Nevy - Makalah PBL Blok 7

download Nevy - Makalah PBL Blok 7

of 20

  • date post

    26-Sep-2015
  • Category

    Documents

  • view

    48
  • download

    7

Embed Size (px)

description

Hidung, Sinus Paranasalis, dan Mekanisme Pernapasan

Transcript of Nevy - Makalah PBL Blok 7

Hidung, Sinus Paranasalis, dan Mekanisme PernapasanNevy Olianovi (102013101)Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510Telephone: (021) 5694-2061, fax: (021) 563-1731nevy.olianovi@yahoo.com

AbstrakHidung merupakan organ penting pada tubuh, yaitu sebagai alat pernafasan terluar, pelindung tubuh terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan, sebagai indera penciuman, dan juga menjadi tempat bermuara sinus paranasalis dan saluran air mata. Beberapa tulang di sekitar rongga hidung berlubang. Lubang di dalam tulang disebut sinus paranasalis. Manusia mempunyai beberapa rongga di sepanjang atap dan bagian lateral rongga hidung. Rongga-rongga ini diberi nama sinus yang kemudian diberi nama sesuai dengan letaknya: sinus maxillaris, sinus frontalis, sinus sphenoidalis, dan sinus ethmoidalis. Seluruh sinus ini dilapisi oleh epitel saluran pernafasan yang mengalami modifikasi dan mampu menghasilkan mukus dan bersilia, sekret disalurkan ke dalam rongga hidung. Sinus paranasalis mempunyai fungsi untuk memperlunak tulang, berfungsi sebagai ruang bunyi suara dan menjadikan suara beresonansi. Fungsi-fungsi ini tidak lepas dari struktur anatomi kedua organ tersebut untuk melakukan mekanisme pernapasan yang maksudnya adalah untuk membekalkan tubuh dengan oksigen dan menyingkirkan karbon dioksida.Kata kunci: hidung, sinus paranasal, mekanisme pernapasanAbstractThe nose is an important organ in the body, namely the outer breathing apparatus, protective body against an unfavorable environment, as the sense of smell, and also a place geared paranasalis sinus and tear duct. Some of the bones around the nasal cavity hollow. The hole in the bone is called sinus paranasalis. Humans have a few cavities along the roof and the lateral part of the nasal cavity. These cavities are named sinuses which later was named according to its location: maxillaris sinus, frontal sinus, sinus sphenoidalis, and sinus ethmoidalis. The entire sinus is lined by respiratory epithelium undergoes modification and capable of producing and ciliated mucus, secretions channeled into the nasal cavity. Sinus paranasalis has the function to soften the bones, serves as a voice and make the room sound resonating sound. These functions can not be separated from both the anatomical structure of the organ to perform the breathing mechanism membekalkan intention is to get rid of the body with oxygen and carbon dioxide.Keywords: nose, paranasal sinuses, respiratory mechanism

PendahuluanPada kehidupan manusia hal terpenting adalah bernafas, tanpa nafas manusia tidak akan bisa bertahan. Pada pernafasan yang dilakukan manusia sangat membutuhkan oksigen sebagai zat yang dibutuhkan agar dapat bernafas dengan baik. Pernapasan (respirasi) adalah pengangkutan gas-gas ke dan dari sel-sel serta proses oksidasi biologi yang terjadi di dalam sel-sel dengan bantuan oksigen. Pengangkutan gas antara paru-paru, sel-sel serta jaringan-jaringan tubuh dicapai melalui aliran darah. Selama proses oksidasi biologi intraseluler, molekul-molekul nutrisi yang besar akan dipecah menjadi metabolit-metabolit yang lebih kecil dan terjadi pelepasan energi.Struktur makro hidung dan sinus paranasalisRongga hidung luarPenyangga hidung terdiri atas tulang dan tulang-tulang rawan hialin. Rangka bagian tulang terdiri atas os nasale, processus frontalis maxillae dan bagian nasal ossis frontalis. Rangka tulang rawannya terdiri atas cartilago septi nasi, cartilago nasi lateralis dan cartilago ala nasi major dan minor, yang bersama-sama dengan tulang di dekatnya saling berhubungan. Keterbukaan bagian atas hidung dipertahankan oleh os nasale dan processus frontalis maxillae dan di bagian bawah oleh tulang-tulang rawannya. Otot yang melapisi hidung merupakan bagian dari otot wajah. Otot hidung tersusun dari m. nasalis dan m. depressor septi nasi.1

Gambar 1. Rangka hidung2Rongga hidungSecara sagital rongga hidung dibagi oleh sekat hidung. Kedua belah rongga ini terbuka ke arah wajah melalui nares dan ke arah posterior berkesinambungan dengan nasopharynx melalui apertura nasi posterior (choana). Masing-masing belahan rongga hidung mempunyai dasar, atap, dinding lateral dan dinding medial (sekat hidung).1Rongga hidung terdiri atas tiga regio, yakni vestibulum, penghidu, dan pernapasan. Vestibulum hidung merupakan sebuah pelebaran yang letaknya tepat di sebelah dalam nares. Vestibulum ini menahan aliran partikel yang terkandung di dalam udara yang dihisap. Ke arah atas dan dorsal vestibulum dibatasi oleh limen nasi, yang sesuai dengan tepi atas cartilago ala nasi major. Dimulai sepanjang limen nasi ini kulit yang melapisi vestibulum dilanjutkan dengan mukosa hidung. Regio penghidu berada di sebelah cranial; dimulai dari atap rongga hidung daerah ini meluas sampai setinggi concha nasalis superior dan bagian septum nasi yang ada dihadapan concha tersebut. Regio pernapasan adalah bagian rongga hidung selebihnya.1Dinding lateral hidung memperlihatkan tiga elevasi, yakni concha nasalis superior, medius, dan inferior. Inferolateral terhadap masing-masing concha nasalis ini terdapat meatus nasi yang sesuai. Di sebelah cranial dan dorsal terhadap concha nasalis superior terdapat recessus spheno-ethmoidalis yang mengandung muara sinus sphenoidalis. Meatus nasi superior yang letak inferior terhadap concha nasalis superior, memperlihatkan sebuah lubang sebagai muara sinus ethmoidalis posterior. Meatus nasi medius berada inferolateral terhadap concha nasalis medius dan ke arah anterior berkesinambungan dengan fossa dangkal di sebelah cranial vestibulum dan limen nasi, yakni atrium meatus nasi medius. Setinggi meatus medius ini dinding lateral rongga hidung memperlihatkan sebuah elevasi bulat, yakni bulla ethmoidalis. Di sebelah bawah bulla ethmoidalis ini terdapat celah berbentuk lengkung yang meluas ke atas sampai di sebelah depan bulla, yakni hiatus semilunaris. Ke arah depan dan atas, hiatus ini menjadi sebuah saluran lengkung, yakni infundibulum ethmoidale. Ke dalam infundibulum ethmoidale ini bermuara sinus ethmoidalis anterior dan umumnya infundibulum ethmoidale tersebut berkesinambungan dengan duktus nasofrontalis. Meatus nasi inferior, di caudal dan lateral terhadap concha nasalis inferior, berisi muara duktus nasolakrimalis.1

Gambar 2. Concha nasalis superior, medius, dan inferior3Dinding medial atau septum nasi dibentuk oleh lamina perpendicularis ossis ethmoidalis, os vomer, dan cartilago septi nasi.1

Gambar 3. Septum nasi4Dari belakang ke arah depan, atap cavum nasi terdiri atas 3 daerah, yang sesuai dengan tulang yang membentuk atap tersebut, yakni regio sphenoidalis, ethmoidalis, dan frontonasal.1 Dasar rongga hidung dibentuk oleh processus palatinus ossis maxilla dan lamina horizontalis ossis palatini. Dasar ini memisahkan rongga hidung dari rongga mulut, namun mempunyai hubungan dengan rongga mulut lewat canalis incisivus.1Sinus paranasalisBeberapa tulang di sekitar rongga nasal berlubang. Lubang di dalam tulang disebut sinus paranasalis, yang memperlunak tulang dan berfungsi sebagai ruang bunyi suara, menjadikan suara beresonansi. Sinus maksilaris terletak di bawah orbit dan terbuka melalui dinding lateral hidung. Sinus frontalis terletak di atas orbit kea rah garis tengah tulang frontalis. Sinus frontalis cukup banyak dan merupakan bagian tulang ethmoidales yang memisahkan lingkaran hidung dan sinus sfenoidalis berada di dalam tulang sfenoidalei. Semua sinus paranasalis dilapisi oleh membrane bermukosa dan semua terbuka ke dalam rongga nasal, dimana mereka dapat terinfeksi.5Fungsi sinus-sinus ini tidak diketahui dengan pasti; sinus meringankan tulang tengkorak dan menambah resonansi suara. Sebagian besar sinus rudimenter atau tidak ada sejak kelahiran. Sinus membesar semenjak erupsi gigi permanen dan sesudah pubertas, yang secara nyata mengubah ukuran dan bentuk wajah.1 Sinus maksilaris dalam korpus os maksila, membuka ke meatus media. Karena orifisium terletak di bagian atas sinus, pengosongannya tidak mudah. Sinus frontalis pada kedua sisi garis tengah, tepat di atas bagian medial orbita. Mengalir ke meatus media. Sinus ethmoidalis dalam korpus os ethmoid sehingga terletak dalam dinding medial orbita. Mengalir ke meatus media dan superior. Sinus sphenoidalis dalam korpus os sphenoid. Mengalir ke recessus spheno-ethmoidalis.6

Gambar 4. Bagian sagital mulut, hidung, faring, dan laring.7Struktur Mikroskopis Saluran PernapasanBagian superior atau atap ronga hidung mengandung epitel yang sangat khusus untuk mendeteksi dan meneruskan bebauan. Epitel ini adalah epitel olfaktoris yang terdiri atas tiga jenis sel: sel penyokong, sel basal, dan sel olfaktoris. Epitel olfaktorius terdapat di atap rongga hidung, pada kedua sisi septum, dan di dalam konka nasal superior.1Sel olfaktoris memiliki inti bulat atau lonjong yang menempati daerah di epitel kira-kira di antara inti-inti sel-sel penyokong dan sel basal. Apex sel olfaktoris langsing dan mencapai permukaan epitel. Dari dasar sel yang langsing, terjulur akson ke dalam jaringan ikat di bawahnya atau lamina propria tempat akson-akson tersebut bergabung menjadi berkas kecil saraf olfaktoris tanpa mielin, yaitu fila olfaktoria. Saraf ini akhirnya meningalkan rongga hidung dan masuk ke dalam bulbus olfaktorius pada dasar otak. Sel basal adalah sel pendek, kecil, pada dasar epitel di antara basis sel penyokong dan sel olfaktorius.1 Gambar 5. Epitel olfaktoris.8Bukan BP 14Mekanisme pernapasanPernapasan digunakan mencakup dua proses yaitu pernapasan luar (eksterna) yang merupakan penyerapan O2 dan pengeluaran CO2 dari tubuh secara keseluruhan serta dalam pernafasan dalam (interna) yang merupakan penggunaan O2 dan pembentukan CO2 oleh sel-sel. Fungsi utama sistem respirasi ialah untuk membekalkan tubuh dengan oksigen dan menyingkirkan karbon dioksida. Untuk menyempurnakan fungsi ini, sekurang-kurangnya diperlukan 4 proses untuk berlaku yang secara kolektif disebut s