Tentir Parasitologi Gastrointestinal

download Tentir Parasitologi Gastrointestinal

of 24

  • date post

    02-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    65
  • download

    17

Embed Size (px)

description

MODUL GI

Transcript of Tentir Parasitologi Gastrointestinal

  • Sebelum memasuki materi protozoa, kita refresh ingatan dulu, yaaa. Masih ingat tentang klasifikasi protozoa?

    Nih, ada di tabel di bawah ini:

    Klasifikasi Protozoa Alat Gerak Contoh Organisme

    Rhizopoda Pseudopoda (kaki semu) Entamoeba histolytica

    Flagellata Flagel (bulu cambuk) Trypanosoma

    Giardia lamblia

    Ciliata Silia (rambut getar) Balantidium coli

    Sporozoa Tidak memiliki alat gerak Cryptosporidium

    Plasmodium

    Nah, diantara banyaknya protozoa yang hidup di muka bumi ini, ada beberapa protozoa yang menyebabkan

    diare jika menginfeksi manusia, yaitu:

    Organisme Klasifikasi Penyakit Hospes Stadium

    Infektif

    Cara

    Infeksi

    Entamoeba

    histolytica

    Rhizopoda Amoebiasis Manusia Kista Fecal-oral

    Giardia

    lamblia

    Flagelata Giardiasis Manusia Kista Tertelan

    kista melalui

    air tercemar.

    Balantidium

    coli

    Ciliata Balantidiasis

    atau Disentri

    Balantidium

    Babi;

    Manusia

    (kadang2)

    Kista Menelan

    kista

    Isospora belli Sporozoa Isosporiasis

    Blastocystis

    hominis

    Sporozoa Blastositosis

    Cryptosporidi

    um parvum

    Sporozoa Kriptosporidiosis Mamalia,

    burung,

    reptil

    Ookista Tertelan

    ookista

    matang.

    Cyclospora

    cayetanensis

    Sporozoa Siklosporidiosis Manusia;

    Hewan (?)

    Ookista Tertelan

    ookista

    matang

    Microsporidia Dulu sporozoa,

    sekarang

    dianggap filum

    yang terpisah

    dari protozoa.

    Mikrosporidiosis

  • Sekarang kita bahas organismenya satu per satu secara mendalam, ya.

    1. ENTAMOEBA HYSTOLITICA

    Hospes definitif: MANUSIA.

    Penyakit yang ditimbulkan: amebiasis, disentri ameba, amebiasis kolon, hepatitis ameba. (Entamoeba ini bisa

    menginfeksi usus dan hepar).

    Penyebaran: Kosmopolit 0,2% - 50% di seluruh dunia, terutama di daerah tropik dan subtropik.

    MORFOLOGI:

    Trofozoit

    Bentuk histolitika

    Bentuk minuta

    Kista

    Bentuk kista

    (Notes: Trofozoit adalah bentuk aktif, sedangkan kista merupakan bentuk dorman.)

    Penjelasan:

    Bentuk Histolitika

    Ukuran: 15-30 mikron

    Ektoplasma: lebar, bening, 1/3 bagian parasit, pesudopodium seperti jari,dibentuk cepat Jadi dia merupakan

    amuba berbadan lunak mempunyai kaki semu untuk bergerak yaitu ektoplasmanya, danektoplasmanya ini

    terbentuk secara cepat.

    Endoplsma: Bergranula halus, mengandung eritrosit, inti entameba.

    Bentuk Minuta

    Ukuran: 10-20 mikron

    Ektoplasma: tampak bila dibentuk pseudopodium, psudopodium dibentuk perlahan-lahan, pergerakan tidak

    progresif ektoplasmanya dibentuk secara perlahan jadi pergerakannya tidak terlalu cepat dan ektoplasmanya

    terlihat saat pseudopodiumnya telah terbentuk

    Endoplasma: bervakuol, bakteri dan sisa makanan, inti entamuba

    Bentuk Kista

    Ukuran: 10-20 mikron berbentuk Bulat atau oval, dinding tipis (0,5 mikron)tidak ambil warna.

    Sitoplasma: vakuola glikogen, benda kromatoid

    Inti entamuba: 1-(2)-4

    Penjelasan merupakan bentuk dorman dan tahan terhadap air yang terklorinasi.

  • Ket:

    A: Bentuk Histolitika

    B: Bentuk Minuta

    C,D,E: Bentuk Kista

    Patogenesis: Kista tertelan masuk ke dalam tubuh berubah bentuk menjadi bentuk minuta. Saat sistem imun

    kita turun bentuk minutanya berubah jadi bentuk histolitika menyebabkan reaksi disentri, histo

    jaringan; litik rusak, si trofozoit (bentuk histolitika) menghancurkan jaringan kolon sehingga BAB berdarah

    dan berlendir.

    Penyebaran infeksi: SSP, hepar.

    Jalur: Per-hematogen lewat pembuluh darah.

    Per-kontinuitatum penyebaran terdekat ke organ terdekat.

    Patologi

    Lesi primer: Intestinal (kolon) sekum,

    sigmoid, rectum.

    Lesi sekunder: Ekstra intestinal organ tubuh

    terutama hepar.

  • Patologi tergantung pada:

    Resistensi hospes

    Virulensi strain ameba

    Jumlah ameba

    Kondisi lokal usus

    Patologi Lesi Primer:

    1. Ulkus Ameba

    Berbentuk botol

    Berisi sel litik, mukus, ameba

    Meluas ke lateral dan ke submukosa

    2. Ulkus Ameba Besar

    Dasar nekrotik

    Membentuk sinus-sinus yang bersambungan penyebab penyebaran ke hepar

    3. Perubahan Histologis

    Histolisis, Trombosis Kapiler, Perdarahan, Infiltrasi Sel, Nekrosis

    Hiperemia, Edema

    Infeksi Sekunder oleh Bakteri

    Ameba di dasar ulkus dan dalam jaringan

    Penjelasan: Infiltrasi sel sel sel radang (terjadi peradangan), edema yang menyebabkan pengeluaran

    cairan Jadi BAB berlendir, infeksi sekunder lesi primer yang dapat ditumpangi oleh bakteri lain.

    Amoebiasis

    Patogenesis: si trofozoit (bentuk histolitika) mempengaruhi galactose/N-acetyl galactosamine specific lectin

    menempel pada epitel usus menginvasi mukosa sampai ke submukosa usus ulkus

    Komplikasi:

    Perforasi Dinding Usus, Granuloma, Hemoragi, Srtiktur, Apendisitis

    Patologi Amebiasis Hati

    Penyebaran: Hematogen dari amebiasis intestinal akut atau menahun (laten) Perkontinuitatum

    Abses: Satu, multiple. Berisi massa merah-cokelat (sel hati, eritrosit, empedu, lemak, jaringan nekrotik), Lobus

    kanan

  • Penjelasan: Jika ada pembesaran hepar, permukaan benjol-benjol, nyeri tekan, demam anamnesis

    harus diperdalam ada tidak kontak dengan Entamoeba histolityca ini kira-kira. Patologi Amebiasis

    Ekstraintestinal

    Abses: Hati, Paru, Otak, Organ Lain

    Ulkus: Kulit, Vagina, Penis

    Gejala Klinis

    Amebiasis Intestinal Akut:

    Masa inkubasi 1-14 minggu

    Sindrom disentri

    Demam 38o-39o C

    Bentuk histolitika dalam tinja

    Amebiasis Kolon Menahun:

    Gejala tidak nyata

    Bentuk histolitika biasanyasulit ditemukan dalam tinjaAmebiasis Hati:

    Hati membesar

    Nyeri perut kanan atas menjalar ke pundak kanan

    Demam, Menggigil

    Leusitosis (10.000-16.000/MM)

    Diafragma kanan tinggi

    Diagnosis

    Amebiasis kolon akut: Menemukan bentuk histolitika dalam tinja segar

    Amebiasis kolon menahun: Menemukan bentuk histolitika dalam tinja segar, reaksi imunologi.

    Abses Ameba:

    Nanah abses berwarna merah cokelat

    Menemukan bentuk histolitika dalam Biopsi dinding abses dan aspirasi nanah abses dekat dinding

    abses

    IHA, ELISA

    Pengobatan

    Metronidazole: terhadap bentuk histolitika (Yang paling penting)

    Dosis :

    3x750 mg sehari selama 5-10 hari

    1x2 gr sehari selama 3 hari

    Dehidroemetin: terhadap bentuk histolitika dan kista

    Emetin (IM): terhadapa bentuk histolitika

    Dosis: 1mg/kg BB/hari (max 65mg)

    Paromomisisn: 25-30 mg/kg BB/hari selama 5-10 hari

    Klorokuin fosfat, Dosis:1 gr/hari selama 2 hari pertama, 500 mg/hari selama 2-3 minggu

  • Obat untuk parasit di lumen usus

    Paromomisin (Humatin) : aminoglikosida, tidak diabsorpsi kista. Hati-hati pada kelainan ginjal. Dosis:

    25-35 mg/kgBB/hari : 3 selama 7 hari

    Diloxanide furoat (Furamide, Entamizole) : DOC untuk lumen usus.

    SE : kembung, kadang2 mual, muntah, diare 3 x 500 mg/ hari selama10 hari

    Iodokuinol (Yodoxin): hydroxyquinoline. Tidak boleh pada kelainan ginjal.

    3 x 650 mg/ hari selama 20 hari.

    Obat untuk parasit di jaringan

    Emetin HCl : trofozoit, efektif parenteral, oral absorpsi tdksempurna. Dpt im/sc 10 hari.

    Pemberian iv toksisitas lebih tinggi jantung.

    Dosis maks 65 mg/hari. Anak < 8 th : 10 mg/hari 4-6 hari. Tdk dianjurkan utk wanita hamil, penyakit

    jantung, ginjal.

    Dihidroemetin : kurang toksik.

    0,1 gr/hari 4-6 hari

    Kedua efektif utk abses hati.

    Metronidazol : DOC utk amebiasis koli atau abses hati ameba, efektif utk trofozoit. Infeksi E hist. Di

    lumen usus kombinasi metro/tinidazol dgn diloxanide furoat ditambah paromomisin/ tetrasiklin. Pada

    abses hati dpt ditambah emetin /dihidroemetin. 3 x 750 mg/ hari selama 7-10hari. Wanita hamil

    trimester I dihindari.

    Klorokuin amebisid jaringan efektif utk amebiasis hati. Dosis1 gr/hari selama 2 hari kmd 500

    mg/hari selama 2-3 minggu

    Pengobatan untuk Abses Hati:

    Drainage + obat anti ameba (5-7 hari seth pengobatan tidak ada perbaikan )

    Diameter 5 cm

    Di lobus kiri

    Epidemiologi

    Prevalensi infeksi E. Histolityca tergantung:

    Sanitasi lingkungan

    Kebersihan perorangan

    Kaadaan sosio-ekonomi

    Prevalensi infeksi:

    Seluruh dunia: 0.2%-50%

    Amerika: 0%-5%

    Indonesia: 18%-25%

    Sumber infeksi: pengandung kista sebagai penyaji utama

    Kista tahan hidup

    2 hari pada 37o C

    60 hari pada 0o C

    7 jam pada -28o C

    5 menit pada 50o C

    Klorinasi air tidak efektif

  • 2. BLASTOCYSTIS HOMINIS

    Hospes: manusia, monyet, kera, babi, marmot, tikus, reptilian, kecoa, dll.

    Penyakit: Blastokistosis

    Penyebaran: Daerah tropik

    Morfologi: terdapat 4 bentuk yaitu:

    Vakuolar

    Granular

    Ameboid

    Kista

    Penjelasan:

    1. Bentuk Vakuolar

    Paling sering dalam tinja

    Struktur mirip vakuol: benda sentral

    Sitoplasma perifer: 1-4 nukleus

    2. Bentuk Granular

    Sel berisi granular

    Fungsi dalam daur hidup belum diketahui

    3. Bentuk Ameboid

    Sering dalam tinja

    Bentuk tidak teratur

    4. Ben