Patofisiologi Hipertensi

download Patofisiologi Hipertensi

of 37

  • date post

    09-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    78
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Patofisiologi Hipertensi

2

EPIDEMIOLOGIHipertensi merupakan masalah kesehatan global yang memerlukan penanguulangan yang baik. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prevalensi hipertensi seperti ras, umur, obeitas, asupan garam yang tinggi, dan adanya riwayat hipertensi dalam keluarga (Susalit, 2004).Data epidemiologi menunjukkan bahwa dengan makin meningkatnya populasi usia lanjut, maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga kana bertambah. Selain itu, laju pengendalian tekanan darah yang dahulu terus meningkat, dalam dekade terakhir tidak menunjukkan kemajuan lagi, dan pengendalian tekanan darah ini hanya mecapai 34% dari seluruh pasien hipertensi (Yogiantoro, 2006).Prevalensi hipertensi tergantung dari komposisi ras populasi yang dipelajari dan kriteria yang digunakan. Pada populasi kulit putih suburban seperti pada penelitian Framingham, hampir seperlima populasi memiliki tekanan darah > 160/95 mmHg, sementara hampir setengah populasi memiliki tekanan darah > 140/90 mmHg. Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan pada populasi kulit hitam. Pada wanita, prevalensinya berhubungan erat dengan usia, dengan terjadinya peningkatan setelah usia 50 tahun. Peningkatan ini mungkin berhubungan dengan perubahan hormone saat menopause, meskipun mekanismenya masih belum jelas. Dengan demikian, rasio frekuensi hipertensi pada wanita disbanding pria meningkat dari 0,6 sampai 0,7 pada usia 30 tahun menuju 1,1 sampai 1,2 pada usia 65 tahun (Fisher, 2005).Tidak ada data yang dapat menjelaskan frekuensi hipertensi sekunder pada populasi umum, meskipun pada lakilaki usia pertengahan dilaporkan sekitar 6 persen. Sebaliknya, pada pusat rujukan tempat di mana pasien dievaluasi secara ekstensif, dilaporkan hingga setinggi 35 persen (Fisher, 2005).Sampai saat ini, data hipertensi yang lengkap sebagian besar berasal dari negara-negara yang sudah maju. Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey (NHNES) menuinjukkan bahwa dari tahun 1999-2000, insiden hipertensi pada orang dewasa adalah sekitar 29-31%, yang berarti terdapat 58-65 juta orang hipertensi di Amerika, dan terjadi peningkatan 15 juta dari data NHANES III tahun 1988-1001. Hipertensi essensial sendiri merupakan 95% dari seluruh kasus hipertensi (Yogiantoro, 2006).Di Indonesia, sampai saat ini belum terdapat penyelidikan yang bersifat nasional, multisenter, yang dapat menggambarkan prevalensi hipertensi secara tepat. Banyak penyelidikan dilakukan secara terpisah dengan metodologi yang belum baku. Mengingat prevalensi yang tinggi dan komplikasi yang ditimbulkan cukup berat, diperlukanlah penelitian apidemiologi yang bersifat nasional dengan rancangan penelitian yang baku (Susalit, 2004).

FAKTOR RESIKOPENILAIAN FAKTOR-FAKTOR RESIKOKeputusan dalam mengobati pasien hipertensi tidak hanya dengan mengukur tekanan darahnya saja, tetapi juga melihat keberadaan factor-faktor resiko kardiovaskuler yang lain, Target Organ Damage (TOD), dan kondisi-kondisi klinik lain yang berhubungan (Tabel) (WHO/ISH, 2003)Tabel (WHO/ISH, 2003)Tabel (The Seventh Report of JNC )

STRATIFIKASI RESIKO HIPERTENSI (RESIKO TOTAL/ABSOLUT)Stratifikasi resiko hipertensi ditentukan berdasarkan tingginya tekanan darah, adanya faktor resiko yang lain, adanya kerusakan target organ, dan adanya penyakiy penyerta tertentu (Tabel). Oleh karena tujuan utama penanggulangan hipertensi dalah menurunkan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler/renal, maka resiko terjadinya gangguan kardiovaskuler/renal perlu distratifikasi lebih lanjut. Telah disepakati secara internasional berdasarkan studi Framingham (dengan beberapa factor resiko), yaitu tingginya tekanan darah, umur, merokok, dislipidemia, diabetes mellitus. Tambahan faktor resiko yang belum lama diidentifikasi yaitu lingkar perut yang dihubuingkan dengan sindrom metabolic dan kadar C-reactive protein (CRP) yang dihubungkan dengan inflamasi. Di sampan itu perlu juga diperhatikan adanya kerusakan organ target dan penyakit penyerta (Perhimpunan Hipertensi Indonesia, 2007).Tabel (Perhimpunan Hipertensi Indonesia, 2007)FAKTOR YANG MENGUBAH PERJALANAN HIPERTENSI ESENSIALUsia, ras, jenis kelamin, merokok., asupan alkohol, kolesterol serum, intoleransi glukosa, dan berat badan semuanya dapat mengubah prognosis penyakit ini. Pasien yang lebih muda ketika hipertensi ditemukan pertama kali, kemungkinan yang paling besar adalah penurunan harapan hidup jika hipertensinya dibiarkan tidak diterapi. Di Amerika Scrikat, orang kulit hitam dengan hipertensi yang pindah ke kota memiliki tingkat prevalensi hipertensi sekitar dua kali lipat dibandingkan orang kulit putih dan lebih dari empat kali lipat tingkat morbiditasnya. Pada semua usia dan pada populasi kulit putih maupun bukan, wanita dengan hipertensi lebih baik daripada pria hingga usia 65 tahun, dan pada wanita pramenopause jauh lebih sedikit daripada lakilaki atau wanita pascamenopause. Sebelumnya, wanita dengan hipertensi memiliki risiko kejadian kardiovaskuler morbid yang relatif sama dibandingkan dengan rekannya yang normotensi demikian juga dengan pria. Aterosklerosis yang lebih cepat merupakan pasangan tetap hipertensi. Sehingga tidak mengherankan bahwa faktor risiko independent yang berhubungan dengan timbulnya aterosklerosis, misaInya, kolesterol serum yang meningkat, intoleransi glukosa, dan/atau merokok, meningkatkan efek hipertensi pada tingkat mortalitas secara signifikan tanpa memperdulikan usia, jenis kelamin, atau ras. Juga tidak diragukan bahwa terdapat korelasi positif antara obesitas dan tekanan arteri. Berat badan yang bertambah berhubungan dengan peningkatan frekuensi hipertensi pada individu yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal, dan penurunan berat badan pada individu yang gemuk dengan hipertensi akan menurunkan tekanan arterinya, jika diterapi, intensitas terapinya diperlukan untuk mempertahankan tekanan darah agar tetap normal. Apakah perubahan ini diperantarai oleh perubahan resistensi insulin masih belum diketabui (Fisher, 2005).

PATOGENESISPatogenesis Hipertensi Essensial (Yogiantoro, 2006; Susalit, 2004)

Sampai sekarang pengetahuan tentang patogenesis hipertensi esssensial terus berkembang (Susalit, 2004). Hipertensi essensial adalah penyakit multifaktorial yang timbul terutama karena interaksi antara faktor-faktor resiko tertentu (Yogiantoro, 2006). Faktor-faktor resiko yang mendorong timbulnya kenaikan tekanan darah tersebut adalah:1. Faktor resiko, seperti: diet dan asupan garam, stress, ras, obesitas, merokok, genetis2. Sistem saraf simpatis Tonus simpatis Variasi diurnalFolkow (1987) menunjukkkan bahwa stres dengan peninggian aktivitas saraf simpatis dapat menyebabkan kontriksi fungsional dan hipertrofi struktural Ditambah FK UI Hal 459!!!!!! (Susalit, 2004).3. Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokontriksi: endotel pembuluh darah berperan utama, tetapi remodelling dari endotel, otot polos, dan interstisium juga memberikan kontribusi akhir4. Pengaruh sistem otokrin setempat yang berperan pada sistem renin, angiotensin, dan aldosteronGambar

Keterangan : Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi essensial, seperti: peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, stress psikososial, overproduksi dari hormon yang menahan sodium dan vasokonstriktor, diet tinggi sodium jangka panjang, tidak adekuatnya asupan natrium dan kalsium, peninggian atau ketidaksesuaian sekresi renin dengan akibat peningkatan produksi dari angiotensin II dan aldosteron, defisiensi vasodilator misalnya prostasiklin, nitrit oksida (NO), dan peptida natriuretik, perubahan ekspresi dari sistem kallikrein-kinin yang mempengaruhi tonus vaskular dan penanganan garam di ginjal, abnormalitas dari resistensi pembuluh, termasuk lesi selektif di renal dan pada reseptor adrenergik yang mempengaruhi heart rate, jalur inotropik jantung, dan tonus vaskular, dan perubahan transport ion seluler.

Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tahanan perifer. Beberapa faktor yang berperan dalam pengendalian tekanan darah yang mempengaruhi rumus dasar Tekanan Darah = Curah Jantung x Tahanan Perifer (Gambar)Gambar (PAPDI/FK UI/SLIDE/KAPLAN)

Herediter (Susalit, 2004; Williams, 2000)Faktor genetik yang telah lama disimpulkan mempunyai peranan penting dalam terjadinya hipertensi dan dibuktikan dengan berbagai fakta yang dijumpai (Williams, 2000; Susalit, 2004). Adanya bukti bahwa kejadian hipertensi lebih banyak dijumpai pada pasien kembar monozigot daripada heterozigot. Dua turunan tikus, yakni tikus golongan Japanese spontaneously hypertensive rat (SHR) dan New Zealand genetically hypertensive rat (GH) mempunyai faktor neurogenik yang secara genetik diturunkan sebagai faktor penting timbulnya hipertensi, sedangkan dua golongan tikus lainnya, yakni Dahl salt sensitive (S) dan salt resistant (R) menunjukkan faktoor kepekaan terhadap garam yang juga diturunkan secara genetik sebagai faktor utamna pada timbulnya hipertensi (Susalit, 2004).Data pendukung lainnya ditemukan pada penelitian hewan coba demikian juga dengan penelitian populasi pada manusia. Satu pendekatan untuk menilai hubungan tekanan darah dalam keluarga (agregasi familial). Dari penelitian ini, ukuran minimum faktor genetik dapat dinyatakan dengan koefisien korelasi kurang lebih 0,2. Akan tetapi, variasi ukuran faktor genetik dalam penelitian yang berbeda menekankan kembali kemungkinan sifat heterogen populasi hipertensi esensial. Selain itu, sebagian besar penelitian mendukung konsep bahwa keturunan mungkin bersifat multifaktorial atau jumlah defek genetiknya naik (Williams, 2000).

Lingkungan (Fisher, 2005)Sejumlah faktor lingkungan secara khusus terlibat dalam terjadinya hipertensi, termasuk asupan garam, obesitas, pekerjaan, asupan alkohol, ukuran keluarga, dan kepadatan. Faktor ini penting dalam peningkatan tekanan darah bersamaan dengan bertambahya usia pada masyarakat yang lebih makmur, sebaliknya tekanan darah menurun dengan bertambahnya usia pada kebudayaan