blok 9 ske. 6

download blok 9 ske. 6

of 14

  • date post

    16-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    10
  • download

    0

Embed Size (px)

description

blok 9

Transcript of blok 9 ske. 6

Gangguan Saluran Pencernaan pada Usus HalusDevyta Christia Heldisani102013457Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJl. Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510Email : devyta.2013fk457@civitas.ukrida.ac.id

AbstrakSistem pencernaan merupakan proses memindahkan nutrient, air, dan elektrolit dari makanan yang kita telan ke dalam lingkungan internal tubuh untuk menghasilkan energi atau ATP. Tempat sebagian besar pencernaan dan penyerapan berlangsung yaitu pada usus halus. Usus halus terdiri dari duodenum, jejenum, dan ileum. Ketika terjadi infeksi bakteri Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi pada saluran pencernaan, maka bagian yang akan diserang adalah plak Peyer pada ileum. Dengan adanya infeksi bakteri ini, maka akan menyebabkan demam typhoid atau yang sering disebut tifus.Kata kunci: Plak Peyer, ileum, demam typhoid.

AbstractThe digestive system is the process of removing nutrients, water, and electrolytes from the food we ingest into the internal environment of the body to produce energy or ATP. Where most of the digestion and absorption takes place, namely the small intestine. The small intestine consists of the duodenum, jejenum, and ileum. When there is a bacterial infection of Salmonella typhi and Salmonella paratyphi in the gastrointestinal tract, the part to be attacked is in the ileal Peyer plaques. With the presence of this bacterial infection, it will cause typhoid fever or often called typhus.Keywords: Plaque Peyer, ileum, typhoid fever.

PendahuluanDemam typhoid atau yang lebih dikenal sebagai tifus. Demam tifoid terjadi akibat masuknya kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi ke dalam tubuh manusia melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan dalam lambung, sebagian lolos masuk ke dalam usus dan selanjutya berkembang biak. Bila respons imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik, maka kuman akan menginfeksi saluran pencernaan, terutama plak Peyer pada ileum usus halus. Selanjutnya kuman ini akan mengganggu mekanisme kerja saluran pencernaan.Dalam penulisan makalah ini akan dibahas mengenai mekanisme pencernaan dan penyerapan pada usus halus dan efek sebagai akibat dari adanya infeksi bakteri, serta pengaruhnya pada organ pencernaan lainnya.Demam typhoid ini dikarenakan bakteri yang berkembang biak dalam usus halus, terutama yang menginfeksi plak Peyer pada ileum. Dimana bakteri ini merupakan sebagian kuman yang lolos dari lambung. Karena pada prosesnya, lambung mengeluarkan HCl dan bersama lisozim untuk mematikan sebagian besar microorganisme yang masuk bersama makanan.Pembahasan Intestinum TenueIntestinum merupakan bagian terpanjang dari tractus gastrointestinalis dan terbentang dari ostium pyloricum gaster sampai plica ileocaecale. Struktur intestinum berupa tabung yang panjangnya 6-7 meter dengan diameter yang menyempit dari permulaan sampai ujung akhir. Intestinum terdiri dari duodenum, jejenum, dan ileum.1DuodenumDuodenum merupakan bagian pertama dari intestinum tenue. Struktur ini berbentuk seperti huruf C, bersebelahan dengan caput pancreas, panjangnya sekitar 20-25 cm dan berada di atas umbilicus. Lumen duodenum merupakan lumen yang paling lebar dibandingkan dengan bagian intestinum tenue yang lain. Struktur ini terletak retroperitoneale, kecuali bagian awalnya, yang dihubungkan dengan hepar oleh ligamentum hepatoduodenale, yang merupakan bagian dari omentum minus.1Duodeni terbagi menjadi empat bagian, yaitu pars superior, pars descendens, pars inferior/ horizontalis, dan pars ascendens. Pars superior duodeni merupakan bagian pertama, terbentang dari ostium pyloricum gaster sampai collum vesicae fellea, berada tepat di sisi kanan vertebrae lumbal I, dan berjalan di anterior ductus choledochus, arteria gastroduodenalis, vena portae hepatis, dan vena cava inferior.1Pars descendens duodeni (bagian kedua), berada tepat di sisi kanan garis tengah tubuh dan terbentang dari collum vesica fellea sampai ke tepi bawah vertebra LIII. Permukaan anteriornya disilang oleh colon transversum, diposteriornya terdapat ren dextra, dan di medialnya terdapat caput pancreas. Bagian duodeni ini berisi papilla duodeni major, yang merupakan pintu masuk bersama bagi ductus choleduchus dan ductus pancreaticus, dan papilla duodeni minor, yang merupakan pintu masuk bagi ductus pancreaticus accesorius, dan pertemuan di pre-enteron dan mesenteron tepat di bawah papilla duodeni major.1Pars inferior/horizontalis duodeni adalah bagian yang terpanjang, menyilang vena cava inferior, aorta, dan columna vertebralis. Bagian anteriornya disilang oleh arteria dan vena mesenterica superior.1Pars ascendens duodeni berjalan naik, atau di sisi kiri dari aorta sampai kira-kira di tepi atas vertebra LII dan berakhir sebagai flexura duodenojejunalis.1Gambar no.1 DuodenumFlexura duodenojejunalis ini dikelilingi oleh suatu lipatan peritoneum yang berisi sabut-sabut musculus suspensorius duodeni (ligamentum duodenum dari treitz). Suplai arterial untuk duodenum meliputi: Cabang-cabang arteria gastroduodenalis Arteria supraduodenalis dari arteria gastroduodenalis Rami duondenales dari arteria pancreaticoduodenalis superior anterior (dari arteria gastroduodenalis) Rami duondenales dari arteria pancreaticoduodenalis superior posterior (dari arteria gastroduodenalis) Rami duondenales dari arteria pancreaticoduodenalis inferior anterior (dari arteria pancreaticoduodenalis inferior-sebuah cabang dari arteria mesenteria superior) Rami duondenales dari arteria pancreaticoduodenalis inferior posterior (dari arteria pancreaticoduodenalis inferior-sebuah cabang dari arteria mesenteria superior) Cabang pertama arteriae jejunales dari arteria mesenterica superior.1Gambar no.2 JejenumJejenum merupakan 2/5 bagian proximal intestinum tenue. Sebagian besar jejenum berada di kuadran kiri atas abdomen dan lebih besar diameternya serta memiliki dinding yang lebih tebal dibandingkan ileum. Lapisan bagian dalam mukosa jejenum ditandai dengan adanya banyak lipatan menonjol yang mengelillingi lumennya (plica circulares). Karakteristik jejenum lainnya yaitu adanya arcade arteriae yang kurang jelas dan vasa recta (arteri-arteri lurus) yang lebih panjang dibandingkan dengan ileum. Sementara perdarahan jejenum termasuk arteriae jejunalis dari arteria mesenterica superior.1

Gambar no.3 Jejenum dan IleumIleum Ileum menyusun 3/5 bagian distal intestinum tenue dan sebagian besar berada di kuadran kanan bawah. Dibandingkan dengan jejenum, ileum memiliki dinding yang lebih tipis, lipatan-lipatan mucosa (plicae circulares) yang lebih sedikit dan kurang menonjol, vasa recta yang lebih pendek, lemak mesenterium lebih banyak, dan lebih banyak arcade arteriae.1Ileum bermuara ke dalam intestinum crassum, tempat caecum dan colon ascendens bertemu. Daerah ini dikelilingi oleh dua lipatan yang menonjol ke dalam lumen intestinum crassum (plica ileocaecale), yang pada ujung-ujungnya akan membentuk peninggian. Fungsi plica ini yaitu mencegah refluks/kembalinya isi lumen dari caecum ke dalam ileum, dan mengatur jalannya isi lumen ileum menuju caecum.1 Perdarahan arterial untuk ileum berasal dari arteriae ilealis dari arteria mesenterica superior, dan suatu cabang dari arteria ileocolica (dari arteria mesenterica superior).1

Gambar no. 4 pertemuan ileocaecale dan plica ileocaecaleStruktur Mikroskopik Usus HalusUsus halus (intestinum tenue) merupakan saluran panjang berkelok-kelok, panjangnya kira-kira 5 meter. Usus ini terbentang dari batas lambung sampai ke batas usus beasr (colon). Usus halus dibagi menjadi tiga bagian, yaitu duodenum, jejenum, dan ileum. Peralihan dan perbedaan mikroskopi segmen ini hanya sedikit.2Mukosa usus halus menampakkan struktur khusus untuk memperluas permukaan absorpsinya, diantaranya adalah plika sirkularis, vili intestinales, dan mikrovili. Plika sirkularis adalah lipatan atau peninggian mukosa bersamaan dengan inti submukosa, berjalan berpilin dan terjulur ke dalam lumen usus. Vili intestinales adalah tonjolan permanen mirip jari pada lamina propria mukosa yang juga terjulur ke dalam lumen. Vili ini juga dilapisi epitel selapis silindris. Selain itu, pusat jaringan ikat pada setiap vilus mengandung kapiler limfatik yang disebut lacteal, kapiler darah, dan berkas otot polos. Mikrovili adalah juluran sitoplasma yang menutupi apeks sel-sel absorptif usus.2Kebanyakan sel dalam epitel usus adalah sel absorptif silindris tinggi dengan mikrovili jelas yang ditutupi selubung glikokaliks tebal. Di antara sel absorptif silindris ini terdapat sel-sel goblet yang makin ke distal usus halus makin banyak dijumpai.2Usus halus juga banyak mengandung kelenjar intestinal (kripti Lieberkuhn). Kelenjar-kelenjar ini terletak di mukosa usus dan bermuara ke dalam lumen usus pada dasar vili. Pada dasar kelenjar intestinal terdapat sel-sel paneth yang ditandai dengan granul eosinofilik di sitoplasmanya. Banyak sel enteroendokrin pada epitel vili dan kelenjar intestinal. Pada dinding ujung terminal usus halus, yaitu ileum, terdapat banyak agregat limfonoduli yang berhimpitan, disebut plak Peyer. Noduli ini menempati sebagian besar submukosa ileum.2DuodenumDinidng duodenum terdiri atas empat lapisan yaitu lapisan mukosa dengan epitel pelapisnya, lamina propria, dan mukosa muskularis; jaringan ikat submukosa di bawahnya dengan kelenjar duodenal (Brunner); tunika mukosa terdapat dua lapisan otot polos muskularis eksterna (lapisan sirkular dalam dan lapisan sirkular luar), dan serosa.2Pada lamina propria mengandung serat-serat jaringan ikat halus dengan sel reticulum, jaringan limfoid difus, dan/atau limfonoduli. Pada tunika muskularis, di antara lapisan sirkular dalam dan lapisan longitudinal luar, tampak sarang sel-sel ganglion parasimpatis pleksus saraf mienterikus (Auerbach). Serosa (peritoneum visceral) mengandug sel-sel jaringan ikat, pembuluh darah, dan sel-sel lemak, dan merupakan lapisan terluar usus.2Fungsi kelenjar duodenal yaitu untuk melindungi mukosa duodenum terhadap isi gaster yang