pbl blok 14

download pbl blok 14

of 24

  • date post

    28-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    107
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of pbl blok 14

Tinjauan pustaka

Fraktur pada tulang femurNeng Nurmalasari

10-2010-326D219-03-2012PendahuluanFemur merupakan tulang terbesar dalam tubuh, trauma langsung/tidak langsung, seperti dialami pada kecelakaan lalulintas atau karena penurunan dari kekuatan tulang karena proses penuaan dapat menimbulkan fraktur tulang femur. Prinsip penanganan untuk patah tulang adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan patah tulang (imobilisasi). Untuk memastikan dari fraktur tulang tersebut dapat dilakukan pemeriksaan secara fisik, atau pun pemeriksaan penunjang seperti radiografi, atau CT scan. Anamnesis1. PengertianAnamnesa merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal mengenai riwayat penyakit si pasien.Riwayat pasien merupakan suatu komunikasi yang harus dijaga kerahasiannya yaitu segala hal yang diceritakan penderita. 2. Keluhan utamaYaitu gangguan atau keluhan yang dirasakan penderita sehingga mendorong ia untuk datang berobat dan memerlukan pertolongan serta menjelaskan tentang lamanya keluhan tersebut. Keluhan utama merupakan dasar untuk memulai evaluasi pasien. 3. Riwayat penyakit sekarangPenyakit yang bermula pada saat pertama kali penderita merasakan keluhan itu. Tentang sifat keluhan itu yang harus diketahui adalah: Tempat Kualitas penyakit Kuantitas penyakit Urutan waktu Situasi Faktor yang memperberat atau yang mengurangi Gejala-gejala yang berhubungan4. Riwayat penyakit dahuluRiwayat penyakit yang pernah diderita di masa lampau yang mungkin berhubungan dengan penyakit yang dialaminya sekarang.5. Riwayat keluargaSegala hal yang berhubungan dengan peranan heredriter dan kontak antar anggota keluarga mengenai penyakit yang dialami pasien. Dalam hal ini faktor-faktor sosial keluarga turut mempengaruhi kesehatan penderita. 6. Riwayat pribadiSegala hal yang menyangkut pribadi pasien. Mengenai peristiwa penting pasien dimulai dari keterangan kelahiran, serta sikap pasien terhadap keluarga dekat. Termasuk dalam riwayat pribadi adalah riwayat kelahiran. Riwayat imunisasi, riwayat makan, riwayat pendidikan dan masalah keluarga. 7. Riwayat sosialMencangkup keterangan mengenai pendidikan, pekerjaan dan segala aktivitas di luar pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, perkawinan, tanggungan keluarga, dan lain-lain. Perlu ditanyakan pula tentang kesulitan yang dihadapi pasien. 1

Pemeriksaan fisikUmum Dicari kemungkinan komplikasi umum seperti syok pada fraktur multipel , fraktir pelvis, fraktur terbuka ; Tanda tanda sepsis pada fraktur terbuka yang mengalami infeksi. 1. Tanda tanda umum : Tulang yang patah merupakan bagian dari pasien penting untuk mencari bukti ada tidaknya. Syok atau perdarahan2. Kerusakan yang berhubungan dengan otak, medula spinalis atauvisera3. Penyebab predisposisi (misalnya penyakit paget)Lokalis a. Look (inspeksi): Deformitas, terdiri dari penonjolan yang abnormal ( misalnya pada fraktur kondilus lateralis humerus ), angulasi, rotasi, dan pemendekan Functio laesa ( hilangnya fungsi ), misalnya pada fraktur kruris tidak bisa berjalan Lihat juga ukuran panjang tulang, bandingkan kiri dan kanan, misalnya, pada tungkai bawah meliputi apparenth length ( jarak antara ubilikus dengan maleolus medialis ) dan true lenght ( jarak antara SIAS dengan maleolus medialis )b. Feel (palpasi) : apakah terdapat nyeri tekan. Pemeriksaan nyeri sumbu tidak dilakukan lagi karena akan menambah traumac. Move, untuk mencari : Krepitasi, terasa bila fraktur digerakan. Tetapi pada tulang spongiosa atau tulang rawan epifisis tidak terasa krepitasi. Pemeriksaan ini sebaiknya tidak dilakukan karena akan menambah trauma. Nyeri bila digerakan, baik pada gerakan aktif maupun pasif Seberapa jauh gangguan gangguan fungsi, gerakan gerakan yang tidak mampu digerakan, range of motion ( derajat dari ruang lingkup gerakan sendi ), dan kekuatan. 2

Pemeriksaan Penunjang CT rangka CT rangka memberikan serangkaian tomogram, yang diterjemahkan oleh komputer dan ditampilkan pada monitor, sehingga mewakili citra potongan lintang berbagai lapisan (atau potongan) tulang. Tekhnik ini dapat membuat rekonstruksi citra potongan lintang, horisontal, sagital dan koronal. Tujuan dari pemeriksaan adalah untuk menentukan ada dan luasnya tumor tulang primer, metastatis rangka, tumor jaringan lunak, cedera pada ligamen atau tendon serta fraktur. 3Radiografi Film polos merupakan metode penilaian awal utama pada pasien dengan kecurigaan trauma skeletal. Setiap tulang dapat mengalami fraktur walaupun beberapa diantaranya sangat rentan. Tanda dan gambaran yang khas pada fraktur adalah : Garis fraktur : garis fraktur dapat melintang diseluruh diameter tulang atau menimbulkan keretekan pada tepi kortikal luar yang normal pada fraktur minor. Pembengkakan jaringan lunak : biasanya terjadi setelah terjadi fraktur Iregularitas kortikal : sedikit penonjolan atau berupa anak tangga pada korteks. Jenis fraktur Greenstick : tulang anak bersifat fleksibel, sehingga fraktur dapat berupa bengkokan tulang di satu sisi dan patahan korteks di sisi lainnya. Tulang juga dapat melengkung disertai patahan yang nyata (fraktur torus) Comminuted : fraktur dengan fragmen multiple Avulsi : sebuah fragmen tulang terlepas dari lokasi ligamen atau insersi tendon Patologis : fraktur yang terjadi pada tulang yang memang telah memiliki kelainan, seringkali terjadi setelah trauma trivial. Misalnya penyakit paget, osteoporosis atau tumor Fraktur stres atau lelah : akibat trauma minor berulang dan kronis. Daerah yang rentan antara lain metatarsal 2 dan 3 (fraktur march), batang tibia proksimal, fibula, dan batang femoral (pada pelari jarak jauh dan penari balet). Fraktur impaksi : fragmen-fragmen saling tertekan satu sama lain, tanpa adanya garis fraktur yang jelasFraktur lempeng epifisis pada anak dibawah usia 16 tahun. Fraktur ini dapat dikelompokkan menjadi tipe 1 sampai 5 berdasarkan klasifikasi salter harris. 4 Diagnosis Diagnosis kerja Diagnosis cukup ditegakkan berdasarkan gejala klinis dari fraktur tulang atau dari anamnesa tentang adanya kelainan seperti nyeri, posisi tulang atau ekstermitas yang tidak alami mungkin tampak jelas, pembengkakan, gangguan sensasi atau kesemutan dapat terjadi yang menandakan kerusakan saraf, Krepitus (suara gemeretak). Untuk memastikan adanya fraktur tulang dapat dilakukan pemeriksaan radiografi dan scan yang ditemukan fraktur pada daerah femur. Diagnosis banding1. Patah tulang panggulDalam penanganan patah tulang pelvis, selain penangan patah tulangnya, perlu di tangani komplikasi yang menyertainya yang dapat berupa perubahan besar, ruptur kandung kemih atau cedera uretra. Patah tulang perlvis harus dicurigai apabila ada riwayat trauma yang menekan tubuh bagian bawah atau apabila terdapat luka serut, memar atau hematom, di daerah pinggang, sakrum, pubis atau perineum. Semua patah tulang panggul harus dianggap mempunyai komplikasi sampai dibuktikan tidak adanya komplikasi tersebut. Diagnosis ditegakkan bila ditemukan nyeri subjektif dan objektif, dan gerakan abnormal pada gelang panggul. Untuk itu, pelvis ditekan ke belakang dan ke medial secara hati-hati pada kedua spina iliaka anterior superior, ke medial pada kedua trokhanter mayor, ke belakang pada simfisis pubis, dan ke medial pada kedua krista iliaka. Apabila pemeriksaan ini menyebabkan nyeri, patut dicurigai adanya patah tulang panggul.Kemudian dicari adanya gangguan kencing seperti retensi urin atau pendarahan melalui uretra, serta dilakukan pemeriksaan colok dubur untuk melakukan penilaian pada sakrum, atau tulang pubis dari dalam, diagnosis, umumnya untuk pemeriksaan radiologi diperlukan. Pada patah tulang yang meliputi asetabulum, CT scan amat berguna untuk melihat dengan tepat posisi fraktur dan hubungan antara fragmen. Perlu diketahui apakah fraktur pelvis tersebut disertai kerusakan kintinuitas kolon penunjang berat badan, yaitu kolom dari vetebra melalui sendi sakroiliaka, tulang ilium, asetabulum dan sendi panggul sampai tulang femur. Penilaian ini penting untuk menentukan kapan penderita boleh menyangga berat badannya. Ada dua jenis fraktur pelvis, yaitu fraktur tidak merusak gelang pelvis. Tata laksana, penanganan darurat perlu dilakukan terutama adalah terhadap pendarahan dalam dan ekstravasasi urin. Fraktur yang merobek pembuluh darah seperti a. Gluteus superior dapat menyebabkan syok yang segera harus diatasi. Selanjutnya dicari kemungkinan trauma ikutan pada kandung kemih atau uretra. Bila trauma kandung kemih atau trauma multiple, tindakan yang efektif pada fraktur pelvis yang tidak stabil adalah reposisi terbuka dengan fiksasi ekstern dan intern. Patah tulang pelvis terisolasi yang tidak merusak cincin pelvis dan tidak merusak kolom penunjang berat badan, tidak mengganggu stabilitas pelvis dalam fungsinya sebagai penyangga dan mobilisasi sehingga tidak diperlukan reposisi. Fraktur os ilium akibat trauma langsung menimbulkan rasa amat nyeri, tetapi hanya diperlukan sampai nyeri hilang. Umumnya penderita dapat berjalan kembali tanpa nyeri dalam beberapa minggu sampai dua bulan. Untuk fraktur yang merusak gelang pelvis tanpa pergeseran fragmen patah tulang yang terlampau hebat dan tidak merusak kontinuitas kolom penunjang berat badan, dianjurkan istirahat selama penderita belum dapat mengatasi nyerinya. Fraktur ramus os pubis akibat jatuh atau trauma kadang masuk dalam kategori ini. Fraktur ramus os pubis ini bisa disertai robekan uretra atau ruptur kandung kemih. Fraktur yang merusak gelang pelvis dibedakan atas tiga jenis yaitu pertama fraktur yang terjadi akibat trauma kompresi anteroposterior kedua yang terjadi akibat trauma kompresi lateral dengan atau tanpa kombinasi rotasi pada salah satu sisi pelvis, dan ketiga yang terjadi akibat trauma vertikal.Patah tulang kompresi anteroposterior akibat benturan keras dari arah depan membuat kedua sendi sakroiliaka merekah. Keadaan ini sulit terlihat denga