LP combus.doc

download LP combus.doc

of 63

  • date post

    12-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    15
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of LP combus.doc

A. Konsep Penyakit Combusio1. Definisi

Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air (cairan) panas, bahan kimia, listrik dan radiasi.Luka bakar adalah bentuk cedera pada kulit akibat trauma oleh panas, listrik, zat kimia atau zat radioaktif.

Cedera inhalasi adalah kejadian yang sering menyertai luka bakar, yang sering mengakibatkan angka kematian yang tinggi (50-60%).

Cedera inhalasi merupakan penyebab utama kematian pada korban-korban kebakaran. Diperkirakan separuh dari kematian ini seharusnya bisa dicegah dengan alat pendeteksi asap. Cedera pulmoner diklasifikasikan menjadi beberapa kategori: cedera saluran napas atas; cedera inhalasi di bawah glotis, yang mencakup keracunan karbon monoksida; dan defek restriktif. Cedera saluran napas atas terjadi akibat panas langsung atau edema. Keadaan ini bermanifestasi sebagai obstruksi-mekanis saluran napas atas yang mencakup faring dan laring. Karena vaporisasi yang cepat dalam traktus pulmonalis akan menimbulkan efek pendinginan, cedera panas langsung biasanya tidak terjadi di bawah tingkat bronkus. Cedera saluran napas atas diatasi dengan intubasi nasotrakeal atau endotrakeal yang dini.Cedera inhalasi di bawah glotis terjadi akibat menghirup produk pembakaran yang tidak sempurna atau gas berbahaya. Produk ini mencakup gas karbon monoksida, sulfur oksida, nitrogen oksida, senyawa-senyawa aldehid, sianida, amonia, klorin, fosgen, benzena dan halogen. Cedera langsung terjadi akibat iritasi kimia jaringan paru pada tingkat alveoli. Cedera inhalasi di bawah glotis menyebabkan hilangnya fungsi silia, hipersekresi, edema mukosa yang berat, dan kemungkinan pula bronkospasme. Zat aktif permukaan (surfaktan) paru menurun sehingga timbul atelektasis (kolapsnya paru). Ekspektorasi partikel-partikel karbon dalam sputum merupakan tanda utama cedera inhalasi ini.

Dalam menentukan dalamnya luka bakar, kita harus mempertimbangkan faktor-faktor berikut ini:a. Riwayat terjadinya luka bakar (bagaimana terjadinya)b. Penyebab luka bakar, seperti nyala api atau cairan yang mendidihc. Suhu agens yang menyebabkan luka bakard. Lamanya kontak dengan agense. Tebalnya kulit (Brunner & Suddarth, 2002).2. EtiologiPenyebab luka bakar:

a. Terbakar api langsung atau tidak langsung,

b. Pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik maupun bahan kimia

c. Tersiram air panas banyak terjadi pada kecelakaan rumah tangga.

d. Radiasi(Brunner & Suddarth, 2002).

3. Klasifikasi Luka Bakar

1. Berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan dibagi atas:

a. Luka bakar derajat I: kerusakan pada lapisan epidermis dimana kulit tampak kering, hiperemik berupa eritema tanpa bulae. Penyembuhan luka spontan dalam waktu 5 10 hari.

b. Luka bakar derajat II: kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis yang ditandai ada reaksi inflamasi disertai eksudasi, bulae, rasanya nyeri karena ujung syaraf teriritasi, dasar luka berwarna merah atau pucatDerajat II dibagi atas:

1. Derajat II dangkal (superfisial): kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis, organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar sebasea, kelenjar keringat masih utuh. Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10 14 hari.

2. Derajat II dalam (Deep): kerusakan mengenai hampir seluruh dermis, organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat dan sebasea sebagian besar masih utuh. Penyembuhan lebih lama yaitu 1 bulan

c. Luka bakar derajat III: Kerusakan mengenai seluruh tebal dermis, organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat dan sebasea mengalami kerusakan, tidak dijumpai bulae, kulit yang terbakar berwarna abu-abu, terjadi koagulasi protein yang menyebabkan eskar dan tidak dijumpainya rasa nyeri karena ujung syaraf sensorik mengalami kerusakan.

2. Berdasarkan luas luka bakar

Luka bakar secara umum digunakan rule of nine untuk orang dewasa yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung, bokong, ekstremitas atas kanan kiri, paha kanan kiri, tungkai dan kaki kanan kiri, masing-masing 9% sisanya 1% adalah genetalia.4. Patofisiologi Luka BakarLuka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh. Panas dapat dipindahkan lewat hantaran atau radiasi elektromagnetik. Luka bakar dapat dikelompokkan menjadi luka bakar termal, radiasi atau kimia. Destruksi jaringan terjadi akibat koagulasi, denaturasi protein atau ionisasi isi sel. Kulit dan mukosa saluran napas atas merupakan lokasi destruksi jaringan. Jaringan yang dalam, termasuk organ visera, dapat mengalami kerusakan karena luka bakar elektrik atau kontak yang lama dengan agens penyebab (burning agent). Nekrosis dan kegagalan organ dapat terjadi.Dalamnya luka bakar bergantung pada suhu agen penyebab luka bakar dan lamanya kontak dengan agen tersebut. Sebagai contoh, pada kasus luka bakar tersiram air panas pada orang dewasa, kontak selama 1 detik dengan air yang panas dari shower dengan suhu 68,9C dapat menimbulkan luka bakar yang merusak epidermis serta dermis sehingga terjadi cedera derajat-tiga (full-thickness injury). Pajanan selama 15 menit dengan air panas yang suhunya sebesar 56,1 C mengakibatkan cedera full-thickness yang serupa. Suhu yang kurang dari 44C dapat ditoleransi dalam periode waktu yang lama tanpa menyebabkan luka bakar.Perawatan luka bakar harus direncanakan menurut luas dan dalamnya luka bakar; kemudian perawatannya dilakukan melalui tiga fase luka bakar, yaitu: fase darurat atau resusitasi, fase akut atau intermediat dan fase rehabilitasi (Brunner & Suddarth, 2002).Pathway:

5. Respon Sistem Tubuh Terhadap Luka Bakara. Respons SistemikPerubahan patofisiologik yang disebabkan oleh luka bakar yang berat selama awal periode syok luka-bakar mencakup hipoperfusi jaringan dan hipofungsi organ yang terjadi sekunder akibat penurunan curah jantung dengan diikuti oleh fase hiperdinamik serta hipermetabolik. Pasien yang luka bakarnya tidak melampaui 20% dari luas total permukaan tubuh akan memperlihatkan respons yang terutama bersifat lokal. Insidensi, intensitas dan durasi perubahan patofisiologik pada luka bakar sebanding dengan luasnya luka bakar dengan respon maksimal terlihat pada luka bakar yang mengenai 60% atau lebih dari luas permukaan tubuh. Kejadian sistemik awa! sesudah luka bakar yang berat adalah ketidakstabilan hemodinamika akibat hilangnya integritas kapiler dan kemudian terjadinya perpindahan cairan, natrium serta protein dari ruang intravaskuler ke dalam ruang interstisial. Gambar 55-1 melukiskan proses patofisiologi pada luka bakar akut yang berat. Ketidakstabilan hemodinamika bukan hanya melibatkan mekanisme kardiovaskuler tetapi juga keseimbangan cairan serta elektrolit, volume darah, mekanisme pulmoner dan pelbagai mekanisme lainnya.b. Respons KardiovaskulerCurah jantung akan menurun sebelum perubahan yang signifikan pada volume darah terlihat dengan jelas. Karena berlanjutnya kehilangan cairan dan berkurangnya volume vaskuler, maka curah jantung akan terus turun dan terjadi penurunan tekanan darah. Keadaan ini merupakan awitan syok luka bakar. Sebagai respons, sistem saraf simpatik akan melepaskan katekolamin yang meningkatkan resistensi perifer (vasokonstriksi) dan frekuensi denyut nadi. Selanjutnya vasokonstriksi pembuluh darah perifer menurunkan curah jantung.Resusitasi cairan yang segera dilakukan memungkinkan dipertahankannya tekanan darah dalam kisaran normal yang rendah sehingga curah jantung membaik. Meskipun sudah dilakukan resusitasi cairan yang adekuat, tekanan pengisian jantungtekanan vena sentral, tekanan arteri pulmonalis dan tekanan baji arteri pulmonalis-tetap rendah selama periode syok luka-bakar. Jika resusitasi cairan tidak adekuat, akan terjadi syok distributive.Sebagaimana disebutkan sebelumnya, pada luka bakar yang kurang dari 30 % luas total permukaan tubuh, maka gangguan integritas kapiler dan perpindahan cairan akan terbatas pada luka bakar itu sendiri sehingga pembentukan lepuh dan edema hanya terjadi di daerah luka bakar. Pasien luka bakar yang lebih parah akan mengalami edema sistemik yang masif. Karena edema akan bertambah berat pada luka bakar yang melingkar (sirkumferensial), tekanan terhadap pembuluh darah kecil dan saraf pada ekstremitas distal menyebabkan obstruksi aliran darah sehingga terjadi iskemia. Komplikasi ini dinamakan sindrom kompartemen (compartment syndrome). Dokter harus melakukan tindakan eskarotomi (insisi pada eskar) untuk mengurangi efek konstriksi dari jaringan yang terbakar.c. Efek pada Cairan, Elektrolit, dan Volume DarahVolume darah yang beredar akan menurun secara dramatis pada saat terjadi syok luka-bakar. Di samping itu, Kehilangan cairan akibat evaporasi lewat luka bakar dapat mencapai 3 hingga 5L atau lebih selama periode 24 jam sebelum permukaan kulit yang terbakar ditutup.Selama syok luka-bakar, respons kadar natrium seram terhadap resusitasi cairan bervariasi. Biasanya hiponatremia (deplesi natrium) terjadi. Hiponatremia juga sering dijumpai dalam minggu pertama fase akut karena air akan pindah dari ruang interstisial ke dalam ruang vaskuler.Segera setelah terjadi luka bakar, hiperkalemia (kadar kalium yang tinggi) akan dijumpai sebagai akibat dari destruksi sel yang masif. Hipokalemia (deplesi kalium) dapat terjadi kemudian dengan berpindahnya cairan dan tidak memadainya asupan cairan.Pada saat luka bakar, sebagian sel darah merah dihancurkan dan sebagian lainnya mengalami kerusakan sehingga terjadi anemia. Kendati terjadi keadaan ini, nilai hematokrit pasien dapat meninggi akibat kehilangan plasma. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan, perawatan luka dan pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis serta tindakan hemodialisis lebih lanjut turut menyebabkan anemia. Transmisi darah diperlukan secara periodik untuk mempertahankan kadar hemoglobin yang memadai yang diperlukan guna membawa oksigen. Abnormalitas koagulasi, yang mencakup penurunan juml