kesling MAKALAH (Autosaved)

Click here to load reader

  • date post

    26-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    78
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of kesling MAKALAH (Autosaved)

BAB IPENDAHULUANA. Latar belakangKondisi perumahan dan solusi sangat bervariasi dari tempat ke tempat yang besar di daerah metropolitan. Untuk melakukannya, mereka menggunakan organisasi berbasis masyarakat sebagai proyek untuk mendorong initiators yang aktif, inovatif, dan berdikari dalam masyarakat yang dapat melakukan upgrade berlangsung. Program ini dianggap sebagai salah satu kota terbaik bantuan program kemiskinan di dunia karena beberapa alasan - satu adalah rendahnya tingkat investasi yang dibutuhkan per orang. Sejak dimulai pada 1969, konsep ini telah menyebar ke 800 kota di Indonesia untuk mendapatkan keuntungan hampir 30 juta orang dan merupakan yang terbaik di antara kota bantuan program kemiskinan di dunia. KIP program yang memiliki tiga tahapan. Diantaranya tahap pertama dan kedua terkonsentrasi pada perbaikan fisik dan tahap ketiga ditambahkan sosial / ekonomi dimensi untuk pembangunan ekonomi. Program perbaikan kampung dalam pengertiannya yaitu program perbaikan suatu lingkungan yang penduduknya terdiri dari masyarakat berpengasilan rendah dan menengah dengan maksud meningkatkan suatu standar hidup masyarakat pada suatu taraf yang layak melalui peningkatan dan pengadaan fasilitas sosial seperti sekolah, puskesmas, tempat rekreasi, dan perasarana seperti jalan, listrik air minum, saluran sanitasi, dan tempat pembuangan sampah. Menurut uraian dalam buku pedoman perencanaan teknis proyek perbaikan kampung Tahap ke-III (urban III). Kampung adalah suatu daerah yang terdiri dari beberapa RK dan RT yang memiliki ciri-ciri tertentu seperti:1. jumlah penduduk yang tinggi2. tingkat penghasilan penduduk yang rendah.3. Jumlah kepadatan rumah yang tinggi.4. Letak, susunan, kondisi dan struktur bangunan kebanyakan tidak teratur dan tidak baik.5. Prasarana dan fasilitas umum bagi penduduk sangat minim atau tidak ada sama sekali sehingga keadaannya tidak dapat memberikan kehidupan sosial yang layak.Menurut buku kumpulan kuliah Kursus Perencanaan sosial pengembangan Kota ke-VI di Bali, mayoritas penduduk kota besar di indonesia tinggal pada daerah-daerah kampung yang tidak direncanakan. Jadi pada dasarnya kampung mempunyai pengertian suatu perumahan atau permukiman baik di daerah kota maupun di pedesaan yang dihuni oleh orang indonesia. Kampung merupakan suatu istilah untuk comunitas dengan tingkat ponghasilan sedang dan menengah rendah. Dalam hal lain ada daerah pemukiman yang kurang atau bahkan tidak terjangkau oleh fasilitas-fasilitas pelayanan kota baik fasilitas pelayanan sosial, ekonomi maupun infrastrukturnya.Biasanya pemukiman ini dihuni oleh penduduk yang telah lama menetap serta pendatang baru, beberapa kota besar terdiri dari beberapa suku bangsa. Kampung ini bukan mengacu pada suatu batasan administratif, sekalipun batasnya sering sama atau hampir sama dengan batas-batas keseluruhan atau lingkungan, akan tetapi disini lebih menunjukkan konsentrasi pemukiman yang berdasarkan nilai historis. Sedang batas-batasnya biasanya berupa batas fisik seperti sungai, selokan, jalan, rel kereta api, dan sebagainya. Pada umumnya kampung ini keadaan daerahnya tidak teratur. Istilah 'slum' menunjukkan pada pertumbuhan pemukiman yang buruk, sedang istilah 'squatter' menunjukkan pada gubug-gubug liar yang dibangun secara menjamur di tanah yang liar pula. Tujuan dari proyek perbaikan kampung (KIP) yaitu, menyediakan perumahan dan perkotaan yang menawarkan dukungan penting dalam mengurangi kemiskinan perkotaan dan meningkatkan koordinasi antara badan-badan independen yang terhubung dalam pelaksanaan proyek perbaikan kampung/ kampung improvement project (KIP). Badan pengawas perumahan belum mengawasi dan memotivasi tujuan program proyek perbaikan kampung sebagai yang dimaksudkan untuk mereka lakukan. Hal ini karena kurangnya pelatihan program proyek pembangunan kampung. Keberhasilan pembangunan sosial komponen telah terbatas karena kurangnya dana untuk pelatihan dan keterampilan kerja karena target penerima bantuan bekerja di sektor informal dan mengalami kesulitan mengikuti pelatihan sesi. Evaluators Bank Dunia mengamati masyarakat perkotaan miskin tidak dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan dan pengembangan jika mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. Kemampuan masyarakat untuk membayar harus dipertimbangkan dalam menentukan ukuran program investasi. Berhadapan dengan pernah-lebih krisis ekonomi, masyarakat harus membantu meningkatkan pendapatan pertama mereka sendiri, sehingga mereka dapat membantu membiayai program pembangunan. Perbaikan di satu daerah tidak boleh memiliki dampak negatif pada penduduk di daerah tetangga. Ini akan menghasilkan resistensi di masyarakat umum dan juga berpotensi mesukseskan Proyek Perbaikan Kampung. Dengan tercapainya proyek pembangunan kampung ini akan mengurangi beberapa faktor yang menjadi masalah krusial dalam pemukiman perkampungan yaitu, saluran air yang semula penuh sampah, bau dan tersumbat, kini airnya telah mengalir lancar. Bau sampah pun sudah menghilang. Begitu pula jalan kampung yang semula sempit, tak beraspal dan sering becek jika turun hujan, kini sudah agak longgar dan beraspal. Pemerintah sebagai stakeholder tidak berdiam diri dalam menyikapi berbagai masalah kondisi lingkungan pemukiman warganya. Proyek yang menggunakan dana APBD ini bermaksud mewujudkan pemukiman yang lebih berkualitas melalui pendekatan komprehensif, terpadu, skala terfokus, terorganisir, melibatkan peran serta masyarakat lokal, pihak swasta dan pemerintah kota. Karenanya, Dalam pelaksanaannya, proyek ini melibatkan banyak pihak, termasuk konsultan. Proyek Perbaikan Kampung di wilayah tertentu membawa dampak positif bagi kehidupan sosial warga. Kantong-kantong pemukiman yang tadinya kumuh, sudah mulai tertata dan tingkat kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan terlihat dengan nyata. Harus diakui, Proyek Perbaikan Kampung mampu mengubah lokasi pemukiman yang tidak tertata, menjadi tertata. Sasaran dari Proyek Perbaikan Kampung diarahkan pada kantong-kantong pemukiman kumuh dan miskin. Pemukiman kumuh terbanyak terdapat di kondisi lingkungan bisa dikatakan (relatif) sudah tertata dengan baik. Fakta inilah yang mendorong Pemerintah Kota memberi prioritas penataan. Permasalahan lingkungan pemukiman kumuh antaralain, terjadi karena tingkat kepadatan penduduk yang tinggi disebabkan oleh meledaknya urbanisasi dan banyak terjadi pelanggaran peruntukan lahan. Tidak sedikit bangunan yang berdiri di atas saluran air dan jalan jadi menyempit karena bangunan yang tidak tertata. Kondisi inilah yang harus diperbaikan. Itu pula alasannya kenapa proyek ini diberi nama Proyek Perbaikan Kampung. Disebut perbaikan, karena terjadi berbagai kerusakan sarana dan prasarana perkampungan. Kerusakan terjadi karena ulah manusia yang tidak disiplin dan tidak pada aturan hukum. B. TUJUAN 1. Mengetahui Konsep Program Kip 2. Kendala Yang Di Hadapi Dalam Implementasi Kip3. Faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan KipC. MANFAAT1. Pembelajaran bagi mahasiswa sehingga mengetahui masalah di perkampungan.2. Makalah ini dapat bermanfaat dalam pengambilan keputusan bagi pengambilan keputusan / kebijakan.3. Kontribusi terhadap ilmu ekonomi pembangunan khususnya welfare economics.4. Untuk meningkatkan pemahaman teori pembangunan, teori perumahan / pemukiman, teori penggunaan lahan, teori kesehatan lingkungan, dan konsep kemiskinan.5. Sebagai rujukan / referensi untuk studi selanjutnya.

BAB IIKAJIAN PUSTAKAa. Teori kesehatan lingkungan Lingkungan Hidup menurut UU RI nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, (Mukono, 2000: 8)Kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan periklakunya, yang mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan mamnusia serta makhluk hidup lainnya.Kesehatan Lingkungan pada pemukiman atau perumahan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, sosial, pendidikan, tradisi/kebiasaan, suku geografis dan kondisi Lokal. (Mukono,2000:155). Selanjutnya menurut mukono, selain itu lingkungan pemukiman/perumhan dipengaruhi oleh beberapa factor yang menentukan kualitas lingkungan pemukiman tersebut, yaitu fasilitas pelayanan, perlengkapan, peralatan yang dapat menunjang terselenggaranya kesehatanfisik, kesehatan mental, kesehatan sosial bagi individu dan keluarganya.Blum (1981: 4) bahwa kesehatan ditentukan oleh 4 faktor, yaitu sebagai berikut:1. Faktor lingkngan 2. Gaya Hidup ((life-style)3. Factor (Genetik genetic factor)4. Pelayanan Kesehatan )medical care service)Di Negara- Negara berkembang yang paling menentukan derajat kesehatan adalah faktor kemudian berturut-turut oleh faktor gaya hidup, faktor genetic dan terakhir oleh factor pelayanan kesehatan. Menurut Blum semakin maju dan kaya suatu masyarakat maka factor yang menentukan tingginya derajat kesehatan bergeser dari factor lingkungan menjadi factor gaya hidup. Hal ini terbukti di Negara-negara maju dimana lingkungan hidup sudah tertata, gaya hidup merupakan factor terpenting yang mempengaruhi kesehatan masyarakatnya.Menurut Departemen Pemukiman dan Prasarana wilayah Pemukiman Kumuh (slum) dapat diklasifikasikan kedalam 2 klasifikasi yaiti:1. Fisika. Berpenghuni padat >500 orangb. Tata letak bangunan (kondisinya buruk dan tidak memadai)c. Kondisi konstruksi (kondisinya buruk dan tidak memadai)d. Ventilasi (tidak ada, kalau ada kondisinya buruk dan tidak memadai)e. Kepadatan pembangunan ( kondisinya buruk dan tidak memadai)f. Drainase ( tidak ada)g. Keadaan jalanh. Persediaan air bersih (tidak ada, kalau ada kwalitasnya kurang baik dan terbatas/kurang lancer)i. Pembuangan limbah manusia dan sampah (tidak ada)2. Non fisika. Tingkat kehidupan sosial ekonomi rendahb. Pendidikan didominasi SLTP kebawahc. Mata pencaharian bertumpu pada sector informald. Disiplin warga rendah

Menurut Ditjen Bangka depdagri, ciri-ciri pemukiman atau daerah perkampungan kumuh dipoandang dari segi sosial ekonomi adalah sebagai berikut:1. Sebagian besar penduduknya berpenghasilan dan berpendidikan rendah, serta memiliki system sosial yang rentan.2. Sebagian besar penduduknya berusaha atau bekerja disektor informal lingkungan pemukian, rumah, fasilitas dan prasaranya dibawah standar minimal sebagai tempat bermukim misalnya, misalnya memiliki :a. Kepadatan penduduk yang tinggi > 200 jiwa/km2b. Kepadatan bangunan >110 bangunanc. Kondisi prasarana buruk (jalan, air bersih, sanitasi, drainase dan persampahan)d. Kondisi fasilitas lingkungan terbatas dan buruk, terbangun