PBL blok 18

download PBL blok 18

of 43

  • date post

    30-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.388
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of PBL blok 18

Bab I Pendahuluan1.1 Latar BelakangAsma merupakan penyakit gangguan inflamasi kronis saluran pernapasan yang dihubungkan dengan hiperresponsif, keterbatasan aliran udara yang reversible dan gejala pernapasan. Di Amerika kunjungan pasien asma pada pasien berjenis kelamin perempuan di bagian gawat darurat dan askhirnya memerlukan perawatan di rumah sakit dua kali lebih banyak dari pada pasien pria. Data peneilitian menunjukan bahwa 40% dari pasien yang dirawat tadi terjadi selama fase premenstruasi Di Australia, Kanada, dan Spanyol dilaporkan bahwa kunjungan pasien dengan asma akut di bagian gawat darurat berkisar antara 1 -12%. Rata-rata biaya tahunan yang dikeluarkan pasien yang mengalami serangan adalah $600, sedangkan yang tidak mengalami serangan biaya sekitar $170. Angka kejadian di Indonesia terhadap penyakit ini cukup banyak. Pengetahuan penyakit ini dan juga risiko komplikasi masih sangat minim bagi warga Indonesia . Masyarakat masih menganggap remeh penyakit penyakit tersebut. Atas dasar inilah penulis menuliskan makalah ini.

1.2 TujuanMakalah ini diharapkan dapat membantu pemahaman penulis dan pembaca dalam hal pengertian penyakit yang berhubungan dengan sepsis neonatorum, etiologi, penyimpanganpenyimpangan fisiologi dari tubuh neonatus, diagnosis penyakit, penatalaksanaannya, dan juga hasil prognosis dan pencegahan yang dapat dilakukan untuk menangani penyakit yang sering dijumpai di negara berkembang termasuk Indonesia. Selain itu, makalah ini mengemukakan pemeriksaan yang dapat digunakan untuk menegakan diagnosis penyakit.

1

Bab II Isi2.1 PemeriksaanAnamnesa Anamnesis merupakan wawancara medis yang merupakan tahap awal dari rangkaian pemeriksaan pasien, baik secara langsung pada pasien atau secara tidak langsung. Tujuan dari anamnesis adalah mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang bersangkutan. Informasi yang dimaksud adalah data medis organobiologis, psikososial, dan lingkungan pasien, selain itu tujuan yang tidak kalah penting adalah membina hubungan dokter pasien yang profesional dan optimal. Anamnesa tentang keluhan pada thorax terdiri dari sakit pada dada, dyspnea, wheezing, batuk, dan hemoptysis. Pertanyaan pertama harus seluas mungkin. Adakah rasa tidak nyaman pada dada anda? selanjutnya tanyakan juga pada pasien bagian mana yang sakit. Perhatikan gerak tubuh pasien yang menggambarkan adanya rasa sakit. Anda juga harus menanyakan kepada pasien kualitas akit, quantitas rasa sakit, waktu terasa sakit, penyebab yang memicu rasa sakit, adakah faktor yang memperberat atau meringankan rasa sakit, dan penyakit penyerta. Sakit pada dada. keluhan menegenai sakit dada biasanya disebabkan oleh penyait jantung, tetapi juga dapat berasal dari paru-paru. Untuk memastikan penyebabnya, anda harus melakukan investigasi pada kedua aspek, jantung dan paru-paru. Berikut ini adalah sumbersumber peyebab sakit dada :y y y y y y

Myocardium. Pada angina pectoris, myocardial infark. Pericardium. Pada pericarditis. Aorta. Pada aneurisma aorta. Trachea dan bronkus. Pada bronchitis. Pleur parietal. Pada pericarditis, pneumonia. Esophagus. Pada reflux esofagitis, spasme esophageal Jaringan paru itu sendiri tidak mempunyai saraf untuk merasa sakit. Rasa sakit yang

timbul misalnya pada pneumoni, infark paru biasanya timbul dari inflamasi dari pleura parietal yang berdekatan. Ketegangan otot dari batuk yang lama dan rekuren juga dapat menyebabkan sakit dada. Pericardium juga mempunyai sedikit saraf untuk meraakan sakit.

2

Dyspnea dan Wheezing. Dyspnea adalah keadaan yang tidak menyakitkan, rasa tidak nyaman dan sadar bahwa kita sedang bernafas tidak normal, biasanya disebut nafas pendek. Tanyakan apakah pasien mengalami kesulitan bernafas. Tanyakan juga kapan gejala muncul, saat beristirahat atau saat sedang beraktifitas, aktifitas seberat apa yang dapat menyebabkan dyspnea. Tanyakan pula apakah dyspnea menggangu gaya hidup pasien, dan bagaimana. Batuk. Batuk adalah symptom umum yang dapat biasa saja, ataupun berbahaya. Batuk adalah reflex terhadap respon stimuli yang mengiritasi receptor di larynx, trakea, atau bronkus. Stimuli ini termasuk mucus, pus, darah, maupun agen dari luar seperti debu, benda asing, atau bahkan udara yang sangat dingin atau panas. Penyebab lainnya adalah inflamasi dari mukosa traktur respiratorius dan tekanan pada jalur nafas misalnya oleh tumor atau pembesaran kelenjar limfe preibronkial. Walaupun batuk biasanya menunnjukkan kelainan di traktus respiratorius, batuk juga bisa disebabkan oleh kelainan cardiovascular, misalnya pada gagal jantung kiri. Durasi dari batuk sangatlah penting: apakah batuknya akut (kurang dari 3 minggu), subakut (3-8 minggu), atau kronik (lebih dari 8 minggu). Infeksi viral pada traktus respiratorius atas merupakan penyebab paling sering dari batuk akut. Batuk postinfeksi, sinusitis bakteri, asma dapat menyebabkan batuk subakut, sedangkan kronik bronchitis, asma, GERD, bronkiektasis dapat mengakibatkan batuk kronik. Tanyakan juga, apakah batuknya kering atau bermukus. Tanyakan pula apa warna sputumnya. Mucoid sputum berwarna putih, atau abu-abu, sedangkan sputum purulen berwarna kuning samapi hijau. Tanyakan pula baud an konsistensi dari sputum. Apabila sputum berbau, biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri anaerob. Jangan lupa menanyakan quantitas dari sputum. Sputum purulen dalam jumlah besar terdapat pada bronkiektasis atau abses paru. Hemoptysis. Hemoptysis adalah batuk darah, yang berasal dari paru. Untuk pasien yang melaporkan batuk darah, tentukan jumlah darah dalam sputum, dan karakteristik dari sputum tersebut. Hemoptysis paling sering dijumpai pada cystic fibrosis, dan jarang pada infant, anak-anak, atau remaja. Sebelum menggunakan istilah hemoptysis, sebaiknya tentukan dulu sumber perdarahan melalui anamnesa atau pemeriksaan fisik. Sumber perdarahan bisa saja dari mulut, faring, atau GI tract. Kadang-kadang, darah yang berasal dari GI tract dapat teraspirasi dan dibatukkan keluar. Darah yang berasal dari GI tract biasanya berwarna lebih gelap dibandingkan darah yang dihasilkan oleh tractus respiratorius, dan biasanya tercampur oleh makanan.

3

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Thorax Posterior Inspeksi Perhatikan bentuk thorax dan bagaimana pergerakan thorax, termasuk deformitas dan asimetri, retraksi abnormal dari intercostal space pada saat inspirasi, gangguan pergerakan respirasi pada salah satu atau kedua paru atau keterlambatan pergerakan unilateral.1 Deformitas pada thorax dapat berbentuk :y

Barrel Chest. Terdapat peningkatan diameter anteroposterior. Bentuk ini normal pada masa bayi, dan sering dijumpai pada proses penuaan dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)

y

Pectus Excavatum. Depresi (masuk) pada bagian bawah sternum. Kompresi pada jantung dan pembuluh darah besar dapat mengakibatkan murmur.

y

Pigeon Chest (Pectus Carinatum). Terjadi perpindahan sternum ke anterior, sehingga meningkatkan diameter anteroposterior. Tulang rawan costa yang berdekatan dengan sternum yang menonjol mengalami depresi.

y

Thoracic Kyphoscoliosis. Lekukan vertebra yang abnormal dan rotasi dari vertebra. Pergeseran dari paru-paru di bawahnya dapat mengakibatkan interpretasi dari kelainan paru menjadi sangat susah.

y

Traumatic Flail Chest. Patah tulang iga multiple dapat mengakibatkan pergerakan paradox dari thorax. Penurunan tekanan intrathoracic menurun saat terjadi penurunan diafragma. Pada saat inspirasi area yang sakit melekuk kedalam, sedangkan pada saat ekspirasi area tersebut menggembung ke luar.

Palpasi Bersamaan pada saat melakukan palpasi, focus pada area yang lunak dan yang tampak abnormalitas pada kulit di atasnya, pergerakan respirasi, dan fremitus. Misalnya pelunakan intercostals space menunjukkan adanya inflamasi pada pleura.1y

Identifikasi daerah yang sakit. Palpasi dilakukan secara hati hati dimana dilaporkan ada sakit atau dimana tampak lesi atau memar.

y y

Menetapkan abnormalitas yang tampak, seperti massa. Tes ekspansi thorax. Letakkan kedua tangan anda pada kurang lebih iga ke-10, meraba dengan jari yang agak longgar dan parallel terhadap lateral dari tulang rusuk. Setelah meletakkan tangan pada posisi di atas, geser kedua tangan kea rah medial sampai terbentuk lipatan kulit antara vertebra dengan jempol anda. Minta pasien4

untuk menarik nafas dalam. Perhatikan jarak anatra kedua ibu jari anda menjauh seiring dengan inspirasi dan rasakan simetritas tulang rusuk saat meluas dan kontraksi.y

Rasakan tactile fremitus. Fremitus adalah getaran yang dapat diraba yang disalurkan melalui cabang-cabang bronchopulmonary ke dinding dada pada saat pasien berbicara. Untuk mendeteksi fremitus, mintalah pasien untuk menggulangi kata tujuh puluj tujuh. Gunakan kedua tangan untuk membandingkan fremitus pada kedua sisi paru. Bila fremitus yang terasa kurang jelas, minta pasien untuk mengulangi dengan suara yang lebih kencang. Fremitus berkurang ketika suara terlalu pelan, atau ketika transmisi vibrasi dari larynx ke permukaan dada terhambat. Causanya termasuk obstruksi bronkus, COPD, pleural effusion, fibrosis paru, pneumothorax, atau tumor.

Perkusi Perkusi adalah salah satu teknik yang sangat penting dalam pemeriksaan fisik. Perkusi mengakibatkan dinding dada dan jaringan di bawahnya bergerak, menghasilkan suara yang dapat didengar dan b=vibrasi yang dapat diraba. Perkusi sangat membantu dalam menentukan apakah jaringan di bawah terisi oleh udara, air, atau jaringan yang solid. Perkusi dapat menembus 5-7 cm ke dalam dada, tetapi, tidak dapat mendeteksi lesi yang terletak di dalam.1y Perkusi dilakukan secara ladder-like order. Lewatkan area di atas scapula (ketebalan

otot dan tulang menganggu bunyi perkusi paru-paru). Identifikasi dan tentukan area dan suara perkusi yang abnormal. Suara redup menggantikan sonor ketika cairan atau jaringan padat menggantika