Jurnal Reading

download Jurnal Reading

If you can't read please download the document

  • date post

    24-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    131
  • download

    10

Embed Size (px)

Transcript of Jurnal Reading

Jurnal Reading

POSTERIOR PELVIC FLOORTim A Cook, Neil Mortensen

Oleh Elvera Eklesia I1A003076

Pembimbing dr. H. Pribakti Budinurdjaja, Sp. OG(K)

BAGIAN/SMF ILMU KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNLAM RSUD ULIN BANJARMASIN Juni, 2011

KOLON, REKTUM, ANUS, SFINGTER ANUS DAN DASAR PELVIS

Pemahaman tentang mekanisme kontinensia normal dan proses defekasi beserta perubahan yang terjadi pada penyakit, dalam proses ini memerlukan pengetahuan dasar tentang anatomi, fisiologi, dan farmakologi organ yang bersangkutan. Bab ini mencakup diskusi tentang anatomi dan embriologi kolon, rektum dan anus. Suplai darah dan persarafan juga akan dibahas dan penjelasan tentang susunan fleksus saraf usus juga akan disajikan. Akhirnya, farmakologi sfingter anus internus (internal anal sphincter [IAS]) dan persarafan sensorik kanalis anus dan rektum juga akan akan dijelaskan.

I.

ANATOMI KOLON, REKTUM DAN ANUS Usus besar memanjang dari terminal ileum hingga ke anus. Terdiri atas

sekum, kolon, rektum dan anus. Kolon memiliki panjang sekitar 150 cm meskipun akan bervariasi antar individu. Diameter lumen terbesarnya sekitar 7,5 cm pada sekum. Semakin ke distal menuju perbatasan kolon sigmoid dengan rektum, maka semakin menyempit pula diameter lumen sedikit demi sedikit. Diameter lumen rektum jauh lebih besar daripada kanalis anus. Sebagaimana bagian saluran cerna yang lain, dinding usus besar juga terdiri atas lapisan mukosa, submukosa, lamina propria muskularis dan serosa yang merupakan bagian peritoneum pelvis. Lapisan otot polos (lamina propria muskularis) tersusun oleh dua lapis, yaitu lapisan otot sirkuler di dalam dan lapisan otot longitudinal di luar. Pada sekum dan kolon, lapisan otot longitudinal ini terkumpul menjadi tiga jalur atau pita (band) yang memiliki

2

jarak yang setara satu sama lain dan disebut sebagai taenia coli. Dinding usus di antara taenia coli ini tipis dan dapat menampung isi kolon dan sekum dalam jumlah besar dengan cara distensi. Taenia coli ini lebih pendek dibandingkan dengan panjang seluruh kolon dan menyebabkan lapisan otot sirkuler mengerut disertai dengan produksi sakkulasi haustra yang khas. Taenia memanjang dari dasar apendiks di sekum (seluruhnya lapisan otot longitudinal) hingga perbatasan kolon sigmoid dengan rektum dimana ketiga pita otot menyatu jadi lapisan otot longitudinal komplit di rektum. Kecuali apendiks, sekum maupun rektum, usus besar diselimuti oleh peritoneum dengan taburan lemak yang dinamakan appendices epiploicae dan paling banyak pada bagian taenia serta relatif rata pada kolon sisi kanan tetapi memanjang dan berdungkul pada kolon sigmoid.

1.1 Sekum Ada beberapa variasi dalam hal disposisi kolon antar individu, terutama porsi mesokolon. Sekum terletak pada fossa iliaka dekstra yang biasanya diselimuti peritoneum tetapi pada beberapa individu bagian ini hanya diselimuti sedikit sehingga sekum langsung kontak dengan os iliaka. Apendiks tumbuh pada bagian terbawah sekum. Ileum membuka ke dalam usus besar melalui katup ileosekal yang terletak di medial dan posterior. Katup terdiri atas segmen/bibir atas dan bawah yang berbentuk semilunar dan mengarah ke

sekum. Katup ini mencegah refluks dari sekum ke dalam ileum tetapi juga bertindak sebagai sfingter untuk mencegah perpindahan isi ileum yang terlalu

3

cepat ke dalam sekum. Penelitian dengan barium enema seringkali menunjukkan katup ileosekal yang inkompeten tanpa adanya suatu patologi sekalipun.

1.1.1 Kolon asendens Kolon asendens memiliki panjang sekitar 15 cm dan berjalan dari sekum hingga fleksura hepatika. Bagian usus ini tertanam dengan peritoneum di anterior, medial dan lateral, tetapi tidak dilapisi di bagian posterior sehingga posisinya dapat difiksasi. Biasanya langsung kontak dengan muskulus iliakus, kuadratus lumborum, dan pangkal dari muskulus transversus abdominis di bagian bawah serta dengan kutub inferior ginjal kanan di bagian atas. Pada sisi anterior, bersentuhan dengan usus halus dan tepi kanan omentum majus. Tepat di bawah lobus kanan liver, kolon berbelok tajam ke bawah dan depan untuk membentuk fleksura hepatika dan kolon transversus pada titik ini memotong abdomen menuju kuadran kiri atas dimana akan berbelok tajam lagi yang membentuk fleksura splenika.

1.1.2 Kolon transversus Kolon transversus membentuk untaian yang menggantung ke bawah sedikit di bawah lambung dan memiliki panjang sekitar 45 cm. Di proksimal, berhubungan dengan ginjal kanan, bagian kedua duodenum dan kaput pankreas di sisi posterior. Sisanya tertanam seluruhnya di dalam peritoneum dan terhubung dengan batas inferior pankreas serta kutub inferior ginjal kiri pada mesokolon transversa yang membagi kavitas abdomen menjadi kompartemen

4

suprakolika dan infrakolika. Untaian usus halus memanjang di belakang kolon transversus, termasuk fleksura duodeno-jejunum. Sedikit di atas bagian ini terdapat lambung dan limpa di bagian distalnya.

1.1.3 Kolon desendens Dari fleksura splenika, usus besar menjadi kolon desendens dan berjalan ke bawah antara muskulus psoas dan kuadratus lumborum sepanjang lengkungan os iliaka dengan panjang sekitar 25 cm. Di anterior, medial dan lateral, ditutupi oleh peritoneum tetapi kontak langsung di posterior dengan ginjal kiri serta muskulus kuadratus lumborum, transversus abdominis, iliaka dan psoas.

1.1.4 Kolon sigmoid Kolon sigmoid memanjang dari bagian terbawah kolon desendens hingga bagian atas rektum. Kolon ini membentuk untaian yang bervariasi panjangnya tetapi rata-rata sekitar 40 cm. Semua bagian diselimuti oleh peritoneum yang membentuk mesokolon. Mesokolon berkurang panjangnya dari tengah hingga akhir untaian dimana kolon sigmoid terfiksasi pada perbatasannya dengan kolon desendens dan rektum. Mesolon melekat dengan bentuk V terbalik pada dinding pelvis. Bagian tengah ke atas berjalan dari batas medial muskulus psoas sinistra menuju ke garis tengah yang memotong ureter dan a.v. iliaka.

1.2 Rektum

5

Perbatasan antara kolon sigmoid dan rektum biasanya setinggi promontorium sakralis. Perbatasan ditandai oleh tidak adanya selimut peritoneum, tidak adanya mesokolon sejati, tidak adanya appendices epiploicae dan divergensi tiga taenia coli untuk membentuk lapisan otot longitudinal yang kontinu. Rektum memiliki panjang antara 15-20 cm dan berakhir pada bagian atas kanalis anus. Sepertiga atas rektum ditutupi peritoneum di anterior dan lateral. Sepertiga tengah rektum hanya diselimuti di anterior sedangkan sepertiga akhir tidak diselimuti sama sekali. Sepertiga anterior ini langsung kontak dengan bagian belakang kandung kemih dan vesikula seminalis, atau vagina dan uterus pada perempuan, yang berturut-turut membentuk lipatan rektovesika dan rektouterina. Jarak antara perlekatan peritoneum dan kulit perineum adalah sekitar 8 cm pada pria dan 5-8 cm pada wanita. Prolapsus seluruh rektum dikaitkan dengan kelainan lipatan rektovagina. Rektum duduk di depan dan di bagian bawah sakrum sehingga rektum berjalan ke bawah dan ke posterior lalu ke bawah dan akhirnya ke ke bawah depan sebelum kembali ke belakang dan inferior untuk menjadi kanalis anus pada dinding pelvis.

Hubungan fasia pada rektum ekstraperitoneal Di belakang rektum, terdapat mesorektum yang berisi pembuluh darah dan limfe. Bagian ini melekat secara longgar dengan bagian depan sakrum dan koksigeus oleh jaringan ikat. Mesorektum dan rektum dapat dipisahkan dari sakrum dengan potongan tajam dan bagian ini disebut sebagai mesorectal plane.Sekali digerakkan, mesorektum tetap tertanam di dalam lapisan tipis fasia

6

dan disebut sebagai fasia propria. Sakrum dan koksigeus juga diselimuti oleh fasia tebal yang memanjang ke bawah dan depan pada sisi atas ligamentum anokoksigeusdan disebut sebagai fasia Waldeyer. Ligamen lateral dari rektum ini mengandung arteri rektum media dan diduga memberikan suplai kepada rektum. Pembagiannya diyakini penting dalam mobilisasi rektum dari pelvis. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, banyak ahli bedah digestif mempertanyakan keberadaan ligamen ini.

1.2.1 Kanalis anus Gambaran mengenai kanalis anus bervariasi. Ada dua definisi kanalis anus, yaitu kanalis anus yang panjang (istilah bedah) memiliki panjang 4 cm dan kanalis anus yang pendek (istilah embriologi) memiliki panjang 2 cm. Kanalis anus yang pendek dikatakan memanjang dari katup anus hingga tepi anus. Gambaran ini berdasarkan pada keyakinan bahwa katup anus dan linea dentatus/pektinatus mewakili lokasi terbaginya membran kloaka selama masa perkembangan. Kanalis anus yang panjang memanjang dari setinggi muskulus levator ani dimana rektum berjalan ke belakang dam inferior melintasi dasar pelvis. Kanalis ini bertemu dengan ujung distal rektum yang terdilatasi dan juga paling dekat dengan tengah daerah dimana tekanan intraluminal paling tinggi. Kontraksi aktif muskulus puborektalis akan mempertahankan sudut antara rektum dan kanalis analis.

Lapisan epitel

7

Lapisan dinding kanalis anus bervariasi selama perjalanannya akibat dari derivasi embriologik. Kulit pantat langsung menyambung dengan tepi anus dan akan berlanjut hingga setinggi batas bawah sfingter anus internus. Secara histologik, lapisan dindingnya merupakan epitelium skuamosum stratifikatum berkeratin yang mengandung folikel rambut, kelenjar sudorifera (keringat) dan kelenjar sebasea (minyak). Di proksimal bagian ini, hanya berupa epitelium skuamosum stratifikatum yang tidak berkeratin dan kurang mengandung folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Di atas bagian tersebut adalah zona transisi anus yang merupakan area dengan epitelium yang bervariasi antara epitelium skuamosum stratifikatum dan kolumner. Fenger mengenalkan definisi zona transisi anus sebagai zona silang antara kripta pada mukosa kolorektal dan epitelium skuamosum di bawahnya. Dalam penel