PBL Blok 13- Geriatri

download PBL Blok 13- Geriatri

of 22

  • date post

    14-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    20
  • download

    6

Embed Size (px)

description

13

Transcript of PBL Blok 13- Geriatri

Tinjauan Pustaka

Inkontinensia Urin, Osteoarthritis dan Depresi pada Wanita Berusia 70 Tahun

Theresia102012165 / E615 Desember 2013Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana

Jl. Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731

Email : ryazelyterebi@yahoo.co.idAbstraksi

Inkontinensia urin merupakan penyakit saluran berkemih pada wanita maupun pria yang sudah lanjut usia. Hal ini disebabkan karena adanya disfungsional dari saluran berkemih tersebut. Osteoarthritis merupakan penyakit sendi yang sering terjadi pada usia lanjut yang menyebabkan seseorang sulit berjalan karena nyeri sendinya. Depresi merupakan faktor seseorang dima seseorang menjauh dari kehidupan sosialnya. Penulisan tinjauan pustaka makalah ini memiliki tujuan yaitu untuk mengetahu lebih dalam mengenai inkontinensia uri, depresi dan osteoarthritis yang dibahas dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang, diagnosis kerja, diagnosis pembanding, etiologi, pathogenesis, epidemiologi, serta prognosis dari masing masing penyakit. Kesimpulan yang dapat diambil dari tinjauan pustaka ini yaitu inkontinensia urin merupakan penyakit yang umumnya diderita oleh kaum usia lanjut dan dapat menyebabkan depresi sehingga tidak ingin keluar ruma dan osteoarthritis mendukung penyakit ini karena pasien tidak dapat berjalan seperti yang biasanya ia lakukan.Katakunci : Inkontinensia Urin, Depresi , OsteoarthritisPendahuluan

Pembahasan tentang proses menua semakin sering muncul seiring dengan semakin bertambahnya populasi usia lanjut di berbagai belahan dunia. Penelitian penelitian mengenai perubahan yang terkait usia merupakan area yang menarik dan penting belakangan ini, berbagai aspek mengenai proses menua banyak dibahas seperti aspek sosial, psikologi, ekonomi, atau fisik.1

Proses menua sweyogianya dianggap sebagai suatu proses normal dan tidka selalu menyebabkan gangguan fungsi organ atau penyakit. Berbagai faktor seperti faktor genetic, gaya hidup, dan lingkungan, mungkin lebih besar mengakibatkan ganguan fungsi, daripada penambahan usis itu sendiri. Di sisi lain , hubungan antara usia dan penyakit amatlah erat. Laju kematian untuk banyak penyakit meningkat seiring dengan menuanya seseorang, terutama disebabkan menurunnya kemampuan usia lanjut berespons terhadap stress, baik stress fisik maupun psikologik.1Anamnesis

Dari hasil anamnesa yang dilakukan, kita bisa mendapatkan beberapa informasi penting, yaitu :Nama : Nyonya A\

Usia : 70 tahun

Keluhan utama : tidak dapat menahan kencing sehingga sering ngompol

: sendi lutut sakit untuk berjalan

Keluhan Penyerta : tidak berani keluar rumah karena malu/segan

Pemeriksaan FisikPemeriksaan fisik pada pasien meliputi :

Kesadaran

: compos mentis

Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Frekuensi Nadi: 85x per menit

Berat Badan

: 60 kg

Tinggi

: 150 cm

Suhu

: 37o C

Respiratory rate: 20x per menit

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang untuk inkontenesia urin adalah :Kultur urin untuk menyingkirkan infeksi, IVU untuk menilai saluran bagian atas dan obtruksi atau fistula, urodinamik meliputi uroflowmetri untuk mengukur kecepatan aliran, sistometri untuk menggambarkan kontraktur detrusor, sistometri video untuk menunjukkan kebocoran urin saat mengedan pada pasien dengan inkoninensia stress dan kandung kemih saat istirahat dan Selma berkemih. Sistokopi jika dicurigai terdapat batu atau neoplasma kandung kemih. Pemeriksaan speculum vagina sistogram jika dicurigai terdapat fistula vesikovagina.2Working Diagnosis

Inkontinensia Stress

Kelainan ini, yang menempati urutan nomor dua di antara penyebab inkontinensia permanen yang paling sering ditemukan pada perempuan lanjut-usia (inkontinensia stress jarang dijumpai pada laki laki lanjut-usia), ditandai dengan gejala dan peristiwa yang membuktikkan adanya kebocoran urin yang langsung terjadi begitu dapat tekanan (stress). Kebocoran tampak paling parah atau terjadi pada siang hari kecuali bila terdapat pula abnormalities lainnya (misalnya, aktivitas otot detrusor yang berlebihan). Pada pemeriksaan, dalam keadaan kandung kemih penuh dan perineum yang melemas (relaksasi), gejala kebocoran seketika pada saat batuk sangat sugestif ke arah kemungkinan inkontinensia stress, khususnya jika keadaan tersebut menimbulkan gejala itu kembali atau bila kemungkinan retensi urin dapat disingkirkan dengan pengukuran sisa urin setelah urinasi : kelambatan pengosongan kandung kemih selama waktu beberapa detik menunjukkan kebocoran urin lebih disebabkan oleh kontraksi kandung kemih tanpa hambatan yang terjadi akibat batuk. 3

Pembedahan merupakan terapi yang paling efektif dengan angka kesembuhan kurang lebih 85%. Untuk pasien perempuan yang dapat mematuhi instruksi dokter, latihan otot otot panggul merupakan terapi pilihan untuk mengatasi inkontinensia stress yang ringan hingga sedang; jika tidak terdapat kontraindikasi, preparat agonis alfaadrenergik (misalnya fenilpropanolamin) juga membantu dalam menanggulangi kasus semacam itu, khususnya bila pemberian preparat tersebut dikombinasikan dengan estrogen. Kadang kadang, pemasangan pesarium atau bahkan tampon (bagi perempuan yang menderita stenosis vagina) dapat memberikan kesembuhan.3Inkontinensia Kombinasi

Orang sering kali mengeluh gejala kombinasi stress dan urgensi, yang disebut inkontinensia kombinasi. Inkontinensia kombinasi terutama sering dialami oleh wanita pascamenopause. Aspek terpentung pada jenis inkontinensia ini adalah mengindentifikasi gejala yang paling mengganggu, yang selanjutnya dijadikan target pengobatan.3Osteoatritis

Osteoatritis (OA) didefinisikan sebagai berbagai kelompok yang menyebabkan gejala dan tanda sendi yang berhubungan dengan kerusakan integritas kartilago articular selain perubahan pada tulang yang mendasarinya. Osteoatritis primer bersifat idiopatik dan dapat bersifat general atau local. Osteoatritis sekunder terjadi akibat adanya faktor risiko yang teridentifikasi atau adanya penyebab seperti trauma sendi, abnormalitas anatomis, infeksi, neuropati, perubahan metabolic pada kartilago (hemokromatosis), atau perubahan tulang subkondral (akromegali, penyakit pagel). 4

Osteoarthritis adalah suatu gangguan persendian dimana terjadi perubahan berkurangnya tulang rawan sendi dan terjadi hipertropi tulang hingga terbentuk tonjolan tulang pada permukaan sendi (osteopit). Keluhan sakit sendi biasanya hilang hilang timbul dan menyerang hanya beberapa persendian. Pada tahap awal, nyeri sendi timbul bila selesai latihan fisik yang berat kemudian hilang setelah istirahat. Keluhan kemudian berlanjut menjadi kekakuan sendi sewaktu bangun pagi yang hilang dalam waktu 15 30 menit dan makin berkurang setelah digerakkan.5

Osteoarthritis biasanya terjadi pada usia di atas 50 tahun. Di Amerika, dialporkan bahwa terdapat lebih dari 60.000.000 penderita osteoarthritis, sampai penyakit ini disebut sebagai penyakit pasca pensiun. Sekitar 300.000 penderita menjalani operasi tulang panggul, terutama karena menderita osteoarthritis. Sebagian besar penderita osteoarthritis kelihatannya menderita obesitas, perempuan lebih banyak menderita osteoarthritis daripada lelaki dan terutama pada usia lanut. Sendi yang sering dikenai osteoarthritis adalah : sendi lutut, panggul dan beberapa sendi kecil di tangan dan kaki.5

Penderita osteoarthritis panggul biasanya menderita kelainan kongenital yang disebut kongenital dysplasia atau mengalami pergeseran sendi pangkal paha atau pengakit Legg Calve Perthes )peradangan tulang dan tulang rawan = ostochondrosis). Penderita osteoarthritis kelihatannya dipengaruhi oleh faktor keluarga. Sendi yang seing menderita adalah ujung ujung jari terutama jempol, persendian tulang leher, pinggang, lutut, dan pinggul. Beberapa faktor lainnya yang mempengaruhi terjadinya osteoarthritis , antara lain proses ketuaan, trauma pada sendi, stress sendi (karena terlalu banyak dipakai atau beban terlalu berat) dan aktivitas olahraga yang berlebihan.5Depresi

Depresi merupakan penyakit mental yang paling sering pada pasien berusia di atas 60 tahun dan merupakan contoh penyakit yang paling umum dengan tampilan gejala yang tidak spesifik/ tidak khas pada populasi geriatri. 1

Terdapat beberapa faktor biologis, fisis, psikologis, dan sosial yang membuat seorang berusia lanjut rentan terhadap depresi. Perubahan pada sistem saraf pusat seperti meningkatnya aktivitas monoamine oksidase dan berkurangnya konsentrasi neurotransmitter (terutama neurotransmitter katekolaminergik) dapat berperan dalam terjadinya depresi pada usia lanjut. Pasien geriatric yang menderita depresi juga sering memiliki komorbid penyakit vascular dengan lesi di daerah ganglia basalis dan prefrontal otak. Pasien pasien ini sering memperlihatkan kemunduran fungsi motoric, kurangnya kemampuan penilaian (judgement), dan terganggunya fungsi eksekusi.1

Faktor faktor psikososial juga berperan sebagai faktor predisposisi depresi. Orang tua seringkali mengalami periode kehilangan orang orang yang dikasihinya, faktor kehilangan fisik juga meningkatkan kerentanan terhadap depresi dengan berkurangnya kemauan merawat diri serta hilangnya kemandirian. Berkurangnya kapasitas sensoris (terutama penglihatan dan pendengaran) akan mengakibatkan penderita terisolasi dan berujung pada sepresi. Berkurangnya kemampuan daya ingat dan fungsi intelektual sering dikaitkan dengan depresi. Kehilangan pekerjaan, penghasilan, dan dukungan sosial sejalan dengan bertambahnya usia turut menjadi faktor predisposisi seorang berusia lanjut untuk menderita depresi.1

Depresi pada pasien geriatri adalah masalah besar yang mempunyai konsekuensi medis, sosial, dan ekonomi penting. Hal ini menyebabkan penderitaan bagi pasien dan keluarganya, memperburuk kondisi medis dan mem