Gangguan Cemas

download Gangguan Cemas

of 40

  • date post

    06-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    81
  • download

    1

Embed Size (px)

description

gangguan cemas

Transcript of Gangguan Cemas

Daftar Pustaka

Gangguan CemasGANGGUAN CEMAS

DEFINISI GANGGUAN CEMAS

Cemas didefinisikan sebagai suatu perasaan yang difus, tidak menyenangkan, yang umumnya disertai gejala otonom seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, rasa sesak di dada, tidak nyaman pada perut, dan gelisah. Cemas merupakan suatu sinyal sensor terhadap suatu keadaan yang tidak menguntungkan, yang memungkinkan seseorang bertindak antisipatif terhadap keadaan tersebut.

Cemas merupakan sinyal yang digunakan untuk mengenali ancaman dari luar maupun dalam. Rasa cemas, berdasarkan konsepnya, memiliki kualitas yang dapat menyelamatkan hidup, dengan cara menyadarkan terhadap bahaya nyeri, rasa tidak berdaya, hukuman, ataupun luka batin seperti ditinggal orang-orang terkasih yang pada akhirnya memberikan kesempatan untuk seseorang mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mencegahnya terjadi.

Rasa cemas dapat datang dari eksternal atau internal. Masalah eksternal umumnya terkait dengan hubungan antara seseorang dengan komunitas, teman, atau keluarga. Masalah internal umumnya terkait dengan pikiran seseorang sendiri. Beratnya rasa cemas juga ditentukan oleh ego seseorang. Bila ego seseorang normal, bila terdapat ketidakseimbangan dalam faktor eksternal atau internal, ia dapat mengatasinya.

TANDA DAN GEJALA GANGGUAN CEMAS

Gejala-gejala cemas pada dasarnya terdiri dari dua komponen yakni, kesadaran terhadap sensasi fisiologis ( palpitasi atau berkeringat ) dan kesadaran terhadap rasa gugup atau takut. Selain dari gejala motorik dan viseral, rasa cemas juga mempengaruhi kemampuan berpikir, persepsi, dan belajar. Umumnya hal tersebut menyebabkan rasa bingung dan distorsi persepsi. Aspek yang penting pada rasa cemas, umumnya orang dengan rasa cemas akan melakukan seleksi terhadap hal-hal disekitar mereka yang dapat membenarkan persepsi mereka mengenai suatu hal yang menimbulkan rasa cemas.

PATOFISIOLOGI GANGGUAN CEMASTerdapat tiga teori yang mendasari rasa cemas yang patologis, yaitu : Teori psikoanalitik Teori perilaku Teori eksistensi

Teori PsikoanalitikRasa cemas dianggap sebagai sinyal terhadap hal-hal yang tidak menguntungkan di alam bawah sadar. Sebagai respon terhadap sinyal tersebut, ego seseorang membentuk suatu mekanisme pertahanan untuk mencegah perasaan dan pikiran, yang tidak dapat diterima, untuk tidak muncul ke alam sadar. Tujuan terapi pada gangguan cemas adalah bukan untuk menghilangkan rasa cemas itu, melainkan untuk meningkatkan tingkat toleransi seseorang terhadap rasa cemas itu, sehingga seseorang itu dapat mengidentifikasi masalah yang menimbulkan rasa cemas itu.

Teori PerilakuBerdasarkan teori perilaku, rasa cemas dianggap timbul sebagai respon dari stimulus lingkungan yang spesifik. Contohnya, seorang anak perempuan yang dibesarkan oleh ayah yang memperlakukannya semena-mena, akan segera merasa cemas bila ia melihat ayahnya. Dan melalui proses generalisasi, ia akan menjadi tidak percaya dengan pria-pria disekitarnya. Selain itu, diduga bila rasa cemas itu dapat ditiru, seperti seorang anak yang meniru sifat orangtuanya yang cemas.Teori EksistensiTeori eksistensi memberikan penjelasan mengenai gangguan cemas menyeluruh, dimana sesungguhnya tidak didapatkan stimulus rasa cemas yang bersifat kronis. Inti dari teori eksistensi adalah seseorang merasa hidup di dalam dunia yang tidak bertujuan. Rasa cemas adalah respon mereka terhadap rasa kekosongan eksistensi dan arti.

Riset genetik menunjukan terdapatnya komponen gen yang berkontribusi pada kelainan gangguan cemas. Hereditas telah diakui sebagai faktor predisposisi pembentukan kelainan gangguan cemas. Hampir separuh dari pasien dengan gangguan cemas juga memiliki seseorang dalam keluarganya yang mengalami gangguan serupa. Data dari kelahiran kembar juga mendukung hipotesis gen yang berperan dalam kelainan gangguan cemas.

Berdasarkan aspek biologis, didapatkan beberapa teori yang mendasari timbulnya cemas yang patologis antara lain: Sistem saraf otonom Neurotransmiter

Sistem Saraf OtonomStimulus terhadap sistem saraf otonom menimbulkan gejala-gejala tertentu pada sistem kardiovaskuler (palpitasi), muskuloskeletal (nyeri kepala), gastrointestinal (diare), dan respirasi (takipneu). Sistem saraf otonom pada pasien dengan gangguan cemas, terutama pada pasien dengan gangguan serangan panik, mempertunjukan peningkatan tonus simpatetik, yang beradaptasi lambat pada stimuli repetitif dan berlebih pada stimuli yang sedang.

NeurotransmiterDitemukan tiga neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa cemas, yakni norepinephrine ( NE ), serotonin, dan -aminobutryic acid ( GABA ).

NorepinephrineGejala kronis yang ditunjukan oleh pasien dengan gangguan cemas berupa serangan panik, insomnia, terkejut, dan autonomic hyperarousal, merupakan karakteristik dari peningkatan fungsi noradrenergik. Teori umum dari keterlibatan norepinephrine pada gangguan cemas, adalah pasien tersebut memiliki kemampuan regulasi sistem noradrenergik yang buruk terkait dengan peningkatan aktivitas yang mendadak. Sel-sel dari sistem noradrenergik terlokalisasi secara primer pada locus ceruleus pada rostral pons, dan memiliki akson yang menjurus pada korteks serebri, sistem limbik, medula oblongata, dan medula spinalis. Percobaan pada primata menunjukan bila diberi stimulus pada daerah tersebut menimbulkan rasa takut dan bila dilakukan inhibisi, primata tersebut tidak menunjukan adanya rasa takut. Studi pada manusia, didapatkan pasien dengan gangguan serangan panik, bila diberikan agonis reseptor -adrenergik ( Isoproterenol ) dan antagonis reseptor -2 adrenergik dapat mencetuskan serangan panik secara lebih sering dan lebih berat. Kebalikannya, clonidine, agonis reseptor -2 menunjukan pengurangan gejala cemas.

SerotoninDitemukannya banyak reseptor serotonin telah mencetuskan pencarian peran serotonin dalam gangguan cemas. Berbagai stress dapat menimbulkan peningkatan 5-hydroxytryptamine pada prefrontal korteks, nukleus accumbens, amygdala, dan hipotalamus lateral. Penelitian tersebut juga dilakukan berdasarkan penggunaan obat-obatan serotonergik seperti clomipramine pada gangguan obsesif kompulsif. Efektivitas pada penggunaan obat buspirone juga menunjukan kemungkinan relasi antara serotonin dan rasa cemas. Sel-sel tubuh yang memiliki reseptor serotonergik ditemukan dominan pada raphe nuclei pada rostral brainstem dan menuju pada korteks serebri, sistem limbik, dan hipotalamus.

GABAPeran GABA pada gangguan cemas sangat terlihat dari efektivitas obat-obatan benzodiazepine, yang meningkatkan aktivitas GABA pada reseptor GABA tipe A. Walaupun benzodiazepine potensi rendah paling efektif terhadap gejala gangguan cemas menyeluruh, benzodiazepine potensi tinggi seperti alprazolam dan clonazepam ditemukan efektif pada terapi gangguan serangan panik

Pada suatu studi struktur dengan CT scan dan MRI menunjukan peningkatan ukuran ventrikel otak. Pada sebuah studi, peningkatan ukuran ventrikel otak terkait dengan lamanya pasien mengkonsumsi obat benzodiazepine. Pada satu studi MRI, sebuah defek spesifik pada lobus temporal kanan ditemukan pada pasien dengan gangguan serangan panik. Beberapa studi pencitraan otak lainnya juga menunjukan adanya penemuan abnormal pada hemisfer kanan otak, tapi tidak ada pada hemisfer kiri. Hal ini menunjukan keasimetrisan otak memiliki peran pada pembentukan gangguan cemas pada pasien-pasien spesifik. fMRI, SPECT, dan EEG menunjukan penemuan abnormal pada korteks frontal pasien dengan gangguan cemas, yang ditemukan juga pada area oksipital, temporal, dan girus hippocampal. Pada gangguan obsesif kompulsif diduga terdapat kelainan pada nukleus kaudatus. Pada PTSD, fMRI menunjukan pengingkatan aktivitas pada amygdala.

Berdasarkan pertimbangan neuroanatomis, daerah sistem limbik dan korteks serebri dianggap memegang peran penting dalam proses terjadinya cemas.

Sistem LimbikSelain menerima inervasi dari noradrenergik dan serotonergik, sistem limbik juga memiliki reseptor GABA dalam jumlah yang banyak. Ablasi dan stimulasi pada primata juga menunjukan jikalau sistem limbik berpengaruh pada respon cemas dan takut. Dua area pada sistem limbik menarik perhatian peneliti, yakni peningkatan aktivitas pada septohippocampal, yang diduga berkaitan dengan rasa cemas, dan cingulate gyrus, yang diduga berkaitan dengan gangguan obsesif kompulsif.

Korteks SerebriKorteks serebri bagian frontal berhubungan dengan regio parahippocampal, cingulate gyrus, dan hipotalamus, sehingga diduga berkaitan dengan gangguan cemas. Korteks temporal juga dikaitkan dengan gangguan cemas. Hal ini diduga karena adanya kemiripan antara presentasi klinis dan EEG pada pasien dengan epilepsy lobus temporal dan gangguan obsesif kompulsif.

KLASIFIKASI GANGGUAN CEMAS

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders ( DSM-IV), gangguan cemas terdiri dari : (1) Serangan panik dengan atau tanpa agoraphobia;(2) Agoraphobia dengan atau tanpa Serangan panik; (3) Fobia spesifik; (4) Fobia sosial; (5) Gangguan Obsesif-Kompulsif; (6) Post Traumatic Stress Disorder ( PTSD ); (7) Gangguan Stress Akut; (8) Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder).

Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III, gangguan cemas dikaitkan dalam gangguan neurotik, gangguan somatoform dan gangguan yang berkaitan dengan stress (F40-48).

F40F48 GANGGUAN NEUROTIK, GANGGUAN SOMATOFORM DAN GANGGUAN YANG BERKAITAN DENGAN STRESF40 Gangguan Anxieta FobikF40.0 Agorafobia .00 Tanpa gangguan panik.01 Dengan gangguan panikF40.1 Fobia sosialF40.2 Fobia khas (terisolasi)F40.8 Gangguan anxietas fobik lainnyaF40.9 Gangguan anxietas fobik YTT

F41 Gangguan Anxietas LainnyaF41.0 Gangguan panik (anxietas paroksismal episodik)F41.1 G