Drugs for Gastrointestinal

download Drugs for Gastrointestinal

of 24

  • date post

    12-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    84
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Drugs for Gastrointestinal

DRUGS FOR GASTROINTESTINAL DISORDERS Dr. dr. Eti Nurwening S, M. Kes Ado Pranawalingga

Haloooo . . Sudah minggu kedua nih di blok 3.3. Semangat yaaa . . Gak kerasa uda mau semester 6, habis itu semester 7, habis itu? Hahahaa . . . Ya kalo kata mbak Avril , keep holding on aja. Oke, jadi lecture yang akan kita pelajari kali ini adalah tentang obat-obatan yang digunakan untuk gangguan dalam pencernaan. Oya, banyak gambar yang saya ambil bukan dari slide, tapi dari referensi lain. Soalnya menurut saya slidenya agak membingungkan. Jadi, tetap semangat PD 2010!

Sebelum lebih jauh, sebagai gambaran besar, dalam lecture kali ini kita akan mempelajari obat yang digunakan untuk 4 gangguan gastrointestinal termasuk kelainan hepatobiliary (walaupun judulnya cuma gastrointestinal disorder, dosennya juga ngasih 1 contoh jenis obat yang digunakan dalam kasus gangguan hepatobiliary). Sebenarnya selain 4 kelainan ini masih banyak kelainan lain, silahkan yang lain dicari yaa di buku-buku farmakologi terapi untuk memperkaya ilmu kita. Jadi, 4 gangguan tersebut adalah : 1. Acid Peptic Disorders 2. Emesis 3. Motility Disorder 4. Cholesterol Cholitiasis Sekarang, mari kita bahas satu-satu ya . . Siapkan diri ya untuk menghapal nama-nama obat :D

ACID PEPTIC DISORDERS Acid Peptic Disorder merupakan hasil dari mekanisme patogenik yang ujung-ujungnya mengarah kepada kejadian : kelebihan sekresi asam atau berkurangnya pertahanan mukosa.

A. FISIOLOGI

Gaster memiliki fungsi yang banyak. Yang akan kita bahas di sini adalah sekresi asam. Peran asam sebenarnya adalah untuk membantu pencernaan protein (dengan mengaktifkan prekusor enzim pepsinogen menjadi pepsin), mematikan organisme yang masuk dan membantu absorbsi zat besi dan vitamin B12. Bagaimana sih cara asam dihasilkan? Coba liat gambar sebelah. Gambar sebelah adalah kantung lambung (gastric pits) yaitu invaginasi permukaan luminal gaster yang terdapat di bagian fundus dan corpus gaster. Di sini terdapat banyak sel kelenjar mukosa. Nah, yang menghasilkan asam (HCl) adalah sel parietal yang juga menghasilkan faktor intrinsik. Nah sekarang mari kita tilik lebih dalam sel parietal yuk :3

Semoga gambarnya keliatan jelas yaaa . . Jadi sebenarnya gambar di atas terbagi jadi 2 sisi. Sisi kiri dan kanan (dilihat dari sisi kita). Di gambar sisi kiri terdapat gambar sel G dan sel D yang terletak pada permukaan mukosa di bagian antrum lambung (inget kan? Pars antrum adalah salah satu bagian dari pars pyloric gaster) sedangkan sisi kanan ada sel parietal dan sel ECL (Enterochromaffin-like cells) yang terletak di gastric pits di bagian mukosa oksintik (melapisi corpus dan fundus). O ya, gambar di atas merupakan gambar skematik yaa . . Yang aslinya gak kayak gini, ini cuma membantu pemahaman aja.

Nah, sekarang mari kita bahas gambar sisi kanan terlebih dahulu. Sel parietal distimulasi untuk menghasilkan ion H+ (asam) ke dalam lumen gaster. Hal ini disebabkan karena sel parietal distimulus oleh gastrin (reseptor : G(astrin) receptor/CCk-B receptor), asetilkolin (ACh) (reseptor : M3 receptor/muskarinik) dan histamine (reseptor : H2-R). Acid disekresi melalui

membrane canalicular (saluran-saluran halus) menuju lumen gaster dengan bantuan H+/K+, ATP-ase proton pump.

Sekarang mari bahas gastrin. Gastrin dihasilkan oleh sel G (lihat gambar sisi kiri) yang terletak pada mukosa antrum pyloricum gaster dan masuk ke aliran darah sebagai respon dari makanan di dalam gaster yang mengandung protein (dietary peptides). Gastrin tadi akan dibawa ke pembuluh darah ke submukosa oksintik (bagian fundus dan corpus gaster) dan akan menstimulus G receptor/CCk-B receptor pada sel parietal dan sel ECL.

Sekarang mari bahas nervus vagus (lihat gambar sisi kanan). Nervus vagus akan menstimulasi neuron postganglionic (lihat ada sinaps di atas sel parietal paling kiri) untuk menghasilkan neurotransmitter asetilkolin (ACh) yang akan menstimulus reseptornya di sel parietal dan sel ECL. Sel ECL yang distimulus oleh ACh dan gastrin akan mengeluarkan histamine. Histamine ini akan berikatan dengan reseptornya di sel parietal. Nah sekarang lihat gambar sisi kiri. Nervus vagus juga akan menstimulasi neuron postganglionic dan akan menstimulus pengeluaran ACh. ACh ini akan berikatan dengan reseptornya di sel G dan sel D. Pada sel G dia akan berikatan dengan GRP-R (Gastrin Releasing Peptides Receptor) dan menstimulus pengeluaran gastrin. Sementara itu, pada sel D, ACh akan berikatan dengan ACh-R (Asetilkolin Receptor) dan akan menginhibisi keluarnya somatostatin. Somatostatin berfungsi untuk menghambat pelepasan gastrin dari sel G. Jadi, kalau dihambat, somatostatinnya gak keluar dan gastrin tetap dihasilkan.

Nah! Tapi tentu saja hal ini tidak berlangsung terus menerus. Tubuh juga memiliki respon untuk menghentikan lingkaran penghasil asam ini. Dengan cara apa? Dengan cara pelepasan somatostatin yang distimulus oleh peningkatan ion H+ dalam lumen (tampak pada gambar) dan oleh CCK (cholecystokinin) yang dibawa dalam aliran darah, yang berasal dari sel di duodenal yang terangsang akibat terdapatnya protein dan lemak di dalam lumen duodenum (tidak tampak dalam gambar). Somatostatin yang berikatan dengan reseptornya di sel G yang berdekatan akan menginhibisi keluarnya gastrin.

Jadi, cerita di atas adalah mekanisme kontrol dari sekresi asam yaaa :3 Kalo masih bingung dicoba baca pelan-pelan. O ya! Kenapa di gambar, gastrin menstimulus reseptornya di sel parietal dengan garis yang putus-putus? Karena dipercaya pada manusia, efek utama terstimulusnya sel parietal adalah oleh histamine yang dikeluarkan sel ECL dibandingkan efek langsung dari gastrin yang berikatan ke sel parietal. Berbeda dengan gastrin, ikatan ACh ke reseptornya di sel parietal sangat poten terhadap terstimulusnya sel parietal untuk mengeluarkan asam.

B. PATOLOGIS

Nah, tadi setelah mengetahui proses mekanisme pengeluaran asam, gimana sih timbulnya Petic Ulcer Disease? Jadi Peptic Ulcer Disease timbul karena ketidakseimbangan dari faktor agresif dan faktor pertahanan di permukaan gaster. Emang faktornya apa aja sih? Jadi faktornya itu bisa liat di gambar di atas yaaa . . . Faktor pertahanan itu bertujuan melindungi gaster dan duodenum dari kerusakan yang disebabkan oleh faktor agresif, seperti :

Mucus : disekresi secara continuous oleh sel epitel superficial, memiliki protective effect. Bicarbonate : disekresi dari sel epitel superficial, memiliki efek menetralkan ion hydrogen (asam). Aliran darah (bloodflow) : Ingat bahwa aliran darah memberikan nutrisi sehingga aliran darah yang baik dan lancer menjaga integritas mukosa. Aliran darah yang tidak bagus juga dapat menimbulkan kelainan patologis.

Prostaglandins : menstimulus sekresi bikarbonat dan mucus dan juga membantu proses kelancaran aliran darah. Selain itu prostaglandin juga memiliki efek supresi asam lambung.

Lalu apa aja si faktor agresifnya? Helicobacter pylori : merupakan bakteri gram negative, dapat hidup di gaster dan duodenum. Dapat merusak lapisan mucus dan menimbulkan efek respon inflamasi yang akan mengganggu faktor pertahanan. Bakteri ini juga menghasilkan urease yang dapat membentuk CO2 dan ammonia yang bersifat toksik terhadap mukosa. NSAIDs : ingat bahwa ada NSAIDs yang bersifat menghambat prostaglandin. Padahal fungsi prostaglandin keren bangeet. Uda dijelasin di atas ya. Penurunan aliran darah, penurunan produksi mucus dan sintesis bikarbonat promote sekresi asam lambung. Asam lambung (gastric acid) : dapat mengaktivasi pepsin dan merusak mukosa. Selain itu terbentuknya ulcer juga membutuhkan kehadiran dari asam lambung. Pepsin. Smoking.

C. TERAPETIK Terapi untuk acid peptic disorder yang akan kita bahas disini sebenanya dapat dibagi menjadi 2 jenis. Yaitu inhibitor gastric acid dan mucosal protective agents.

Inhibitor of Gastric Acid

a. Antasida Antasida sudah digunakan berabad-abad lamanya (agak lebaai . . Tapi bener kok. Di sumber yang saya baca, dikatakan antasida sudah digunakan selama 2000 tahun) untuk mengobati pasien dyspepsia dan acid-peptic disorder. Namun, akhirnya masa kejayaan antasida berakhir karena sudah ditemukan obat jenis lain yaitu H2-Receptor Antagonist (H2RA)dan Proton Pump Inhibitors (PPI). Walaupun begitu, antasida tetap digunakan sebagian besar pasien sebagai nonprescription remedies untuk mengobati intermittent heartburn dan dyspepsia. Mekanisme primer dari antasida adalah dengan netralisasi pH di dalam gaster. Antasida bekerja cepat dan efektif untuk menghilangkan nyeri terkait asam. Sebenernya hilangnya nyeri ini ga harus pHnya berubah jadi netral atau basa, peningkatan pH dari 1,3 menjadi 3,5 saja sudah dapat redakan symptom. Nah jenis-jenis antasida adalah sebagai berikut : 1. Al(OH)3 (Aluminum hydroxide) Meningkatkan pH gastric juice menjadi sekitar 4 dan mampu menyerap pepsin. Al(OH)3 akan bereaksi dengan HCl menghasilkan aluminium chloride dengan air. Karena tidak ada gas yang terbentuk, tidak ada belching (sendawa). Efek samping : konstipasi, hipophospatemia. Alkalosis metabolik jarang terjadi karena reaksi penetralannya berjalan efisien. Garam aluminium yang tidak diabsorbsi dapat menyebabkan konstipasi. 2. Mg(OH)2 (Magnesium hydroxide) Efek samping : diare, hipermagnesaemia (pada insufisiensi renal). Alkalosis metabolik jarang terjadi. Garam magnesium dapat menyebabkan diare osmotic. 3. NaHCO3 (Sodium bicarbonate) Meningkatkan pH gastric juice menjadi 7.4 Efek samping: alkalosis metabolik, retensi cairan. Kenapa bisa? Karena NaHCO3 akan langsung bereaksi dengan HCl menghasilkan CO2 dan NaCl. Pembentukan CO2 mengakibatkan distensi gaster (gastric distention) dan belching (sendawa). Alkali yang tidak bereaksi (sisa NaHCO3 + HCl CO2 + NaCl) yang berupa basa, akan diabsorbsi kembali. Hal ini dapat mengakibatkan alkalosis metabolik apabila diberikan dalam dosis

yang tinggi dan pada pasien dengan renal