai infeksi, atau alergi, faktor psikologik, atau akibat bahan kimia atau iritan. Dermatitis atopik atau eksema adalah peradangan kronik kulit yang kering dan gatal yang umumnya dimulai pada awal masa kanak-kanak. Eksema dapat menyebabkan gatal yang tidak tertahankan, peradangan, dan gangguan tidur. Penyakit ini dialami sekitar 10-20% anak. Umumnya episode pertama terjadi sebelum usia 12 bulan dan episode-episode selanjutnya akan hilang timbul hingga anak melewati masa tertentu. Sebagian besar anak akan sembuh dari eksema sebelum usia 5 tahun. Sebagian kecil anak akan terus mengalami eksema hingga dewasa. Penyakit ini dinamakan dermatitis atopik oleh karena kebanyakan penderitanya memberikan reaksi kulit yang didasari oleh IgE dan mempunyai kecenderungan untuk menderita asma, rinitis atau keduanya di kemudian hari yang dikenal sebagai allergic march. Walaupun demikian, istilah dermatitis atopik tidak selalu memberikan arti bahwa penyakit ini didasari oleh interaksi antigen dengan antibodi.Pembahasan1. AnamnesisAnamnesis merupakan tahap awal dalam pemeriksaan untuk mengetahui riwayat penyakit dan menegakkan diagnosis. Anamnesis harus dilakukan dengan teliti, teratur dan lengkap karena sebagian besar data yang diperlukan dari anamnesis untuk menegakkan diagnosis. Sistematika yang lazim dalam anamnesis, yaitu identitas, riwayat penyakit, dan riwayat perjalanan penyakit.a. Identitas : nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan.b. Riwayat penyakitKeluhan utama yang menyebabkan pasien dibawa berobat. Keluhan utama tidak harus sejalan dengan diagnosis utama.c. Riwayat perjalanan penyakitRiwayat perjalanan penyakit mencakup: Cerita kronologis, rinci dan jelas tentang keadaan pasien sebelum ada keluhan sampai dibawa berobat. Pengobatan sebelumnya dan hasilnya Tindakan sebelumnya Perkembangan penyakit gejala sisa atau cacatd. Riwayat penyakit lain yang pernah diderita sebelumnya.1,2

2. Pemeriksaan fisikPemeriksaan fisik dermatitis atopik dilakukan dalam bentuk pemeriksaan kulit, yang dibagi menjadi dua berdasarkan :

a. Lokalisasi- Bayi : kedua pipi, kepala, badan, lipat siku, lipat lutut.- Anak : tengkuk, lipat siku, lipat lutut.- Dewasa : tengkuk, lipat lutut, lipat siku, punggung kaki.b. Efloresensi/ sifat-sifatnya- Bayi : eritema berbatas tegas, papula/ vesikel miliar disertai erosi dan eksudasi serta krusta.- Anak : papula-papula miliar, likenifikasi, tidak eksudatif.- Dewasa : biasanya hiperpigmentasi, kering dan likenifikasi.2,3- Pada pemeriksaan fisik pasien didapat hasil sebagai berikut : terdapat bercak dan beruntus kemerahan yang terasa gatal pada badan, kedua tungkai atas dan bawah.

3. Pemeriksaan penunjangPemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan :a. IgE serum. IgE serum dapat diperiksa dengan metode ELISA. Ditemukan 80% pada penderita dermatitis atopik menunjukkan peningkatan kadar IgE dalam serum terutama bila disertai gejala atopi ( alergi ) b. Eosinofil. Kadar serum dapat ditemukan dalam serum penderita dermatitis atopik. Berbagai mediatore berperan sebagai kemoatraktan terhadap eosinofil untuk menuju ke tempat peradangan dan kemudian mengeluarkan berbagai zat antara lain Major Basic Protein (MBP). Peninggian kadar eosinofil dalam darah terutama pada MBP. c. TNF-a. Konsentrasi plasma TNF-a meningkat pada penderita dermatitis atopik dibandingkan penderita asma bronkhial. d. Sel T. Limfosit T di daerah tepi pada penderita dermatitis atopik mempunyai jumlah absolut yang normal atau berkurang. Dapat diperiksa dengan pemeriksaan imunofluouresensi terlihat aktifitas sel T-helper menyebabkan pelepasan sitokin yang berperan pada patogenesis dermatitis atopik. e. Uji tusuk. Pajanan alergen udara (100 kali konsentrasi) yang dipergunakan untuk tes intradermal yang dapat memacu terjadinya hasil positif.Pemeriksaan biakan dan resistensi kuman dilakukan bila ada infeksi sekunder untuk menentukan jenis mikroorganisme patogen serta antibiotika yang sesuai. Sampel pemeriksaan diambil dari pus tempat lesi penderita.4f. Dermatografisme Putih. Penggoresan pada kulit normal akan menimbulkan 3 respon, yakni : akan tampak garis merah di lokasi penggoresan selama 15 menit, selanjutnya mennyebar ke daerah sekitar, kemudian timbul edema setelah beberapa menit. Namun, pada penderita atopik bereaksi lain, garis merah tidak disusul warna kemerahan, tetapi timbul kepucatan dan tidak timbul edema.g. Percobaan Asetilkolin. Suntikan secara intrakutan solusio asetilkolin 1/5000 akan menyebabkan hiperemia pada orang normal. Pada orang Dermatitis Atopik. akan timbul vasokontriksi, terlihat kepucatan selama 1 jam.3,4h. Percobaan Histamin. Jika histamin fosfat disuntikkan pada lesi penderita Dermatitis Atopik. eritema akan berkurang, jika disuntikkan parenteral, tampak eritema bertambah pada kulit yang normal.4

4. WDDari pemeriksaan awal yang dilakukan, dapat diperkirakan bahwa pasien tersebut menderita penyakit dermatitis atopic (D.A.), yaitu keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai gatal yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak, sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau penderita (dermatitis atopik, rinitis alergik, dan atau asma bronkial). Kelainan kulit berupa papul gatal, yang kemudian mengalami ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya di lipatan (fleksural).3-6Kata 'atopi' pertama kali diperkenalkan oleh Coca (1923), yaitu istilah yang dipakai untuk sekelompok penyakit pada individu yang mempunyai riwayat kepekaan dalam keluarganya. Misalnya: asma bronkial, rinitis alergik, dermatitis atopik, dan konjungtivitis alergik. Diagnosis D.A. ditetapkan melalui dua kriteria yaitu :a. Kriteria mayor Pruritus Dermatitis dimukaan atau ekstensor pada bayi dan anak Dermatitis difleksura pada dewasa Dermatitis kronis atau residif Riwayat atopi pada penderita atau keluarganyab. Kriteria minor Xerosis Infeksi kulit (khususnya oleh S.aureus dan virus herpes simpleks) Dermatitis nonspesifik pada tangan atau kaki Iktiosist/hiperliniar palmaris/keratosis pilaris Pitiriasis alba Dermatitis di papila mame White dermographism dan delayed blanch response Keilitis Lipatan infra orbital Dennie-Morgan Konjungtivitis berulang Keratokonus, dll.Diagnosis D.A. ditegakkan dengan syarat harus mempunyai kondisi kulit gatal (itchy skin) atau dari laporan orang tuanya bahwa anaknya suka menggaruk atau menggosok. Ditambah 3 atau lebih kriteria berikut: Riwayat terkenanya lipatan kulit, misalnya lipat siku, belakang lutut, bagian depan pergelangan kaki atau sekeliling leher (termasuk pipi anak usia di bawah 10 tahun). Riwayat asma bronkial atau hay fever pads penderita (atau riwayat penyakit atopi pada keluarga tingkat pertama dan anak di bawah 4 tahun). Riwayat kulit kering secara umum pada tahun terakhir. Adanya dermatitis yang tampak di lipatan (atau dermatitis pads pipi/dahi dan anggota badan bagian luar anak di bawah 4 tahun). Awitan di bawah usia 2 tahun (tidak digunakan bila anak di bawah 4 tahun).5

Gambar 2.1. Dermatitis atopik pada pipi dan tangan.

5. DDDermatitis atopik ini harus dibandingkan dengan penyakit lainnya, sebagai berikut.a. Dermatitis seboroik (D.S.)Penyebabnya masih belum diketahui pasti. Faktor predisposisinya adalah kelainan konstitusi berupa status seboroik yang diturunkan. D.S. berubungan erat dengan keaktifan glandula sebasea, yaitu kematangannnya merupakan faktor timbulnya D.S., tetapi tidak ada hubungan langsung secara kuantitatif antara keaktifan kelenjar tersebut dengan suseptibilitas untuk memperoleh D.S. D.S dapat diakibatkan oleh proliferasi epidermis yang meningkat. Pada orang yang telah mempunyai fakktor predisposisi, timbulnya D.S. dapat disebabkan oleh faktor kelelahan, stress emosional, infeksi atau defisiensi umum. Kelainan kulit terdiri atas eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan batasnya agak kurang tegas. D.S yang ringan hanya mengenai kulit kepala berupa skuama-skuama yang halus, mulai sebagai bercak yang kecil yang kemudian mengenai seluruh kulit kepala dengan skuama-skuama yang halus dan kasar yang disebut pitiriasis sika, sedangkan bentuk yang berminyak disebut pitiriasis steatoides yang dapat disertai eritema dan krusta-krusta yang tebal. Rambut pada tempat tersebut mempunya kecenderungan rontok. Pada bentuk yang berat maka dapat meluas kedahi, glabela, telinga posaurikular dan leher. Pada bentuk yang lebih berat lagi seluruh kepala tertutup oleh krusta-krusta yang kotor dan berbau tidak sedap. Pada bayi, skuama-skuama yang kekuningan dan kumpulan-kumpulan debris epitel yang lekat pada kulit kepala disebut cradle cap. Selain tempat-tempat tersebut D.S. juga dapat mengenai liang telinga luar, lipatan nasolabial, daerah sterenal, areola mame, lipatan dibawah mame pada wanita, interskapular, umbilicus, lipat paha dan daerah anogenital. Pada daerah pipi, hidung dan dahi kelainan dapat berupa papul-papul. Terdapat sisik kuning gelap pada pipi, badan dan lengan. Onset invariabel pada daerah pantat halus, tidak bersisik, batas jelas, merah terang. D.S. pada bayi memiliki ciri-ciri axillary patches, kurang oozing dan weeping dan kurang gatal.

Gambar 2.2. Dermatitis seboroik pada kulit kepala, pipi dan tangan.

Persamaan gejala klinis D.A. dan D.S : Pada bayi lokasinya kdi kedua pipi, kulit kepala, permukaan otot ekstensor. Efloresensi : ada papul-papul pada pipi, eritema, skuama, eksudasi dan krusta. Perbedaan gejala klinis D.A. dan D.S : Kadar immunoglobulin E pada D.A. tidak spesifik. Pruritus ringan pada D.S. Onset invariabel pada daerah pantat halus,