Review RDTR Kota Simpang Ampek

download Review RDTR Kota Simpang Ampek

of 55

Embed Size (px)

Transcript of Review RDTR Kota Simpang Ampek

  • UNDIP DIPONEGORO

    UNIVERSITAS

    Becomes an excellent research university

    Tugas Besar Mata Kuliah Teori dan Praktek Penataan Ruang Dosen: Prof. Dr. rer. nat. Imam Buchori

    Oleh: Henny Ferniza (21040114420088) dan

    Bramantyo (21040114420089)

    Magister Pembangunan Wilayah dan Kota, Karyasiswa PU 2015

    REVIEW RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) KAWASAN KOTA SIMPANG AMPEK DI KABUPATEN PASAMAN BARAT

  • DAFTAR ISI

    BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

    1.1 Latar Belakang 1-1

    1.2 Tujuan 1-2

    1.3 Sistematika Penulisan 1-2

    BAB 2 TINJAUAN PERATURAN MENGENAI RDTR 2-1

    2.1 Dasar Hukum RDTR 2-1

    2.2 Defenisi RDTR 2-1

    2.3 Kedudukan RDTR 2-2

    2.4 Fungsi dan Manfaat RDTR 2-4

    2.5 Kriteria dan lingkup wilayah perencanaan 2-5

    2.6 Masa Berlaku RDTR 2-5

    2.7 Muatan RDTR 2-6

    2.8 Proses Penyusunan RDTR 2-7

    BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI 3-1

    3.1 Gambaran Umum Kabupaten Pasaman Barat 3-1

    3.2 Gambaran Umum Kawasan Kota Simpang Ampek 3-6

    BAB 4 GAMBARAN RDTR KOTA SIMPANG AMPEK 4-1

    4.1. Ringkasan Substansi RDTR 4-1

    4.1.1. Tujuan Penataan Ruang Bagian Wilayah Perencanaan 4-1

    4.1.2. Rencana Pola Ruang 4-2

    4.1.3. Rencana Jaringan Prasarana 4-4

    4.1.4. Penetapan Sub Bagian Wilayah yang Diprioritaskan 4-4

    4.1.5. Ketentuan Pemanfaatan Ruang 4-5

    4.1.6. Peraturan Zonasi 4-6

    4.2. Proses Penyusunan dan Penetapan RDTR 4-7

    4.2.1. Proses Penyusunan RDTR Kota Simpang Ampek 4-7

    4.2.2. Proses Penetapan RDTR Kota Simpang Ampek 4-12

    BAB 5 REVIEW TERHADAP RDTR KOTA SIMPANG AMPEK 5-1

    5.1 Review terhadap Proses Penyusunan dan Penetapan RDTR 5-1

    5.1.1 Review terhadap Proses Penyusunan RDTR 5-1

    5.1.2 Review terhadap Proses Penetapan RDTR 5-7

  • 5.2 Review terhadap Muatan/Substansi RDTR 5-8

    5.2.1 Analisis Kesesuaian Muatan RDTR dengan Pedoman Penyusunan 5-8

    5.2.2 Analisis Kesesuaian RDTR dengan RTRW 5-13

    5.3 Review terhadap Implementasi Rencana 5-15

    5.3.1 Operasional/Implementasi RDTR Kota Simpang Ampek 5-15

    5.3.2 Relevansi RDTR terhadap Perkembangan Kota Simpang Ampek 5-16

    5.3.3 Perspektif RDTR Kota Simpang Ampek 5-17

    BAB 6 PENUTUP 6-1

    6.1 Kesimpulan 6-2

    6.2 Rekomendasi 6-3

  • RREEVVIIEEWW RREENNCCAANNAA DDEETTAAIILL TTAATTAA RRUUAANNGG ((RRDDTTRR)) BBWWPP KKOOTTAA SSIIMMPPAANNGG AAMMPPEEKK TTAAHHUUNN 22001122 -- 22003322

    Tugas Besar MKPWK-602__HENNY FERNIZA dan BRAMANTYO 1 - 1

    BAB 1 PENDAHULUAN

    1.1 LATAR BELAKANG

    Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, produk atau hasil

    perencanaan tata ruang terdiri dari rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata

    ruang, di mana rencana rinci tata ruang disusun sebagai perangkat operasional rencana

    umum tata ruang. Pada tataran perencanaan tata ruang di tingkat kabupaten/kota, bila

    rencana umum-nya adalah rencana tata ruang wilayah (RTRW) kabupaten/kota, maka

    rencana rinci-nya terdiri atas rencana detail tata ruang (RDTR) kabupaten/kota dan

    rencana tata ruang kawasan strategis kabupaten/kota. Bahkan menurut undang-undang

    tersebut, setiap RTRW harus menetapkan bagian dari wilayah kabupaten/kota yang

    perlu disusun rencana detail tata ruangnya. Khusus untuk wilayah kabupaten, RDTR

    diarahkan disusun pada kawasan perkotaan yang dinilai strategis pada wilayah

    tersebut, yang membutuhkan pendetailan rencana pemanfaatan ruang dari pengaturan

    pola ruang yang ada pada dokumen RTRW-nya. Hal ini memperlihatkan bahwa RDTR

    di tingkat wilayah kabupaten sangat penting untuk disusun dan ditetapkan, karena akan

    menjadi instrumen pemanfaatan dan pengendalian tata ruang secara lebih detail dan

    spesifik dalam pembangunan wilayah kabupaten, khususnya di kawasan perkotaan.

    Pada realitanya, pemerintah daerah (pemda) khususnya di tingkat kabupaten/kota

    masih beranggapan bahwa dokumen perencanaan yang wajib disusun dan ditetapkan

    adalah RTRW saja. Sementara untuk RDTR, belum banyak wilayah yang memilikinya,

    karena beragam permasalahan, di antaranya RDTR belum dianggap sebagai instrumen

    tata ruang yang penting dan mendesak untuk disusun. Pada wilayah-wilayah kabupaten

    yang sudah memiliki dokumen RDTR pun masih menghadapi permasalahan, apakah

    RDTR tersebut sudah sesuai dan efektif dalam menjabarkan substansi rencana pada

    RTRW, mengingat biasanya kabupaten secara administratif memiliki luas wilayah yang

    besar bila dibandingkan luas wilayah kota, sehingga memerlukan pendetailan rencana

    khususnya pada kawasan perkotaan/strategis kabupaten.

  • RREEVVIIEEWW RREENNCCAANNAA DDEETTAAIILL TTAATTAA RRUUAANNGG ((RRDDTTRR)) BBWWPP KKOOTTAA SSIIMMPPAANNGG AAMMPPEEKK TTAAHHUUNN 22001122 -- 22003322

    Tugas Besar MKPWK-602__HENNY FERNIZA dan BRAMANTYO 1 - 2

    Dalam rangka memenuhi tugas besar mata kuliah Teori dan Praktek Penataan Ruang,

    maka tulisan ini berusaha untuk mengkaji secara lebih mendalam mengenai proses

    penyusunan, muatan/substansi, dan operasionalisasi/implementasi dari suatu dokumen

    RDTR dalam konteks praktis dan empiris. Studi kasus yang dipilih adalah dokumen

    RDTR kawasan kota Simpang Ampek di Kabupaten Pasaman Barat Provinsi

    Sumatera Barat, yang sejak tahun 2012 sudah menyusun dokumen RDTR tersebut.

    Sebagai salah satu salah satu kabupaten yang sudah memiliki dokumen RDTR,

    menarik untuk dikaji bagaimana sebenarnya kualitas substansi dari dokumen RDTR

    yang sudah dimiliki oleh kabupaten tersebut, apakah dapat menjalankan amanat

    undang-undang penataan ruang, dan mampu menjabarkan RTRW kabupaten-nya.

    Diharapkan dari kajian ini didapatkan pembelajaran baik dari sisi negatif maupun positif

    mengenai dokumen RDTR yang ada di lapangan, yang menjadi salah satu produk

    perencanaan tata ruang dalam mendukung penataan ruang wilayah kabupaten.

    1.2 TUJUAN

    Tujuan dari kajian ini adalah :

    1. Mendeskripsikan bagaimana proses penyusunan dokumen RDTR berikut kendala

    dan tantangan yang dihadapi.

    2. Menganalisis apakah muatan/substansi dokumen RDTR secara administratif telah

    sesuai dengan regulasi/pedoman penyusunannya, serta secara substantif telah

    mampu menjadi penjabaran dari RTRW secara lebih efektif dan berkualitas.

    3. Mengidentifikasi bagaimana operasionalisasi/implementasi dari dokumen RDTR

    tersebut berikut kendala dan tantangan yang dihadapi, serta prospeknya dapat

    mendukung kegiatan pemanfaatan dan pengendalian penataan ruang.

    1.3 SISTEMATIKA PENULISAN

    Kerangka pelaporan dari tulisan ini adalah sebagai berikut :

    BAB 1 PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    1.2 Tujuan

    1.3 Sistematika Penulisan

  • RREEVVIIEEWW RREENNCCAANNAA DDEETTAAIILL TTAATTAA RRUUAANNGG ((RRDDTTRR)) BBWWPP KKOOTTAA SSIIMMPPAANNGG AAMMPPEEKK TTAAHHUUNN 22001122 -- 22003322

    Tugas Besar MKPWK-602__HENNY FERNIZA dan BRAMANTYO 1 - 3

    BAB 2 TINJAUAN PERATURAN MENGENAI RDTR

    2.1 Dasar Hukum RDTR

    2.2 Defenisi RDTR

    2.3 Kedudukan RDTR

    2.4 Fungsi dan Manfaat RDTR

    2.5 Masa Berlaku RDTR

    2.6 Kriteria dan lingkup wilayah perencanaan

    2.7 Muatan RDTR

    2.8 Proses Penyusunan RDTR

    BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

    3.1 Gambaran Umum Kabupaten Pasaman Barat

    3.2 Gambaran Umum Kawasan Kota Simpang Ampek

    BAB 4 GAMBARAN RDTR KOTA SIMPANG AMPEK

    4.1. Ringkasan Substansi RDTR

    4.2. Proses Penyusunan dan Penetapan RDTR

    BAB 5 REVIEW TERHADAP RDTR KOTA SIMPANG AMPEK

    5.1 Review terhadap Proses Penyusunan dan Penetapan RDTR

    5.2 Review terhadap Muatan/Substansi RDTR

    5.3 Review terhadap Implementasi Rencana

    BAB 6 PENUTUP

    6.1 Kesimpulan

    6.2 Rekomendasi

  • RREEVVIIEEWW RREENNCCAANNAA DDEETTAAIILL TTAATTAA RRUUAANNGG ((RRDDTTRR)) BBWWPP KKOOTTAA SSIIMMPPAANNGG AAMMPPEEKK TTAAHHUUNN 22001122 22003322

    Tugas Besar MKPWK-602__HENNY FERNIZA dan BRAMANTYO 2 - 1

    BAB 2 TINJAUAN PERATURAN

    MENGENAI RDTR

    2.1 DASAR HUKUM RDTR

    Dasar hukum yang digunakan dalam kajian ini terkait review Rencana Detail Tata

    Ruang (RDTR) ini antara lain:

    (1) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;

    (2) Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan

    Ruang;

    (3) Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2008 tentang Pedoman

    Perencanaan Kawasan Perkotaan;

    (4) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20/PRT/M/ 2011 tentang Pedoman

    Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota;

    2.2 DEFENISI RDTR

    Definisi rencana detail tata ruang pertama kali muncul pada Permendagri No. 2 Tahun

    1987 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota, yaitu rencana pemanfaatan ruang

    kota secara terinci yang disusun untuk penyiapkan perwujudan ruang dalam rangka

    pelaksanaan program-program pembangunan kota (Pasal 1 huruf h). Rencana Detail

    Tata Ruang Kota (RDTRK) merupakan bagian dari Rencana Kota yang kedudukannya

    berada di antara Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) dan Rencana Teknis

    Ruang Kota (RTRK) (Pasal 5)