Laporan Fisiologi Hewan - Sistem Pencernaan

download Laporan Fisiologi Hewan - Sistem Pencernaan

of 21

  • date post

    04-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    879
  • download

    11

Embed Size (px)

Transcript of Laporan Fisiologi Hewan - Sistem Pencernaan

HALAMAN PENGESAHANLaporan lengkap praktikum Fisiologi Hewan unit IV dengan judul Sistem Pencernaan disusun oleh : Nama Nim Kelas/Kelompok : Syarif Hidayat A. : 071 404 092 : B/VII Makassar, Koordinator asisten Asisten April 2009

setelah diperiksa oleh Asisten dan Koordinator Asisten maka dinyatakan diterima.

Sitti Zainab Nim: 051404083

Syamsia, S.Pd

Mengetahui Dosen Penanggung Jawab

Drs. Adnan, M.S NIP: 131 722 271

BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Setiap makhluk hidup memiliki fungsi tertentu yang dimiliki oleh setiap organ tubuhnya. Ilmu fisiologi yang merupakan salah satu cabang ilmu dari biologi adalah ilmu yang membahas tentang fungsi dari alat-alat atau organ tubuh. Termasuk ke dalamnya fungsi sel, molekul, dan zat-zat yang terkandung di dalamnya sehingga dapat mempengaruhi kerja suatu individu. Terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), maka ilmu fisiologi ini tidak dapat dipisahkan dari cabang-cabang ilmu lainnya seperti morfologi, anatomi dan sebagainya. Hal ini disebaban ilmu fisiologi juga memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan. Untuk mengetahui fungsi dari suatu alat atau organ tubuh, harus diketahui terlebih dahulu tentang segala macam proses yang terjadi dalam organ tubuh tersebut. Fisiologi dari sebuah organ misalnya jantung dapat diketahui jika sebelumnya kita mengetahui bahwa jantung merupakan organ yang fungsinya memompakan darh ke seluruh bagian tubuh organisme. Proses yang terjadi dalam tubuh merupakan proses kimia dan fisika yang sangat kompleks. Karena itu diperlukan juga adanya keseimbangan antara prinsip ilmu kimia, fisika dan biologi yang masing-masing bergerak dalam bidang science. Jika salah satu dari prinsip ilmu ini tidak diketahui, maka prinsip dari ilmu fisiologi itu pun akan terganggu. Tubuh manusia tersusun atas beberapa sistem organ yang bekerja dalam tubuh. Sistem organ tersebut disusun oleh organ-organ tertentu yang mengandung beberapa jenis jaringan yang tersusun atas bermacam-macam sel. Salah satu sistem yang ada dalam tubuh manusia adalah sistem pencernaan. Berdasarkan dari uraian di

atas, maka kami akan melakukan praktikum tentang sistem pencernaan tersebut dengan mengamati pengaruh beberapa factor terhadap kerja amilase dalam air liur. B. Tujuan Praktikum Praktikum ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh suhu, pH dan konsentrasi substrat terhadap proses-proses kerja enzim amilase.

C. Manfaat Praktikum Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah mahasiswa akan lebih memahami tentang fisiologi hewan khususnya pada fungsi dari enzimenzim yang membantu sistem pencernaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKASistem pencernaan atau sistem gastroinstestin, adalah sistem organ dalam hewan multisel yang menerima makanan, mencernanya menjadi energi dan nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut. Sistem pencernaan antara satu hewan dengan yang lainnya bisa sangat jauh berbeda. Pada dasarnya sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia dibagi menjadi 3 bagian, yaitu proses penghancuran makanan yang terjadi dalam mulut hingga lambung. Selanjutnya adalah proses penyerapan sari - sari makanan yang terjadi di dalam usus. Kemudian proses pengeluaran sisa - sisa makanan melalui anus (Anonim1, 2009). Fungsi dari sistema digestoria di dalam pencernaan makanan adalah mengubah bahan makanan dari bentuk molekul besar menjadi bentuk-bentuk yang

dapat digunakan oleh sel-sel tubuh. Tugas ini dilakukan oleh tractus digestivus. Bagian utama dari sistema digestoria ini merupakan suatu tabung yang terletak dalam tabung. Tractus digestivus pada manusia dimulai dari cavum oris, pharynx, oesophagus, gaster, intestinum tenue, intestinum crassum, dan berakhir pada bagian anal dan anus. Di samping itu didapati pula alat pencernaan tambahan yang terletak di luar dari tractus digestivus dan mengeluarkan sekresinya ke dalam tractus digestivus. Organ-organ tersebut adalah kelenjar ludah yang berjumlah tiga pasang, hepar (hati) dan pancreas (Gadjahnata, 1989). Lambung merupakan suatu tempat yang pada berbagai spesies, protein mulamula dicerna. Pada ruminansia, abomasum dapat disamakan dengan lambung hewan lain atau dengan proventriculus pada unggas. Asam hidrokhlorik dihasilkan oleh selsel lambung dengan demikian memberikan medium asam yang mengaktivir pepsin dan rennin untuk membantu pencernaan protein. Langkah pertama dalam pencernaan protein terjadi, bila pakan berhubungan dengan enzim pepsin dari getah lambung. Pepsin memecah protein menjadi gugusan yang lebih sederhana, yaitu proteosa dan pepton. Pada hewan muda dan sedang menyusui, enzim rennin memnebabkan susu mengental, membentuk parakaseinat, yang dapat tinggal dalam lambung lebih lama daripada jika susu tersebut tetap menjadi cair. Oleh sebab itu terjadilah pencernaan yang lebih lengkap (Anonim2, 2009). Perubahan kimia pada zat-zat makanan berlangsung di seluruh sel-sel disebut dengan metabolisme. Saluran pencernaan juga dikenal sebagai gastro intestinal atau saluran alimentary. Sel-sel epithelial dengan perbedaan tingkatan kapasitas sekresinya mempunyai dinding pembuluh bersegmen dan beruang-ruang. Dindingnya disusun dari berbagai lapisan otot polos, yang dengan secara refleks mencampur dan menggerakkan makanan. Beberapa otot disusun melingkar membentuk valvula atau sfinkter = klep, yang mengontrol lajunya makanan dari satu bagian ke saluran berikutnya. Hormone gastrointestinal, syaraf fleksus internal, dan serabut ekstrinsik dari sistem syaraf otonom mempebgaruhi aktifitas otot polos dan aktifitas pengeluaran dari sel-sel eptelial (Nangsari, 1988).

Metabolisme adalah seluruh reaksi kimia yang terjadi pada makhluk hidup. Beberapa dari reaksi kimia itu menghasilkan pemecahan atau penguraian molekul organic (karbohidrat, lemak dan protein). Proses pemecahan molekul ini yang biasanya memecah molekul berukuran besar dan kompleks menjadi molekul berukuran kecil dan sederhana disebut katabolisme. Reaksi katabolisme pada umumnya melepaskan energy kimia yang dapat digunakan untuk melakukan bermacam-macam fungsi tubuh. Selain proses pemecahan, terjadi juga proses pembentukan molekul berukuran besar dan kompleks dari molekul berukuran kecil dan sederhana (Wulangi, 1993). Dalam hal pencernaan, air liur berperan dalam membantu pencernaan karbohidrat. Karbohidrat atau tepung sudah mulai dipecah sebaagian kecil dalam mulut oleh enzim ptyalin. Enzim dalam air liur itu memecah tepung (amylum) menjadi disakarida maltosa dan polimer glukosa kecil lainnya. Selain dalam pencernaan, air liur juga berperan dalam kebersihan mulut. Sekresi saliva terutama tipe mucus penting dalam mempertahankan kesehatan jaringan rongga mulut. Rongga mulut berisi bakteri atau kuman patogen (merugikan) yang dengan mudah merusak jaringan dan menimbulkan karies gigi (gigi berlubang). Air liur juga mencegah kerusakan dengan beberapa cara. Pertama, aliran air liur itu sendiri membantu membuang bakteri atau kuman patogen juga partikel makanan yang memberi dukungan nutrisi metabolik bagi bakteri itu sendiri. Kedua, air liur mengandung beberapa faktor yang menghancurkan bakteri salah satunya adalah ion tiosianat dan beberapa cairan proteolitik terutama lisosim yang menghancurkan bakteri,membantu ion tiosianat membunuh bakteri,mencerna partikel makanan dan air liur mengandung antibodi protein yang menghancurkan bakteri (Anonim3, 2009). Walaupun memiliki banyak fungsi, air liur tidak esensial untuk pencernaan dan penyerapan makanan, karena enzim-enzim yang dihasilkan oleh pancreas dan usus halus dapat menyelesaikan pencernaan makanan walaupun tidak ada sekresi air liur dan lambung. Masalah utama yang berkaitan dengan penurunan sekresi air liur, yaitu keadaan yang dikenal sebagai xerostomia, adalah kesulitan mengunyah dan

menelan, artikulasi bicara menjadi tidak jelas kecuali jika pada saat berbicara yang bersangkutan sering meneguk air, dan peningkatan indens pada karies gigi (Sherwood, 1996).

BAB III METODE PRAKTIKUMA. Waktu dan Tempat Hari/tanggal Waktu Tempat B. Alat dan Bahan 1. Pengaruh suhu terhadap kerja amilase a. Alat 1. Tabung reaksi (4 buah)2. Gelas ukur dan gelas kimia

: Kamis / 15 April 2009 : Pukul 13.00 s/d 14.50 WITA : Laboratorium Biologi Lantai III Barat FMIPA UNM.

3. Pipet tetes

4. Plat tetes 5. Thermometer 6. Lampu spiritus 7. Kawat kasa 8. Kaki tiga 9. Kulkas 10. Rak tabung reaksi 11. Penjepit tabung reaksi b. Bahan1. Air liur 12 ml

2. Larutan kanji 1% 3. Lugol 4. Korek api 5. Label2. Pengaruh pH terhadap kerja amilase

a. Alat 1. Tabung reaksi (4 buah) 3. Gelas ukur dan gelas kimia 4. Pipet tetes 5. Plat tetes 6. Thermometer 7. Lampu spiritus 8. Kawat kasa 9. Kaki tiga 10.Rak tabung reaksi 11.Penjepit tabung reaksi b. Bahan 1. Air liur 12 ml

2. Larutan kanji 1% 3. Larutan buffer pH 4; 5 dan 6. 4. Lugol 5. Aquades 6. Label 7. Korek api 3. Pengaruh konsentrasi substrat terhadap kerja amilase a. Alat1. Tabung reaksi (12 buah)

2. Gelas ukur dan gelas kimia 3. Pipet tetes 4. Plat tetes 5. Thermometer 6. Lampu spiritus 7. Kawat kasa 8. Kaki tiga 9. Rak tabung reaksi 10.Penjepit tabung reaksi b. Bahan1. Air liur 36 ml 2. Larutan amilum/kanji 1% dan 5%

3. Alkohol 70% 4. Lugol 5. Korek api 6. Aquades 7. Label C. Prisedur Kerja1. Pengaruh suhu terhadap kerja amilase

a.b.

Menuangkan air liur sebanyak 3 ml pada masing-masing tabung reaksi Memberikan label pada setiap tabung reaksi, tabung I, II, III dan IV Meletakkan tabung I pada kulkas, tabung II pada rendaman air kran

yang telah disediakan. masing-masing diberikan label 40, 250, 370 dan 700.c.

dalam baskom, sedangkan tabung III dan IV dipanaskan di atas Bunsen dan suhunya diukur dengan thermometer. d. kanji e. tetes. f. g. Menetesi masing-masing sampel dengan larutan lugol kemudian Mencatat hasil pengamatan dengan memberikan tanda positif (+) menghomogenkan sampel tersebut.