Makalah Struma

download Makalah Struma

of 40

  • date post

    07-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    133
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of Makalah Struma

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ilmu kesehatan sangatlah fleksibel dengan mengikuti perkembangan zaman. Hal itu dapat dilihat dengan perkembangan penyakit dan cara mengatasinya. Penyakit sangatlah berbahaya bagi tubuh manusia, apalagi yang dapat mengganggu jiwa manusia. Karena itu ketika penyakit dapat membahayakan maka secepat mungkin harus dicari cara mengatasinya atau pengobatan terhadap penyakit yang diderita, demikian pula penyakit struma yang menyebabkan pembengkakan pada leher. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) mencatat sekitar 20 persen pasien endokrin menderita gangguan fungsi tiroid. "Gangguan tiroid menempati urutan kedua daftar penyakit endokrin setelah diabetes," kata Ketua Perkeni Prof Dr Achmad Rudijanto di sela-sela Asia And Ocenia Thyroid Association Congress (AOTA) di Kuta, Bali, Minggu (21/10). Tingginya jumlah penderita gangguan hormon yang mengatur metabolisme tubuh disebabkan minimnya pengetahuan masyarakat akan gejala dan kelainan tiroid. Gangguan fungsi tiroid ada dua yaitu kekurangan hormon tiroid (hipotiroid) dan kelebihan (hipertiroid). Gejala umum dari keduanya secara umum adalah pembesaran kelenjarnya atau dikenal gondok atau struma. Kelainan hipotiroid pada perempuan risikonya lebih besar dibandingkan dengan pria. Diperkirakan sekitar 2,5 persen ibu hamil mengalami gangguan hormon tersebut. Maka dari itu pada kesempatan ini penulis akan memaparkan sebuahmakalah mengenai struma nodosa serta hal-hal yang menyangkut penyakit ini.

B. Rumusan Masalah Dalam makalah ini penulis membatasi masalah agar tidak membahas yang meluas, batasan makalah ini adalah : 1. Anatomi dan fisiologis kelenjar thyroid 2. Pengertian penyakit struma, hipertiroid, dan hipotirid

3. Etiologi dan patofisiologi penyakit struma, hipertiroid, dan hipotirid 4. Manifestasi klinik, komplikasi dan penatalaksanaan penyakit struma, hipertiroid, dan hipotirid 5. Diagnosa yang mungkin muncul pada penyakit struma, hipertiroid, dan hipotirid

C. Tujuan 1. Tujuan Umum Menjelaskan teori dan konsep penyakit struma, hipertiroid, dan hipotirid. 2. Tujuan Khusus a. Mahasiswa dapat mengetahui anatomi dan fisiologis kelenjar thyroid b. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian penyakit struma, hipertiroid, dan hipotirid c. Mahasiswa dapat mengetahui etiologi dan patofisiologi penyakit struma, hipertiroid, dan hipotirid d. Mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinik, komplikasi dan

penatalaksanaan penyakit struma, hipertiroid, dan hipotirid e. Mahasiswa dapat mengetahui diagnosa yang mungkin muncul pada penyakit struma, hipertiroid, dan hipotirid.

BAB II LANDASAN TEORITIS

A. Anatomi Fisiologi Kelenjar Thyroid 1. Anatomi Kelenjar tiroid merupakan kelenjar berwarna merah kecoklatan dan sangat vascular. Terletak di anterior cartilago thyroidea di bawah laring setinggi vertebra cervicalis 5 sampai vertebra thorakalis 1. Kelenjar ini terselubungi lapisan pretracheal dari fascia cervicalis dan terdiri atas 2 lobus, lobus dextra dan sinistra, yang dihubungkan oleh isthmus. Beratnya kira-kira 25 gr tetapi bervariasi pada tiap individu. Kelenjar tiroid sedikit lebih berat pada wanita terutama saat menstruasi dan hamil. Lobus kelenjar tiroid seperti kerucut. Ujung apikalnya menyimpang ke lateral ke garis oblique pada lamina cartilago thyroidea dan basisnya setinggi cartilago trachea 4-5. Setiap lobus berukuran 5x3x2 cm. Isthmus menghubungkan bagian bawah kedua lobus, walaupun terkadang pada beberapa orang tidak ada. Panjang dan lebarnya kira-kira 1,25 cm dan biasanya anterior dari cartilgo trachea walaupun terkadang lebih tinggi atau rendah karena kedudukan dan ukurannya berubah. Secara embriologi, tahap pembentukan kelenjar tiroid adalah: Kelenjar tiroid mulanya merupakan dua buah tonjolan dari dinding depan bagian tengah faring yang terbentuk pada usia kelahiran 4 minggu. Tonjolan pertama

disebut pharyngeal pouch, yaitu antara arcus brachialis 1 dan 2. Tonjolan kedua pada foramen ceacum, yang berada ventral di bawah cabang farings I. Pada minggu ke-7, tonjolan dari foramen caecum akan menuju pharyngeal pouch melalui saluran yang disebut ductus thyroglossus. Kelenjar tiroid akan mencapai kematangan pada akhir bulan ke-3, dan ductus thyroglossus akan menghilang. Posisi akhir kelenjar tiroid terletak di depan vertebra cervicalis 5, 6, dan 7. Namun pada kelainan klinis, sisa kelenjar tiroid ini juga masih sering ditemukan di pangkal lidah (ductus thyroglossus/lingua thyroid) dan pada bagian leher yang lain. a. Kelenjar tiroid dialiri oleh beberapa arteri: 1) Arteri thyroidea superior (arteri utama) 2) Arteri thyroidea inferior (arteri utama) 3) Terkadang masih pula terdapat arteri thyroidea ima, cabang langsung dari aorta atau arteri anonyma. b. Kelenjar tiroid mempunyai 3 pasang vena utama: 1) Vena thyroidea superior (bermuara di Vena jugularis interna) 2) Vena thyroidea medialis (bermuara di Vena jugularis interna) 3) Vena thyroidea inferior (bermuara di Vena anonyma kiri) c. Aliran limfe terdiri dari 2 jalinan: 1) Jalinan kelenjar getah bening intraglandularis 2) Jalinan kelenjar getah bening extraglandularis Kedua jalinan ini akan mengeluarkan isinya ke limfonoduli pretracheal lalu menuju ke kelenjar limfe yang dalam sekitar vena jugularis. Dari sekitar vena jugularis ini diteruskan ke limfonoduli mediastinum superior. d. Persarafan kelenjar tiroid: 1) Ganglion simpatis (dari truncus sympaticus) cervicalis media dan inferior 2) Parasimpatis, yaitu N. laryngea superior dan N. laryngea recurrens (cabang N.vagus) N. laryngea superior dan inferior sering cedera waktu operasi, akibatnya pita suara terganggu (stridor/serak). e. Vaskularisasi Kelenjar tiroid disuplai oleh arteri tiroid superior, inferior, dan terkadang juga arteri tiroidea ima dari arteri brachiocephalica atau cabang aorta. Arterinya

banyak dan cabangnya beranastomose pada permukaan dan dalam kelenjar, baik ipsilateral maupun kontralateral. Tiroid superior menembus fascia tiroid dan kemudian bercabang menjadi cabang anterior dan posterior. Cabang anterior mensuplai permukaan anterior kelenjar dan cabang posterior mensuplai permukaan lateral dan medial. tiroid inferior mensuplai basis kelenjar dan bercabang ke superior (ascenden) dan inferior yang mensuplai permukaan inferior dan posterior kelenjar.Sistem venanya berasal dari pleksus perifolikular yang menyatu di permukaan membentuk vena tiroidea superior, lateral dan inferior. f. Sistem Limfatik Pembuluh limfe tiroid terhubung dengan plexus tracheal dan menjalar sampai nodus prelaringeal di atas isthmus tiroid dan ke nodus pretracheal serta paratracheal. Beberapa bahkan juga mengalir ke nodus brachiocephal yang terhubung dengan tymus pada mediastinum superior 2. Fisiologi Hormon tiroid dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid memiliki dua buah lobus, dihubungkan oleh isthmus, terletak di kartilago krokoidea di leher pada cincin trakea ke dua dan tiga. Kelenjar tiroid berfungsi untuk pertumbuhan dan mempercepat metabolisme. Kelenjar tiroid menghasilkan dua hormon yang penting yaitu tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Karakteristik triioditironin adalah berjumlah lebih sedikit dalam serum karena reseptornya lebih sedikit dalam protein pengikat plasma di serum tetapi ia lebih kuat karena memiliki banyak resptor pada jaringan. Tiroksin memiliki banyak reseptor pada protein pengikat plasma di serum yang mengakibatkan banyaknya jumlah hormon ini di serum, tetapi ia kurang kuat berikatan pada jaringan karena jumlah reseptornya sedikit. a. Proses pembentukan hormon tiroid adalah: 1) Proses penjeratan ion iodida dengan mekanisme pompa iodida. Pompa ini dapat memekatkan iodida kira-kira 30 kali konsentrasinya di dalam darah. 2) Proses pembentukan tiroglobulin. Tiroglobulin adalah glikoprotein besar yang nantinya akan mensekresi hormon tiroid 3) Proses pengoksidasian ion iodida menjadi iodium. Proses ini dibantu oleh enzim peroksidase dan hidrogen peroksidase. 4) Proses iodinasi asam amino tirosin. Pada proses ini iodium (I) akan menggantikan hidrogen (H) pada cincin benzena tirosin. Hal ini dapat terjadi karena afinitas iodium terhadap oksigen (O) pada cincin benzena lebih besar daripada hidrogen. Proses ini dibantu oleh enzim iodinase agar lebih cepat.

5) Proses organifikasi tiroid. Pada proses ini tirosin yang sudah teriodinasi (jika teriodinasi oleh satu unsur I dinamakan monoiodotirosin dan jika dua unsur I menjadi diiodotirosin) 6) Proses coupling (penggandengan tirosin yang sudah teriodinasi). Jika monoiodotirosin bergabung dengan diiodotirosin maka akan menjadi triiodotironin. Jika dua diiodotirosin bergabung akan menjadi tetraiodotironin atau yang lebih sering disebut tiroksin. Hormon tiroid tidak larut dalam air jadi untuk diedarkan dalam darah harus dibungkus oleh senyawa lain, dalam hal ini tiroglobulin. Tiroglobulin ini juga sering disebut protein pengikat plasma. Ikatan protein pengikat plasma dengan hormon tiroid terutama tiroksin sangat kuat jadi tiroksin lama keluar dari protein ini. Sedangkan triiodotironin lebih mudah dilepas karena ikatannya lebih lemah. (Guyton. 1997) b. Efek Hormon Tiroid 1) Efek hormon tiroid jumlah dalam dan meningkatkan aktivitas sintesis protein adalah : Meningkatkan mitokondria serta meningkatkan

kecepatan pembentukan ATP 2) Efek tiroid dalam transpor aktif : meningkatkan aktifitas enzim NaK-ATPase yang 3) akan menaikkan kecepatan transpor aktif dan tiroid dapat mempermudah ion kalium masuk membran sel. Efek pada metabolisme karbohidrat : menaikkan aktivitas seluruh enzim, lemak. Pada plasma dan lemak hati hormon tiroid menurunkan kolesterol, fosfolipid, dan trigliserid dan menaikkan asam lemak bebas. 5) Efek tiroid pada metabolisme vitamin: menaikkan kebutuhan tubuh akan vitamin karena vitamin bekerja sebagai koenzim dari metabolisme.Oleh karena metabolisme sebagian besar sel meningkat akibat efek dari tiroid, maka laju metabolisme basal akan meningkat. Dan peningkatan laju basal setin